Infinity

Infinity
Mengenalmu



Mereka para wanita telah selesai memasak, dengan segera mereka membawa makan malam ke meja panjang di teras belakang. Para pria sibuk memanggang daging di atas bara, dan para wanita masih menyusun makanan di atas meja. Sesekali wanita paruh baya itu melirik putranya lalu kemudian melirik Lizzy yang sedang sibuk di hadapannya. Seolah ia punya rencana tersendiri di kepalanya.


"Apa kau sudah berdamai dengan mantan suamimu Lizzy?" Wanita itu bertanya dengan suara sepelan mungkin, karena ia tahu Lizzy tidak suka mengumbar masalah kehidupan pribadinya.


"Iya bibi, aku sudah berdamai dengannya. Lega rasanya setelah mengeluarkan semua ganjalan di hatiku padanya. Kami berbicara panjang lebar tentang segalanya, maksudku tentu saja tentang masa depan Clara dan David. Kami membuat sebuah kesepakatan. Dan sepertinya ia akan ikut pindah ke Kota ini. Dia menginginkan untuk terlibat lebih banyak dalam kehidupan anak-anak, dan aku mengajukan beberapa syarat padanya. Salah satunya adalah, dia tidak boleh melewati batas pertemanan antara aku dan dia."


"Dan dia menyetujui persyaratan darimu?"


"Iya, dia menyetujuinya. Dia bahkan meminta maaf padaku atas apa yang telah diperbuatnya beberapa tahun kebelakang."


"Dan kau percaya begitu saja kepadanya?"


Lizzy mengangkat kedua bahunya, "Entahlah, kurasa aku tidak punya banyak pilihan saat ini. Aku tidak bisa egois bibi. Aku harus lebih mementingkan tumbuh kembang anak-anakku. Dan dia adalah ayah kandung mereka, bagiku selama dia bisa membuktikan bahwa dia menyayangi kedua anak kami, itu sudah lebih dari cukup untuk memaafkannya. Tapi tentu saja, itu tidak bisa dijadikan patokan bahwa aku menerimanya kembali."


"Dia memintamu untuk kembali padanya?"


"Iya, bahkan dia mengatakannya secara gamblang. Aku langsung menolaknya. Aku tidak mau seperti aku memberinya harapan walaupun sedikit. Dia hanyalah lembaran masa laluku yang sudah kututup."


"Kau harus mencari pria lain Lizzy, dengan mulai berkencan lagi misalnya atau kalian cukup berkenalan lebih dulu. Agar ia benar-benar menyadari bahwa sudah tidak ada tempat lagi di hatimu untuknya," Wanita itu menepuk bahu Lizzy dengan lembut.


"Ayo para pria, kita makan dulu, aku dan Lizzy sudah selesai di sini."


Mereka pun makan sambil bercengkrama, dengan posisi duduk Lizzy berada di hadapan pamannya dan duduk di sebelah kanan bibinya, sedangkan putra mereka duduk di hadapan ibunya, sesekali salah satu dari mereka melemparkan candaan. Hanya Daniel yang terlihat makan dengan tenang, ia lebih memilih untuk menjadi pendengar. Ketika Lizzy berusaha mengambil salad buah yang berada agak jauh darinya, ia terlihat kesulitan dan Daniel dengan refleks membantunya.


"Terima kasih tuan," Ucapnya pada pria itu.


Daniel hanya menganggukkan kepalanya untuk merespon. Sedangkan pasangan suami istri Allan terlihat terkejut mendengar sapaan Lizzy untuk anak mereka.


"Mengapa kau memanggilnya dengan sebuatan tuan Lizzy? Dia bukan tuanmu. Dan kau Daniel, kenapa kau hanya diam saja saat Lizzy memanggilmu tuan? Dia bukan bawahanmu. Kita adalah keluarga. Tidak sepantasnya kalian menyapa dengan sapaan seperti itu," Terdengar pamannya mengomel.


Lizzy terkejut atas respon yang diberikan oleh pamannya, saat ia terlihat akan menjawab perkataan pamannya, Daniel lebih dulu menjawabnya "Mungkin karena kami berdua masih merasa asing ayah, kau tahukan. Bahkan aku baru dua kali bertemu dengannya. Jadi kurasa wajar bila dia memanggilku dengan sebutan itu."


"Baiklah, aku mengerti keadaan kalian saat ini. Tapi tidak ada panggilan itu lagi mulai sekarang. Aku dan ibumu mengadakan acara makan malam ini karena aku ingin kalian berdua saling mengenal. Karena kita adalah keluarga tentu saja. Dan kau Lizzy kau sekarang adalah putri kami, dan itu berarti kau harus memanggil putraku cukup dengan namanya tanpa sebutan tuan seperti tadi," Pamannya masih terdengar kesal.


"Maafkan aku paman, Daniel benar, aku masih merasa canggung dengannya. Aku berjanji pada paman dan bibi tidak akan memanggilnya dengan sebutan tuan lagi," Lizzy mencoba untuk meredakan kekesalan sepasang suami istri paruh baya itu.


"Sudahlah Philip, mereka baru saja bertemu dua kali, itu pun dihitung dengan hari ini. Mereka berdua pasti masih merasa asing satu sama lain. Seiring berjalannya waktu mereka pasti akan menjadi akrab, dan bisa lebih saling mengenal satu sama lain. Dan kau Daniel, kuharap kau bisa pulang kesini setidaknya selama beberapa kali dalam satu bulan, jangan setelah berbulan-bulan kau baru datang lagi kesini. Kau harus ingat, kami ini sudah tidak muda lagi, usia kami pun semakin bertambah. Kami merasa kesepian, untungnya Lizzy dan kedua cucuku selalu rutin mengunjungi kami," Bibinya terlihat menengahi.


Lizzy tersenyum simpul mendengar perkataan bibinya. Sedangkan Daniel ia terlihat tidak tertarik sama sekali dengan apa yang dibicarakan oleh ibunya.


Apa yang telah dilakukan oleh wanita itu pada kedua orang tuaku? Sehingga orang tuaku terlihat sangat memujanya. Apa istimewanya wanita itu? Ia hanya wanita biasa, seorang single parent dengan dua anak. Mungkin ia berhasil dalam mendidik anak-anaknya, tapi lihat saja, dia tidak berhasil dalam menjaga hubungan dengan suaminya sehingga mereka berpisah. Kenapa orang tuaku seperti mendorongku untuk mendekatinya? Dia sama sekali tidak memiliki kelebihan untuk dibanggakan, gerutu Daniel dalam hati.


"Lizzy, berapa lama kedua cucuku ikut berlibur bersama ayah mereka?" Pamannya bertanya.


"Entahlah paman, mungkin satu atau dua minggu atau bahkan sampai akhir masa liburan. Semua tergantung seberapa lama mereka akan berkeliling pulau."


"Mereka berkeliling menggunakan mobil biasa? Atau caravan? Kurasa ayah mereka pasti tidak akan menyetir mobilnya sendiri bukan?"


"Kurasa ia hanya akan memakai mobil SUV nya dan ia sendiri yang menyetir kali ini, mengingat ia bukan tipikal orang yang suka bermalam beratapkan bintang. Mereka akan berhenti disetiap kota dan menyewa kamar di hotel untuk bermalam. Dan saat perjalanan mereka selesai, mereka akan pulang menggunakan pesawat. Jacob menyuruh salah satu orangnya untuk menyusul dan membawa mobilnya kembali ke rumah."


"Ayah, ibu, aku sudah kenyang. Maaf aku pamit pergi ke kamarku lebih awal. Hari ini masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Selamat malam semuanya," Daniel tiba-tiba menyelesaikan makannya dan beranjak dari sana.


Lizzy yang sejak awal menyadari kehadirannya tidak diterima oleh pria itu, hanya menatap kepergian pria itu dengan acuh. Ia tak mau ambil pusing dengan sikap pria itu. Baginya, menghadapi sikap seseorang yang tidak menyukainya jauh lebih mudah dibandingkan mereka yang menyukainya. Ia hanya perlu menutup mata dan telinga ketika menghadapi orang-orang yang seperti itu. Jadi ia tidak pernah ambil pusing dengan semuanya.


Selesai makan ia membantu pasangan suami istri itu untuk membereskan sisa-sisa makanan dan piring kotor, "Bibi lebih baik kau dan paman beristirahat sambil menonton acara tv. Biar aku yang membereskan semua ini."


"Tidak, aku akan membantumu sayang, sementara kita membereskan ini semua, bagaimana jika aku minta pamanmu untuk membuatkan segelas coklat panas untuk kita, lalu kita bisa berbicara banyak di ruang tv."


"Tidak perlu, terima kasih, aku akan langsung pulang setelah semua ini selesai. Aku tidak mau mengganggu waktu kalian dan Daniel. Dan aku juga belum membersihkan diri, badanku sudah mulai terasa lengket."


"Kenapa kau tidak menginap saja di sini malam ini? Ini sudah terlalu malam untukmu pulang ke rumah. Disini memang aman, tapi kau tahu sendiri jalanan disini sungguh curam," Bibinya memberi saran.


"Kalau begitu biarkan Daniel mengantarmu, tinggalkan saja mobilmu di sini, besok siang biarkan aku yang mengantar mobilmu ke toko, besok aku akan pergi ke toko pertanian bersama Philip, jadi bisa mampir sebentar ke tokomu."


"Tidak bibi, sungguh tidak perlu repot-repot aku biasa menyetir sendiri. Aku akan baik-baik saja, sungguh tidak perlu mengantarku pulang."


"Aku tidak menerima penolakan Lizzy. Kau pulang diantar Daniel, atau kau menginap disini malam ini. Kau bisa memilih."


Dengan pasrah, Lizzy akhirnya menyetujui perintah bibinya, "Baiklah aku bersedia diantar pulang oleh Daniel."


"Bagus, aku akan memanggil Daniel di kamarnya."


Lizzy menghembuskan nafas lelahnya, sungguh ia tidak suka dipaksa dan didorong untuk berada pada kondisi seperti ini. Dulu, meskipun pekerjaannya menuntut banyak hal darinya, tapi ia tak pernah mengizinkan siapa pun untuk menekannya. Dan sekarang justru sebaliknya, dan ia benci menjadi lemah.


Kemudian terdengar suara langkah kaki mendekatinya di dapur. Ia menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang, ternyata bibinya dan pria itu. Wajah pria itu terlihat tidak senang, dan menatapnya dengan garang. Ia, karena terbiasa menghadapi situasi yang seperti itu dulu, hanya memberi respon tersenyum dengan malas.


"Baiklah paman, bibi, aku pamit pulang, ini kunci mobilku. Terima kasih untuk makan malamnya dan maaf aku jadi merepotkan kalian semua," Ia menyerahkan kunci mobil pada pamannya dan mengecup pipi bibinya.


"Hati-hati di jalan Lizzy, dan sampai jumpa besok," Bibinya balas mengecup pipi Lizzy.


Perjalanan dari rumah keluarga Allan menuju rumahnya berjarak sekitar duapuluh menit mengendarai mobil. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam tanpa berbicara. Ketika mereka sudah tiba di depan rumahnya, ia pun bergegas turun. "Terima kasih banyak tuan, karena kau sudah bersedia mengantarkan aku pulang, maaf aku merepotkanmu. Percayalah apapun yang sedang direncanakan oleh bibi dan paman, aku tidak akan mengikuti mereka, jadi kau tidak perlu khawatir."


"Bagus jika kau sadar diri, kuharap kita tidak pernah bertemu lagi. Kau mungkin seorang ibu yang baik, tapi kau jelas bukan seorang istri yang baik, itu terbukti dengan berpisahnya kau dan suamimu. Kau tidak mampu menjaga hubungan yang baik dengan suamimu. Jadi jelas kau juga tidak pantas untukku," Pria itu mengeluarkan apa yang menjadi isi hatinya.


Bagaikan tersulut api panas, tubuh Lizzy tiba-tiba menegang, kepala dan hatinya terasa panas mendengar ucapan pria itu, ingin sekali ia merobek mulut pria itu dan membenturkan kepalanya ke stir mobil, agar setidaknya pria itu bisa sedikit berpikir jernih tentang dirinya.


"Dengarkan aku tuan Daniel Allan yang terhormat, apapun yang terjadi dimasa laluku, kau tidak tahu apa-apa, aku pun tidak akan menjelaskan apapun kepadamu. Satu hal yang harus kau ingat, kau tidak mengenalku dan akupun tidak mengenalmu. Dan jika sampai kau berani masuk ke dalam tokoku, aku sendiri yang akan menendangmu keluar dengan senang hati." Setelah itu ia menutup pintu mobil dengan keras. Ia berjalan masuk ke dalam rumahnya, tanpa menoleh lagi kebelakang.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Pria itu segera melajukan mobilnya dengan kencang, ia merasa kesal karena mendengar perkataan Lizzy. Entah kenapa ia merasa egonya terluka, karena wanita itu berkata dengan jelas tidak tertarik dengannya. Selama ini ia tidak pernah ditolak oleh seorang wanita, dan wanita berani sekali meremehkannya.


Tadinya ia pikir wanita itu akan mengikuti rencana ayah dan ibunya, dan ia akan dengan mudah menyingkirkan wanita itu. Tapi ternyata yang terjadi malah sebaliknya, wanita itu mengatakan tidak akan mengikuti rencana kedua orang tuanya, yang sepertinya tengah berusaha untuk menjodohkan mereka berdua.


Tidak, aku tidak akan jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Cukup Angeline yang mempermainkanku. Tidak akan ada lagi. Lagipula wanita itu sepertinya wanita yang cukup licik, ia menjerat kedua orang tuaku dengan kata-kata manisnya, dan berharap bisa mendekatiku dengan cara yang terlihat terhormat padahal menjijikan. Dia pasti seperti Angeline, hanya menginginkan uangku. Apalagi dia memiliki dua anak yang harus dia biayai hidupnya. Pasti dia termasuk golongan penambang emas, menikahi suaminya dan kemudian menguras habis harta pria itu. Pria itu bermonolog.


Ketika ia sampai di rumah, dilihatnya kedua orang tuanya sedang bersantai sambil menyaksikan acara tv, ia berjalan dan ikut duduk bergabung bersama mereka.


"Kau mengantarnya sampai rumah bukan?" Ayahnya bertanya.


"Tentu saja, aku mengantarnya sampai depan pintu gerbang rumahnya," Ia mengangguk.


"Bagaimana pendapatmu tentang Lizzy?" Kali ini ibunya yang bertanya.


Inilah yang ia perkirakan sejak awal, kedua orang tuanya menjodohkannya dengan wanita itu.


"Aku tidak tertarik dengannya. Sepertinya ia bukan wanita baik-baik. Buktinya suaminya menceraikannya," Ia menjawab pertanyaan ibunya tanpa melepas matanya dari tv.



"Kau tidak mengenalnya Daniel. Dia adalah seorang wanita baik-baik dan berasal dari keluarga baik-baik. Jika masalah perceraian dengan suaminya, itu sama sekali bukan salahnya. Kau tidak tahu apa-apa tentangnya, jadi kau tidak berhak untuk menghakiminya," Ibunya merasa kesal mendengar jawaban dari putra semata wayangnya.


"Lalu apakah kalian ingin aku lebih mengenalnya? dan kemudian menikahinya? Maaf dia bukan seleraku, dan aku tidak mau menikahi wanita bekas pria lain apalagi mempunyai anak dari pria lain. Dan wanita seperti itu biasanya hanya ingin menguras uang para pria kaya."


"Sejak kapan kau menjadi tidak sopan Daniel Allan? Kau bahkan baru bertemu dengannya sebanyak dua kali. Baiklah, jika kau tidak mau mengenalnya lebih dekat, itu keputusanmu dan kami menerimanya. Tapi jika suatu hari nanti, jika kau sampai jatuh hati padanya, kami tidak akan membantumu sedikit pun. Dan kupastikan kau akan menyesal karena telah menghinanya. Ayo sayang, lebih baik kita istirahat di kamar saja, aku tidak mau melihat wajah pria ini disisa malam hari ini," Ayahnya terdengar emosi dan beranjak dari sana sambil menggenggam tangan ibunya.


Ia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Ia bingung, selama ini orang tuanya tidak pernah berusaha menjodohkanya dengan wanita manapun. Tapi mengapa sekarang, kedua orang tuanya bersikap konyol dengan memaksakan perjodohan ini. Sungguh, ia belum siap untuk menjalin hubungan yang serius lagi dengan wanita manapun. Ia menyayangi kedua orang tuanya, dan selalu berusaha untuk membahagiakan keduanya.


Sepertinya aku harus mengalah jika tidak ingin membuat ayah dan ibu marah. Baiklah, wahai wanita aku akan berusaha untuk mengenalmu, mengikuti permintaan kedua orang tuaku. Akan kubuktikan bahwa akulah yang benar dan merekalah yang salah. Dengan begitu aku bisa menyingkirkanmu dengan mudah. Janji pria itu dalam hati.