
"Lizzy, maukah kau menikah denganku?" Daniel bertanya dengan mantap.
Lizzy tertegun mendengar pertanyaan dari pria itu. Ini semua diluar perkiraannya. Manik matanya mencari kebohongan dalam tatapan mata Daniel, tapi hanya ada kejujuran di sana. Ia terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Daniel ... aku .... "
"Tidak Lizzy, kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Pikirkanlah semuanya baik-baik, jika kau sudah merasa siap untuk memberikan jawaban, kau bisa mengatakannya kapanpun padaku," kata Daniel.
Lizzy melepaskan dirinya, dan menjauh dari jangkauan pria itu. "Kau tidak tahu tentang masa laluku, jika kau tahu, kau pasti tidak akan berkata seperti itu Daniel."
"Tidak Lizzy, meskipun aku tahu masa lalumu aku tetap akan mengatakan hal yang sama. Aku tidak peduli dengan masa lalumu, karena masa laluku pun tidak sebaik yang orang pikir. Tapi kita tidak hidup untuk masa lalu, melainkan untuk masa depan," Daniel mencoba meyakinkan Lizzy.
"Kumohon, pikirkan dulu permintaanku dengan baik, kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Tanya pada hatimu, apakah aku bisa membuatmu nyaman atau tidak. Jika kau merasa nyaman berada di sampingku, itu sudah lebih cukup untukku. Karena cintaku cukup besar untuk membuat kehidupan rumah tangga kita nanti tetap bahagia, bersama Clara dan David." Daniel menjawab sambil membelai pipi Lizzy dengan lembut.
Sepanjang perjalanan pulang, Lizzy merenungkan apa yang terjadi tadi malam. Benar, ia merasa nyaman jika berada di dekat Daniel, bahkan ia merasa tenang dan aman. Tapi, apakah Daniel bisa menerima semua masa lalunya?
Tangannya penuh dengan lumuran darah manusia, meskipun itu bukan keinginanya. Tuntutan pekerjaan membuatnya harus bisa melindungi dirinya sendiri, ia harus mampu bertahan dengan cara apapun.
Lizzy masih sibuk merenung saat tiba-tiba terdengar klakson mobil dari arah depan. Dengan segera ia tersadar dan memutar stir mobilnya untuk kembali ke jalurnya. Kemudian ia segera menepikan mobilnya dan berhenti sejenak di bahu jalan.
Tak lama kemudian, kaca jendela mobilnya diketuk oleh seseorang. Jacob. Ia segera menurunkan kaca mobilnya, "Jacob, ada apa?"
"Ada apa kau bilang? cepat buka pintu mobilmu!" perintah Jacob.
Lizzy segera menuruti perintah Jacob, dan keluar dari dalam mobil. Tanpa bisa dihindari, Jacob memeluknya dengan erat, "Ada apa denganmu Lizzy? Kau nyaris saja tertabrak tadi, aku sangat takut tadi." Jacob terdengar sangat khawatir.
"Kenapa kau bisa ada disini Jacob? Apa kau mengikutiku lagi?" Lizzy bertanya sambil melepaskan pelukan mereka.
"Tidak, akulah yang tadi hampir kau tabrak Lizzy. Aku yang membunyikan klakson tadi." jawab Jacob.
"Kau akan kembali ke Ibukota?" lanjut Jacob bertanya.
"Iya, aku baru saja akan kembali ke Ibukota." Lizzy menjawab.
"Baiklah, pulanglah bersamaku, sepertinya kau tidak dalam kondisi baik-baik saja untuk mengendarai mobil sendiri. Aku akan meminta orangku untuk mengambil mobilku nanti," kata Jacob sambil menelpon seseorang.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, atau lebih tepatnya Lizzy yang terdiam. Jacob berusaha membuka percakapan, namun Lizzy hanya menjawab seperlunya.
"Lizzy, ada apa sebenarnya dengan dirimu? Kau terlihat sangat berbeda hari ini, seperti bukan dirimu yang aku kenal." Jacob berkata sambil sesekali melirik ke arah Lizzy.
"Dengarkan aku Lizzy, apapun yang terjadi kau masih memiliki aku dan anak-anak, kami akan selalu bersamamu. Kau tidak akan pernah sendiri," kata Jacob sambil meremas tangannya dengan lembut.
***
Beberapa hari kemudian, Lizzy semakin merasa gelisah, ia merasa tak tenang. Namun semua yang terjadi di depan matanya berjalan dengan normal. Hari itu ia memutuskan untuk pergi menjemput Clara ke sekolah, dengan hati-hati ia mengendarai mobilnya.
Saat keluar dari gerbang kediaman orang tuanya, ia tak sadar ada sebuah mobil van yang mengikutinya. Saat tiba di jalan yang sepi kendaraan lain, van itu tiba-tiba menyalipnya dan berhenti tepat di depan mobilnya.
Membuatnya menginjak rem dengan mendadak. Dari dalam mobil van, turun empat orang pria dengan menggunakan pakaian serba hitam, wajah mereka tertutup topeng. Mereka semua berbadan besar dan tegap, berjalan menghampiri mobil Lizzy sambil membawa sebuah tongkat yang terbuat dari besi panjang.
Seperti dikomando, mereka tiba-tiba memukuli mobil Lizzy, mulai dari bagian depan, kaca jendela depan sampai dengan kaca samping, bahkan salah satu dari mereka memecahkan kaca jendela persis di samping Lizzy.
Lizzy, yang tiba-tiba saja diserang dengan membabi buta, segera bergerak melepaskan sabuk pengamannya dan dengan lincahnya bergerak menjauh, ia merogoh tas selempangnya yang terletak di kursi penumpang sebelahnya dan mengambil benda yang sejak kemarin dibawanya.
Dengan sekali hentakan ia membuka pintu , dan mengenai salah satu dari mereka. Lizzy mulai memukul orang yang paling dekat dengannya. Ia memasang kuda-kuda, memiringkan sedikit tubuhnya dan melepaskan tendangan tepat mengenai bagian perut pria itu.
"Sialan kau ja**ng!" teriak orang yang baru saja terkena tendangan Lizzy. Orang itu merangsek maju untuk menyerang Lizzy.
Ketiga temannya yang lain ikut bergerak hendak menyerang Lizzy. Karena merasa terjepit, dan menyadari ia takkan sanggup melawan keempat pria berbadan besar itu dengan bersamaan, Lizzy mengambil pistol yang tadi ia sembunyikan di balik bajunya.
Dengan mantap ia melepaskan tembakan kearah kaki salah satu dari mereka dengan harapan mereka semua akan mundur. Harapannya terwujud, mereka semua berhenti. Lizzy masih menodongkan pistolnya kearah mereka dan memasang wajah bengisnya.
"Katakan padaku, siapa yang memberikan kalian perintah?" Lizzy bertanya dengan membentak.
"Kau pikir kami akan menjawabnya? Kau terlalu percaya diri Nona!" salah satu dari mereka menjawab dengan menyeringai licik.
Tanpa diduga, mereka semua pun mengeluarkan pistol, dan mengarahkannya pada Lizzy. Namun, bukannya merasa takut Lizzy justru semakin tersenyum lebar. Sudah lama ia tidak merasakan adrenalinnya berpacu, membuat darahnya mengalir dengan deras.
"Baiklah, sepertinya kita akan bermain-main sebentar tuan-tuan." Lizzy berkata sambil menyeringai menakutkan.
Lagi-lagi dengan mantap Lizzy melepaskan tembakan kearah mereka dengan gerakan cepat. Hanya dalam waktu tidak lebih dari dua menit, mereka semua berhasil dilumpuhkan oleh Lizzy.
Kaki keempat pria itu terluka dibagian paha. Darah mereka terlihat mengalir dengan deras.