I'M Not Ara

I'M Not Ara
Bab 19 Kejadian sebenarnya



"Kok kakak gak bilang ke aku? Kakak kan tau aku nyari Ira udah lama. Kenapa gak ngasih tau aku kak?" Ujar Ara yang saat ini kesal dengan sang kakak, Azka.


Azka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Iya maafin kakak Ra." Jawabnya menyesal.


"Tapi kakak punya alasan kenapa kakak nutupin ini dari kamu." Ujar Azka lagi.


Kedua gadis kembar itu menantikan ucapan yang akan keluar dari mulut Azka.


"Papah yang nyuruh buat gak ngasih tau ke kamu. Waktu itu kakak juga marah karena papa nyembunyiin semua ini dari kita. Untung aja kakak lewat di ruangan kerja papa, kalo nggak mungkin papa gak bakal ngasih tau kakak waktu itu." Jelasnya ketika mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu.


Pada saat itu Azka berjalan melewati ruang kerja sang Ayah. Tujuannya untuk keluar rumah terhenti ketika mendengar suara sang Ayah yang sedang berbicara dengan seseorang lewat ponsel yang digenggamnya. Azka mendekatkan telinganya ke pintu tersebut untuk mendengarkan lebih jelas apa yang diucapkan sang Ayah.


"Amankan putri saya sekarang."


"Bawa putri saya yang satunya kembali ke rumah." ujar sang Ayah.


Azka yang mendengar itu langsung membulatkan matanya. Apa yang terjadi kepada adik-adiknya? Mengapa Ayahnya berkata seperti itu? Azka kini mendengarkan kembali percakapan Ayahnya.


"Lakukan dengan aman. Jangan sampai dia mengetahui itu semua."


"Buat cerita seolah-olah anak saya sudah mati." Perintah Ayahnya.


Apa? Azka tidak salah dengarkan? Ayahnya mengatakan hal seperti itu? Tidak bisa dibiarkan. Azka yang sudah emosi mendengar itu semua langsung membuka dengan keras pintu ruang kerja Ayahnya.


Ayahnya yang melihat itu sangat terkejut dengan perlakuan sang putra.


"Azka!" ujarnya memperingati.


"Papah ngomong sama siapa?" ujarnya menatap tajam pria paruh baya yang menjabat sebagai Ayahnya.


Reno yang mendengar putranya bertanya hanya diam, dia langsung mematikan sambungan teleponnya. Menghela napas melihat putranya yang kini sudah dewasa.


"Pah jawab." Desak Azka.


"Rekan kerja." Ujar sang Ayah singkat.


"Bohong. Papah nyembunyiin apa dari Azka? " Azka semakin emosi saat mendengar penuturan Ayahnya.


Kembali menghela napas kemudian menatap sang putra, "Adik kamu kecelakaan. " Ucapnya.


Azka terdiam sesaat, kemudian kembali menatap tajam sang Ayah, "Apa maksud papah? " Tanyanya.


"Ada orang yang mau mencelakai Ara dan Ira. Ira baru saja pulang dari perkemahan, Ara yang mendengar itu langsung menjemput adiknya kesana. Papah udah nyuruh orang suruhan papah buat jagain mereka berdua, tapi sayangnya dia terlalu cepat mengambil tindakan. Mobil Ira jatuh dan berguling di jalanan, kondisinya parah." Reno mengucapkan perkataan itu dengan nada yang terdengar sedih. Sedangkan Azka yang mendengar itu sudah mulai merasa marah pada dirinya sendiri yang tidak becus menjaga adiknya. Azka juga memikirkan 'si dia' yang dibicarakan Ayahnya. Siapa 'dia' yang dimaksud sang Ayah?


"Ara juga kecelakaan tapi kondisinya tidak terlalu parah."


"Pah, dia yang di..." Azka menghentikan ucapannya saat ponsel sang Ayah bergetar.


Reno mengangkat panggilan tersebut, wajahnya tampak sangat serius ketika berbicara dengan sang penelpon.


"Baik, saya akan berangkat sekarang." Ujarnya dengan suara beratnya.


"Azka, papah percayakan semuanya ke kamu. Bilang ke mama kalo papah ada urusan sebentar. Dan satu lagi jangan sampai mama mengetahui ini semua sebelum papah kembali ke rumah."


Setelah mengatalan itu, Reno-Ayahnya langsung pergi begitu saja melewati Azka yang saat ini terdiam memandangi sang Ayah yang sudah jauh dari pandangannya.


"Aku tau siapa orang yang sudah mencelakai aku dan Ira." Ucapan Ara langsung membuatnya jadi pusat perhatian dari adik dan kakaknya.


Ara tersenyum, "Ayo kita cari papah dulu." Ujarnya.


🍀


Saat ini ketiga anak yang bermarga Atmaja itu sudah berada di depan sebuah gedung bertingkat yang menjulang tinggi. Mereka memasuki gedung tersebut dan menghampiri meja kerja resepsionis yang berada tak jauh dari pintu masuk.


"Ada yang bisa saya bantu?" Sang resepsionis bertanya dengan senyum diwajahnya.


"Maaf kak, bisa saya bertemu dengan bapak Viland Reno Atmaja?" Tanya Ara.


"Maaf dek, tapi Pak Reno saat ini sedang tidak bisa diganggu." Jawabnya.


"Saya bisa bicara dengan pak Reno? Sekali aja." Mohon Ira.


Azka hanya duduk menunggu, dia sebenarnya sangat malas. Mengapa tidak langsung menuju ruang kerja sang Ayah saja? Pikirnya. Tapi kedua adiknya itu melarang, kita harus bersikap selayaknya tamu yang datang di perusahaan papah, kata kedua adik kembarnya itu.


"Baik tunggu sebentar, saya akan menghubungi beliau." Sang resepsionis menekan tombol untuk menghubungkan telepon dengan atasannya.


"Ada dua anak yang ingin bertemu dengan bapak."


"....."


"Baik pak."


"Ini silahkan, Pak Reno ingin berbicara dengan kalian."


"Papah." Ceplos Ira saat merebut telepon dari resepsionis tersebut.


Ara yang melihat itu langsung menutup mulut sang adik.


"Ira! " Tegurnya.


"Hehehe maaf kak."


"Ini kita pah." Ujar Ara memelankan suaranya saat ponsel sudah berada ditangannya.


Setelah berbicara sebentar, Ara langsung memberikan kembali ponsel tersebut ke resepsionis tadi.


"Baik pak,"


"Kalian bisa ke ruang kerja pak Reno."


Ketiganya langsung memasuki lift yang menghubungkan langsung ke ruang kerja sang Ayah.


"Kenapa gak langsung aja sih." Tanya Azka kesal.


"KAKAK!!!" Peringatan dari kedua adiknya. Azka langsung bungkam saat itu juga.


🍀🍀🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍