
Sesuatu yang lembut menyadarkan Lizzy, seperti ada seseorang yang sedang mengelus punggung tangannya, sedikit demi sedikit matanya mulai terbuka, sesekali mengerjap untuk menyesuaikan cahaya sekelilingnya. Ruangan itu bukanlah kamar tamu di rumah bibinya, melainkan sebuah kamar di rumah sakit. Ia melihat sang ibu sedang duduk di samping kanannya, sembari terisak. Sepertinya sang ibu tak menyadari bahwa ia telah siuman, ia menatap ibunya dengan perasaan bersalah. Meskipun usia sang ibu sudah tidak lagi muda, tetapi tak serta merta memudarkan kecantikannya.
"Ibu...," suaranya terdengar serak khas bangun tidur.
"Lizzy, kau sudah bangun nak? Bagaimana dengan keadaanmu?" ibunya menatapnya dengan air mata yang bercucuran.
"Kenapa aku ada disini bu? ada apa denganku? Dimana Clara dan David?" banyak pertanyaan yang ada di kepalanya. Kenapa ada ibunya ada di sini? Siapa yang membawanya ke tempat ini? Dimana kedua anaknya?.
Seingatnya terakhir kali ia berada di ruang tamu di rumah keluarga Allan, bersama Daniel. Mereka berdua menemui Jacob.
"Tenanglah Lizzy, kedua anakmu ada bersama dengan Alexander di rumah. Kau pingsan dan demam tinggi, Daniel membawamu ke rumah sakit dan memberitahukan ayahmu. Kami langsung berangkat ke sini begitu mendapatkan kabar kau tak sadarkan diri."
Lizzy memeriksa keningnya dengan punggung tangan, benar demam. Ia tak mengerti kenapa reaksi tubuhnya begitu kuat saat melihat wanita itu lagi, dan saat mengingat luka itu kembali. Ia remuk redam seketika sama seperti dulu. Ia beranjak berusaha bangun dan duduk, ibunya membantu merapihkan bantal sebagai alas bersandarnya di kepala ranjang rumah sakit.
"Apa kau mau minum sayang?"
Lizzy hanya mengangguk sebagai tanda setuju, ibunya mengambilkan segelas air di atas nakas di samping ranjang dan memberikannya pada Lizzy. Setelah dirasa hausnya telah hilang, ia mengembalikan gelas itu pada ibunya. Ia menatap sekelilingnya dengan tatapan kosong. Lagi-lagi ia berakhir di rumah sakit setelah bertemu dengan wanita itu, sama seperti beberapa tahun lalu.
"Lizzy, jika kau ingin menangis maka menangislah. Jangan kau tahan. Aku tahu kau adalah wanita yang kuat, tapi bukan berarti kau tidak berhak menangis. Berbagilah denganku Lizzy, kau mungkin sudah menjadi seorang ibu dari kedua anakmu, tapi satu hal yang harus selalu kau ingat, kau tetaplah putriku. Putri yang lahir dari rahimku. Dan tidak akan ada yang bisa mengubah itu," sang ibu memeluk tubuhnya dengan erat, menyalurkan segenap cinta dan kasih sayangnya kepada putri satu-satunya.
Lizzy tak lagi kuasa membendung air matanya, ia menangis lagi. Mencurahkan segala rasa sakit hatinya, kepada sang ibu. Tangisan sepasang ibu dan anak itu terdengar begitu menyayat hati, membuat siapapun yang mendengarnya ikut meneteskan air mata, tak terkecuali sang ayah yang sejak tadi mengamati mereka berdua dari posisinya yang duduk di sofa di sudut ruangan itu.
"Berbagilah denganku anakku, ceritakan semua beban di hatimu."
"Ibu...aku bertemu lagi dengan wanita itu, wanita yang merebut Jacob dariku, merebut kebahagiaanku, membuat kedua anakku terpisah dari ayahnya. Apa salahku bu? Apa yang telah aku lakukan padanya hingga dia tega melakukan semua ini padaku bu? Aku mencintai Jacob, sangat mencintainya. Tapi dia menghianatiku, dia menyakitiku, aku sudah tidak kuat lagi bu."
Ibunya tidak mampu berbicara sepatah katapun, ia tak menyangka bahwa putrinya masih menyimpan luka lama dengan begitu dalam, menyimpannya seorang diri tanpa berbagi dengan siapa pun. Ia ikut terluka. Putri yang ia sayangi dan ia jaga dengan segenap jiwanya, telah disakiti oleh seorang pria. Ia berusaha untuk memaafkan pria itu, mengajarkan kepada putrinya bahwa setiap manusia pasti melakukan kesalahan, maka dari itu, kita wajib memaafkan dan tidak menyimpan dendam. Tapi ternyata kali ini ia salah. Ia telah membuat putrinya merasa tambah tertekan.
"Beberapa minggu lalu dia datang padaku untuk meminta maaf, bahkan memintaku untuk kembali padanya, dengan bodohnya aku memaafkan dia bu, dan sekarang dia menyakitiku lagi."
"Tidak sayang kau tidak bodoh, kau hanya terlalu baik. Ketahuilah, suatu saat nanti ia pasti akan menyesal, bahkan sangat menyesal karena telah melakukan ini semua padamu, aku akan selalu ada di sampingmu nak, menggenggam tanganmu, dan memelukmu erat, kau jangan takut, kau tidak sendiri."
Lizzy melepaskan pelukan mereka, ia menatap wajah sang ibu dengan sayang. Ia bersyukur, kedua orang tuanya masih ada, sehingga ia bisa memeluk mereka kapanpun ia menginginkannya. Ia tidak membutuhkan pria lagi dalam hidupnya, karena ia masih memiliki kasih sayang dan cinta yang begitu besar dari kedua orangtuanya, dari sang kakak dan juga kedua anaknya. Bukankah Tuhan itu adil? Disaat ia menginginkan suaminya dulu, tapi justru Tuhan tidak memberikannya, namun menggantinya dengan begitu banyak kasih sayang yang berlimpah dari orang-orang di sekitarnya.
"Aku tidak mengharapkan apa-apa lagi sekarang bu, aku memilikimu dan juga ayah, ada Alex yang akan selalu menjagaku dan kedua anakku, dan aku memiliki kedua anakku yang akan selalu mencintaiku seumur hidup mereka. Aku merasa sangat beruntung memiliki kalian semua. Sungguh, aku sama sekali tidak berhak mengeluh apalagi bertanya kepada Tuhan kenapa aku begini. Tuhan pasti lebih tahu apa yang aku butuhkan dibandingkan dengan diriku sendiri."
Amanda Stuart membelai pipi sang putri dengan sayang, gadis kecilnya kini sudah semakin dewasa dan apa yang dulu ia dan suaminya ajarkan, tertanam dengan kuat pada diri sang putri.
"Kau akan tetap menjadi kebanggaan kami Lizzy, kau memiliki kami seumur hidupmu."
"Maafkan aku bu, aku telah membuatmu dan ayah juga Alex merasa sedih. Sungguh aku tidak bermaksud begitu."
"Tidak nak, kau tidak pernah membuat kami bersedih, takdir lah yang terkadang mempermainkan kita, kau harus ingat sayang, sesulit apapun jalanmu dan seringan apapun takdirmu nanti kau akan selalu memiliki kami, lupakanlah semua yang sudah terjadi di belakangmu, kau tidak perlu lagi menoleh ke belakang dan melihatnya, tatap saja apa yang ada di depanmu sekarang."
"Ibu pasti tahu itu terasa sulit bagiku, karena Jacob adalah pria pertama bagiku setelah Ayah dan Alex. Dia selalu memperlakukan aku layaknya sebuah berlian, dia tidak pernah merayuku untuk tidur dengannya sebelum kami menikah, dia sangat menjagaku, bahkan ia hanya berani mencium pipiku dan menggenggam tanganku. Tapi ternyata dia meniduri banyak wanita di belakangku, dia menyembunyikannya dengan baik, aku tahu itu semua, tapi aku hanya bisa diam, karena aku pikir dia adalah pria dewasa dan memiliki kebutuhannya sendiri. Aku memilih untuk menutup mata dan telingaku selama dia tidak pernah membuatku melanggar prinsip hidupku. Setelah menikah, dia berhenti melakukan itu semua, aku sangat senang, tapi wanita itu datang dan memang berniat ingin merusak semuanya, aku tahu bu, aku tahu semua itu. Karena aku sendiri yang menyelidiki hubungan mereka berdua," Lizzy menarik nafas sejenak sebelum akhirnya melanjutkan.
"Dan bodohnya aku, aku tidak pernah bisa benar-benar melupakannya, aku benci diriku sendiri yang masih menyimpan namanya di hatiku, dia selalu ada di sini, menempati ruangnya sendiri, awalnya aku berpikir itu semua karena dia adalah ayah dari kedua anakku, tapi semakin hari aku semakin menyadari bahwa aku tidak pernah benar-benar bisa melupakannya," tangis Lizzy kembali pecah, setelah sekian lama ia pendam semuanya sendiri, akhirnya ia membaginya kepada sang ibu. Hatinya terasa ringan tapi entah kenapa rasa sakit itu masih ada dan membuatnya ingin menangis lagi, apalagi jika mengingat kejadian kemarin, tubuhnya terasa sangat lemas, seolah semua energinya habis terkuras.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Setelah mencurahkan segala isi hatinya, Lizzy kembali tertidur, dengan menggenggam tangan sang ibu. Tubuhnya semakin demam dan menggigil, membuat kedua orang tuanya begitu khawatir. Ayahnya kemudian berjalan keluar kamar dan memanggil dokter jaga.
Selesai memeriksa keadaan Lizzy, sang dokter hanya bisa menatap wajah Lizzy dengan penuh rasa iba. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin wanita secantik itu bisa mengalami tekanan batin yang begitu besar, dokter itu ragu untuk memberikan penjelasan kepada keluarga pasien. Bagaimana caranya ia harus menceritakan yang sebenarnya? mengingat keluarga itu adalah keluarga terpandang, apa mungkin mereka akan menerima penjelasannya?
"Bagaimana dokter? apa yang terjadi pada putri kami?" kali ini William ayah Lizzy, menatap sang dokter dengan khawatir.
"Bisakah kita berbicara di luar tuan?" dokter itu meminta persetujuan ayah Lizzy dan berjalan keluar ruangan dengan ayah Lizzy berjalan di belakangnya.
Mereka berdua sampai di lorong yang sepi di depan ruang rawat inap Lizzy mengantisipasi agar pembicaraan mereka tidak dapat didengar oleh orang lain.
Raut wajah William Stuart seketika berubah menjadi pias. "Bagaimana bisa dokter?"
"Maaf tuan, tapi putri anda mengalami gangguan psikosomatis, itulah yang menyebabkan dia mengalami demam psikogenik, demamnya tidak akan turun dengan hanya mengkonsumsi obat penurun demam, suasana lingkungan sekitarlah yang sangat berpengaruh untuk kesembuhan putri anda. Dia tidak boleh semakin tertekan, berikanlah dia lingkungan yang sekiranya membuatnya melupakan semua masalahnya dan bisa mengurangi beban stress di kepalanya, hanya itu satu-satunya jalan untuk saat ini."
"Baiklah dokter, terima kasih banyak, kami akan melakukan apa yang anda sarankan."
Apa yang telah kau lakukan pada putriku Jacob? Aku memaafkanmu dulu bukan berarti kau bisa menyakiti putriku lagi. Seharusnya dulu aku langsung menghancurkanmu hingga tak bersisa, sehingga kau tidak bisa masuk ke dalam hidup putriku lagi.
Kali ini akan kubuat kau menyesal karena telah kembali ke dalam hidup putriku lagi. Aku tidak akan memaafkanmu lagi.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Udara malam itu terasa pengap, sudah beberapa jam ia duduk bersandar pada mobilnya sembari menunggu kabar selanjutnya dari orang-orang bayarannya. Ia merasa gelisah saat mendengar Lizzy dilarikan ke rumah sakit karena tak sadarkan diri. Padahal sebelumnya, saat mereka bertemu di kediaman keluarga Allan semuanya terlihat baik-baik saja. Bahkan Lizzy masih sanggup untuk mengeluarkan emosinya.
Perasaanya berkecamuk, rasa bersalah menyergapnya seketika karena mengingat kejadian tempo hari, ia ingin menjelaskan yang sebenarnya kepada semua orang, tetapi apakah mereka semua akan percaya kepadanya?
Tentu saja tidak.
Tapi sungguh, ia tidak tenang jika hanya berada di sini, tanpa bisa melihat keadaan wanita itu. Kenapa aku bisa melakukan kesalahan yang sama meskipun tidak disengaja? Sungguh, aku tidak tahan lagi dengan semua ini, aku benar-benar mencintainya. Maafkan aku Lizzy sayang, aku tak bermaksud menyakitimu lagi.
Tanpa disadarinya sudut matanya mulai basah, ia tidak bisa berbuat apapun sekarang. Bagaimana ia harus memulai lagi semuanya dari awal? Bahkan sebelum bisa melihat wajah Lizzy, ia yakin Alexander tidak akan segan-segan menghajarnya, membuat tubuhnya terasa remuk redam.
Jacob menatap sekeliling, mencoba untuk menetralkan kegelisahannya. Hingga tanpa disengaja ia melihat pria itu, Daniel Allan, yang hampir selalu ada di dekat Lizzy sejak kemarin lalu baru saja turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Dengan langkah mantap ia menghampiri pria itu, untuk menuntut sebuah penjelasan tentang wanitanya.
"Daniel, bisakah kita bicara sebentar?"
Pria itu menghentikan langkahnya saat ada Jacob yang tiba-tiba menghalangi jalannya. Ia mengerutkan keningnya, menatap heran kearah Jacob.
"Maaf tuan, tapi aku tidak punya urusan denganmu," aku lebih baik menghindari konfrontasi apapun dengan pria ini, pikirnya. Kemudian ia bergeser sedikit dari jalannya dan kembali berjalan. Namun belum ada lima langkah ia berjalan, lengannya dicekal oleh Jacob.
"Kumohon, kali ini saja. Aku berjanji tidak akan mengganggumu setelah ini."
Daniel terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menganggukan kepalanya tanda setuju, "baiklah, dimana kau ingin bicara?"
"Ayo kita ke cafetaria rumah sakit saja," Jacob berjalan mendahului Daniel menuju cafetaria rumah sakit. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, seperti dua orang pria yang tidak saling mengenal.
Mereka memilih untuk duduk di sudut, untuk menghindari siapa saja untuk bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Apa yang ingin kau bicarakan Jacob? maaf tapi aku tidak bisa lama," Daniel mulai terlihat tidak sabar karena Jacob hanya diam tak bicara apapun.
"Bagaimana keadaan Lizzy?"
"Menurutmu bagaimana Jacob?"
"Aku...sungguh...aku tidak punya hubungan apapun dengan wanita itu sekarang, dia hanya datang untuk meminta maaf, dan tanpa kusangka dia memelukku begitu saja, aku tidak bisa menghindar."
"Dengarkan aku Jacob, apapun masalahmu dengan Lizzy itu bukan urusanku dan aku tidak berhak untuk ikut campur sedikit pun."
"Setidaknya beritahu aku, bagaimana kondisinya sekarang. Kenapa dia harus sampai dilarikan ke rumah sakit? kau yang membawanya bukan?"
"Kau melihatku baru saja datang bukan? aku tentu saja belum mengetahui bagaimana kondisinya sekarang, dan ya aku yang membawanya ke sini. Setelah kepergianmu tiba-tiba saja dia pingsan dan tubuhnya sangat demam."
Wajah Jacob terlihat lemas seketika, aku telah menyakitinya dengan begitu dalam, pikirnya.
Jacob tertunduk lemas sambil meremas rambutnya, menandakan betapa frustasinya dia. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap manik cokelat milik lawan bicaranya, mencari sebuah kebohongan di sana. Tetapi nihil, hanya ada kejujuran di sana.
Sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya lebih lanjut, seseorang menghampirinya, menarik kerah kemejanya hingga Jacob mau tidak mau berdiri. Satu pukulan keras mendarat tepat di rahang kirinya membuatnya merasa pening seketika, namun belum sempat ia membalas perbuatan orang itu, lagi-lagi rahangnya dipukul membuatnya merasa ngilu dan telinganya menjadi berdenging.
"Sialan kau Jacob, aku akan menghajarmu hingga kau terkapar dan tidak ingat lagi siapa dirimu yang sebenarnya."
Jacob dan Daniel terbelalak kaget saat mengetahui siapa org yang datang dan baru saja menghajar rahang Jacob hingga terlihat sangat mengenaskan.