
**Langit tidak perlu menjelaskan bahwa dirinya tinggi, people know you're good if you are good.
~ Tere Liye** ~
***
Lizzy POV
Aku tidak pernah menginginkan orang lain tahu, siapa aku, bagaimana aku, dan apa saja yang telah aku perbuat untuk orang lain. Aku menikmati semua proses kehidupanku dengan berusaha untuk tetap tenang, tanpa mencari masalah dengan manusia lainnya.
Sejak kecil aku terbiasa dididik dengan keras, namun tak banyak orang yang tahu. Mereka hanya tahu, aku terlahir dari keluarga yang terpandang. Bergelimang harta, dan bisa melenggang dengan penuh rasa percaya diri karena nama besar keluargaku.
Aku dididik untuk selalu memiliki maaf bagi siapapun, meskipun itu berat dan menyakitkan. Aku dididik untuk bisa menerima semua hinaan dan cacian dari orang yang tidak menyukaiku. Karena orangtuaku selalu mengajarkan, bahwa kita tidak bisa memaksa seseorang untuk menyukai atau bahkan membenci kita. Aku tidak pernah membuang tenaga dan waktuku untuk membuat seseorang menyukaiku, aku hanya menjalani semuanya seperti air yang mengalir. Jika kau menyukaiku, maka aku akan berterima kasih, jika kau tidak menyukaiku, maka aku akan membiarkanmu.
Pun seperti kehidupan yang aku jalani sekarang, meskipun Jacob telah menyakitiku dengan sedemikian dalam namun aku tidak pernah bisa benar-benar membencinya. Itu malah membuatku membenci diriku sendiri. Aku terlalu lemah, kata Alex kakakku.
Entahlah, hanya saja bagiku tidaklah mudah menghapus seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupku. Apalagi kami pernah berbagi ranjang, menghabiskan malam-malam yang penuh dengan cinta, berbagi selimut, berbagi kamar dan berbagi hidup. Aku tidak pernah menginginkan untuk kembali pada Jacob, meskipun masih ada namanya di hatiku.
Bahkan saat aku pernah memergokinya sedang bercumbu dengan wanita itu, aku sama sekali tidak memiliki keinginan untuk memaki mereka, aku hanya bisa menangis dan pergi dari sana.
Setelah kami berpisah, aku sempat berharap dia akan datang padaku, dan meminta maaf. Tapi ternyata semua itu tidak pernah terjadi. Akupun hanya bisa berdoa, semoga Tuhan bisa menyembuhkan lukaku, dan mengubur semua lembaran hitam dalam hidupku.
Semua orang bertanya padaku, kenapa aku memilih berpisah dengannya? Ingin rasanya aku menjawab, dia berselingkuh di belakangku. Tapi tidak bisa kulakukan. Aku selalu percaya bahwa Tuhan memiliki caranya sendiri untuk mengungkapkan sebuah kebenaran.
Dulu, setiap kali aku melihat wajahnya, mendengar suaranya atau bahkan hanya sekedar mendengar namanya disebut, hatiku berdesir, dan jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Aku seperti menaiki wahana roller coaster. Kupikir, itulah yang dinamakan cinta dan menemukan jodoh. Tapi ternyata aku salah, dan sangat salah.
Hingga suatu hari, aku menyadari, bahwa aku lelah. Aku lelah menaiki roller coaster itu, aku ingin turun dan aku ingin berhenti dari segala ketegangan emosi yang terjadi. Dulu, aku merasa nyaman dan berdebar secara bersamaan jika berada di dekatnya. Tapi lambat laun akupun lelah, aku lelah dengan setiap debaran yang terkadang membawaku pada sebuah persimpangan jalan yang terasa asing bagiku. Membuatku harus mengambil beberapa keputusan yang sebenarnya tidak ingin aku lakukan.
Tapi, inilah hidup. Hidup yang tidak bisa kita atur sesuka hati kita, hidup yang hanya bisa kita rencanakan tanpa bisa ikut memutuskan jalan takdir dan ketentuan. Begitupun diriku, yang hanya bisa berencana dan mengikuti ketentuan Sang Maha Pencipta.
Mulai sekarang, aku hanya akan berjalan dengan tujuan masa depan. Tidak akan lagi berpikir untuk kembali ke masa lalu. Semua lembaran hitam itu akan kututup rapat, menjadikan semuanya sebagai kenangan. Dan sebagai bagian dari pelajaran hidupku. Bahwasanya Tuhan itu tidak pernah tidur, Dia bisa membedakan mana orang baik, dan mana orang jahat. Mana orang jujur dan mana penipu halus. Itulah mengapa, aku lebih memilih diam ketika banyak orang di luar sana yang menyakitiku.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Suasana terasa sangat nyaman dan damai, pepohonan hijau menjulang tinggi di sepanjang jalan. Barisan perbukitan yang hijau, memberikan kesan tersendiri bagi Lizzy. Ia tak menyangka ada tempat seindah itu, membuatnya terus menatap dengan rasa kagum .
Setelah melakukan perjalanan selama belasan jam, ia telah sampai di Pulau hijau, untuk memenuhi janjinya pada sang ibu dan juga Ibu Daniel, bibi Christine.
Rencananya ia akan berlibur di tempat itu selama beberapa hari, menghabiskan waktu dengan memanjakan diri, bermain di pantai dan menjelajahi hutan.
Pagi hari pertama keberadaan Lizzy di sana, Daniel membiarkannya untuk istirahat karena ia tahu Lizzy pasti kelelahan setelah perjalanan panjang mereka. Lizzy pun hanya menghabiskan pagi harinya dengan sarapan di kamar dan kembali tidur hingga menjelang sore. Ia sudah lama tidak melakukan penerbangan panjang, dan kini tubuhnya benar-benar merasa lelah.
Sore hari, Daniel mengetuk pintu kamarnya dan bermaksud mengajaknya untuk makan malam sambil menikmati pemandangan matahari tenggelam di pantai.
Sejenak Daniel mematung melihat penampilan Lizzy sore itu, wanita itu terlihat sangat cantik dan sexy disaat yang bersamaan. Lizzy memakai longdress tanpa lengan berwarna ungu bermotif bunga-bunga berwarna putih. Rambutnya ia gerai.
"Hai Lizzy, sepertinya kau sudah siap untuk berkencan sore ini," Daniel berusaha untuk menutupi kecanggungannya.
"Tidak akan ada yang mau berkencan dengan seorang janda dua anak sepertiku Daniel," Lizzy tertawa
Mereka berjalan bersisian menuju restoran resort itu yang terletak di pinggir pantai. Mereka duduk di meja untuk dua orang, dengan cahaya lilin di atas meja dan lampu-lampu kecil yang sengaja dibuat memanjang diatas kepala mereka.
Mereka memesan hidangan khas pulau hijau yang berupa masakan seafood, dengan bumbu-bumbu khas pulau itu. Rasanya yang khas, dan kaya akan bumbu, membuat lidah seperti tergelitik. Memberikan sensasi tersendiri. Mereka menyantap makan malam sambil sesekali berbicara, dan tertawa bersama. Jika ada orang lain yang melihat, mereka nampak seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.
"Apa kau merasa nyaman di tempat ini Lizzy?"
"Tentu saja, tempat ini sangat indah, terima kasih karena kau mau mengajakku ke sini. Lain kali aku akan membawa David dan Clara untuk berlibur di tempat ini."
"Tentu saja, kau bisa mengajak mereka nanti saat libur sekolah, dengan senang hati aku akan menemani kalian."
"Terima kasih Daniel, kau sudah begitu baik pada kami, maaf aku selalu merepotkanmu. Wanita yang bisa menikah denganmu pastilah wanita yang sangat beruntung, karena ia mendapatkan pria sebaik dirimu."
Daniel hanya tersenyum menanggapi ucapan Lizzy. Ia seperti merasa sedang dirayu oleh seorang wanita, meskipun ia tahu Lizzy tidak bermaksud seperti itu.
"Oh iya Lizzy, besok pagi aku kan pergi berolahraga, aku sudah lama tidak lari pagi. Besok aku berniat untuk lari keliling sekitar pulau, ada banyak pemandangan bagus di sini. Apa kau mau ikut?"
"Ya, aku mau. Tentu saja tidak mungkin aku menghabiskan waktuku di sini, hanya dengan berbaring bukan?"
"Tak apa Daniel, aku tahu paman pasti sangat sibuk, dan tidak seharusnya aku mengganggunya dengan kehadiranku di sini. Justru aku yang seharusnya meminta maaf karena telah merepotkan kalian."
"Tidak Lizzy, kau sama sekali tidak merepotkan kami, kau sudah menjadi bagian dari kelurga kami."
Lizzy tersenyum hangat mendengar ucapan Daniel. Pria itu sama seperti kedua orangtuanya, penuh cinta dan kasih sayang. Sungguh bodoh kekasihnya dulu karena memilih Alex kakaknya hanya karena uang yang dimiliki oleh Alex. Padahal sudah sangat jelas, Alex adalah tipikal orang yang keras. Berbeda dengan Pria yang saat ini ada di hadapannya.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Keesokan harinya tepat pukul enam lewat tigapuluh menit, Daniel sudah berada di depan pintu kamar Lizzy. Ia sudah siap dengan pakaian dan sepatu olahraganya.
Pun dengan Lizzy yang sudah siap dengan celana panjang dan kaos panjangnya. Mereka berjalan bersisian menuju pintu keluar resort sambil bercengkrama, dan sesekali tertawa.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap mereka dengan tajam dan penuh kebencian. Sejak kemarin sore orang itu melihat Lizzy dan Daniel seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Membuatnya merasa cemburu, Alex jelas sudah tidak bisa ia harapkan, harapannya yang tersisa hanyalah Daniel seorang, dan sekarang ia justru mendapati Daniel bersama wanita lain. Tapi tunggu, bukankah itu wanita yang sama yang diakui Alex sebagai tunangannya?.
Seseorang itu menyeringai lebar dengan penuh kemenangan, ia merasa tidak sia-sia datang ke pulau ini, karena ia mendapatkan sebuah jackpot yang bisa membuatnya kembali bergelimang harta tanpa perlu bekerja keras.
Lizzy dan Daniel berlari bersisian, sambil sesekali berbincang dan tertawa, tak jarang pula Daniel mengelus puncak kepala Lizzy dengan gemas. Pemandangan perbukitan yang hijau dan pepohonan yang rindang, membuat mata seketika menjadi rileks dan segar. Lizzy merasa sangat beruntung karena ibunya kemarin memaksanya untuk ikut ke tempat ini.
Jalan yang dilalui pun terlihat sepi, karena memang saat ini bukanlah musim liburan, volume turis yang datang pun jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan musim liburan. Setelah beberapa saat mereka berlari, Lizzy meminta untuk istirahat sejenak. Ia sudah lama tidak berolahraga, hal itu membuatnya memiliki nafas yang pendek.
Lizzy memilih duduk di pinggir jalan, beralaskan rerumputan hijau, dan beratapkan dahan pohon yang menjulang di atasnya. Ia menghirup udara yang terasa sangat menyejukkan, berbeda dengan udara yang ada di ibukota yang penuh dengan polusi.
"Apa kau sedah lelah dan ingin menyerah saja?" Daniel ikut duduk di sampingnya.
"Tidak, aku hanya perlu istirahat sejenak, setelah itu kita bisa mulai lagi," suara Lizzy terdengar payah.
"Jika kau sudah tidak kuat, kita bisa berhenti Lizzy, aku akan memanggil supir resort untuk menjemput kita disini," Daniel mencoba untuk menawarkan solusi.
"Kurasa tidak perlu Daniel, ayo kita berlari lagi, maaf aku merepotkanmu," Lizzy beranjak dari duduknya.
Daniel hanya tertawa melihat sikap Lizzy yang masih saja canggung padanya, padahal beberapa minggu kebelakang mereka selalu bersama, bahkan Lizzy pernah menangis di pelukannya. Lizzy memang wanita yang unik, dan memiliki sejuta pesona di matanya.
Sampai di resort mereka langsung menuju restoran untuk sarapan, karena memang waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat limabelas menit.
Saat mereka sedang menikmati hidangan, ayah Daniel datang menghampiri mereka. Lizzy seketika beranjak dari duduknya dan langsung memeluk ayah Daniel.
"Halo paman, apa kabar? Aku sangat merindukanmu."
"Aku baik sayangku, kita sudah lama tidak bertemu, aku juga merindukanmu putri cantikku," Ayah Daniel membalas pelukan Lizzy dengan hangat.
"Kau terlihat semakin segar saja paman, sepertinya kau sangat kerasan menginap di sini."
"Tentu saja Lizzy, tempat ini benar-benar cocok untuk orangtua sepertiku, tapi sayangnya istriku belum mau aku ajak tinggal di sini. Bagaimana kabar kedua cucuku?"
"Mereka berdua baik-baik saja, sekarang mereka sedang tinggal bersama Jacob, beberapa waktu lalu Jacob memintaku untuk ikut mengurus mereka."
"Itu bagus Lizzy, mereka bisa menjadi lebih dekat dengan ayahnya, dan kau bisa mempunyai waktu untuk bersenang-senang."
Lizzy tertawa mendengar ucapan ayah Daniel. Mereka bertiga berbincang beberapa saat, hingga akhirnya sang paman pamit undur diri karena harus kembali ke lokasi pembangunan resort yang baru. Lizzy dan Daniel memutuskan untuk kembali ke kamar dan membersihkan diri sebelum mereka berangkat untuk mendaki gunung.
Saat mereka sedang berjalan bersama menuju kamar mereka masing-masing, tiba-tiba dari arah belakang ada yang mendorong Lizzy dengan keras, hingga menyebabkan Lizzy jatuh tersungkur ke depan. Daniel yang melihat kejadian itu refleks menunduk dan memeluk Lizzy.
"Lizzy, bagian mana yang sakit?" Daniel bertanya dengan wajah penuh kekhawatiran. Lizzy merasa kakinya terkilir akibat dorongan orang itu yang begitu kuat.
"Aku tidak apa-apa Daniel, mungkin kakiku sedikit sakit, tapi sisanya baik-baik saja," Lizzy menggeleng lemah.
"Rasakan itu wanita j*****," seorang wanita tertawa dengan keras.
Daniel mengenali suara itu. Ia menoleh dan melihat wanita itu, untuk memastikan bahwa dugannya benar.
Saat melihat wajah wanita itu, ia mengenalinya. Tentu saja.
"Angeline, apa kau sudah gila hah??"