I'M The Antagonist

I'M The Antagonist
Beginning of Friendship



Valerie dan Dean mengantarkan Erland ke kamarnya lalu pergi ke taman. Kini Valerie dan Dean sedang bersantai di taman.


"kakak" panggil Valerie


"iya Jillian, ada apa?" tanya Dean


"apakah Pangeran Erland orang jahat?" tanya balik Valerie pura² polos padahal dirinya sudah tau sifat Erland seperti apa


"emm sepertinya tidak hanya saja mungkin sifatnya memang datar dan dingin seperti itu" jawab Dean mengusap pelan kepala Valerie


"ohh begitu" gumam Valerie


"permisi nona, Pangeran... ini cemilannya" ucap Alesya membawakan biskuit raspberry untuk Valerie dan kue lemon untuk Dean




"terima kasih Alesya dan selamat makan kakak" ucap Valerie mulai memakan biskuitnya


"iyaa selamat makan juga Jillian" ucap Dean tersenyum manis


Mereka berdua asik menikmati cemilan masing² sembari sesekali bercanda ria. Tiba² ada seekor kupu² cantik hinggap di hidung mungil Valerie. Seketika naluri bocahnya tergerak dan dia pun berdiri lalu mengejar kupu² itu.


"Jillian hati² nanti jatuh" ucap Dean melihat adiknya mulai berlari untuk mengejar kupu²


"iya kakakk-- aaaaa" pekik Valerie yang terjatuh akibat tersandung batu


"Jilliann!!" teriak Dean langsung berlari menghampiri adik kecilnya


"apa kau tidak apa²?" tanya Dean yang sedikit meringis melihat luka di lutut Valerie yang mulai mengeluarkan darah


Tapi Valerie tidak menjawab pertanyaan kakaknya dan hanya tertunduk.


"Jillian?" tanya Dean


"hiks hiks hiks" isak Valerie lirih


"Ji-Jillian?" tanya Dean mengangkat dagu Valerie agar bisa menatap wajah adiknya yang ternyata sedang menahan tangis


"huaaaaa kakakkk inii sakitttt!!! huaaaaaaa bundaaaaa ayahhhh!! hiks hiks hiks" tangisan Valerie seketika pecah saat melihat wajah kakaknya


"sial! gue udah remaja di dunia dulu, terus napa gue bisa nangis gegara luka kecil di lutut gue kek gini?? sial! tapi ini lumayan sakit, apa gara² tubuh bocil ini ya?" batin Valerie heran


"oh astaga... cup cup cupp Jilliann berhentilah menangis~"ucap Dean segera menggendong tubuh mungil Valerie


"ka-kakakk lututku berdarah... hiks hiks hiks" isak Valerie menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Dean


"tenanglah Jillian, kakak akan mengobatimu jadi sekarang jangan menangis yaa" ucap Dean menepuk - nepuk punggung Valerie


Dan disaat yang tepat, Alesya datang dan membawa kotak obat.


"kemarikan kotak obat itu, Alesya" ucap Dean


"baik Pangeran" ucap Alesya memberikan kotak obat yang dia bawa ke Dean


"tahan yaa Jillian" ucap Dean mulai membersihkan darah di lutut Valerie lalu memberinya obat merah


"auu sakitt kakk hiks hiks" isak Valerie


"sebentar lagi selesai kok, tahan yaa" ucap Dean menenangkan Valerie


"heem" ucap Valerie menuruti Dean


"nahh sudah selesai, apa masih sakit?" tanya Dean


"emm sudah tidak hehehe" jawab Valerie tersenyum manis


"syukurlahh... kalau begitu ayo makan lagi" ajak Dean


"siap kakak!" ucap Valerie kembali memakan biskuitnya dengan tenang


"apakah aku boleh bergabung" sahut seseorang dengan nada datar


Valerie dan Dean pun menoleh ke arah sumber suara.


"sa-salam Pangeran Erland" ucap Valerie sedikit menundukkan kepalanya


"hmm" datar Erland


"mari silahkan duduk Pangeran" ucap Dean


Erland lalu duduk di hadapan Valerie dan Dean.


"Pangeran suka cemilan apa? Biar pelayan saya menyiapkannya" ucap Valerie


"kue coklat dengan lelehan caramel" ucap Erland datar


"Alesya dengarkan? kalau begitu tolong disiapkan yaa" ucap Valerie tersenyum manis


"baik nona" ucap Alesya pergi melakukan tugasnya


"nona? bukankah seharusnya pelayan itu memanggilmu Putri" ucap Erland heran


"tidak apa, memang saya sendiri yang ingin dipanggil nona olehnya" ucap Valerie tersenyum tipis


"oh begitu" acuh Erland



"silahkan dinikmati Pangeran" ucap Alesya undur diri, menjauh dari kedua junjungan dan Pangeran Kerajaan Abigail itu


"hmm" ucap Erland mulai memakan kuenya


"apa baru saja terjadi sesuatu? sebelum aku kesini tadi terdengar suara seseorang yang sedang menangis dengan keras" ucap Erland


"eee itu tadi Jillian menangis karna terjatuh dan lututnya berdarah Pangeran, maaf jika hal itu mengusik anda" ucap Dean


"oh begitu" acuh Erland kembali memakan kue


"sial! bisa² nya Pangeran kecil tampan berkedok malaikat pencabut nyawa ini bersikap kek gitu ke kak Cedric! dasar muka datar!" batin Valerie kesal melihat sikap Erland


Sesaat keheningan menyelimuti mereka.


"apakah Pangeran suka memanah?" tanya Dean memecah keheningan


"lumayan" jawab Erland singkat


"bagaimana kalau kita bertanding memanah? disini ada sebuah lapangan panahan dan untuk sekedar info bahwa saya adalah pemanah yang sangat handal, bahkan para ksatria Archer Kerajaan Celesta ini masih kalah saing dengan saya" ucap Dean dengan nada sombong


"hmm begitu kah? baiklah aku terima tawaranmu" ucap Erland tersenyum miring


"nahh kalau begitu kita habiskan terlebih dahulu cemilan ini lalu pergi ke lapangan panahan" ucap Dean


"hmmm"


~✿ ✿ ✿ ~


Selesai menghabiskan cemilan, mereka pun pergi ke lapangan panahan. Disana ada banyak ksatria Archer yang sedang berlatih. Peluh keringat yang mengalir deras tak membuat semangat mereka untuk menjadi Archer terbaik bagi Kerajaan Celesta menurun. Malahan hal itu semakin membangkitkan semangat mereka semua.


Jiwa² fan girl Valerie mulai tergerak saat melihat peluh keringat yang malah menurutnya membuat para ksatria Archer itu semakin tampan. Mata bulat nan mungilnya berbinar - binar tanpa Dean ketahui, sedangkan Erland yang menyadari hal itu diam² terkekeh pelan melihat tingkah laku lucu Valerie.


"salam hormat kepada Pangeran Dean, Pangeran Erland, dan Putri Valerie" sahut seseorang yang sepertinya adalah komandan dari para ksatria Archer


"salam-mu kuterima Komandan Adolf" ucap Dean


"ada apa gerangan anda sekalian kemari Yang Mulia?" tanya Komandan Adolf


"aku dan Pangeran Erland hendak melakukan pertandingan memanah disini" jawab Dean


"kalau begitu mari ikuti saya Pangeran" ucap Komandan Adolf


"baiklah" ucap Dean


Komandan Adolf membawa Dean, Erland, dan Valerie pergi ke area yang agak jauh dan sepi sehingga mereka bisa melakukan pertandingan memanah. Setelah itu, Komandan Adolf langsung pergi menyiapkan alat² memanah untuk kedua Pangeran itu dan menjadi wasit pertandingan memanah antara kedua Pangeran yang sangat di hormati itu. Para ksatria Archer yang semula fokus melakukan latihan menjadi penasaran dengan apa yang dilakukan kedua junjungan mereka bersama dengan seorang Pangeran dari Kerajaan Abigail di lapangan panahan ini. Mereka mulai mendekat untuk melihat lebih jelas.


"baiklah yang bisa melemparkan 5 anak panah sekaligus langsung menuju ke titik merah, maka dialah pemenangnya" ucap Komandan Adolf


"apa kau ingin bertaruh?" tanya Erland


"bertaruh? emm sepertinya lumayan juga ide itu, baiklah apa yang akan anda pertaruhkan Pangeran?" tanya balik Dean


"jika aku menang maka kau harus menjadi pelayanku selama 3 hari" jawab Erland


"oh begitukah? kalau begitu jika saya yang menang maka Pangeran harus mau menjadi sahabat saya, bagaimana?" tanya Dean


"baiklah aku setuju" jawab Erland


Mereka berdua lalu berjabat tangan untuk menandai bahwa kedua pihak setuju dengan taruhan yang di ajukan oleh masing² pihak, sedangkan Valerie hanya melihat dengan tenang kedua Pangeran tersebut. Karna merasa kakinya mulai lelah, Valerie tiba² memiliki sebuah ide di dalam kepala mungilnya. Dia menghampiri Komandan Adolf lalu menarik pelan ujung bajunya.


"ada apa tuan Putri Valerie?" tanya Komandan Adolf yang kemudian berjongkok untuk menyesuaikan tinggi badan Valerie


"gendong aku~ aku merasa lelah karna terlalu lama berdiri, sedangkan Alesya sedang pergi ke dapur untuk mengambil susu coklat dingin untukku" jawab Valerie sembari memasang puppy eyesnya


"ughhh tuan Putrii!! anda sangat menggemaskan, lucu, dan imut!!(*˘︶˘*).。*♡" batin Komandan Adolf menahan rasa gemasnya


"baiklah tuan Putri Valerie" ucap Komandan Adolf langsung menggendong tubuh mungil Valerie


Dean dan Erland yang sangat fokus dengan pertandingan mereka tidak menyadari bahwa Valerie sudah berada di gendongan Komandan Adolf. Mereka berdua mulai menarik tali busur panah dan membidik titik merah yang menjadi target. Setelah dirasa sudah tepat, mereka berdua mulai melepaskan anak panahnya.


swussssshhhhh


ctakkkkkk


Anak panah dari busur Erland dan Dean melesat dengan cepat. Anak panah Erland hanya dua yang mendarat di titik merah, sedangkan yang lainnya mendarat di titik kuning. Lalu seluruh anak panah milik Dean berhasil mendarat di titik merah yang membuatnya menjadi pemenang dalam pertandingan memanah itu. Valerie yang melihat hal itu bersorak gembira atas kemenangan kakaknya.


"yeyyyy kakak menanggg!! yuhuuuuuu!!!" sorak Valerie yang masih berada di gendongan Komandan Adolf


"hahaha... jadi sekarang tepati taruhanku Pangeran Erland" ucap Dean


"baiklah², aku mau menjadi sahabatmu" ucap Erland tersenyum tipis sembari mengulurkan tangannya


"awalan langkah persahabatan yang hebat, Pangeran Erland Halburt Wyne" ucap Dean menjabat tangan Erland


"tentu saja, Pangeran Dean Cedric Greisy" ucap Erland


Mereka semua lalu beristirahat karna kelelahan akibat pertandingan memanah tadi.


...Okeyy gaess sampai sinii dulu... Kalo kalian suka sama cerita yang author buat, tolong kasih like, komen, and vote yaa. Biar author makin semangat buat ngelanjutin cerita. Grazie(≧▽≦)...