
Lizzy adalah anak bungsu dari dua bersaudara, dia memiliki seorang kakak laki-laki yang berprofesi sebagai pengusaha, sama seperti ayahnya. Hanya saja ayahnya adalah seorang pria yang ramah sedangkan sang kakak adalah seorang pria yang dingin jika menyangkut masalah bisnis dan berubah menjadi seorang pria b******k jika menyangkut masalah wanita.
Alexander Stuart adalah bujangan paling diimpikan oleh para wanita lajang dan juga pengeruk harta di Negeri ini, selain tampan Alexander juga memiliki kekayaan pribadi yang melimpah, belum lagi jika ditambah harta warisan keluarga. Baginya, wanita hanyalah benda yang bisa ia pakai dan bisa ia buang dengan mudah, kapanpun dia inginkan. Meskipun terkenal playboy, tapi ia tak pernah membiarkan adik perempuan semata wayangnya didekati apalagi disentuh oleh sembarang pria. Semua pria yang tertarik pada sang adik selalu diselidiki dengan seksama tanpa ada yang terlewat satu pun. Begitu juga dengan Jacob Morris dulu. Sialnya Jacob Morris begitu ahli menyembunyikan kehidupan pribadinya dulu, hingga adiknya mengalami kekecewaan, bahkan setelah mereka menikah dan mempunyai dua orang anak.
Semenjak itu dia membenci Jacob, segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga Morris ia selalu menghindar sebisa mungkin. Meskipun kedua orang tua mereka telah memaafkan perbuatan Jacob, namun tidak dengan dirinya.
Hari ini ia berencana untuk menjemput adik tersayangnya beserta kedua ponakannya, ia akan membawa mereka bertiga untuk pulang ke kediaman keluarga Stuart. Lusa ayah mereka berulang tahun, dan akan ada acara jamuan makan malam untuk seluruh keluarga dan beberapa sahabat. Acara seperti ini rutin dilakukan setiap tahun saat ayah atau ibunya berulang tahun. Seluruh keluarga menyempatkan diri untuk hadir dan makan bersama.
Alexander Stuart.
Beberapa bulan ini ia belum sempat mengunjungi adik dan keponakannya, meskipun hampir setiap hari ia menghubungi sang adik untuk sekedar bertukar kabar. Ia terlalu sibuk dengan bisnisnya, dan juga dengan kekasih barunya Angeline yang beberapa waktu lalu juga sudah ditinggalkannya.
Ia sampai di kediaman Lizzy saat siang hari sedikit lebih cepat dari waktu yang telah dijanjikan.
"Halo sayangku, aku benar-benar merindukanmu," Alex memeluk Lizzy dengan begitu erat, sambil sesekali menciumi puncak kepala Lizzy.
"Halo Alex, kau terlihat semakin tampan saja," Lizzy balas memeluk sang kakak dengan sama eratnya.
Lizzy mengajak sang kakak untuk masuk kedalam dan duduk di ruang keluarga yang langsung bersebelahan dengan ruang makan dan dapur. Ia menuangkan jus jeruk dan menyiapkan beberapa kue sebagai kudapan.
"Ini minumlah dulu, kau pasti haus bukan?" Lizzy duduk dan bergelayut manja pada tangan kakaknya.
"Aku ingin minum kopi sayang, bukan jus jeruk. Aku bukan David yang masih harus minum banyak jus," Sang kakak memprotes namun jus itu tetap diminumnya.
Lizzy mencium pipi sang kakak dengan gemas sambil tertawa kemudian kembali ke posisinya semula.
"Bagaimana dengan perjalananmu kakakku? Apa melelahkan? Atau malah menyenangkan karena kau justru terlalu banyak mampir di kedai-kedai kecil tempat para wanita haus belaian berkumpul?"
"Kau ini, selalu saja meledekku! Aku tidak bermain dengan sembarang wanita sayang, kau tahu itu. Meskipun aku seorang playboy tapi aku sangat pemilih. Apa kau lupa? Aku adalah pria lajang paling diinginkan oleh para wanita di negeri ini," Pria itu mengacak rambut Lizzy dengan sayang.
Lizzy tertawa geli mendengar kakaknya menggerutu, ia sudah lama tidak melakukan itu, meledek sang kakak. Dan saat sudah bertemu ia tidak akan menahannya.
"Kau masih saja pemarah tuan Alex, apa kau tidak takut menjadi lebih cepat tua daripada seharusnya? Rambutmu itu akan lebih banyak memiliki warna putih daripada warna aslinya."
"Kau ini, minta ku cubit ya?" tangan Alex mulai menggelitik tubuh Lizzy.
Mereka saling menggelitik satu sama lain, dan tertawa bersama, sekilas mereka mirip pasangan yang sedang dimabuk asmara. Mereka saling melepaskan rindu karena lama tidak bertemu. Mereka tidak sadar sedari tadi ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka berdua dengan tatapan sendu.
Tanpa mereka berdua sadari, pria itu pun perlahan mundur dan pergi dari sana. Jelas ia tak mau mengganggu kegiatan kakak beradik itu. Lagipula ia juga belum siap jika harus berhadapan dengan kemarahan Alexander Stuart yang jelas sangat membencinya.
Tak lama kemudian kedua anak Lizzy pun tiba di rumah. Mereka berdua berteriak gembira menyambut kedatangan sang paman. Mereka saling berpelukan layaknya anak kecil yang sedang berbahagia karena mendapatkan permen. Setelah berkemas mereka segera berangkat menuju ibukota, tempat kedua orang tua Lizzy tinggal.
Ditengah perjalanan, kedua anak Lizzy tertidur dengan nyenyak, membuat Lizzy dan Alex leluasa untuk berbicara.
"Kapan kau akan menikah Alex?" Lizzy memulai interogasinya pada sang kakak.
"Pertanyaan macam apa itu Lizzy? wah kau ini, sedang berlatih untuk kembali ke profesimu dulu ya?" sang kakak menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari adiknya.
Lizzy memutar bola matanya dengan malas, "Memangnya kau ingin menjadi pria lajang sampai tua? Karena jika memang iya, aku tidak mau mengurusmu Alex, kau akan kutitipkan di Panti jompo."
"Kau ini benar-benar wanita kejam sayang, kau memintaku untuk menikah sedangkan kau sendiri juga seorang wanita single, apa kau tidak tahu penyebab aku belum juga menikah? itu karena aku tidak ingin membuatmu malu menjadi seorang lajang sendirian di dalam keluarga kita."
"Aku memang single, tapi kau jangan lupa, aku sudah punya dua orang anak, yang artinya aku ini pernah menikah, kecantikanku diakui oleh kaum pria karena terbukti sudah menikah, sedangkan kau? jadi kau tidak perlu merasa kasihan padaku, karena yang seharusnya dikasihani itu kau Alex bukan aku."
"Wah...wah...wah...tidak diragukan lagi kau memang putri dari Amanda Stuart, lidahmu sungguh tajam jika sedang berdebat. Jika saja lidahmu itu bisa menyayatku, aku pasti sekarang sudah terkapar dan berdarah-darah," Alex pura-pura menatap adiknya dengan tatapan terluka.
"Kau ini, sangat suka melebih-lebihkan, apa kau benar-benar tidak ingin menikah kakakku sayang," Kali ini Lizzy mengganti nada bicaranya dengan merayu.
"Aku belum berpikir kearah sana Lizzy, karena aku belum menemukan seseorang yang menurutku pantas untuk kujadikan nyonya stuart berikutnya. Wanita yang akan menjadi nyonya Stuart haruslah seorang wanita yang memiliki attitude yang tinggi, cerdas, anggun, mampu membawa diri dan tidak materialistis. Dan sangat sulit mencari wanita seperti itu."
"Lalu bagaimana dengan wanita yang bernama Angeline itu? yang pernah kau ceritakan tempo hari."
"Angeline? Dia benar-benar seperti seekor ular. Dia membuatku terlihat seperti kekurangan wanita saja. Dia ternyata masih berhubungan dengan kekasihnya saat mulai menjalin hubungan denganku, dan lebih parahnya lagi kekasihnya itu pernah menangkap basah kami sedang bercumbu di rumah peristirahatanku," Alex berbicara sambil berbisik ia takut kedua ponakannya mendengar.
"Dari mana kau tahu semua itu Alex?" Lizzy ikut memelankan suaranya.
"Rupanya toko rotimu itu benar-benar membuat otakmu itu berhenti bekerja Lizzy," Alex memandang adiknya dengan tatapan merendahkan membuat sang adik reflek memukul lengannya yang sedang memegang stir mobil.
"Sialan kau Alex, kau benar-benar minta ku buat bangkrut ya?"
"Coba saja kalau kau bisa sayang. Lagipula kau ini bertanya seperti orang yang tidak mengenalku saja. Tentu saja aku menyewa seseorang untuk menyelidiki wanita ular itu. Dia adalah seorang penambang emas kelas menengah, karena kekasih milyunernya baru aku saja. Sebelumnya bahkan ia hanya menjadi kekasih seorang aktor kelas menengah yang sedang naik daun. Jelas pria itu bukan sainganku."
"Lalu apa kau sudah bertemu lagi dengan wanita itu?"
"Dia berusaha untuk menemuiku dia bahkan tak hentinya menelepon dan mengirimiku pesan, tapi aku sudah muak dengannya. Jadi kubiarkan saja. Aku tak masalah jika dia seorang Pengeruk harta, karena dia mampu memuaskanku di atas ranjang, tapi dia membuatku menjadi seorang perusak hubungan orang tanpa kusadari, dan itu membuat harga diriku terluka. Aku ingin minta bantuanmu Lizzy, bantu aku untuk menyingkirkan wanita itu."
"Apa maksudmu? Kau ingin aku membunuhnya?" Lizzy bertanya setengah berteriak namun dengan suara yang terdengar berbisik.
"Kau ini, selalu saja berkata dengan makna ambigu," Lizzy berusaha membela diri, padahal jelas ia memang mengartikan seperti itu. Entahlah ia hanya tidak rela jika sang kakak dipermalukan seperti itu.
Mereka melewati sebuah gerbang tinggi dan lebar, memasuki sebuah jalan yang kanan kirinya ditumbuhi oleh berbagai macam tanaman bunga berwarna-warni. Jalan itu berakhir dan membentuk sebuah lingkaran dengan air mancur ditengahnya, rumah kedua orang tuanya lebih cocok disebut sebagai kastil daripada sebuah rumah.
Rumah itu sudah berdiri jauh sebelum Lizzy lahir, semua anak-anak pertama dalam keluarga Stuart tinggal di sana bersama istri dan anak-anak mereka. Dan ayah Lizzy, adalah putra pertama.
Kedua anak Lizzy yang terbangun sejak mereka memasuki gerbang depan langsung turun dan berlari masuk ke dalam rumah. Mereka semua disambut oleh kedua orang tua Lizzy.
Mereka berempat berjalan menuju ruang keluarga untuk sekedar melepas lelah karena perjalanan. Saat kedua anaknya sudah berjalan masuk kedalam kamar mereka masing-masing dengan ditemani oleh sang kakek dan nenek, Alex memberi kode dengan kepalanya, mengajak adiknya untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Lizzy, aku serius ingin meminta bantuanmu," Alex bicara sambil melepas tshirt dan membuatnya hanya memakai celana jeans biru pudar dia kemudian duduk disofa panjang samping ranjangnya.
Lizzy berjalan dan ikut duduk di samping sang kakak "Memangnya apa yang kau ingin aku lakukan?"
"Bersandiwaralah menjadi kekasihku."
"Apa kau gila Alex? Bagaimana jika ayah dan ibu tahu? Mereka berdua pasti akan menggorok leherku. Aku tidak mau. Lebih baik kau suruh aku untuk menyingkirkan dia dalam artian benar-benar membuatnya lenyap dari muka bumi ini."
"Dan membuat kedua anakmu hidup tanpa seorang ibu, apa itu yang kau inginkan Lizzy? Kita sudah sepakat bahwa kau tidak akan kembali menjalani profesimu dulu."
"Tapi aku juga tidak mungkin berakting menjadi kekasihmu, itu menggelikan Alex."
"Hanya untuk membalas rasa sakit hatiku Lizzy, sampai wanita itu sadar bahwa ia pun sedang aku permainkan dan berhenti menggangguku."
"Lagipula ayah dan ibu tidak akan tahu tentang sandiwara kita, ayolah Lizzy aku muak wanita itu terus menggangguku."
"Kenapa harus aku? Bukankah banyak wanita diluar sana yang bersedia bersandiwara denganmu, bahkan mereka akan sangat rela jika sampai menjadi kenyataan."
"Sudah kukatakan padamu sebelumnya, wanita yang akan menjadi istriku nanti harus memenuhi kriteria yang aku sebutkan, dan belum ada yang memenuhi kriteria itu. Sedangkan kau jelas memiliki itu semua karena pendidikan dalam keluarga kita yang sudah mendarah daging."
Lizzy terlihat sedang berpikir sebelum akhirnya ia menjawab "Baiklah, aku setuju, tapi ada sebuah harga yang harus kau bayar untuk bantuanku ini Alex."
"Kau ini, masih saja membantuku dengan pamrih," Sang kakak terlihat menggerutu.
"Kau harus membayarku jika benar-benar ingin aku membantumu, karena jika tidak maka akupun tidak akan membantumu. Bagaimana, kau setuju?"
"Baiklah, kau menang. Apa bayaranmu?"
"Aku ingin kau memberikanku semua sahammu di perusahaan milikku. Jadi dengan kata lain perusahaan kita, menjadi milikku seutuhnya. Bagaimana?" Lizzy mencoba untuk tersenyum ke arah sang kakak dengan sangat manis.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Lizzy terlihat setengah berlari dari arah dapur menuju pintu saat terdengar suara bel apartemen sang kakak berbunyi, ia segera membuka pintu untuk melihat siapa yang datang, karena sepengetahuannya tidak banyak orang yang mengetahui tempat tinggal pribadi kakaknya di apartemen ini.
"Selamat sore nona, ada yang bisa kubantu?" Lizzy mengerutkan keningnya melihat siapa yang datang.
"Siapa kau? Sedang apa kau di apartemen kekasihku?" wanita itu justru malah balik bertanya dengan ketus pada Lizzy.
Lizzy terkejut mendengar ucapan wanita di hadapannya itu, ia langsung menilai penampilan wanita di hadapannya itu dari atas sampai bawah. Jelas dia hanya seorang wanita murahan dengan aset yang tidak bisa dibanggakan dan otak yang kosong, memilih warna foundation yang cocok untuk kulitnya saja dia tidak becus, apa mungkin dia kehabisan uang untuk membeli make up ya? tanpa sadar Lizzy tertawa sendiri mendengar perkataan dalam hatinya.
"Sialan kau, kenapa kau malah tertawa dan bukannya menjawab pertanyaanku!" wanita di hadapannya itu terdengar mulai emosi.
"Maaf nona sebelum aku menjawab pertanyaanmu, ada baiknya kau menjawab pertanyaanku terlebih dulu," Lizzy melipat kedua tangannya didepan dada.
"Aku Angeline, kekasih dari Alexander Stuart," wanita itu berkata dengan pongah kepada Lizzy.
"Kau yakin kau adalah kekasih Alex?"
"Apa maksudmu?"
"Maafkan aku nona tapi sepertinya kau bukan selera Alex, dia tidak menyukai seorang wanita yang memiliki emosi tidak stabil dan suka meledak-ledak. Kau memang cantik, tapi kau sungguh tidak punya sopan santun yang baik," Lizzy mencoba memprovokasi wanita itu.
"Memangnya siapa kau berani berkata seperti itu padaku?" wanita itu memandang kearah Lizzy dengan tatapan melecehkan.
Belum sempat Lizzy menjawab, tiba-tiba sesuatu melingkar di pinggangnya dan merengkuhnya dengan erat "Dia tunanganku Angeline. Ada apa kau kemari?" Alex berkata sambil menatap wanita itu dengan benci.
"Alex sayang, kau pasti bercanda bukan? aku masih kekasihmu kan? apa kau marah padaku karena kejadian tempo hari? maafkan aku sayang, bukankah sudah kukatakan padamu, Daniel hanyalah mantan kekasihku, dia tidak terima aku putuskan, jadi dia selalu mengikutiku, berusaha untuk memilikiku lagi," ia mencoba menjelaskan dengan suara yang dibuat seperti memohon.
"Aku tidak bodoh Angeline. Jelas-jelas kau masih berhubungan dengan pria itu saat kau mulai menjalin hubungan denganku. Maaf tapi aku sungguh tidak tertarik untuk meneruskan hubungan kita. Kau terlalu murahan sebagai seorang wanita."
"Dan dia? apakah wanita yang kau bilang tunanganmu itu adalah wanita sempurna untukmu?" ia memandang Lizzy dan Alex dengan penuh amarah.
"Jelas dia sempurna untukku. Dia bukan wanita murahan sepertimu yang gemar selingkuh," Alex berkata tepat pada sasaran, karena wajah wanita itu seketika memutih.
Tanpa berkata apapun ia pergi meninggalkan apartemen Alex dengan penuh amarah. Lihat saja akan kubalas kalian berdua, terutama kau wanita kampungan, aku akan membuatmu menyesal karena telah menerima Alex dalam hidupmu. Aku akan membuat hidupmu bagaikan di dalam neraka. Lihat saja nanti, akulah yang akan menang. Angeline masuk ke dalam lift dan segera turun.
Lizzy menatap punggung wanita itu yang mulai menjauh, entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa wanita itu tidak akan menyerah begitu saja. Akan ada begitu banyak kekacauan yang dibuat oleh mantan kekasih kakaknya, semakin lama semakin jelas firasatnya itu.