
Lizzy nyaris berlari memasuki rumah sakit tempat Jacob dirawat. Ia mencari kamar Jacob yang berada di lantai paling atas dari bangunan rumah sakit itu. Sepanjang jalan, tangannya menggenggam tangan Daniel. Meminta dukungan dan kekuatan dari pria itu. Meskipun dulu diantara mereka sempat terjadi kesalahpahaman namun, tak bisa dipungkiri jika Daniel adalah seorang pria yang baik dan menyenangkan untuk dijadikan sebagai teman. Pria itu juga bisa diandalkan.
Lizzy berdiri mematung ketika sampai di depan ruang perawatan Jacob. Ia tadi mendapat kabar dari ibu Jacob, jika mantan suaminya itu sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa, tidak di ICU lagi. Tubuhnya gemetar, membayangkan apa yang ada di dalam sana.
"Lizzy, tenanglah. Kau pasti bisa melewati ini semua. Aku ada di sini bersamamu, menggenggam tanganmu. Aku tidak akan meninggalkanmu Lizzy," Daniel mencoba untuk menenangkan wanita di sampingnya.
Akhirnya Lizzy mengetuk pintu dan menunggu jawaban, alih-alih mendapatkan jawaban pintu itu malah terbuka, dan nampaklah seorang wanita, Ibu Jacob.
Dengan spontan, ibu Jacob memeluknya dengan erat dan tangisnya pun pecah. Ia benar-benar merasa beruntung karena Lizzy masih mau mengunjungi anaknya, menyelamatkan anaknya. Lizzy memang seorang wanita yang memiliki rasa kasih sayang yang besar, sungguh bodoh anaknya dulu karena telah menyakiti wanita sebaik Lizzy. Hingga sekarang justru keadaan menjadi terbalik, seolah Jacob sedang menuai apa yang telah diperbuatnya dulu. Jacob begitu terluka karena harus kehilangan Lizzy lagi. Ia bersumpah dalam hati akan mengembalikan Lizzy pada anaknya, dan mengembalikan Jacob pada Lizzy, apapun yang terjadi mereka harus kembali bersama.
"Terima kasih nak, terima kasih sayang, karena kau mau datang untuk Jacob, dia sangat membutuhkanmu Lizzy."
Lizzy membalas pelukan ibu Jacob dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih menggenggam erat tangan Daniel, ia tak akan melepaskan genggamannya pada pria itu, tidak sekarang. Seolah mengerti maksud tersirat dari genggaman tangan Lizzy yang semakin erat, ia akhirnya bersuara, "Nyonya, kurasa sebaiknya kita masuk, agar tidak ada orang yang melihat kita di sini."
Seolah tersihir oleh ucapan Daniel, wanita paruh baya itu memilih untuk melepaskan pelukannya pada Lizzy dan mengajak mereka semua masuk ke dalam. Dan di sanalah Jacob, terbaring tak berdaya dengan wajah pucat pasi. Selang infus terpasang di tangan kanannya matanya terpejam, mengabaikan sekitarnya. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas, rambutnya mulai memanjang dan tak beraturan, rambut yang tumbuh disekitaran wajahnya pun mulai memanjang. Seperti bukan Jacob Morris.
Hati Lizzy seperti diremas, ia tidak pernah bisa membenci Jacob dengan sepenuh hatinya, dan sekarang melihatnya seperti ini membuatnya merasa menjadi orang yang paling jahat. Ia mencoba untuk mengalihkan pandangannya, melihat suasana kamar itu.
Ia tak sanggup jika harus terus menerus menatap Jacob, hatinya terasa pilu. Daniel melepaskan genggaman tangan Lizzy dan menggantinya dengan merengkuh tubuh Lizzy ke dalam pelukannya, membiarkan Lizzy menangis di dadanya, membelai lembut punggung wanita itu dengan membisikkan kata-kata menguatkan.
Ibu Jacob pun hanya bisa menatap Lizzy dengan tatapan sendu. Ia mengenal Lizzy dengan baik, semua hal yang terjadi pada Lizzy selama ini pun ia mengetahuinya. Putranya tidak pernah berhenti membicarakan Lizzy dan juga kedua cucunya. Selama ini ia lebih sering berada di luar Negeri untuk menemani suaminya yang mengurus bisnis mereka di sana, membuatnya jarang memiliki waktu untuk bermain bersama kedua cucunya.
"Lizzy, kumohon, tolong bangunkan Jacob, dokter bilang dia depresi dan dia membutuhkan orang yang dicintainya."
Lizzy mengangkat wajahnya, memandang Daniel sejenak dengan tatapan haruskah aku?, dan seolah mengerti akan arti tatapan Lizzy, Daniel menganggukkan kepalanya pelan, sebagai tanda mengiyakan. Lizzy mengurai pelukan mereka, dan berjalan mendekat ke arah ranjang tempat Jacob berbaring.
Ia duduk di kursi di samping ranjang, menatap wajah Jacob dan kemudian mencari keberadaan luka di lengan pria itu. Pergelangan tangan kiri Jacob terlihat dibungkus perban yang cukup tebal, menandakan luka itu di sana.
Lagi-lagi airmata Lizzy mengalir tanpa bisa ditahan. Ia mengambil tangan Jacob dan menangkup dengan kedua tangannya, tanpa sadar ia mengangkat tangan Jacob dan mengecupnya dalam.
"Jacob, ini aku. Bangunlah Jacob, bukalah matamu. Aku di sini," Lizzy mulai terisak, memandang Jacob yang tak berdaya.
"Apa kau tahu Jacob? Clara dan David selalu menantikan kunjunganmu, mereka merindukan ayahnya. Mereka merindukanmu. Bangunlah Jacob, kau harus kuat, kau harus menepati janjimu pada anak-anak untuk membawa mereka berlibur keliling dunia. Aku akan ikut bersama kalian, kita bisa berlibur berempat, seperti waktu terakhir kali."
"Kumohon Jacob, bangunlah. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini, sungguh, aku tidak pernah benar-benar bisa membencimu, kau selalu memiliki ruang tersendiri di hatiku Jacob."
Lizzy tak lagi bisa menahan isakannya, dan seketika sepasang mata itu terbuka, Jacob terbangun. Perlahan ia membuka kedua matanya, menatap sekitar dan menemukan Lizzy yang sedang menangis dan tersenyum. Seketika, menghangatkan hatinya yang dingin, membuat darahnya terpompa deras. Ia balas tersenyum kearah Lizzy, meskipun hanya sebuah senyuman lemah.
"Lizzy..." Jacob memanggil namanya dengan suara yang terdengar seperti berbisik
"Bangunlah Jacob, kau harus kuat, aku ada di sini."
Jacob kembali tersenyum mendengar ucapan Lizzy, ingin sekali ia bangun memeluk wanita itu, mencium keningnya dan tidak akan melepaskannya lagi, tapi ia tak memiliki tenaga sekarang, ia bertekad untuk bangkit dan menjadi kuat, agar bisa mendekap wanita itu lagi.
Tigapuluh menit kemudian, Jacob kembali tertidur, karena pengaruh obat. Lizzy berniat pulang saat ibu Jacob tiba-tiba memintanya untuk tinggal dan menemani Jacob.
"Lizzy, bisakah kau tinggal? Bagaimana jika nanti Jacob mencarimu, apa yang harus kukatakan padanya?"
Lizzy terdiam mendengar permintaan dari ibu Jacob, ia sudah melakukan semua yang wanita itu minta, tapi apakah ia harus melakukannya sejauh itu sekarang?
Daniel, yang melihat kebimbangan pada wajah Lizzy membuatnya berinsiatif untuk menjawab permintaan dari ibu Jacob.
"Maaf nyonya, Lizzy harus kembali, karena kami berangkat dengan tergesa-gesa tadi, kami belum sempat berpamitan pada anak-anak," Daniel mencoba untuk tidak mempersulit keadaan Lizzy.
Ibu Jacob menoleh kearah Daniel, dia baru tersadar jika ada pria itu di sana bersama mereka sejak tadi.
"Maaf, tapi bolehkah aku tahu siapa kau tuan?"
"Aku Daniel, Daniel Allan. Aku...tunangan Lizzy," Ada sedikit keraguan saat menjawab pertanyaan wanita itu. Ia takut jika Lizzy akan marah, karena tujuannya hanyalah menyelamatkan Lizzy dari suasana yang terasa canggung itu.
Lizzy sempat terkejut mendengar jawaban dari Daniel, namun ia bisa menguasainya. Ia tersenyum hangat mendengar pengakuan Daniel, mencoba untuk meyakinkan ibu Jacob.
Sedangkan ibu Jacob memandang Daniel dengan tatapan tidak suka.
"Iya, benar bu. Dia tunanganku, maaf aku tidak memberitahukanmu jika aku sudah memiliki calon suami," Lizzy menjawab sembari merapalkan doa dalam hati, semoga ibu Jacob tidak mengetahui kebohongannya. Karena mantan ibu mertuanya itu dulu juga memiliki profesi yang sama dengan Jacob, yaitu seorang pengacara.
"Kurasa kau sudah mulai melangkah ke depan Lizzy, Selamat untuk kalian berdua, semoga kalian berdua berbahagia. Tadinya aku berharap kau bisa kembali bersama Jacob, tapi ternyata itu tidak akan terjadi. Baiklah Lizzy, Daniel terima kasih banyak atas bantuan kalian, sampaikan salam sayangku untuk kedua cucuku."
"Baik ibu, maaf aku tidak bisa tinggal lebih lama, kami pamit bu, semoga Jacob lekas sembuh."
Lizzy dan Daniel segera berjalan kearah pintu dan keluar dari sana, meninggalkan wanita itu dan Jacob dalam sebuah keheningan yang terasa menyesakkan.
Kau tidak akan kubiarkan merebut kebahagiaan anakku pria asing. Lizzy akan tetap menjadi milik Jacob, akan kupastikan mereka akan kembali bersama. Tidak akan kubiarkan apapun menghalangi kebahagiaan anakku.
Meskipun kalian telah bertunangan, aku akan tetap memisahkan kalian. Wanita itu menatap kepergian mereka dengan penuh rasa amarah.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sepanjang perjalanan pulang, Lizzy hanya diam sambil menatap kearah luar jendela. Ia merasa ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh ibu Jacob. Ia mengenal dengan baik siapa mantan mertuanya itu, bahkan sepak terjangnya di ruang sidang. Cathlyn Morris adalah salah satu pengacara wanita dengan bayaran termahal di Negeri ini, dan itu menurun pada Jacob.
"Lizzy, ada apa? Apa ada yang sedang kau pikirkan?" Daniel bertanya setelah dirasanya Lizzy terdiam cukup lama.
Lizzy menoleh kearah Daniel berpikir sejenak sebelum akhirnya ia menjawab, "Entahlah Daniel, sepertinya ibu Jacob sedang merencanakan sesuatu pada kita. Aku mengenalnya dengan baik. Dia akan menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalannya. Kau lihat tatapan tadi bukan? Dia marah pada kita, terutama padaku. Aku takut Daniel, aku takut dia akan mencelakaimu. Maafkan aku Daniel, aku telah menyeretmu dalam masalahku. Aku berhutang banyak padamu Daniel."
"Jangan merasa sungkan padaku Lizzy, kau telah melakukan banyak hal untuk menyenangkan kedua orangtuaku, sudah seharusnya aku juga melakukan hal yang sama untukmu," Ia tersenyum manis pada Lizzy, senyumnya menular, dan membuat Lizzy ikut tersenyum.
Mereka telah sampai di kediaman orang tua Lizzy, ternyata ibu Daniel dan ibunya sedang asik berbincang sambil minum teh di teras belakang, sembari mengawasi kedua anak Lizzy bermain.
"Halo sayang, bagaimana kencan kalian? Sepertinya kalian sudah tidak sabar untuk pergi kencan tadi, hingga lupa untuk berpamitan pada kami. Benar bukan nyonya?" Ibu Lizzy meledek mereka berdua dan disambut dengan tawa bahagia dari ibu Daniel.
"Bibi, Daniel, tolong maafkan ibuku. Terkadang daya imajinasinya itu terlalu tinggi. Ibu kumohon jangan membuatku malu, aku ini seorang janda dengan dua anak, tidak akan ada pria yang mau denganku," Lizzy menggerutu dan mencebikkan bibir kepada ibunya, dan membuat semua orang tertawa karena melihat Lizzy yang kesal.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Mereka semua makan malam bersama di kediaman orang tua Lizzy, meja makan yang biasanya hanya terisi oleh Lizzy, ibunya dan kedua anaknya selama beberapa hari ini, kini terasa lebih ramai karena kehadiran Daniel dan ibunya. Ayah Lizzy dan Alex kakaknya sedang ke luar kota, sejak beberapa hari yang lalu.
"Daniel, bisakah kau menolongku mengambil pakaian gantiku di apartemenmu?" ibunya bertanya
"Kau akan bermalam disini bu?"
"Iya, ibu Lizzy memintaku untuk bermalam di sini, dan aku menyetujuinya, sudah lama aku tidak memiliki teman bicara dengan wanita seusiaku."
"Benar Daniel, aku yang meminta ibumu untuk tinggal dan bermalam di sini. Kau tidak keberatan bukan? Kau juga harus ikut bermalam di rumah kami Daniel, agar kita bisa lebih akrab," Ibu Lizzy menatap teman barunya dengan tatapan penuh arti, dan disambut dengan senyuman hangat oleh ibu Daniel.
Lizzy hanya bisa menggaruk keningnya yang tidak terasa gatal, ia tidak tahu lagi harus melakukan apa. Sepertinya bibi dan ibunya sudah menjadi sekutu sekarang. Baginya lebih mudah membatalkan rencana kejahatan, dibandingkan membatalkan rencana dua wanita paruh baya yang bertekad menjodohkan anak mereka.
Daniel yang melihat Lizzy merasa canggung dan serba salah pun hanya bisa tersenyum dan mengangguk menyanggupi permintaan sang Nyonya rumah.
"Baiklah, kalau begitu Lizzy akan menemanimu untuk mengambil beberapa pakaian ganti kalian di apartemenmu. Lekaslah berangkat kalian berdua, sebelum hari semakin malam," Ibu Lizzy berkata dengan senyum penuh kemenangan.
Mau tidak mau, suka tidak suka mereka berdua akhirnya berangkat menuju apartemen milik Daniel di tengah kota. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Lizzy terdiam karena merasa tidak enak pada Daniel karena perbuatan ibunya. Daniel yang terdiam karena merasa takdir seolah sedang mempermainkannya.
Sungguh, bukannya ia tidak tertarik pada Lizzy. Ia bahkan sangat menyukai wanita itu sekarang. Wanita yang penuh kelembutan berbalut kemandirian dan kekuatan di luar. Siapa yang tidak akan terpesona jika melihat Lizzy? Ia adalah laki-laki normal. Tapi ia sadar akan posisinya.
Jika dibandingkan dengan keluarga Lizzy ia hanya bagaikan butiran debu di pinggir pantai, yang bisa hilang setiap saat karena tersapu ombak. Meskipun ibu Lizzy dengan jelas memberikan sinyal menyetujui hubungannya dengan Lizzy, tapi ia tak mau bermimpi terlalu tinggi.
Biarlah, baginya mereka cukup berteman. Bisa berada di posisi seperti sekarang saja sudah melampaui batas mimpinya, ia sudah sangat bersyukur dan tidak berani meminta lebih kepada Tuhan.
"Daniel, menurutmu bagaimana nanti kelanjutan kisahku dengan jacob?" tiba-tiba Lizzy bertanya memecahkan keheningan diantara mereka.
"Apa yang kau inginkan Lizzy?" Alih-alih menjawab pertanyaan Lizzy, ia justru berbalik bertanya.
"Aku ingin tetap seperti ini Daniel, cukup berteman saja dengannya. Aku tidak ingin lebih. Aku...aku tidak ingin mengulang kisah yang sudah usai sejak lama. Aku ingin terus melangkah ke depan bersama kedua anakku. Menata hidup kami untuk lebih baik, aku ingin merasa aman dan nyaman tanpa harus memiliki rasa gelisah karena takut dihianati untuk yang kedua kali. Bisakah aku mendapatkan semua itu Daniel?"
"Kau akan mendapatkannya Lizzy, semua tergantung pada keputusanmu dalam menghadapi masalah ini. Jika kau masih meragu, maka pikirkanlah baik-baik untuk memantapkan pilihanmu. Tapi jika kau memang sudah tidak ingin kembali bersama Jacob, maka kau cukup menutup lembaran masa lalumu dan fokus untuk membuka lembaran masa depanmu. Seiring berjalannya waktu, semua luka itu akan sembuh dan tak berbekas. Begitu pula dengan Jacob. Waktu akan menyembuhkannya, membuatnya menyadari banyak hal yang telah ia lewatkan, dan waktu akan membuatnya bisa belajar dari kesalahan masa lalu. Waktu yang akan menyembuhkan semuanya Lizzy."