Infinity

Infinity
Kegelisahan



Seminggu setelah pertemuannya dengan bartender di Club tempat Angeline biasa menghabiskan waktu, Lizzy kembali ke Kota Pegunungan untuk membereskan beberapa hal.


Setibanya di sana ia segera memasuki kamarnya, membuka lemari pakaian dan memencet tombol di bagian belakang lemari, setelah terdengar suara klik, maka terbukalah sebuah pintu kecil, dan memperlihatkan sesuatu.


Sebuah senjata kesayangan miliknya dulu, pistol jenis Desert Eagle, dengan kelebihan yang tidak hanya menusuk, melainkan juga meledakkan objeknya. Meskipun hanya bisa diisi dengan tujuh buah peluru, namun kekuatan satu pelurunya sama dengan kekuatan tiga sampai empat buah peluru biasa.



Dengan hati-hati ia mengusap permukaan datar pistolnya. Sebelum akhirnya ia menghela nafas panjang dan melepaskan sentuhannya pada benda itu. Ia kemudian segera menutup kembali kotak persembunyiannya disusul menutup lemarinya kemudian.


Ia duduk sejenak di atas ranjangnya, merenungi apa yang harus ia lakukan. Karena sungguh, ia belum pernah merasa semarah ini dan ingin membalas dendam kepada orang lain. Ia membenci wanita itu, karena telah membuatnya nyaris kehilangan nyawa, dan hampir saja membuat kedua anaknya kehilangan sosok ibu.


Langit sore hari di Kota Pegunungan terlihat cerah, setelah beberapa waktu Lizzy tak menginjakkan kakinya lagi di kota itu, ada secercah rindu dalam hatinya. Ia bergegas turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam toko roti miliknya.


"Lizzy!" seru Adelia dari balik counter roti.


"Adel! Aku sangat merindukanmu," seru Lizzy sambil berjalan dan bergegas memeluk teman lamanya itu.


"Kau terlihat semakin luar biasa Lizzy. Tentu saja, karena kau telah kembali menjadi tuan puteri. Bagaimana rasanya?" Adel bertanya sambil mengurai pelukan mereka.


"Tidak Adel, ini bukan kehidupanku. Aku ingin kehidupanku yang tenang seperti saat dulu aku tinggal di kota ini. Dan sepertinya aku akan kembali ke sini." Lizzy menjawab dengan mantap.


"Tidak, kau tidak mungkin kembali mengurus toko roti yang kecil ini, kau hanya perlu menerima hasilnya, biarkan aku yang bekerja," kata Adel.


"Duniaku di balik meja dapur Adel, buka melenggang kesana kemari sambil menghabiskan uang. Itu bukan aku! Baiklah Nona Adel, buatkan aku secangkir coffelatte tanpa gula seperti biasa, dan juga beberapa roti sebagai kudapan," ujar Lizzy sambil tersenyum manis.


***


"Rachel ...." seorang pria memanggil namanya, membuatnya menghentikan langkah dan kemudian berbalik.


"Alvaro ....?" ia menjawab dengan bingung. Bagaimana pria itu bisa menemukannya di tempat ini? Ia sudah berusaha menghindar sejauh mungkin dari pria itu.


Pria itu bergegas menghampiri wanita yang dulu pernah menjadi kekasihnya, dan segera memeluknya erat dengan penuh kerinduan, "Dengarkan aku Rachel, pergilah sejauh mungkin, bersembunyilah ke Luar Negeri jika perlu! Ada seorang wanita mencurigakan yang mencarimu, dan sepertinya ia bukan orang sembarangan. Ada banyak penjaga yang mengikutinya," ujar Alvaro sambil melepaskan pelukan mereka tanpa melepas pegangan tangannya pada bahu wanita itu.


Rachel justru menepis kedua tangan pria itu dengan kasar, ia mendelik dengan penuh amarah. "Kau tidak punyak hak untuk mengaturku sedikitpun Alvaro! Kau hanya orang asing bagiku."


"Aku memperingatimu, karena aku masih peduli padamu. Jika kau tidak mau mendengarkan aku, terserah. Tapi jangan datang padaku jika nanti kau mengalami kesulitan," kata Alvaro sambil berlalu dari hadapan wanita itu.


Cih, dia pikir siapa dia?! beraninya mengancamku! Aku tidak akan pernah datang padamu Alvaro, meskipun kau orang terakhir di muka bumi ini.


***


Lizzy berkendara dengan perlahan, menikmati hembusan angin senja di kota itu. Sebelum kembali ke Ibukota, ia memutuskan untuk singgah di rumah pasangan Allan.


Sesampainya di sana, ia melihat sesuatu yang janggal. Entah kenapa semua lampu masih padam, sungguh bukan kebiasaan mereka. Lizzy turun dari mobilnya, berjalan dengan perlahan menuju pintu gerbang, dan membukanya dengan perlahan.


Jantungnya berdegub lebih kencang, sudah lama ia tak melakukan adegan seperti ini. Ia semakin melambankan langkahnya saat sudah tiba di depan pintu masuk rumah. Mengendap-endap dan mencoba melihat keadaan di dalam rumah melalui celah gorden. Nihil. Ia tak bisa melihat apapun. Entah kenapa kali ini bukan hanya jantungnya yang berdegub lebih kencang, namun nafasnya kini ikut terasa sesak.


Lizzy melangkah lebih jauh ke dalam, dan memeriksa keadaan sekitar. Namun, lagi-lagi tak ada hasil yang didapatkan. Telinganya tiba-tiba menangkap suara seperti orang yang sedang tertutup mulutnya di sekitaran rumah.


Ia hendak berbalik arah dan mencari sumber suara, saat seseorang menepuk pundaknya dengan lembut. Ia terlonjak namun tak bersuara. Dengan segera ia berbalik, untuk melihat siapa orang yang telah menepuk bahunya.


"Kejutaaaannnn ...." kata semua orang.


Kemudian, semua lampu pun menyala. Menampakkan orang-orang yang ada di sana yang sedang tersenyum hangat kearahnya. Ada paman dan bibinya, dan juga ada Daniel di sana.


Mereka bergantian memeluk Lizzy dan saat tiba giliran Daniel, mereka berpelukan dengan canggung. Ada rasa hangat di dalam hati Lizzy, dan juga perasaan nyaman saat dipeluk oleh pria itu.


Aroma parfum maskulin yang selalu menguar dari tubuh pria itu, sukses membuatnya tenang dalam sekejap. Bidangnya dada pria itu terasa pas saat ia memeluknya dan bersandar di sana.


"Selamat datang Lizzy, kami merindukanmu." Daniel berkata sambil mengusap punggung Lizzy dengan lembut.


"Terima kasih Daniel, aku juga merindukan kalian semua," jawab Lizzy sambil mengurai pelukan mereka.


Mereka pun memutuskan untuk makan malam bersama di halaman belakang, seperti dulu. Saat Lizzy masih tinggal di kota itu. Mereka berbincang hangat, dengan disertai suara tawa yang terdengar sesekali.


"Lizzy, ini sudah malam, sebaiknya kau bermalam saja di sini! Aku sudah menyiapkan kamar tamu untukmu," Bibinya berkata.


"Tidak Bibi, aku tidak mau merepotkanmu. Aku akan langsung pulang saja, ini belum terlalu larut. Aku akan berhati-hati," jawab Lizzy.


"Kau, selalu saja begitu. Bicara yang tidak-tidak. Kita ini keluarga bukan? Tadi ibumu juga menghubungiku, dia berpesan agar aku melarangmu pulang jika hari sudah gelap," kata Sang bibi.


Mendengar ibunya disebut maka runtuhlah pertahanan Lizzy. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk pasrah dan menyetujui permintaan Bibinya, "Baiklah Bi, aku akan bermalam di sini. Besok baru aku akan pulang."


Udara kota itu seperti biasanya, dingin menusuk hingga ke tulang. Lizzy yang memang masih belum terbiasa dengan udara di sana memeluk dirinya erat sambil berdiri menatap pemandangan di kejauhan.


Tiba-tiba, seseorang menyampirkan sebuah selimut tebal dari arah belakang, membuatnya merasa hangat. Setelah itu apa yang terjadi kemudian membuatnya terkejut bukan kepalang, ada lengan kokoh yang mendekapnya dengan erat. Jelas itu adalah Daniel, tercium dari aroma parfum maskulin yang menjadi ciri khas pria itu.


"Biarkan aku memelukmu Lizzy, walau hanya untuk sesaat. Aku merindukanmu, sangat. Aku hampir gila saat melihat kau terluka tempo hari, maafkan aku yang tak bisa menjagamu dengan baik saat itu," kata Daniel sambil meletakkan dagunya di pundak Lizzy. Sisi sebelah kiri wajahnya menempel pada pipi sebelah kanan Lizzy.


Lizzy terseyum mendengar ucapan Daniel, meskipun ia merasa sedikit tidak nyaman dengan posisi mereka saat ini, tapi ia berusaha untuk menutupinya dengan baik.


"Tak apa Daniel, sungguh. Justru akulah yang ceroboh karena tidak memeriksa dulu sebelum membuka pintu."


"Apa kau tahu? Untungnya saat itu Clara dan David tidak ikut bersama kita, hingga mereka tidak perlu melihat semua itu. Sungguh Lizzy, aku tidak sanggup melihat semua itu. Aku ... aku takut kehilanganmu," Daniel menghela nafas sejenak dan mempererat pelukannya.


"Saat itulah aku menyadari satu hal Lizzy, aku mencintaimu. Aku takut kehilanganmu, melihatmu kesakitan dan terluka seperti itu membuatku nyaris gila. Ingin rasanya aku menggantikan posisimu, berbaring di ranjang rumah sakit dan merasakan semua rasa sakit itu dan berjuang untuk tetap hidup," kata Daniel.


"Maafkan aku Lizzy, karena mengatakan semua ini padamu. Aku tahu, aku tak pantas untukmu. Tapi aku sungguh tak bisa menahannya lagi," kata Daniel sambil melepaskan pelukannya. Ia kemudian memutar tubuh Lizzy perlahan dan menatap manik wanita itu dengan hangat.


"Lizzy, maukah kau menikah denganku?"