Infinity

Infinity
Mengintai mangsa



Seorang wanita berjalan dengan tergesa-gesa menyusuri sebuah lorong sempit, gelap, dan bau. Tempat yang tidak pernah ia datangi sebelumnya, namun demi tercapainya sebuah pembalasan ia rela melakukan itu. Dia kemudian berhenti ketika tiba di ujung lorong dan di depan sebuah pintu yang tertutup rapat. Dia terlihat mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Aku sudah di depan pintumu," ia kemudian memutus panggilan tersebut.


Tak lama pintu itu terbuka, menampilkan sesosok pria bertubuh besar dan kekar dengan wajah garang. "Lekas masuk," ucapnya dingin. Setelah wanita itu masuk ia segera kembali menutup pintunya.


"Informasi apa yang kau butuhkan?" Pria itu bertanya.


"Aku ingin Elizabeth Peony, cari informasi tentangnya. Aku akan membayar mahal untuk informasi yang kau berikan."


"Maksudmu Elizabeth Peony Stuart?"


"Tidak, hanya Elizabeth Peony."


"Sepertinya kau bodoh, di Negara ini yang bernama Elizabeth Peony, dan terkenal karena keahlian menembaknya hanya satu orang. Dan itu adalah Elizabeth Peony Stuart."


"Apa maksudmu?"


"Kau ini benar-benar bodoh ternyata. Apa kau tidak tahu? Elizabeth Peony adalah putri bungsu keluarga Stuart. Dia adik dari Alexander Stuart. Selama ini dia lebih senang memakai nama Peony karena itu untuk menyamarkan identitasnya yang sebenarnya. Peony adalah nama gadis dari Amanda ibunya. Elizabeth Peony adalah salah satu anggota Badan Intelejen Negara, dengan keahlian menembak yang mumpuni. Kau tidak akan bisa menghadapinya tanpa sokongan kekuatan besar di belakangmu."


Wajah cantik yang semula terlihat menggebu-gebu itu kini memucat. Ia tak percaya karena selama ini, ia tertipu oleh sandiwara Alexander.


"Apa kau yakin tidak sedang membodohiku?" Ia bertanya kembali untuk memastikan pendengarannya.


"Kau tahu siapa aku dengan baik Angeline. Aku tidak mungkin memberikan informasi yang tidak akurat. Kau tahu bukan, aku berkecimpung di dunia bawah tanah sudah belasan tahun, client yang kumiliki pun bukan orang sembarangan. Dan sekarang kau malah meragukanku? Kau sungguh konyol Angeline!"


Wanita itu terhempas duduk dan tubuhnya bergetar. Ia menangisi kebodohannya selama ini karena dibutakan oleh rasa cemburunya. Ia merasa gagal mendapatkan semua pria kaya yang menjadi incarannya, sungguh memalukan.


"Baiklah Greg, ini bayaranmu. Terima kasih atas informasi yang telah kau berikan. Aku akan mencarimu lagi nanti," Ia mengangsurkan sebuah amplop kepada pria di hadapannya.


Angeline berjalan keluar dari tempat itu dengan sejuta perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya. Ia segera memasuki mobilnya dan menyusun rencana baru dalam kepalanya.


***


Hentakan suara musik di dalam Club malam memekakkan telinga setiap orang yang baru saja memasuki ruangan dengan cahaya temaram itu. Ia berjalan dengan wajah sedikit ditekuk, seumur hidupnya ia belum pernah masuk ke tempat seperti ini, bahkan dulu saat ia masih bertugas, ia selalu meminta bantuan rekannya untuk mengawasi jika ia harus masuk ke dalam sebuah club.


Ia duduk di meja bar, dengan mata sibuk memindai keadaan sekitarnya. Ia mencari keberadaan sosok seorang wanita yang merupakan teman baik masa kecil Angeline. Namun nihil, ia tak melihat keberadaan wanita itu. Saat ia akan beranjak dari duduknya tiba-tiba sebuah lengan menahannya, untuk kembali duduk.


"Mau kemana nona cantik? Perkenalkan, namaku Alvaro, aku bartender di sini. Aku baru kali ini melihatmu di sini, izinkan aku untuk membelikanmu sebuah minuman, anggap saja untuk merayakan pertemuan kita ini."


Lizzy hanya tersenyum menanggapi perkataan pria yang mengaku sebagai bartender itu, ia enggan untuk mengiyakan tapi ia juga tidak mungkin menolaknya karena mungkin saja pria itu mengenali orang yang sedang dicarinya. Lizzy memutar kursinya menghadap meja bar, ia memerhatikan sang bartender yang sedang asik meracik sebuah minuman untuknya.


"Tuan Alvaro, sudah berapa lama kau menjadi bartender?" Lizzy memulai percakapan dengan pria itu.


"Jangan panggil aku dengan sebutan Tuan nona, aku tidak setua itu. Cukup panggil namaku saja. Aku bekerja di sini sejak lima tahun yang lalu," Pria itu berkata sambil terus asik meracik minuman, ketika selesai ia meletakkanmya di depan Lizzy. "Ini kubuatkan khusus untukmu, cobalah. Ini tidak mengandung alkohol, karena aku tahu kau bukan seorang peminum, my treat." Ia mengedipkan sebelah matanya kepada Lizzy.


"Dari mana kau tahu jika aku bukan seorang peminum?"


"Itu mudah saja, aku baru pertama kali ini melihatmu di sini, dan wajahmu terlihat sangat tidak nyaman. Entah apa yang kau cari di sini, yang jelas bukan kesenangan. Karena jika kau datang untuk mencari kesenangan, wajahmu pasti akan terlihat dengan antusias."


"Kau ternyata seorang pengamat yang baik Alvaro. Apa kau juga memiliki pekerjaan lain selain di tempat ini?"


"Tidak, aku tidak tertarik dengan pekerjaan lain. Dan karena aku terbiasa bertemu dengan banyak orang di tempat ini, aku jadi bisa belajar untuk menganalisa karakter seseorang dari mimik wajah dan perilakunya. Kurasa itu aku bisa karena terbiasa."


"Kau benar Al, segala sesuatu jika kita sudah terbiasa melakukannya maka semuanya akan terasa mudah. Apalagi kau pasti dengan senang hati mengamati wajah semua pelangganmu yang cantik cantik bukan?"


"Hey, aku pria normal nona. Pasti aku akan sangat senang jika bisa menatap wajah mereka semua dengan waktu yang lama. Tanpa perlu repot dimarahi oleh mereka."


"Kurasa kau pun seorang petualang Alvaro." Kali ini Lizzy berkata sambil menahan tawanya.


"Oh ayolah nona, aku pria normal yang memiliki wajah tampan, aku juga seorang bartender kelas atas yang sudah pasti memiliki kemampuan di atas rata-rata dalan meracik minuman, jika kau suka mencari hiburan di tempat seperti ini maka kau pun pasti akan menggilaiku."


Lizzy tertawa lepas kali ini, karena ternyata pria di hadapannya adalah seorang lawan bicara yang menyenangkan. Dan sepertinya pria itu bisa ia jadikan narasumber saat ini.


"Al, apa kau mengenali setiap pelangganmu?"


"Tentu saja nona, aku mengenali mereka semua dengan baik. Kecuali jika itu orang baru, aku hanya sekilas mengenal mereka. Seperti halnya kau dan aku."


"Apa setiap hari banyak orang baru yang datang Al?"


"Ya, bahkan sangat banyak, tapi aku bisa mengenali bahwa mereka orang baru. Karena jika dia orang yang sudah terbiasa datang ke tempat ini, ia pasti akan langsung menuju tempat favorit mereka, atau jika ternyata tempat mereka tidak kosong, mereka akan duduk di hadapanku. Tapi jika mereka orang baru, mereka cenderung akan memerhatikan sekeliling mereka dulu, itulah yang terjadi padamu barusan."


"Wow, kau cukup keren Al. Aku tak tahu jika kau memerhatikanku."


"Aku berada di belakangmu tadi sejak kau masuk ke tempat ini."


"Al, apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Tentu saja, bertanyalah."


"Apa kau mengenal Rachel Dorian?"


Pria yang sedang asik menata gelas-gelas di balik meja bar, menegang seketika. Wajahnya yang semula ceria kini berubah, tak ada lagi tawa di sana. Hanya menyisakan kepahitan dan putus asa.


.


.


.


.


.


**Please tinggalkan jejak kalian. Jangan lupa klik jempolnya ya. Demi keberlangsungan hidup si Author. Terima kasih** 😘😘