
Terasa kehangatan mendekap tubuh Khanna, perlahan mata nya terbuka, nampak lah 2 bola mata indah nanti bening sedang menatap nya dengan penuh kasih sayang.
Ya, mata itu sudah tidak asing bagi Khanna, sudah beberapa tahun ini mata tersebut dengan setia menemani hari hari Khanna.
" Grey, kau sudah bangun? Apa kau lapar " tanya Khanna sembari mengelus kepala Grey,
sedang kan Grey hanya melentak kan kepala nya di bahu Khanna, seolah memberi nya kekuatan..
Khanna pun bangkit dan menuju dapur, dia menggunakan kan apron lalu menuju lemari pendingin, dan mengeluarkan kan beberapa butir telur ayam dari dalam nya.
Dengan cekatan Khanna pun memecah kan telur telur ayam tersebut di masuk kan ke dalam mangkok kaca yang lumayan besar.
Kemudian dia mengiris daun bawang dan daun seledri dan memcampur kan nya ke dalam telur telur ayam tersebut.
Tak lupa ia memberi sedikit garam dan merica. Kemudian ia mengocok semua bahan tersebut dan memcampur kan dhingga rata.
Tangan nya pun meraih teflon dan kemudian menyalakan kompor, setelah di rasa teflon sudah hampir panas Khanna pun memasukkan satu keping margarin ke dalam nya,.
Setelah margarin tersebut lumer dengan cepat ia memasukkan telur yang telah di campur dengan daun bawang tadi ke dalam teflon.
Setelah di rasa matang, Khanna pun mengambil dua buah piring lalu meletakkan omelet telur di atas piring piring tersebut.
Khanna membawa dua porsi omelet tersebut ke arah Grey,
" Grey, mari kita makan. Kau pasti sudah lapar" ucap Khanna.
Grey hanya mengangguk pelan dan kemudian melahap omelet telur yang ada di piring nya tersebut.
Tak lama kemudian piring Grey telah kosong, ia menghabiskan makanan tersebut dengan cepat.
Khanna yang melihat hal itu tersenyum senang. Ia senang bahwa Grey nya telah pulih. Ia pun kemudian menyendok kan makanan tersebut ke dalam mulut nya sendiri.
" Grey, setelah ini mari kita jalan jalan, aku sudah berjanji pada mu untuk mengajak mu jalan jalan keliling komplek. " ujar Khanna.
Grey segera bangkit dan berdiri dan berjalan mengitari Khanna. Sedang kan Khanna segera bangkit setelah menyelesaikan makan nya.
Ia pun menuju dapur, mencuci bekas makan nya, kemudian mengganti pakaian nya.
Sekarang Khanna hanya mengenakan pakaian santai, kaos polos berwarna biru muda, dan jeans pendek senada dengan baju nya.
Rambut nya di kuncir di atas kepala nya. Tampak sangat menggemaskan. Kemudian ia mengajak Grey keluar.
Setiba nya di luar Khanna mengunci pintu rumah nya. Kemudian berjalan menuruni tangga rumah nya sembari memimpin Grey.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di jalan, dan mulai berkeliling di komplek perumahan tersebut.
Khanna pun mengajak Grey ke taman mini yang ada di komplek tersebut.
"Ayo Grey, bersemangat lah..!!! " teriak Khanna kemudian berlari kecil dan membuat Grey ikut berlari mengejar nya.
Hari itu Khanna merasa senang melihat Grey nya benar benar telah pulih, hati nya bergetar mengingat keadaan Grey sebelum nya yang terbaring lemah.
Khanna tidak bisa membayang kan hidup nya tanpa Grey. Tak terasa ia berjalan dan mulai memasuki taman..
Khanna pun memilih duduk di salah satu bangku taman, sedang kan Grey duduk di bawah pohon yang rimbun.
Tak lama kemudian secara tiba tiba segerombolan anak muda menghampiri Khanna.
Melihat seorang gadis duduk sendiri di taman yang sepi sudah tentu pikiran bejat mereka bekerja.
Mereka pun mulai beraksi, merayu, dan mencoba melecehkan Khanna. Namun Khanna berusaha melawan dengan sepenuh tenaga.
Namun tenaga nya tidak sebanding dengan tenaga segerombolan pemuda tersebut. Khanna berteriak keras meminta tolong.
Karena taman tersebut dalam keadaan sepi, tak tampak seorang pun yang mendengar teriak kan Khanna atau pun mendekati Khanna.
Semakin besar lah nyali segerombolan pemuda bejat tersebut.
Secara tiba tiba entah darimana datang nya, seorang pemuda menghajar segerombolan pemuda tersebut.
Dia melayang tinju dan tendangan nya ke arah pemuda pemuda bejat tersebut, sontak saja mereka terkejut dan lari ketakutan. Tak mau di hajar habis habis an oleh seorang pemuda yang bari tiba tersebut.
Khanna pun berdiri melihat pemuda tersebut, dan berterima kasih.
Sedang kan pemuda tersebut hanya tertawa,
" Ha.. ha.. ha.. ha.. tidak perlu melakukan apa pun untuk membalas ku, itu sudah kewajiban ku melindungi mu, maksud ku seorang pria seperti ku sudah seharusnya melindungi wanita yang tengah kesulitan " jawab pemuda itu selanjut nya.
" Perkenalkan, aku Javier Morgan.. " ucap Javier mengulur kan tangan nya.
" Aku Khanna Tennyson, salam kenal. Dan sekali lagi ku ucap kan Terima kasih " ucap Khanna sembari membungkuk kan sedikit badan nya.
Khanna kemudian hendak berlalu dari taman tersebut dan menyadari bahwa Grey nya tidak ada di situ.
Dia pun berlari dan berteriak dengan panik memanggil manggil nama Grey.
"Grey...!!!! Grey...!!!! Dimana kau??? " panggil Khanna dengan panik.
" Ya Tuhan... dimana Grey ku? " bisik Khanna.
Javier yang melihat Khanna kepanikan pun lalu bertanya,
" Ada apa? Kau mencari seseorang? " tanya Javier.
" Iya, sesaat tadi aku melihat nya duduk di bawah pohon itu, lalu ke mana dia sekarang? Apakah mungkin pemuda pemuda brengsek tadi mengganggu nya? " jawab Khanna, dan kemudian kembali berkata,,,,
" Padahal dia baru saja pulih, kesehatan belum terlalu stabil" lanjut Khanna.
"Bisa kah kau membantu ku mencari nya? Nama nya Grey, dia sangat berati dalam hidup ku" pinta Khanna.
Javier yang mendengar permintaan dan melihat tingkah Khanna hanya bisa menggaruk kepala nya yang sebenar nya tidak gatal.
" Baik lah aku akan berusaha membantu mu mencari nya, tapi kemana kita harus mencari nya? " tanya Javier.
Sementara Khanna terdiam, terlihat dari wajah nya bahwa saat itu Khanna tengah panik, dan terus memanggil Grey.
" Apa kau begitu menyayangi nya? " tanya Javier hati hati.
" Iya, aku sangat sangat sangat menyayangi nya. Grey adalah hidup ku, dia selalu setia menemani ku, " ucap Khanna.
"Sebegitu penting kah arti diri nya bagi mu? Apa kah aku tidak ada peluang untuk mendekati mua? Kita berteman misal nya? " tanya Javier.
Khanna pun mengernyit kan dahi nya, dan mendekati Javier,,
" Kata kan apa maksud mu mengatakan hal ini? Jika kau ingin berteman dengan kynya silah kan berteman saja, tapi kau tak akan pernah mengganti kan posisi Grey dalam hidup ku, karena kalian itu sama sekali berbeda" jelas Khanna.
Javier hanya tersenyum dan kemudian menatap mata Khanna, sementara yang di tatap memaling kan wajah nya. Javier tetap tersenyum sambil mengusap tengkuk nya.
" Apa kah mungkin Grey mu itu sudah pulang? Jika masih di sekitar sini pasti dia mendengar panggilan mu" Javier.
" Firasat ku tidak berkata buruk, itu arti nya saat ini Grey baik baik saja, baik lah aku akan pulang, siapa tau Grey telah menunggu ku di rumah" jawab Khanna kemudian berlalu dari hadapan Javier.
"Boleh aku mengantar mu? Emmmm... maksud ku boleh kah aku berkunjung ke rumah mu? " tanya Javier.
Khanna terdiam sesaat mempertimbangkan kan sesuatu.
" Baik lah kau boleh datang kerumah ku anggap saja aku membalas kebaikan mu yang telah menolong ku" jawab Khanna sembari tersenyum.
Javier memperhatikan senyum manis yang terukir dari bibir Khanna tersebut, perlahan di rasa kan nya perasaan hangat menyusup ke dalam hati nya.
Jantung nya berdebar tidak menentu. Perasaan indah yang tak terlukis kan oleh kuas dan kanvas sekalipun.
***Ayo dukung author dengan like like like yang banyakkkk..
Next bab nanti ya.π€π€.. semoga suka sama cerita nya..
mohon saran dan dukungan nya.πππ.. like like like like kalian sangat berarti bagi author untuk mempompa semangat dalam berkarya.... π₯°π₯°π₯°
salam manis dari author,,,,
deniariππ
TBC***