It'S Me Jelita

It'S Me Jelita
Tertantang



🥀


1 Minggu telah berlalu...


Pagi dengan suasana langit yang mendung, seorang pemuda sedang sibuk dengan ponselnya. Duduk di kursi teras kost dengan segelas kopi dengan asap yang masih mengepul.


Sosok Kevin dengan setelan santainya menikmati pagi yang menurutnya hal paling langka dia lakukan. Bangun tidur sendiri, membuat kopi sendiri, mendengar keramaian anak kost dengan suara suara aneh menurutnya. Dia yang terbiasa mendengan dentuman musik diskotik berganti dengan suara petikan gitar dan penyanyi dengan suara ala kadarnya meluapkan emosi dalam sebuah lagu.


Unik, asik, dan menarik. Pikirnya.


Saat sedang ingin menikmati kopi panasnya, meniup - niup asapnya, pandangannya beralih ke arah suara pintu kost depan kamarnya, menampilkan sesosok tubuh mungil tinggi dengan celana hotpants dan kaos tanktop dengan warna senada. Menampilkan lekuk tubuhnya.


Si Jelita keluar kamar kostnya membawa bungkusan hitam besar berisi sampah untuk dia buang.


Dan si empu mata yang sedang menatap dengan jakun naik turun susah payah menelan ludahnya sampai lupa kopi di depan bibir yang tidak jadi dia sruput.


" Gila tu anak, pake daleman keluar kamar gitu, gak takut apa ada kucing garong tetiba nyerang dia." batin Kevin.


Jelita hendak masuk kedalam kamarnya lagi terhenti langkahnya yang menyadari ada tetangga kamarnya yang sedang menikmati paginya.


" Hay Bro, ngapain mlongo? kesamber petir nyaho loh." godanya.


uhukk uhukk


Bukan tersedak kopi tapi tersedak ludahnya sendiri. Kevin menahan sakit di tenggorokannya.


" Begok apa polos si tu anak ?" batin Kevin dengan geramnya dengan sosok polos tetangga kostnya.


Jelita tertawa melihat Kevin yang tersedak terbatuk dengan melangkah masuk kedalam kamar dan menutup pintu. Masih dengan tawanya dia menuju lemari untuk mengambil baju ganti untuk bersiap kuliah. Dan tawanya terhenti kala dia menatap pantulan tubuhnya di depan cermin lemari.


" What ?! aku pake pakaian gini keluar kamar ?! dan tadi si Kanebo melongo itu ngliatin pakaianku. Ya ampun bego banget aku, sampe ngira dia melongo kenapa. Aduh, malu banget aku, pasti dia mikir... aarrggghhh." Jelita merasa malu dengan kepercayaan dirinya yang mengira Kevin melamunkan hal lain.


...----------------...


Jelita siap untuk menjalankan aktivitasnya hari ini. Dia melongokan kepalanya ke luar kamar, dengan mata menatap pintu kamar Kevin. Dia malu dengan aksinya tadi pagi yang membuatnya sungkan untuk bertemu tetangga kamarnya itu.


Setalah dirasa aman dia keluar kamar, memakai sepatunya, dan segara mengkunci pintu. Saat dia ingin memasukkan kunci ke dalam tas, sebuah tangan menepuk pundaknya, dan membuatnya terjingkat kaget.


" Astaga !!" reflek tangannya menepis tangan kekar itu di pundaknya, dan sedetik kemudian dia di buat tegang dengan penampakan pangeran tampan dengan setelan kerennya. Mulut Jelita membuka dan matanya tidak berkedip saat menatap orang yang mengagetkannya. Lelaki dengan celana jeans dongker ketat melekat di kakinya, kaos hitam pas body, di balut jaket jeans biru langit dengan kaca mata hitam bertengger di atas hidungnya.


" Hay ladies, ngapain mlongo? kesamber petir nyaho loh." dengan seringai di bibirnya Kevin menirukan kalimat Jelita yang tadi pagi membuatnya terbatuk-batuk.


Seketika Jelita sadar dengan kalimat yang tidak asing dia dengar.


" Mmmm,.. eee..." Tetiba Jelita salah tingkah sendiri.


" Kenapa? ada yang salah?" Kevin terus menggodanya, sehingga Jelita semakin salah tingkah sendiri.


" Ah gapapa, emm permisi aku harus segera pergi, takut tertinggal bus awal." Kilah Jelita mengalihkan kegugupannya.


"Lu mau kuliah? bareng gue aja." Tawar Kevin.


Jelita melirik ke arah Motor sport yang terpakir cakep di depan mereka berdiri.


" Tidak, terimakasih, aku bisa naik angkutan." Tolak lembutnya.


" Udah bareng aja, kita searah dan setujuan, biar cepet. Anggap aja tanda terimakasih gue buat kebaikan lu selama ini." Masih mode membujuknya, Kevin menyodorkan helm ke arah Jelita.


Saat Jelita diam tanpa jawaban, tetiba Kevin menarik lengan Jelita untuk mengikutinya naik ke Motornya.


" Lama nungguin orang kesambet, buruan pake helm lu." Perintah Kevin, membuat Jelita belum siap dengan fikirannya, hanya menurut saja.


Helm telah dia pakai, posisi sudah naik motor, tapi ada yang membuat Kevin belum melajukan motornya.


" Mmm trus aku harus gimana?" Sebuah pertanyaan polos lolos dari kegugupannya.


" Astaga, lu pernah bonceng motor gak?" Tanya Kevin yang mulai tidak sabar.


" Enggak." yah, terjawab sudah kepolosannya.


" Serius lu gak pernah naik motor?" Kevin meyakinkan apa yang dia dengar salah.


" I...iya." Etah malu, atau takut melihat lirikan mata di balik helm fullface yang menoleh ke arahnya.


" Huuhhh, oke sekarang lu rileks gak usah tegang kek naik roller coaster, trus lu pegangan ke pinggang gue paham?" Kevin menjelaskan tutorial membonceng yang baik.


" Pegang pinggang?" Jelita ragu.


" Iyalah pinggang gue, mau pegangan apa lagi?" Oke mode kaku kumat lagi.


" Tapi..."


" Kelamaann..!!"


Sekali tarikan kedua tangan Jelita di tarik kedepan melingkar di perut Kevin dengan sempurna. Tanpa aba aba Moge merk Ducati Panigale yang dapat menghasilkan tenaga maksimal 214 daya kuda yang di kuasai Kevin melaju membuat Jelita hampir terhuyung kebelakang, untung dia langsung mencengkeram erat jaket bagian depan Kevin. Jelita merasa ngeri dengan kelincahan Kevin berkendara dengan lincahnya, berkelok, menyalip, dan mengebut tanpa peduli dia membawa manusia di belakangnya. Kevin tersenyum di balik helmnya.


" Ni anak lucu, mustahilkan jaman sekarang gak pernah naik motor, kerjain ah."


kevin semakin kencang melajukan kuda besinya. Jelita menempelkan pipinya di balik punggung Kevin.


" Ya Tuhan, aku masih ingin hidup, lindungi hamba dari orang gila ini Tuhan." Doanya dalam hati, dia memejamkan mata dan tanganya semakin erat memeluk tubuh kekar Kevin


Deg deg deg,


" Sial, kenapa ni jantung gue? semakin dia ngencengin pelukannya dada gue tambah jedug jedug aja." Kevin merasa tubuhnya menegang dan sesuatu di bawah sana menggeliat.


" Aarrgggghh, ini kenapa pake nggliat sih, duh gawat nih, bawa jampe apa ni anak bikin adek gue resah gini." Batin Kevin mulai blingsatan dengan suasanya yang lama tidak dia rasakan.


Saat suara deru motornya mulai melambat dan memposisikan diri di sebuah parkiran basment kampus, Jelita masih dengan posisi sama.


" Lu mau meluk gue sampe kapan?"


" Hah?! udah nyampe?"


Jelita membuka mata dan sadar dengan keadaan. Dan dia beringus turun membuka helm dan bersiap mengomel, Tapi Kevin lebih dulu berlari mendahuluinya.


" Eh kampret, mau kemana kamu?! abis bikin orang mau mati jantungan main lari aja!!" teriak Jelita yang berhasil menarik perhatian mata tajam mahasiswi yang menyadari siapa wanita yang di boncengkan pangeran kampus ini.


Jelita merasa horor di sekitarnya, sambil menggerutu Jelita lari menuju kelasnya.


Di tempat lain di sebuah toilet pria, ada seorang berusaha menahan suara nya dengan menggigit bibir bawahnya, kala sebuah hasrat yang sedang berusaha dia keluarkan setelah tadi sempat meronta. Siapa lagi kalau bukan si Kevin, dengan susah payah dia menahan sampai tidak memperdulikan Jelita yang sempat meneriakinya tadi, dia berlari untuk segera menuntaskan gejolak hasrat yang susah dia tahan.


" Huuuhhhhh, huft...huft... gila gue bener bener gila. Cuma di peluk gitu doang gue bisa main solo gini."


Dengan nafas terengah dia mencoba menguasai dirinya, bersikap tenang setelah menuntaskan kegiatan gilanya. Setalah di rasa lega dia memutuskan untuk masuk kedalam kelas. Dia melewati kelas Jelita, dan matanya menatap sosok yang baru saja membuatnya gila dengan melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan di tempat seperti toilet kampus. Dan dia heran kenapa dengan wanita itu dia tegang, padahal dia sering melihat dan menonton hal berbau **** tapi dia tidak bereaksi apapun.


" Lu membuat gue tertantang Lit." seringai tipis bibirnya menatap tajam Jelita yang sedang khusuk dengan Mapelnya.


...****************...


🥀


nganu... itu... aku 👉👈 ya yang penting up hhhh🤣


😁 thanks all 🙏 yang berkenan membaca karyaku😘🖤