I'M Witch

I'M Witch
13



Di pertigaan gang sempit yang sepi, tampak seorang gadis cantik sedang bercumbu dengan seorang pria, yang kelihatan nya mabuk setelah pesta di sebuah bar kecil tak jauh dari gang tersebut.


Akkhhhhhhhh....


Tak lama terdengar jeritan pria memecah kesunyian gang tersebut. Tubuh nya terhempas begitu saja, hilang sudah bayangan kenikmatan yang tadi nya ia rasa kan.


Tak ada yang melihat nya, tak ada memperhatikan sesosok tubuh yang terbujur kaku tersebut.


Sementara di pinggiran sebuah kota seorang gadis cantik tampak berlari dengan cepat, sangat cepat. Seolah sesuatu sedang memburu nya.


Nafas nya tersengal, detak jantung nya tak beraturan, sembari sesekali menoleh ke belakang, ingin rasa nya ia menghilang dan muncul di suatu tempat dalam waktu yang bersamaan, tapi itu tidak mungkin.


"Kenapa kau berlari Alliana? Apa kau takut bertemu dengan ku? " ucap gadis muda lain nya.


"Tentu saja tidak Manu..., bagaimana mungkin aku takut, bukan kah kita masih sepupu? " jawab Alliana dengan senyum yang berusaha di manis manis kan.


"Lalu kenapa kau menghindar dari ku? Kemana saja kau selama ini? " tanya Manu pada Alliana yang tampak sudah sedikit lebih tenang.


"Aku sama sekali tidak menghindar dari mu, hanya saja aku sedikit sibuk, bagaimana kabar mu Manu?" tanya Alliana.


"Sudah cukup basa basi mu, bagaimana? Apa kau sudah menemukan nya? Sebaik nya kau bawa berita baik pada ku" ucap Manu sembari menarik baju depan Alliana.


"Tenang lah Manu, aku sudah berhasil berada di tempat yang sama dengan nya butuh waktu untuk mendekati nya, dan itu tidak bisa sembarangan" ucap Alliana.


"Kita sudah hampir kehabisan waktu, kau tau itu, jika kau tak bisa membawa nya dalam waktu dekat, maka habis lah hidup mu" ucap Manu kemudian.


" Tidak bisa kah di ganti dengan yang lain nya,? Masih ada beberapa pilihan yang seperti nya, kenapa harus dia? Kau tau dia tidak pernah sendirian. " ucap Alliana menjelaskan.


" Bicara seperti itu lagi, akan aku jamin hidup mu tidak lama lagi, cepat dekati dia dan bawa pada ku, dan jika kau gagal, akan pasti kan aku sendiri yang akan menghabisi mu. Ingat itu" ancam Manu dengan wajah penuh emosi.


" Baik lah,,, akan aku lakukan. Berapa banyak lagi waktu yang tersisa? " tanya Alliana sambil berusaha menjauh dari Manu. Gadis cantik di depan nya bukan gadis sembarangan dan dia tau itu.


"Waktu mu tinggal empat purnama lagi, pasti kan sebelum itu kau sudah membawa nya di hadapan ku, jika tidak kau akan tau akibat nya" ucap Manu sambil menatap Alliana dengan tajam. Lalu, tanpa membuang waktu ia pun berlalu dari tempat itu.


Alliana bergidik ngeri membayang kan nasib nya, jika saja wanita itu bukan Manu, tentu dia sudah melawan nya. Bagaimana pun, dia merasa segan dan takut dengan wanita yang hampir sebaya dengan nya tersebut.


Wanita dingin, sama sekali tidak pernah ia melihat nya tersenyum, bahkan selama mengenal nya ia termasuk katagori wanita kejam. Yang pasti akan langsung menghabisi seseorang yang tidak tepat waktu.


Segera Alliana meninggal kan tempat itu berusaha sejauh mungkin dari tempat pertemuan yang membuat nya ngeri hingga tidak terbayang lagi masa depan hidup nya.


Aku harus melakukan nya, apa pun yang terjadi,... Tunggu aku gadis brengsek, aku akan memastikan ini akhir dari hidup mu,


"Celine,,, cepat lah, aku sudah letih.. " rengek gadis muda di kursi belakang.


Sedang kan Celine terus mengemudi tanpa menghirau kan kata kata gadis itu. Candy di sebelah nya sedang mengunyah keripik kentang.


Khanna menoleh kan kepala nya ke kanan, menatap pepohonan pinus yang kini seolah berjalan mundur di belakang mereka. Satu kata dalam hati nya, Letih.


Begitu banyak kejutan kejutan yang ia sendiri pun tak mengerti. Pikiran nya bergulir ke masa kecil nya, panti asuhan. Tempat nya di besar kan.


Panti asuhan juga tempat nya bertemu dengan Dwart bersaudara. Teringat kala mereka baru saja tiba di panti tersebut, semua anak menghindari nya, di kata kan mereka membawa sial dan aneh. Hanya Khanna yang mau berteman dengan mereka.


Tapi itu tidak membutuh kan waktu lama, karena tak lama kemudian pengacara keluarga Dwart menjemput Dwart bersaudara, hingga tinggal lah ia sendiri di tempat itu. Hampir tidak ada yang menerima nya kala itu, dia di anggap aneh oleh mereka, tadi nya ia pun berfikir, kenapa ia tidak seperti mereka. Kini ia tau jawaban nya, tapi justru itu yang membuat nya bingung. Dunia Baru terbentang di depan nya, dunia nya sebenar nya. Dia harus menyiapkan diri menghadapi masa depan diri nya sendiri. Dia tau identitas nya kini, tapi itu membuat nya seolah ingin menghilang dari dunia. Terpaksa menerima keadaan nya yang ia sendiri pun masih tak percaya. Bagaimana mungkin diri nya anak putri seorang ratu kegelapan?


Lamunan nya pun buyar mana kala terdengar suara berisik dari samping dan depan nya. Dwart bersaudara kini sedang beradu mulut tentang keripik kentang. Namun salah satu nya kemudian menoleh pada Khanna.


"Err, Khanna, apa kau tau kira kira apa klan ayah mu? Jika ibu mu penyihir hebat, lalu bagaimana dengan ayah mu? " tanya Cecile sembari mengunyah keripik kentang yang berhasil di rebut nya dari Candy.


"Entah lah, aku juga tak tau. Menerima bahwa aku adalah penyihir saja sudah membuat ku ingin menghilang. Apa kalian masih ingin berteman dengan ku, setelah tau keadaan ku? " tanya Khanna pada Dwart bersaudara.


" Apa yang ada di pikiran mu hah? Buang jauh jauh pikiran buruk mu itu, kita ini sudah seperti saudara, tentu saja kami tidak keberatan berteman dengan mu, bukan begitu kak Candy? kak Celine? " ucap Cecile dan di jawab dengan anggukan kepala dari Celine dan Candy.


"Kau tak perlu khawatir tentang siapa kau sekarang, menurut ku itu keren" ucap Celine sambil tersenyum.


"Seandai nya kau temukan pria brengsek yang menyegel mu itu, lalu kau bisa menggunakan kekuatan sihir mu, aku rasa itu semua akan lebih terlihat keren" ucap Cecile sambil tertawa, mau tak mau Khanna pun ikut tertawa.


"Tapi, kira kira siapa pria brengsek itu? Kenapa dia tidak menemui mu? " tanya Candy .


"Kata mr. Morgan pria itu akan menemui jika memang sudah waktu nya kami menikah, aku tidak bisa membayang kan akan menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak ku kenal, dan takdir ku yang membuat hidup ku seperti ini" jawab Khanna sembari menghela nafas panjang.


Mobil itu kembali sepi tanpa percakapan, semua hanyut dalam pikiran masing masing. Entah apa yang akan terjadi esok.


*****


***TBC


Salam manis dari author,


Deniari๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰***