I'M Not Ara

I'M Not Ara
Bab 27 Keluarga Kiara



Kedua pasangan remaja itu saat ini sedang berada di depan rumah dengan cat berwarna abu-abu dengan dipadukan warna putih. Keduanya nampak melihat ke dalam rumah tersebut, dimana seorang gadis yang tengah menyiram tanaman. Ara menatap dengan pandangan sedih ke arah gadis tersebut, dia sangat merindukan sosok itu. Ara menoleh saat merasakan tangannya di genggam oleh seseorang, Gavin tersenyum menenangkan. Ya, Ara sudah menceritakan semuanya kepada Gavin, dia meminta Gavin untuk menjauhinya karena merasa cinta Gavin hanya untuk Ara yang asli. Tapi Gavin tidak mau menuruti kemauannya, dia ingin mencintai gadis itu, dia merasa nyaman berada didekatnya.


"Kamu yakin? " Tanya Gavin saat melihat ada keraguan di mata Ara.


Ara hanya mengangguk dengan pertanyaan yang dilontarkan kekasihnya. Dia sangat merindukan keluarganya.


Keduanya melangkahkan kaki untuk mendekati pagar rumah itu, menekan bel yang ada di samping pagar tersebut.


Seseorang yang tadinya asik menyiram tanaman menghentikan kegiatannya saat mendengar bel rumahnya berbunyi. Dia segera menghampiri tamu yang berada di depan pintu pagarnya.


"Ah kamu!" Ujarnya saat melihat Ara berdiri di depannya.


"Ayo silahkan masuk." Mempersilahkan tamunya untuk masuk ke pekarangan rumahnya.


Gadis tersebut membukakan pintu utama rumahnya. Ara langsung memejamkan mata saat pintu rumah tersebut dibuka. Pemandangan yang mampu membuatnya sedih. Foto yang tertempel di dinding rumahnya, foto keluarganya. Di sampingnya terdapat foto sang kakak dan dirinya yang sedang bermain. Ingatan-ingatan masa lalunya dengan keluarganya langsung memenuhi isi otaknya. Tanpa sadar dirinya meneteskan air mata.


"Ra, " Gavin menggeleng menandakan Ara harus kuat dengan semua ini. Dia membalikkan tubuh Ara menghadapnya lalu di usapnya air mata yang jatuh mengalir di pipi gadis itu.


"Kenapa berdiri disitu? Ayo silahkan duduk."


"Iya kak makasih. "


Mereka semua duduk di sofa, "Bentar ya saya ambilkan minum dulu. " Ujar gadis itu.


"Gak usah kak. Aku mau bicara berdua sama kakak."


Gadis itu mengernyitkan dahinya bingung. Tapi dia tetap mengangguk dan mengkode Ara untuk ikut dengannya.


"Aku kesana dulu." Gavin mengangguk tersenyum untuk menyemangati.


Sesampainya di taman belakang rumah kini keduanya saling berhadapan menunggu percakapan yang akan diucapkan Ara.


"Kenapa kamu mau berbicara sama saya?" Gadis itu bingung karena tiba-tiba gadis di depannya ingin berbicara berdua.


"Kak Kirana." Ujar lirih tapi masih terdengar oleh gadis di depannya.


Gadis yang bernama Kirana itu menolehkan pandangannya ke Ara dan menatap intens gadis itu.


"Kamu tau dari mana nama saya? Waktu itu kita belum kenalan kan? " Heran gadis itu.


"Kak, ini aku adik kakak."


Kirana membulatkan matanya tidak percaya, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya.


"A-adik?" Ucapnya.


"Iya kak, aku Kiara." Kirana menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Kak ini aku." Ara berusaha meyakinkan sang kakak tentang dirinya. Dia mulai menceritakan semua yang terjadi mulai dari awal dia bisa berada di tubuh Ara hingga menjadi kekasih Gevan. Kirana mendengarkan itu dengan tatapan kosong. Dia tidak mungkin bisa mempercayai gadis di depannya.


"Kakak percaya kan sama aku? " Ujar Ara setelah mengakhiri ceritanya.


"Ceritakan masa lalu kamu bersama saya."


"Kita pernah liburan ke rumah nenek, waktu itu kita masih anak-anak. Ada kejadian dimana aku tenggelam dan kakak nyelamatin aku. Kejadiannya di danau belakang rumah nenek." Jelas Ara.


Kirana menatap gadis itu lama. Ya, dia ingat tentang kejadian itu dimana sang adik sedang bermain di dekat danau dan tidak sengaja tercebur ke dalam danau tersebut.


"Ki-kiara? " Pandangannya mulai memburam karena air mata.


Tangis keduanya pecah saat Kirana menarik Ara ke dalam pelukannya. Dia sangat rindu dengan sosok sang adik. Pada saat adiknya dinyatakan meninggal waktu itu, dia sangat terpukul sehingga membuatnya depresi. Dia menyalahkan dirinya karena tidak becus menjadi seorang kakak.


"Ka-kamu kemana aja? Kakak kangen sama kamu."


"Kak, ada tamu ya?" Kedua gadis yang sedang berpelukan itu menoleh ke arah samping untuk melihat wanita paruh baya yang menatap ke arah mereka.


"Mah." Ara bangkit dari duduknya, dia segera memeluk tubuh itu.


"Eh, " Wanita paruh baya itu cukup kaget dengan tindakan yang dilakukan gadis di depannya, tapi dia juga membalas pelukan hangat itu.


"Kamu kenapa? " Tanya ibu Kirana.


"Ini aku mah, Kiara. Anak mama."


Wanita paruh baya itu menoleh ke arah Kirana, Kirana yang mengerti tatapan itu langsung menganggukkan kepalanya. Dia langsung berdiri dan menceritakan apa yang menimpa sang adik.


Seperti halnya dengan Kiara dan Kirana tadi, ibu dari dua anak itu langsung menangis dan memeluk kedua putrinya.


"Mama kangen Kia." Kia adalah panggilan kesayangan dari ibunya.


"Kia juga kangen mama."


Mereka berpelukan sambil menangis, menumpahkan rindu yang tertumpuk di hati. Hari ini Kiara sangat bahagia karena bisa berkumpul kembali dengan keluarga aslinya.


🍀🍀🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍