Infinity

Infinity
Berlarilah bersamaku



Hari ini hujan turun dengan deras sepanjang waktu, membuat Ibukota menjadi kelabu. Namun hujan adalah saat yang paling disukai oleh Lizzy, seumur hidupnya. Hujan membuatnya merasa tenang dan damai, aroma tanah yang tersiram air hujan sangat menggoda indera penciumannya. Ia duduk di teras belakang rumahnya, menikmati hujan yang turun dengan membawa sejuta pesonanya.


Ia bisa berlindung di bawah air hujan saat menangis hingga tak ada orang yang tahu, air yang jatuh membuat kepalanya seakan sedang dipijat dan menjadi rileks. Jika bagi sebagian orang hujan sangat mengesalkan karena langit menjadi kelabu, justru baginya warna kelabu itu membuatnya tenang, menandakan bahwa tak selamanya kelabu itu suram.


Ia percaya, Tuhan tidak hanya menciptakan warna hitam dan putih dalam hidup ini. Ada banyak warna lain. Salah satunya adalah biru, warna favoritnya. Warna langit. Ia begitu menyukai warna langit itu karena selalu mengingatkannya akan sebuah pepatah langit tidak perlu menjelaskan bahwa dirinya tinggi. People know you're good if you are good.


Membuatnya untuk tetap bisa tenang dalam menghadapi segala emosi dari orang-orang yang tak menyukainya, dan bahkan membencinya. Ya, ia tahu itu.


Ia terlahir dengan takdir bak seorang putri raja, perjalanan hidupnya bisa dikatakan selalu mulus, kecuali pernikahannya. Tentu banyak yang merasa iri dan berusaha menjatuhkannya. Tapi ia tak pernah ambil pusing dengan semua itu. Baginya, yang terpenting adalah tetap berbuat baik kepada sesama. Tanpa ia harus mengumbar apa yang telah ia perbuat untuk orang lain.


Ia dididik untuk tidak menyimpan dendam, apalagi menyakiti orang lain. Ia dididik untuk selalu mengasihi dan memaafkan meskipun itu sulit. Meskipun terkadang ia merasa lelah dengan hidupnya, tapi ia tidak akan pernah menyerah. Demi kedua anaknya dan demi dirinya sendiri.


Ia beranjak dari sana saat hujan mulai reda dipenghujung hari, saatnya terang yang akan digantikan malam. Ia berjalan menuju kamar putrinya, untuk memeriksa apa yang sedang dilakukan oleh anaknya yang sulung. Ia mengetuk pintu kamar anaknya sebelum masuk, setelah mendapatkan jawaban ia membuka pintunya. Anaknya sedang duduk di atas ranjang sembari membaca sebuah buku.


"Halo sayang, apa yang sedang kau baca?" Lizzy melangkah dan ikut duduk di atas ranjang di samping putrinya.


"Ini bu, aku sedang membaca buku cerita yang kemarin dibelikan oleh paman Alex, paman juga membelikan banyak mainan untuk David. Apa ibu mau melihat buku ceritaku yang baru?" Clara menggeser posisi bukunya agar sang ibu juga dapat ikut melihatnya.



Buku itu bercerita tentang seorang anak kecil perempuan yang memiliki rasa ingin tahu yang besar. Hingga orang-orang disekitarnya pusing dibuatnya, namun dibalik itu semua gadis kecil itu memiliki hati yang baik dan juga lembut. Gemar menolong sesama, dan patuh kepada orang tuanya.


"Kau menyukainya sayang?"


"Iya bu, aku sangat menyukainya. Apa ibu tahu? Gadis kecil itu memiliki ayah dan ibu yang tinggal bersama, mereka sangat bahagia dengan anjing peliharaan mereka. Bu, apakah suatu saat nanti kita bisa tinggal bersama ayah lagi? atau...paman Daniel yang akan menjadi ayahku bu?"


Lizzy tersentak, mendengar pertanyaan putrinya, mengapa nama Daniel bisa sampai disebut?


"Clara, jawab ibu, mengapa kau bilang paman Daniel yang akan menjadi ayahmu?"


Clara menatap wajah ibunya dengan cemas, ia bingung harus mulai berbicara dari mana.


"Ibu, apa ibu tidak menyukai paman Daniel? Karena sepertinya ia menyukai ibu, kemarin saat ibu sakit, sebelum kakek dan nenek datang, aku melihat paman duduk di samping ibu menggenggam tanganmu, dan memandang wajahmu seakan ibu tidak akan pernah bangun lagi. Bukankah itu yang dinamakan menyukai bu? kita takut kehilangan orang itu."


"Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu Clara?"


"Tidak ada bu, aku hanya menyimpulkan, saat ayah selalu berkata ingin berada di dekat kami dan ibu padaku, dia bilang itu karena dia menyayangi dan mencintai kita."


"Lalu apakah menurutmu, kita harus tinggal bersama dengan ayahmu Clara?"


"Ibu, tentu aku bahagia jika kita bisa tinggal bersama, tapi...jika itu membuatmu bersedih, maka aku tidak menginginkannya bu. Lagipula, jika memang ayah ingin tinggal bersama kita, mengapa dia meninggalkan kita sekarang?"


Ia membelai kepala putrinya dengan lembut, ia paham pasti putrinya menginginkan seorang keluarga yang utuh bukan ayah dan ibu yang tinggal terpisah. Ia pun tak menginginkan hal seperti ini terjadi, tapi ia tak berkuasa menentang kehendak Tuhan.


"Dengarkan ibu Clara, apapun yang terjadi nanti Jacob Morris tetap ayahmu dan tidak ada yang bisa merubah kenyataan itu. Ia menyayangi kalian dengan sepenuh hatinya, kalian adalah lentera hidupnya. Jadi jangan pernah berpikir untuk menggantikan posisinya dengan siapapun. Tetaplah di sampingnya, menggenggam tangannya dan menjadi sumber kekuatannya. Jangan pernah kalian tinggalkan dia, dia adalah ayahmu."


"Iya bu, selamanya aku tidak akan meninggalkan ayah dan juga ibu," Clara mengangguk dengan patuh.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan memakai bathrobe, selesai berenang ia duduk sembari menyeruput jus jeruk dan memakan sarapannya yang telah disiapkan oleh ibunya. Beberapa hari yang lalu ia pulang ke tempat orang tuanya, karena ia merindukan mereka. Ia sedang konsentrasi menyantap sarapannya saat ibunya duduk di hadapannya.


"Daniel, apa kau sudah bertemu dengan Lizzy lagi?"


" Belum bu, terakhir kali aku bertemu dengannya adalah saat keributan itu terjadi. Berarti sudah sekitar dua minggu yang lalu. Ada apa bu?"


"Aku merindukannya, aku juga merindukan kedua cucuku, bagaimana dengan kabar mereka berdua?"



"Entahlah bu, aku belum tahu, apa ibu mau mengunjungi mereka?"


"Apa kau tidak pernah berbicara pada Lizzy melalui telepon Daniel?"


"Tidak bu, nomor ponselnya saja aku tidak punya, bagaimana aku bisa menghubunginya?" Daniel menatap ibunya dengan tatapan heran, bagaimana mungkin ibunya masih berniat menjodohkannya dengan wanita itu?


"Ibu, ibu tahukan siapa dia? kenapa ibu masih ingin menjodohkan aku dengannya? kita dan dia bagaikan langit dan bumi bu."


"Kau ini, memangnya ada yang salah dengan itu? dia wanita dan ibu yang baik Daniel, kau tidak akan mendapatkan wanita sebaik dia lagi di luar sana, mereka hanya akan mengincar duitmu saja."


"Iya, dan jika aku bersama dengan Lizzy, maka akulah yang akan dianggap mengincar uangnya oleh orang lain. Tidak terima kasih banyak bu, aku masih punya harga diri. Aku memang menyukainya tapi itu tidak lebih dari batasan seorang teman. Lebih dari itu aku tidak bisa. Dia terlalu jauh untuk bisa kujangkau."


"Sejak kapan kau tidak punya rasa percaya diri seperti itu Daniel? Biarkan saja orang mau bicara apa, yang terpenting adalah kau tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan."


"Entahlah bu, aku hanya mencoba untuk menjadi realistis, dia seorang putri keluarga Stuart, bahkan ia memiliki perusahaannya sendiri, dan mantan suaminya adalah Jacob Morris. Sedangkan aku? Aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa jika dibandingkan dengannya."


"Jika aku ingin bertemu dengannya, bisakah aku berkunjung ke rumahnya?"


"Ibu saja tidak percaya diri untuk bertemu dengannya apalagi aku yang harus mendekatinya."


"Daniel, jawab saja pertanyaanku."


"Ibu, pada saat kemarin kau bertemu dengan keluarganya apa mereka terlihat seperti seseorang yang seperti itu? tidak kan? mereka semua orang yang ramah dan bersahabat bu, tidak peduli dengan status sosial seseorang."


"Bingo. keraguanmu sudah terjawab bukan?" Ibunya tersenyum dengan licik.


"Ibu, kau benar-benar ahli dalam menjebakku," Daniel menggelengkan kepalanya menatap ibunya dengan tidak percaya.


"Sudahlah Daniel, ayo antar aku ke rumah keluarga Stuart, aku sudah sangat merindukan menantuku dan kedua cucuku," Ibunya beranjak pergi dari sana dengan wajah berseri-seri karena berhasil menjebak anaknya.


Sedangkan Daniel hanya bisa menggeleng pasrah melihat kelakuan ibunya yang lagi-lagi berhasil menjebaknya.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Lizzy memeluk wanita paruh baya itu dengan hangat dan rasa rindu yang tak tertahankan, wanita itulah tempatnya berkeluh kesah selama tiga tahun kebelakang.


"Bibi, aku sangat merindukanmu..." airmatanya jatuh tak tertahankan.


"Aku juga sangat merindukanmu anakku," Sang bibi balas memeluknya dengan erat.


"Dimana paman bibi, kenapa paman tidak ikut menjengukku?" Lizzy mengurai pelukannya pada sang bibi.


"Pamanmu sedang sibuk mengurus penginapan yang ada di pulau hijau, dia berangkat ke sana dua hari yang lalu, dan baru kembali minggu depan, kau terlihat segar Lizzy. Apa kau habis berlibur?"


"Tidak bibi, aku hanya di rumah saja, menikmati hari dengan memandang tanaman mawar milik ibuku, kau harus melihatnya bibi, kau pasti akan menyukainya, benarkan bu?" Lizzy menoleh kearah sang ibu meminta dukungan agar sang bibi bisa tinggal lebih lama.


"Benar nyonya, kau pasti akan menyukainya Lizzy bercerita kalau kau juga suka berkebun, kau harus tinggal lebih lama di sini dan kita akan berkebun bersama," Amanda Stuart tersenyum hangat kearah tamunya.


"Ya baiklah aku akan tinggal sedikit lebih lama, karena aku harus menyusul pamanmu ke pulau hijau Lizzy, dia kewalahan jika seorang diri di sana, dan minggu depan dia akan kembali bersamaku."


"Bagaimana jika Lizzy yang akan menemani suamimu di sana bersama dengan Daniel nyonya? Sedangkan kau bisa menemaniku dan Clara juga David, sudah sangat lama aku tidak memiliki teman mengobrol di rumah. Jadwalmu selanjutnya masih lama kan Daniel?" Ibunya seperti sedang merencanakan sesuatu di kepalanya.


Seakan bisa membaca pikiran Amanda Stuart, sang bibi pun dengan senang hati langsung menyetujui saran ibunya.


"Benarkah nyonya? Aku senang sekali mendengarnya, aku bisa bermain lebih lama dengan Clara dan David. Baiklah kalau begitu, Daniel berangkatlah ke Pulau hijau, ajak Lizzy, tolong temani ayahmu di sana."


Daniel akhirnya dengan enggan menyetujui permintaan ibu Lizzy dan ibunya sendiri, ia tidak mungkin menolak keinginan dua wanita itu.


"Tidak, aku tidak akan kemana-mana dengan Daniel, aku tidak mungkin meninggalkan anak-anakku untuk berlibur seorang diri, maaf Daniel kau tidak perlu menyetujui permintaan ibuku, dia terkadang memang konyol," Lizzy menatap sang ibu dengan gemas, namun sang ibu hanya tersenyum penuh kemenangan.


"Pergilah Lizzy, biarkan anak-anak, aku dan bibimu yang akan mengurus, kami pasti akan bersenang-senang. Benar bukan nyonya christine?" Ibunya mencoba untuk membujuk.


"Iya kau benar sekali nyonya, Lizzy pergilah bersama Daniel, dia akan menjagamu dengan baik dan jangan khawatirkan kedua cucuku, kami pasti akan bersenang-senang seperti yang ibumu bilang," Bibinya pun mencoba untuk merayunya.


Ia menatap Daniel sebagai tanda meminta dukungan, namun tatapan itu dijawab lain oleh Daniel, meskipun pria itu tahu maksud dari tatapan Lizzy. Tapi ia tak berani untuk menentang kemauan ibunya.


"Baiklah Lizzy, sepertinya besok kita akan berangkat berlibur ke pulau hijau sampai minggu depan," Daniel hanya bisa tersenyum dan menatap Lizzy dengan tatapan meminta maaf.


Dering ponsel Lizzy kembali menghentikan permbicaraan mereka seputar pulau hijau, Lizzy memohon izin menjauh untuk menjawab panggilan di ponselnya.


"Halo, selamat siang, dengan siapa aku bicara, ada yang bisa kubantu?" Lizzy menyapa seseorang di seberang sana.


"Halo Lizzy, ini aku, ibu Cathlyn."


Lizzy membeku seketika, Cathlyn adalah ibu dari Jacob Morris mantan suaminya, ada apa mantan mertuanya sampai menghubunginya?


"Iya ibu, ada apa? ada yang bisa kubantu?"


"Lizzy...Jacob masuk ruang ICU, ia melukai dirinya sendiri, dengan cara memotong nadinya, ia begitu frustasi karena tidak bisa bertemu denganmu, kumohon Lizzy, demi aku, tolong selamatkan anakku, tolong anakku Lizzy," Ibu Jacob terdengar menangis pilu.


Lizzy terdiam, tidak dapat berkata apapun. Takdir benar-benar sedang mempermainkannya. Air matanya mengalir deras tak tertahankan, membuatnya mengisak pilu. Kedua kakinya terasa lemas, seolah tak bertenaga, dengan sisa-sisa kekuatannya ia berjalan cepat menuju ruang tengah tempat ia berbincang bersama bibi dan ibunya. Disana ternyata hanya ada Daniel, entah dimana bibi dan ibunya. Tapi justru membuatnya lebih mudah untuk pergi menemui Jacob.


"Daniel..."


Pria itu menoleh kearah Lizzy, dan menatapnya dengan hangat, ia beranjak bangkit dari duduknya saat dilihatnya wajah Lizzy yang memucat.


"Ada apa Lizzy? katakan padaku apa yang terjadi?"


"Jacob...dia mencoba untuk mengakhiri hidupnya..Daniel tolong aku, antar aku ke tempatnya, jangan katakan pada siapapun kumohon. Mereka pasti akan melarangku."


Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya ia menyetujui permintaan Lizzy.


"Baiklah, ayo aku antar kau ke sana, bersiaplah aku akan menunggumu di mobil."


Perjalanan menuju rumah sakit sedikit tersendat karena macet. Hal yang biasa terjadi di ibukota. Setelah hampir satu jam perjalanan mereka pun tiba si rumah sakit tempat Jacob mendapatkan pengobatan.


Lizzy terlihat ragu saat ia akan membuka pintu mobil, ia menoleh kearah Daniel, menatap pria itu dengan wajah penuh keraguan.


"Daniel, apakah yang aku lakukan ini benar? atau justru salah?"


"Apa yang membuatmu ragu Lizzy?"


"Aku takut Daniel, aku takut ini akan semakin menyakitiku dan Jacob, dia selalu mempunyai tempatnya sendiri di hatiku, tapi bukan berarti aku bisa kembali padanya. Aku takut Daniel, aku takut jika aku tidak bisa berpaling dari masa laluku dan terjebak di dalamnya. Tapi aku juga tidak bisa membiarkannya tersiksa seperti ini, dia adalah ayah dari kedua anakku."


Ada jeda sebentar sebelum akhirnya ia melanjutkan ucapannya, "Selama ini kedua anakku sudah tinggal terpisah dari ayahnya, dan tak mungkin kubiarkan mereka tidak bisa melihat ayahnya lagi. Apa yang harus aku lakukan Daniel? Aku benar-benar takut."


Daniel menatap Lizzy dengan hangat dan sayang, ya, ia mulai menyayangi wanita itu, wanita yang memiliki hati bak malaikat. Ia menggenggam tangan Lizzy dengan erat, "Dengarkan aku Lizzy, kau tidak perlu takut dengan apapun, aku akan selalu ada menggenggam tanganmu, dan jika kau tidak bisa meninggalkan masa lalumu karena terjebak di dalamnya, maka kau cukup menggenggam tanganku dengan erat, aku akan membawamu berlari bersamaku meninggalkan semua masa lalumu yang menyakitkan di belakang, aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun."