
Lizzy terbangun saat mendengar suara keributan di depan kamar rawat inapnya. Kepalanya masih terasa sakit, dan saat ia menyentuh dahinya ternyata dia masih demam. Ia tak menemukan siapapun di kamarnya, ia mencoba turun dari ranjang, dan berjalan kearah pintu untuk melihat ada keributan apa di luar kamarnya.
Ia membuka pintu, dan melihat seseorang sedang berdiri membelakangi dan menghalangi jalan masuk, yang sudah pasti menghalangi pandangannya, kepalanya yang sakit ditambah dengan tubuhnya yang demam membuatnya tidak bisa mencerna keributan yang terjadi di depannya.
Ia hanya bisa mendengar suara Jacob yang memohon untuk bisa bertemu dengannya, dan ada suara Alex dan juga Ayahnya yang melarang Jacob untuk bertemu dengannya. Ia perlahan menepuk pundak orang yang menghalangi pandangannya, dan ternyata dia adalah Daniel. Daniel seketika menoleh ke belakang, karena merasa pundaknya ditepuk oleh seseorang.
"Lizzy, kau sudah bangun?" ia bertanya dengan nada cemas karena melihat wajah Lizzy yang masih terlihat pucat, pertanyaan Daniel sontak membuat semua orang yang terlibat dalam keributan itu berhenti, pandangan mereka semua teralihkan kearah Lizzy.
Lizzy menatap mereka semua satu persatu, mulai dari Ayahnya, Alex hingga Jacob. Wajah Jacob terlihat penuh dengan memar, salah satu sudut bibirnya berdarah. Lagi-lagi ia menangis melihat Jacob, melihat bagaimana pria itu terluka, mendengar suara Jacob yang memohon untuk bertemu dengannya. Ia tidak pernah benar-benar bisa membenci Jacob, sesakit apapun hatinya, Jacob selalu mempunyai tempat tersendiri di hatinya.
"Lizzy, kau sudah bangun sayang?" ayahnya berjalan dengan langkah lebar-lebar dan menerobos masuk melewati Daniel yang masih berdiri di depan pintu dengan begitu saja. Ia memeluk Lizzy dan membelai rambutnya dengan lembut. Perlahan ayahnya memutar tubuhnya dan menggiring tubuh Lizzy untuk kembali masuk ke dalam kamar, namun belum jauh ia melangkah Jacob sudah lebih dulu bicara.
"Lizzy...kumohon padamu, izinkan aku untuk menjelaskan semuanya, aku mohon dengan sangat padamu Lizzy, maafkan aku. Sungguh aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita itu. Dia hanya mau meminta maaf padamu, karena ia tak bisa menemuimu di toko, dia mencariku. Maafkan aku Lizzy, sungguh aku tidak berniat membuatmu menangis lagi. Aku salah karena mengizinkannya masuk ke dalam dan bahkan membalas pelukannya yang mendadak, aku salah Lizzy. Kumohon, maafkan aku...aku mencintaimu Lizzy...sangat mencintaimu...," Jacob bicara dengan suara yang bergetar, menahan tangisnya agar tidak pecah. Ia bahkan sampai jatuh berlutut untuk memohon maaf Lizzy. Tentu saja, Lizzy tak bisa melihat jika Jacob berlutut memohon maafnya.
Lizzy yang mendengar ucapan Jacob hanya bisa menangis dengan semakin pilu, hatinya seperti tersayat sembilu, sakit sekali. Disaat ia sudah mulai bisa melupakan pria itu dan berdamai dengan masa lalu, tapi takdir justru berkata lain. Terkadang takdir memang selucu itu, terkadang disaat kita menginginkan seseorang, takdir justru memisahkannya dari kita, tapi disaat kita mulai bisa melepaskan seseorang itu, takdir justru berkata sebaliknya.
Ayahnya semakin menggiring tubuhnya untuk masuk ke dalam, dan menghalanginya untuk menoleh ke belakang. Daniel menutup pintu kamar rawatnya, meninggalkan kesunyian yang tercipta. Hanya suara isak tangis Lizzy yang terdengar. Ayahnya menggiringnya untuk kembali naik ke atas ranjang dan membantunya kembali berbaring dan menyelimutinya.
"Ayah...kumohon...bawa aku pergi dari sini ayah, kumohon...aku ingin pergi sejauh mungkin dari Jacob. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Aku akan membawa serta anak-anakku. Tolong aku ayah, aku ingin pergi," Lizzy menggenggam tangan ayahnya dengan erat seolah ia akan ditinggalkan.
"Tenanglah Lizzy, beristirahatlah dulu, besok kita akan pergi sayang, kemanapun kau mau. Aku berjanji padamu nak, tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu," Sang ayah membelai rambut putrinya dengan sayang.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Matahari pagi itu bersinar dengan cerah, secerah senyum seorang wanita yang sedang asik menemani anak-anaknya bermain. Hatinya menghangat, sehangat senyuman kedua anaknya yang sedang bermain kejar-kejaran di halaman belakang rumahnya.
Sudah hampir dua minggu ia pindah ke rumah orang tuanya, melepaskan semua beban hati dan pikirannya. Rumahnya di kota kecil itu dibiarkan kosong, toko rotinya dikelola oleh Adelina sang asisten, ia mencari dua karyawan lagi untuk membantu Adelina. Ia berkomunikasi demgan Adelina setiap hari, keuntungan yang didapat dari toko pun dibagi dua dengan besaran sama rata. Meskipun sebenarnya Lizzy ingin semua keuntungan toko diberikan kepada Adelina, sayangnya sang Asisten menolaknya.
Ia menyeruput teh hangatnya, sambil memandangi tanaman bunga mawar milik sang ibu.
Bunga mawar mulai bermekaran, menebarkan aroma harum yang menyenangkan, tanaman-tanaman hijau yang telah digunting rapih oleh para tukang kebun, membuat tanaman-tanaman mawar terpetakan dan dikelilingi oleh pagar hijau. Meskipun tidak sesejuk udara yang ada di kota tempat ia tinggal, tapi setidaknya pikirannya bisa tetap tenang.
Menjauh dari segala permasalahan yang ada untuk sejenak, manyiapkan dirinya untuk bisa menghadapi masa depan dengan meninggalkan semua kenangan di belakang. Meskipun selama ini ia berusaha untuk menjadi kuat, namun ada kalanya ia merasa lelah. Bukan lelah karena hidupnya yang seorang ibu tunggal, ia lelah karena terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Baginya, melepaskan seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya bukanlah hal yang mudah, apalagi David merupakan replika dari Jacob, setiap ia menatap David, ia seolah juga menatap Jacob. David adalah Jacob versi anak kecil.
Ia mencintai Jacob dengan sepenuh hati, dulu ia bertekad tidak akan pernah mencintai seorang pria dengan begitu dalam. Tapi semua itu sirna, saat ia bertemu dengan Jacob. Pria itu memperlakukannya dengan sangat lembut, penuh perhatian dan kasih sayang. Ia pun telah jatuh sejatuh-jatuhnya dalam pesona seorang Jacob Morris. Hingga ia lupa, bahwa suatu saat ia bisa kehilangan Jacob. Ia lupa, bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Suriwatsu Kashimasu. Semua ini pasti akan berlalu.
Sungguh, Jacob telah membuat dunianya jungkir balik. Dulu, ia sangat mencintai pekerjaannya sebagai salah satu agen mata-mata terbaik pemerintah, ia sedang berada di atas puncak karirnya, saat bertemu Jacob.
Demi Jacob, perlahan ia mengurangi tugasnya di lapangan, mencoba untuk tetap tinggal di dalam Negeri dan mengurangi resiko berbahaya untuk Jacob. Bahkan ia rela melepaskan tawaran dipindah tugaskan ke kantor pusat dan menjadi seorang pemimpin tim. Semuanya demi Jacob. Demi bisa terus berada di samping pria itu, dan demi memastikan prianya baik-baik saja.
Kini ia sadar, betapa naifnya dia dulu. Ia sanggup menghadapi ratusan penjahat kelas kakap seorang diri dengan tenang dibalik topengnya dengan banyak peran yang ia mainkan. Namun entah mengapa, ia takluk begitu saja saat menghadapi Jacob. Ia lemah, tak berdaya menghadapi pesona seorang Jacob Morris.
Hingga pada akhirnya, Jacob juga yang membuatnya hancur.
"Ibu...ibu...,"
Ia tersadar dari lamunannya seketika, saat putrinya menepuk pundaknya dengan lembut. Ia tersenyum kearah putrinya "Ada apa Clara?"
"Ibu melamun lagi? Kumohon bu, berhentilah duduk sendiri dan melamun, berhentilah menangis bu, kau masih punya kami semua, kau masih punya aku dan David, kami tidak akan meninggalkanmu bu, meskipun aku tidak tahu apa masalahmu dan ayah, tapi percayalah bu, aku dan David tidak akan meninggalkanmu seperti ayah," putrinya membelai wajahnya dengan lembut.
Lizzy hanya bisa tersenyum dengan bibir yang bergetar, menahan agar tangisannya tak keluar. Putrinya benar, ia tidak sendirian masih ada kedua orang tuanya dan juga kakaknya Alex, ia juga masih memiliki Clara dan David. Ia balas membelai pipi putrinya dengan sayang,
"Tidak nak, ibu tidak akan menangis lagi, kau benar aku masih memiliki kalian semua, aku masih memilikimu dan David, belahan jiwa ibu. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, selamanya. Ayo kita melangkah bersama menghadapi masa depan yang lebih baik lagi. Ibu akan selalu menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini selama ada kalian berdua ada di samping ibu."
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Lingkaran hitam di matanya kian terlihat jelas, wajahnya semakin kusut, rambutnya mulai memanjang, ia bahkan tidak bercukur selama dua minggu. Ia pun tak lagi nafsu makan, hanya minuman beralkohol yang mengisi perutnya setiap hari. Ia hancur. Ia telah gagal.
Kini, hidupnya sudah tak berarti lagi, tak ada lagi suara canda tawa, dan senyum manis dari kedua anaknya juga dari wanita yang dicintainya. Elizabeth Stuart...
Ia berbaring di ranjang besarnya dengan mata terbuka, menatap langit-langit kamarnya yang ia hiasi dengan foto besar Lizzy. Sosok wanita lembut, namun kuat dan mandiri yang berhasil mencuri hatinya. Dulu, mereka bertemu pada sebuah acara pernikahan teman mereka. Lizzy memakai gaun hitam putih selutut tanpa lengan, dengan model kerah shanghai. Sederhana namun tetap memukau. Membuatnya tidak dapat memalingkan wajahnya dari wanita itu. Membuatnya terpesona, dan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Membuatnya tak bisa melupakan Lizzy begitu saja. Selama beberapa minggu ia hanya bisa membayangkan Lizzy dalam kepalanya, ia mencari informasi tentang Lizzy dari temannya yang merupakan mempelai pria, darinyalah ia tahu semua tentang Lizzy. Seorang putri dari keluarga terpandang yang nyaris tidak pernah disorot media. Wanita itu terlindungi dengan sangat baik, dan ia memiliki sejuta pesona lainnya.
Lizzy, wanita itu masih suci ketika ia menidurinya disaat malam pertama pernikahan mereka. Wanita itu menjaga dengan baik mahkotanya. Ia merasa sangat beruntung sekaligus terhormat karena bisa menjadi yang pertama bagi wanitanya.
Wanitanya itu tidak pernah menuntut apapun darinya, bahkan saat ia sibuk dengan pekerjaannya Lizzy selalu setia memberikan pengertiannya. Lizzy selalu memasak sendiri makanan untuknya dan juga kedua anaknya, menyiapkan pakaian kerjanya, mengantarnya hingga ke depan pintu, menyambutnya di depan pintu setiap ia pergi dan pulang kerja. Lizzy tanpa cacat, dan tak tercela.
Tapi ia begitu bodoh, ia terlalu percaya diri jika Lizzy sangat mencintainya, hingga ia berpikir Lizzy akan memaafkan semua kesalahannya sebesar apapun itu. Entah setan mana yang merasukinya, hingga ia kembali bermain api seperti dulu saat ia belum menikahi Lizzy.
Ia berpikir, Lizzy pasti akan memaafkan perselingkuhannya. Tapi ternyata ia salah. Lizzynya marah, kecewa, sakit hati dan menangis. Dan wanita itu memilih untuk melepaskannya. Membuatnya kehilangan istri dan juga membuatnya hidup terpisah dari kedua anaknya.
Lizzy pergi dari rumah mereka, bahkan meninggalkan kota tempat mereka tinggal. Dulu ia berpikir, Lizzy akan kembali padanya dengan dasar rasa cinta wanita itu padanya, sehingga ia memberikan waktu pada Lizzy untuk menenangkan diri sesaat. Namun lagi-lagi ia salah. Lizzy tak pernah kembali ke rumah mereka, tak pernah kembali padanya seperti apa yang diharapkannya.
Butuh waktu yang lama baginya untuk mengumpulkan keberanian untuk meminta maaf dan meminta wanita itu kembali padanya. Meskipun begitu ia tetap menjaga mereka bertiga dari jauh, membayar beberapa orang untuk mengikuti mereka kemanapun mereka pergi. Hingga akhirnya ia berani menghampiri Lizzy, meminta maaf pada wanita itu dan berusaha untuk mendekatinya. Usahanya sudah hampir berhasil, Lizzy sudah menerima kehadirannya lagi, meskipun baru sekedar berteman, tapi setidaknya itu jauh lebih baik daripada ia tak bisa mendekati wanita itu sama sekali.
Namun, semuanya tiba-tiba hancur berantakan saat wanita itu kembali hadir. Sungguh, tubuhnya kini seolah tak lagi memiliki jiwa. Yang ia rasakan hanyalah hampa. Hampa yang tak berkesudahan.
"Jacob...berhentilah meratap, ayo bangunlah, bersihkan tubuhmu, makanlah dengan benar," seseorang menepuk lengannya, ia menoleh dan melihat Lizzy di sana. Duduk di sampingnya di atas ranjang, tersenyum hangat padanya. Tangisnya seketika pecah, ia bahagia melihat Lizzy di sampingnya, kerinduannya terbayar sudah, wanitanya telah kembali, ia segera beranjak dari tidurnya dan bergerak untuk memeluk wanitanya, wanita yang sangat dicintainya.
"Lizzy, kau datang...kau datang sayang, aku sangat merindukanmu, sangat. Maafkan aku Lizzy, maafkan aku yang bodoh ini, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi Lizzy, jangan tinggalkan aku Lizzy...aku mencintaimu," ia memeluk wanitanya dengan erat.
"Jacob...aku ibumu...sadarlah nak...berhentilah menangis, bangkitlah, teruslah berjuang, kau harus kuat Jacob...jika memang kau mencintai Lizzy, berjuanglah untuk mendapatkannya lagi, kumohon Jacob, jangan seperti ini, kau harus bisa bangkit Jacob..." ibunya menangis keras melihat anaknya yang seolah tak lagi memiliki jiwa yang utuh.
Namun Jacob telah larut dalam tangisan bahagia dan imajinasinya. Hingga ia tak bisa lagi mendengar penjelasan ibunya.