
Sore hari ini, terlihat seorang laki-laki dengan kedua adik kembarnya berjalan menuju salah satu minimarket yang ada diseberang jalan. Mereka bergandengan tangan untuk sampai di minimarket tersebut.
"Mau apa? " Tanyanya kepada kedua adiknya.
"Mau itu kak." Jawabnya bersamaan. Kedua gadis kemvar itu menunjuk salah satu rak yang berisi banyak makanan ringan.
"Ayo." Ajak Azka.
Mereka bertiga mulai berjalan menuju rak yang dimaksud.
"Jadi kita boleh ambil apa aja nih? " Jawab Ara dengan memandang sang kakak.
"Iya sepuas kalian. "
"Wah asikk. Makasih ya kak. Sayang kakak."
Keduanya mulai mengambil makanan yang disukainya. Troli belanjaan yang mereka bawa hampir penuh karena terisi banyak makanan. Ara yang saat itu memisahlan diri dengan kakak dan adiknya tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang memunggunginya.
"Maaf maaf, saya gak sengaja." Jawab Ara meminta maaf karena tidak hati-hati.
"Ah iya tidak masalah. " Jawab orang tersebut.
Ara terus memandangi orang yang ditabraknya, dia membulatkan mata saat tahu siapa orang yang dihadapannya sekarang.
Lidahnya terasa keluh untuk sekedar mengucapkan kata, "Ka-kak kirana." Ucapnya lirih hampir tidak terdengar.
Orang tersebut menatap Ara heran, "Maaf?" Ujarnya.
"Eh gapapa kok. " Ujar Ara canggung. Dia sangat merindukan sosok yang berada dihadapannya.
Dia adalah Kirana, kakak kandung dari Kiara. Sudah lama sekali dia tidak melihat kakaknya itu, dia sangat merindukan kehidupannya dulu.
"Kamu kenal saya?" Ujar Kirana saat Ara menatapnya intens.
"Hmm bisa kita berteman?" Ara berharap Kirana menyetujuinya.
Kirana tersenyum, "Boleh." Jawabnya.
Senyum Ara mengembang saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut kakaknya. Dia sangat ingin memeluk tubuh itu, dia ingin memberitahukan kepada kakaknya jika orang yang berdiri di depannya ini adalah adiknya.
"Nama kamu? "
"Ara kak."
"Nama yang bagus, saya jadi teringat dengan adik saya." Ujar Kirana dengan nada sedih.
Ara yang melihat itu merasakan sakit dihatinya, dia tidak tega melihat kesedihan yang keluarganya alami saat dirinya tidak ada.
"Ah maaf."
"Gapapa kok kak. Nama kakak siapa?" Ujar Ara.
"Panggil Kak Kirana. " Dia mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Ara.
"Ya udah kalo gitu kakak duluan ya."
Setelah Kirana berlalu, Ara mulai terisak. Dia sangat ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Kirana tapi dia takut jika kakaknya itu tidak mempercayainya. Menghela napas dan menghapus air mata yang mengalir, Ara segera mengambil makanan yang diinginkannya.
Dia menekan tombol di ponselnya dan menghubungkan dengan seseorang.
"Bisa kita ketemu?" Ujarnya.
"........"
"........"
"Makasih." Setelah itu sambungan telepon pun putus.
***
Keesokannya Ara menunggu kedatangan seseorang yang dihubunginya kemarin, dia meminta untuk bertdmu di taman dekat rumahnya.
"Hai, maaf lama."
"Gapapa kok kak, aku juga baru sampai." Ujar Ara menjawab pertanyaan orang tersebut.
"Ada yang mau kamu omongin?" Ujar Gevan saat meihat raut wajah gelisah yang ditunjukkan gadis di depannya.
"Hmm i-itu kak." Ujarnya terbata-bata.
"Kenapa Ra? Ngomong aja." Ujar Gevan sambil menggenggam tangan Ara.
"Aku mau jujur sama kakak." Melihat Gevan mengangguk, Ara melanjutkan kalimatnya.
"A-aku bukan Ara yang kakak kenal. Aku bukan Ara yang dulu kak."
Gevan tidak merespon apa-apa. Dia hanya diam sambil menatap manik Ara yang mengalihkan pandangannya.
"Aku bukan Ara kak. A-aku orang lain yang bertransmigrasi ke tubuh ini."
"Aku tahu." Ara langsung menoleh.
"Sejak kejadian dimana Ira menghilang, disitu kamu berubah banget. Aku pikir mungkin kamu sedih kehilangan adik kamu. Tapi makin kesini kamu bukan Ara yang aku kenal. Yang selalu ngajak aku ketemu ketika pulang sekolah. Dan ya aku liat kejadian di toilet waktu itu." Jelas Gevan menatap Ara dengan tatapan teduhnya.
"Aku tahu Ara yang asli udah mati."
"Tapi aku mau kamu Ra. Aku bakal buat kamu jatuh cinta sama seperti Ara yang dulu."
Ara menghela napas, jadi Gevan sudah mengetahui semuanya.
"Bantu aku buat jadi Ara yang dulu."
"Pasti. " Ara menyandarkan kepalanya ke bahu Gevan. Mereka berdua menikmati waktu berdua dengan keheningan.
"Kak,"
"Iya sayang." Ujarnya seraya menatap Ara yang sudah bangkit dari posisi bersandarnya.
"Kakak mau bantu aku gak?"
Gevan mengangguk dengan pertanyaan Ara.
🍀🍀🍀
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍