Infinity

Infinity
Merindumu



Seorang pria terlihat terduduk lemas di kursi panjang di depan ruangan operasi. Ia merasa bodoh, tak berguna dan yang jelas ia merasa sangat bersalah. Ia baru saja berjanji untuk menjaga wanita itu dengan sepenuh hati dan segenap jiwanya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Andaikan saja ia tidak meninggalkan Angeline saat itu, sudah pasti ia bisa mencegah semua ini terjadi.


Ia sedang bersiap menuju kamar Lizzy saat tiba-tiba wanita itu menghubungi dan mengatakan bahwa ia butuh pertolongan. Dengan segera ia berlari menuju kamar Lizzy dan membuka pintunya, pemandangan yang terpampang di depan matanya membuat ia shock, Lizzy terluka, dan ada darah yang membasahi lantai juga ranjang. Dengan sigap ia membopong Lizzy dan meminta petugas hotel untuk mengantarnya ke rumah sakit terdekat.


Ia tak mempedulikan pakaiannya yang penuh dengan noda darah, ia kemudian menghubungi Alex, dan memintanya segera datang ke pulau. Dengan tergesa ia pun menghubungi kepala keamanan di resort miliknya untuk memeriksa cctv yang tersebar diseluruh area resort.


Kini tak ada yang bisa ia lakukan, selain menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. Ia masih ingat dengan jelas seberapa pucat wajah Lizzy tadi. Jantungnya serasa berhenti berdetak melihat wanita itu terluka. Wanita yang beberapa waktu kebelakang telah menghuni hatinya.


Ponselnya berdering, ia melihat layar ponselnya, dan nama ayahnya tertera di sana. Ia segera mengangkat panggilan itu dengan menahan isak,


"Halo ayah,"


"Daniel, apa yang terjadi? Bagaimana dengan Lizzyku?"


" Aku belum bisa bercerita banyak ayah, maafkan aku. Lizzy masih berada di dalam ruang operasi, aku...entahlah sepertinya jantungku berhenti berdetak melihatnya terluka seperti ini," suaranya mulai terdengar bergetar.


" Tenangkan dirimu Daniel, aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, aku akan segera tiba. Aku akan ada untuk kalian berdua."


"Baiklah, aku menunggumu ayah."


Panggilan itu pun terputus. Sudah hampir dua jam Lizzy berada di dalam sana, tapi tak ada petugas medis yang keluar satu pun. Ia kembali merasa gelisah, dan lima belas menit kemudian, keluarlah seorang dokter yang menangani Lizzy. Daniel melangkah lebar-lebar menghampiri dokter itu.


"Maaf apa anda keluarga dari Elizabeth stuart?" Dokter itu bertanya.


"Iya saya tunangannya dokter. Bagaimana dengan keadaan calon istri saya?"


"Bersyukurlah, lukanya tidak mengenai organ vitalnya, pasien sekarang sedang dalam keadaan tertidur, kami membuatnya begitu, untuk mempercepat masa pemulihan. Karena jika pasien sadar dan banyak bergerak kami takut lukanya akan terbuka lagi. Kemungkinan besar besok pasien baru akan terbangun, disaat obat anastesinya sudah habis, rasa sakit yg teramat sangat pasti akan menyerangnya. Kuharap kau ada disampingnya saat itu untuk menenangkannya."


"Tentu saja dokter. Terima kasih banyak atas bantuan anda."


"Baiklah saya undur diri, sebentar lagi pasien akan dibawa ke ruang rawat inap, karena kondisinya cukup stabil, dia wanita yang kuat."


Daniel menganggukkan kepalanya, dan berlalu dari sana. Ia kembali duduk di kursi panjang, sambil bersandar pada dinding di belakangnya. Ia merasa lega sekarang, karena Lizzy sudah baik-baik saja. Baru saja ia akan memejamkan matanya sejenak, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki seseorang berjalan mendekatinya.


"Daniel bagaimana keadaan Lizzy?"


Itu suara ayahnya. Spontan Daniel berdiri dan memeluk ayahnya. Ia butuh sebuah pelukan yang menenangkan sekarang, ia memang seorang pria dewasa, tapi melihat seseorang yang dicintainya terluka, itu membuatnya kembali menjadi seorang anak laki-laki biasa. Ayahnya mengusap punggungnya dengan lembut, memberikan kekuatan tersendiri untuknya.


"Syukurlah dia sudah baik-baik saja," Daniel kemudian melepaskan pelukannya, dan mengajak ayahnya untuk duduk.


"Bagaimana ini semua bisa terjadi Daniel? Ditambah bagaimana bisa kejadian ini terjadi dalam wilayah kekuasaanku?"


Daniel menghela nafas panjang kemudian kembali bercerita apa yang dialaminya bersama Lizzy selama beberapa waktu ke belakang. Ia memulai dari pertemuannya dengan Angeline di resort dan rentetan kejadian berikutnya.


"Kurasa kau memilih wanita yang salah dulu Daniel, aku dan ibumu sudah tahu kau berhubungan dengan wanita itu. Selama ini kami diam bukan berarti kami tidak tahu, apa yang terjadi padamu. Kami juga tahu, apa penyebab kandasnya hubungan kalian. Maafkan aku dan ibumu daniel, selama ini kami mengawasimu. Kau sudah dewasa tapi bagi kami, kau tetap bayi kami."


"Tak apa ayah, sungguh. Aku tahu kalian menyayangiku, tapi sekarang masalahnya bagaimana aku menjelaskan kepada Alex dan kedua orang tua Lizzy. Aku gagal menjaganya, padahal aku baru saja berjanji pada Alex, untuk menjaga Lizzy."


Dan ia meminta Lizzy untuk menjadi istrinya pada Alex, meski hanya terucap dalam hati. Tak lama kemudian, dua orang perawat membuka pintu ruang operasi dan mendorong sebuah ranjang rumah sakit, dan Lizzy berbaring di atasnya. Daniel dan ayahnya segera berdiri menghampiri mereka dan ikut berjalan menyertainya menuju kamar rawat inap.



Terdengar suara pintu kamar terbuka dengan kasar dan suara derap langkah seseorang yang setengah berlari menuju ke tempatnya duduk menunggui Lizzy, sungguh ia tidak ingin melepaskan pandangannya dari wanita itu barang sedetik.


"Daniel, bagaimana dengan Lizzy, kenapa semua ini bisa terjadi?" Alex terdengar marah


Dengan berat hati ia melepaskan genggaman tangannya, dan berbalik menatap pria yang baru saja datang. Wajah pria itu terlihat lelah dan marah. Dengan menghembuskan nafas berat ia kembali menceritakan rentetan kejadian dari awal pertemuan mereka dengan wanita itu, dan apa yang dikatakan oleh dokter tadi. Sungguh ia sangat lelah harus mengulang cerita yang sama setiap kali ditanya.


Ia terbiasa dengan luka dan darah, tapi itu hanya make up yang dibuat senyata mungkin untuk keperluan syuting, bukan dalam dunia nyata. Terlebih yang terluka adalah wanita yang dicintainya, benar-benar menguras energi dan emosinya.


Alex memilih untuk duduk di atas ranjang di samping adiknya. Ia membelai rambut Lizzy dengan sayang.


"Aku minta maaf Lizzy, semua ini salahku. Aku yang membuatmu menjadi musuh wanita itu. Aku berjanji ini terakhir kalinya kau terluka. Diselama sisa hidupmu nanti hanya akan ada tawa dan bahagia."


***


"Tidak, kalian biarkan saja wanita itu, jangan lakukan pembayaran apapun untuk biaya pengobatannya. Biarkan dia terlunta-lunta seorang diri di sana. Biarkan dia merasakan sakit yang tak berkesudahan. Hilangkan identitasnya sesuai perintah adikku. Tinggalkan saja dia tanpa ada sepatah katapun, bilang pada pihak rumah sakit kalian menemukannya tergelatak di pinggir jalan," Ia lalu memutus panggilan itu.


Sejenak ia ragu perihal mengabari kedua orang tuanya atau tidak. Ia sangat mengkhawatirkan Lizzy, tapi ia juga tak ingin melihat kedua orangtuanya cemas. Akhirnya setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan untuk mengabari kedua orang tuanya.


Di sebuah ruangan di rumah sakit, seorang pria terlihat tertidur dengan posisi duduk, kepalanya diletakkan di atas ranjang dan tepat di sebelah tangan wanita yang sejak tadi ditungguinya. Tak terasa ia tertidur begitu saja. Alex melihat pemandangan itu saat ia baru saja memasuki ruangan. Sebuah senguman terukir jelas di wajahnya.


Ia senang, karena adiknya sekarang memiliki satu orang lagi yang menjaganya. Semoga kali ini, tidak ada lagi hal yang menyakiti adiknya.


Ia pun membaringkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan itu, menatap langit-langit kamar dan tak lama matanya terpejam karena lelah.


Daniel terbangun saat ada sesuatu yang terasa lembut menyentuh kepalanya. Ia mengerjapkan mata, mencoba untuk memperjelas pandangan, dan ia melihatnya. Ia melihat mata Lizzy tak lagi tertutup, ia telah terbangun. Sorot mata wanita itu penuh dengan kehangatan dan rasa terima kasih. Ia menegakkan tubuhnya, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.


"Lizzy, kau sudah bangun?"


Lizzy tak memberikan jawaban apapun padanya, ia hanya tersenyum manis, dan lagi-lagi penuh dengan kasih sayang yang terlihat jelas.


"Apa kau sudah merasa lebih baik Lizzy?"


Lagi-lagi wanita itu hanya tersenyum mendengar pertanyaan Daniel. Entah kenapa kali ini Daniel merasa ada yang salah, tiba-tiba ada yang mengguncang tubuhnya.


"Daniel, Daniel, bangunlah..."


Ia mengerjapkan matanya, mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya. Dan seperti de javu, ia melihatnya. Hanya saja kali ini kedua mata Lizzy masih tertutup rapat, tidak terbuka. Ia menegakkan tubuhnya, dan melihat di sampingnya sudah ada ibunya dan juga ibu Lizzy, nyonya Amanda.


Secara bergantian ia menatap wajah ibunya dan wajah Lizzy, seolah ia sedang mencari jawaban.


"Alex bilang kau tidak beranjak sedikitpun dari kursi ini semenjak kemarin siang. Ayo pindah tempat, baringkan tubuhmu di atas sofa, biar aku dan nyonya Amanda yang bergantian menjaga Lizzy, kau tidak boleh memonopolinya Daniel," Ibunya berkata dengan lembut.


Masih dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, ia bangkit dari sana dan memilih melangkah menuju kamar mandi. Belum sempat ia membuka pintu kamar mandi ibunya sudah kembali berucap " Gantilah pakaianmu Daniel, ibu sudah meletakkannya di dalam kamar mandi, bersihkan juga tubuhmu, Pakaianmu penuh dengan noda darah."


Ia berbalik dan menatap ibunya, kemudian mengangguk. Di dalam kamar mandi ia melihat wajahnya sendiri yang tampak lelah, bagaimana tidak, sejak kemarin lusa ia berada di rumah sakit, menemani Lizzy, bahkan ia hanya makan dua potong roti kemarin, dan segelas teh hangat. Itu pun karena Alex memaksanya.


Ia cepat-cepat membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Ia berdiri sejenak di depan cermin wastafel, ternyata ia bermimpi. Tadi ia bermimpi Lizzy sudah bangun. Menatapnya lagi dengan netra coklat milik wanita itu yang selalu penuh dengan kehangatan.


Lizzy bukalah matamu, kau harus tahu betapa aku merindukanmu.