Infinity

Infinity
Retaliation ( 2 )



Angeline terkesiap, saat mendengar suara Daniel yang ternyata ada di sampingnya. Ia tak menyangka akan bertemu dengan pria itu di sini, dan disaat ia sangat ingin menyembunyikan aksinya. Angeline mencoba untuk menyembunyikan apa yang ada di balik punggungnya.


"Sepertinya kau terlalu ingin tahu urusanku Daniel."


"Tentu saja aku ingin tahu, karena kau sedang berada di wilayah terlarang untuk tamu. Ini adalah dapur kami, yang jangankan untuk masuk, untuk mendekatinya saja kau tidak boleh," Daniel terdengar kesal.


"Apa maksudmu dengan dapur kami Daniel?"


Daniel tersenyum sinis, ia menyadari sekarang, bahwa wanita dihadapannya ini benar-benar bodoh, otak yang dimilikinya tidak sebesar ukuran dadanya. Alih-alih menjawab pertanyaan wanita itu, ia justru sibuk memindai tubuh wanita itu, mencoba mencari apa yang janggal.


"Kurasa kau mencuri sesuatu dari dapur Angeline," Daniel menatapnya dengan tajam.


Angeline yang merasa tertangkap basah sekarang tergagap, dan mencoba untuk menghindar dari tatapan Daniel. Pria itu kemudian berjalan perlahan mendekatinya dengan tatapan nyalang, dan mengintimidasi. Namun saat hanya tinggal beberapa langkah, ponsel miliknya berdering, membuatnya berhenti melangkah.


Ia sejenak tertegun melihat nomor asing yang menghubunginya. Sambil menatap Angeline dengan tatapan yang seolah mengatakan kau-diam -ditempat.


Ia menjawab panggilan itu.


"Halo, siapa ini?"


"Halo Daniel, apa ini kau?"


"Iya, ini aku Daniel. Dengan siapa aku bicara?"


"Daniel ini aku Alex, Alex Stuart."


"Alex? Ada apa?" Daniel segera berjalan menjauh saat menyadari Angeline menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.



"Apa kau sedang bersama dengan Lizzy sekarang?"


"Tidak, Lizzy sedang beristirahat di kamarnya, apa ada yang bisa kubantu?"


" Tentu Daniel, tolong jauhkan Angeline dari Lizzy, kau pasti tahu dengan baik bagaimana wanita ular itu sekarang, aku tidak ingin dia melukai Lizzy lagi seperti tadi pagi."


Daniel mengernyitkan dahinya, ia berpikir sejenak, apakah Lizzy yang menceritakannya pada Alex? Tapi sepertinya Lizzy bukan tipe wanita pengadu.


Seolah lawan bicaranya mengerti akan pertanyaan yang timbul di kepalanya, ia pun mendapatkan jawaban atas pertanyaanny.


"Tidak Daniel, Lizzy bukanlah seorang wanita pengadu. Percayalah. Dia tidak akan menceritakan kesusahannya pada orang lain kecuali pada Jacob dulu. Aku mengirim beberapa orangku untuk mengawasi Lizzy dari jauh, maaf mungkin ini akan sedikit menyinggungmu tapi itu adalah caraku untuk melindunginya."


"Sungguh aku tidak tahu jika kau sama posesifnya dengan Jacob. Tak apa Alex, aku sama sekali tidak merasa tersinggung. Tapi aku ingin kau tahu, bahwa aku akan menjaga Lizzy dengan sepenuh hatiku."


"Terima kasih Daniel, kau sungguh pria yang baik. Maafkan aku karena dulu menjadi duri dalam hubunganmu dengan wanita itu. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu."


Daniel tak menyangka, seorang Alexander Stuart yang notabene adalah seorang konglomerat dan jelas status sosialnya jauh di atasnya, meminta maaf padanya. Sungguh, ia sekarang benar-benar semakin kagum pada keluarga itu.


"Halo Daniel, apa kau masih di sana?"


" Iya Alex aku masih di sini. Maaf. Tak apa Alex sungguh, itu semua susah berlalu. Justru aku bersyukur dengan hadirnya kau dalam hubungan kami, aku jadi tahu siapa dia sebenarnya."


"Benarkah kau memaafkan aku?"


"Tentu saja Alex, aku tak apa-apa."


"Kalau begitu, bisakah aku minta tolong padamu Daniel?"


"Tentu saja, katakan Alex, selama aku bisa membantu aku pasti akan membantumu."


"Tolong jaga Lizzy untukku, saat ini ia hanya percaya padamu. Hanya kau yang bisa berada diposisi terdekat dengannya untuk saat ini. Jauhkan dia dari wanita itu, lindungi dia dari wanita ular itu. Ini semua salahku yang memintanya menjadi tamengku, Lizzy pasti sudah bercerita padamu aku yakin. Aku akan memberikan apapun yang kau minta, asalkan kau mau melakukan itu."


"Bagaimana jika aku menginginkan Lizzy untuk menjadi istriku Alex?"


***


Angeline berjalan dengan tergesa menuju kamarnya, ia hampir saja tertangkap basah pria itu. Dan rencananya nyaris gagal. Ia memasuki kamarnya, dan mengeluarkan benda yang sejak tadi disembunyikannya di balik punggung.


Senyum licik terlihat menghiasi wajahnya, ia merasa kini rencananya akan berhasil. Karena ia sendiri yang akan menyingkirkan wanita itu. Awalnya ia hanya ingin melukai wajah wanita itu, tapi setelah tadi ia bertemu dengan Daniel, ia merasa kebenciannya bertambah dan memilih untuk menyingkirkan wanita itu selamanya.


Ia duduk di atas ranjangnya untuk menetralkan degub jantungnya karena nyaris tertangkap oleh Daniel. Kemudian ia pun mulai menyusun rencana.


Lizzy sedang duduk santai di balkon kamarnya, pemandangan di pulau itu sungguh membuatnya terlena. Membuatnya sejenak melupakan kegundahan hatinya. Tadi ia sempat menghubungi Jacob, menanyakan kabar pria itu dan kedua anaknya. Mereka bertiga baru saja kembali dari sekolah, dan mereka bertiga terdengar sangat bahagia. Lizzy bersyukur dalam hati, karena Jacob menepati janjinya, menjaga anak-anak dengan baik.


Jacob memang tidak perlu diragukan lagi keahliannya dalam menjaga anak-anak. Meskipun mungkin ia adalah seorang pria playboy, akan tetapi ia adalah seorang ayah yang sempurna. Ia begitu menyayangi anak mereka.


Suara ketukan terdengar pada pintu kamarnya, ia mengernyitkan dahinya, ia merasa tak membuat janji temu dengan Daniel, dan biasanya pria itu akan mengiriminya pesan sebelum berkunjung ke kamarnya.


Ia ragu sejenak untuk membuka pintu kamarnya, kemudian ia memilih untuk melihat terlebih dulu siapa yang datang ke kamarnya melalui lubang kecil di pintu.


Nihil ia tak bisa melihat wajah orang yang mengetuk pintu kamarnya, karena wajahnya tertutup rangkaian bunga mawar yang begitu besar.


Dengan segera Lizzy mengambil sesuatu dari dalam tasnya yang sengaja ia bawa dari rumah, entah mengapa saat kemarin ia akan berangkat firasatnya mendadak tak enak, dan seolah seperti mendapatkan sebuah bisikan, ia mengambil benda itu dari laci lemarinya dan membawanya.


Ia memasang kunci rantai di belakang pintu, dan membukanya dengan perlahan. Di tangan kanannya telah siap sebuah pistol, dan tangan kirinya bergerak membuka handle pintu. Perlahan pintu terbuka, menampilkan sesosok seseorang yg misterius karena wajahnya tertutup rangkaian bunga.


Belum sempat ia menaikkan senjatanya orang itu sudah lebih dulu menusuknya dengan pisau. Tepat di perut bagian sebelah kanan, dengan posisi nyaris mengenai organ vitalnya, membuatnya meringis kesakitan seketika. Belum sempat rasa sakitnya hilang, pisau itu telah dicabut dari tempatnya, dan orang itu membuang rangkaian bunga yang sejak tadi menutup wajahnya.


"Angeline." Suara Lizzy terdengar lirih menahan sakit.


Sedangkan wanita itu menyeringai jahat menatapnya dengan penuh kemenangan. Sesaat saat ia ingin menancapkan lagi pisaunya ke arah Lizzy, tiba-tiba Lizzy dengan cepat menembakkan pistol yang sejak tadi dibawanya, tepat di bahu kiri wanita itu.


Bagi Lizzy menembak seseorang adalah hal biasa, jika dari jarak jauh saja ia bisa menembak dengan tepat sasaran, apalagi jika dekat. Keahlian menembaknya jelas tidak perlu diragukan lagi. Ia sengaja melukai wanita itu tidak pada organ vitalnya, karena ia bukan seorang pembunuh, meskipun ia sangat ingin membunuh wanita itu.


Suara letusan dari pistolnya tidak terdengar, karena ia memakai peredam suara pada ujung pistolnya. Wajah Angeline terlihat shock karena mendapatkan serangan pada bahu kirinya. Kali ini ganti Lizzy yang menyeringai penuh kemenangan.


"Aku tidak bodoh seperti apa yang kau pikirkan wanita ular," Kemudian Lizzy mendorong Angeline hingga terjatuh. Dengan cepat ia mengambil sapu tangan yang ada dikantongnya dan menghapus jejak sidik jarinya pada pelatuk pistol, kemudian ia dengan hati-hati meletakkan pistol itu dalam genggaman Angeline yang sudah tidak sadarkan diri.


"Siapa pun kau, keluarlah, aku tahu kalian sejak tadi mengawasiku."


Kemudian tak lama keluarlah dua orang pria mengenakan pakaian casual layaknya pengunjung biasa. Mereka berjalan menghampiri Lizzy.


"Jangan bilang apapun pada Alex, biar aku yang mengatakannya, bawa wanita ini ke rumah sakit. Bayar biaya perawatannya, dan tinggalkan saja dia begitu saja, tanpa identitas," Kedua pria itu terlihat mengangguk.


"Nona, kau terluka, kami juga harus membawamu," salah satu dari mereka berucap.


"Aku tidak apa-apa, luka ini tidak mengenai organ vitalku, aku akan segera meminta bantuan. Kalian cepat pergilah."


Setelah itu Lizzy bergegas masuk ke dalam kamar dengan tertatih, kakinya yang terkilir masih terasa nyeri, sekarang di tambah dengan luka di perutnya. Ia menekan lukanya untuk menghentikan pendarahan yang terjadi. Dengan segera ia mengambil ponselnya dan menghubungi Daniel, baru terdengar dering pertama, panggilannya sudah dijawab.


"Daniel, aku membutuhkanmu dalam waktu lima menit di kamarku, aku terluka dan butuh pertolonganmu."


Ia memutus panggilan itu dan mencoba untuk berbaring di kasur, karena ia takut jika ia duduk itu justru akan membuat darah yang keluar lebih banyak. Baru sesaat ia berbaring, akhirnya ia tak lagi kuasa menahan rasa sakit yang menyerang. Dengan perlahan matanya tertutup, dengan bulir air mata yang mulai mengalir.


Clara, David, jadilah anak baik. Tumbuhlah dengan baik dan buatlah ayah kalian bangga. Jacob, aku titip anak-anak, aku yakin kau pasti bisa melalui semua ini.


Daniel, terima kasih karena sudi menjadi temanku. Ayah, ibu, Alex, aku sayang kalian.


Ia sudah tak kuat lagi, perlahan namun pasti, mata indah itu menutup rapat.