I'M Witch

I'M Witch
14



Pria paruh baya itu terus menatap keluar jendela rumah nya, mata nya menatap keluar tapi pikiran nya entah kemana.


Takdir mu telah tiba,, kau harus menghadapi nya, bathin pria paruh baya itu.


Sementara itu di halaman dia orang pemuda sedang beradu mulut.


"Jika bukan karena kau ini tak akan terjadi. Dia itu milik ku, sejak awal hingga kini pun dia milik ku, " ucap pemuda yang lebih muda dengan penuh emosi.


"Terserah apa yang kau kata kan, tapi kau juga tau saat itu hanya akun yang bisa melakukan nya, dan karena aku lah dia masih hidup hingga kini. Aku sama sekali tak tertarik dan tak pernah memikir kan tentang nya, jika bukan karena takdir ini. Bila saat nya tiba aku akan melepas kan nya" jawab pemuda satu nya dengan mata yang menyala.


Yah, kesal. Itu yang di rasa kan pemuda itu, kenapa harus dia? Kenapa bukan yang lain? Kenapa takdir membawa nya ke sini?


Ia pun berlari meninggal kan saudara nya, berlari dengan cepat menaiki bukit di belakang rumah nya. Ingin rasa nya ia terbangun dan menganggap ini hanya sebuah mimpi buruk, tapi ia harus menerima nya. Terpaksa.


Sementara di atas bukit, di sebuah rumah mewah terlihat seorang pemuda sedang mondar mandir di sebuah ruangan luas dengan perapian yang menyala, sementara yang satu nya hanya duduk menangkup kan kedua tangan nya, meletakkan dagu nya di atas kedua tangan nya itu.


Berfikir, kenapa takdir sungguh kejam pada keluarga mereka. Jika saja paman nya tidak tergoda oleh penyihir muda itu, semua tidak akan seperti ini. Sungguh menyakit kan, ia harus kehilangan kedua orangtua nya, dan setelah itu ia harus memenuhi takdir nya untuk melindungi satu satu nya yang berharga dari dari paman nya itu.


Tanpa bisa mengelak dan berlari, itu sudah menjadi sumpah yang mengalir dalam darah nya. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali terus menjalani takdir nya.


Pepohonan pinus di luar halaman rumah nya pun menjadi saksi akan takdir nya, tampak menjulang tinggi di tengah gelap nya nya malam sehingga membentuk siluet yang menyeramkan untuk di lihat oleh manusia biasa yang lemah keberanian nya.


******


Julie Collin merasa rencana nya akan mulus berjalan, ia sudah mengirim kan pesan nya pada madame Primrose tentang keberhasilan nya yang meski baru permulaan. Tapi ia sangat yakin bahwa ini akan berhasil. Perlahan tampak senyum di bibir nya, yang membayang kan kemenangan nya.


tok .... tokk... tok.. tok..


Terdengar suara ketukan pintu dari arah depan rumah yang kini di tempati nya. Segera ia bangkit, dan berjalan ke depan, membuka handle pintu. Pintu pun terbuka tampak seorang gadis cantik berkulit pucat berdiri di hadapan nya.


Senyum mengembang dari bibir wanita muda di depan nya, gadis itu pun perlahan mundur. Sedang tamu cantik itu berjalan masuk ke rumah, sambil tak lepas mata nya memperhatikan gadis di depan nya. Meski dia sedikit kacau, tapi dia yakin bahwa gadis di depan mata nya ini lah yang di cari nya selama ini.


Tanpa aba aba, gadis cantik berkulit pucat itu langsung membekap mulut Jullie. Tentu saja Jullie kaget setengah mati, dia berusaha melawan gadis pucat itu, berusaha melepas kan diri dari bekap an gadis pucat itu. Tapi tenaga nya tak seimbang, dan dia pun kalah gesit.


Gadis pucat itu bergerak terlalu cepat, sambil terus membekap Jullie dia pun berlari, menyusuri lorong lorong gelap gulita. Tak terlalu kesulitan bagi nya membawa Jullie atau lebih tepat nya menyeret Jullie sambil berlari di balik lorong lorong sempit itu.


"Menyingkir kau dari jalan ku.. " ucap gadis pucat itu.


"Aku akan menyingkir, tapi kau jawab dulu aku, mau kau apa kan gadis muda itu? " tanya wanita paruh baya itu.


"Mau ku apa kan dia, itu bukan urusan mu. Cepat lah kau menyingkir dari hadapan ku, atau ku habisi kau" ucap gadis berkulit pucat itu lagi.


Wanita paruh baya itu pun membuka kerudung yang menutupi wajah dan kepala nya, sehingga kini nampak lah siapa dia sebenar nya.


"Kau,, apa yang kau mau? Jangan mengganggu urusan ku, aku tak pernah mengganggu kalian" ucap gadis berkulit pucat itu terbata. Perlahan nyali nya mulai menciut juga.


"Bagus lah jika kau mengenal ku, serah kan gadis itu pada ku. Dia adalah milik ku, setelah itu kau boleh pergi dengan tenang" ucap wanita paruh baya itu sambil tersenyum.


Gadis berkulit pucat itu masih berdiri di tempat nya, ia tau tak ada tempat untuk nya berlari, wanita di depan nya ini tidak bisa di anggap enteng. Salah langkah sedikit saja dia bisa naas saat itu juga. Otak nya berusaha berfikir dengan cepat. Kemudian,


"Baik lah, aku akan menyerah kan nya, tapi tidak sekarang, tunggu urusan ku selesai. Aku berjanji pada mu, percaya pada ku, aku tidak akan mengingkari janji ku" ucap gadis berkulit pucat itu, sementara gadis yang ada dalam dekapan nya kini mulai meronta, berusaha melepas kan diri. Namun ia tak sekuat itu, tenaga nya lemah, tak berbanding dengan tenaga gadis yang membekap nya itu.


"Ha... ha.. ha.. kau tawar menawar pada ku. Kau tau siapa aku kan, aku bisa saja menghabisi mu saat ini, tapi aku sedang berbaik hati. Maka aku minta, serah kan gadis itu pada ku, dan kau boleh meninggal kan tempat ini. Jika kau mempersulit hal itu kau akan tau akibat nya Alliana Saloon, dan akan aku pasti kan aku tidak akan segan segan pada mu dan klan mu. Serah kan gadis itu pada ku, lalu kau dapat melanjut kan perburuan mu, pasti cukup melelahkan bukan, berlari menembus malam sambil membawa gadis itu? Cepat serah kan pada ku, selagi aku meminta dengan baik" ujar wanita paruh baya itu pada gadis berkulit pucat yang ternyata Alliana.


Alliana masih terdiam di tempat nya, bagai makan buah simalakama hidup nya saat ini. Jika tak menuruti ucapan wanita paruh baya di depan nya maka naas, malaikat maut akan menjemput nya saat ini juga. Namun jika ia menuruti kemauan wanita di depan nya maka nyawa juga terancam. Perlahan mata nya menatap wanita paruh baya itu, kemudian menatap gadis muda yang ada dalam dekapan nya.


***Apa yang harus aku lakukan?


*****


TBC


Salam manis dari author,


deniari๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰


follow juga akun instagram author @suci_deniari28 untuk tau bocoran kisah selanjut ny๐Ÿ˜‰***