I'M Not Ara

I'M Not Ara
Bab 11 Ara Diculik



“Bagaimana bisa kau kalah dengan bocah ingusan seperti itu?” Terdengar suara seseorang yang sedang memaki anak buahnya yang tidak becus bekerja.


“Maaf bos.” Jawabnya menundukkan kepala, dia juga tidak menyangka gadis yang ingin diculiknya itu pandai beladiri sehingga membuatnya kalah saat bertarung.


“Huh, sudahlah. Yang terpenting gadis itu sudah berhasil ditangkap. Jika tidak, maka bos akan memarahi kita karena kecerobohanmu itu.” Berlalu meninggalkan pria tua yang dimarahinya tadi.


Tap...tap...tap


Suara langkah kaki yang beradu dengan lantai terdengar dari luar ruangan.


Seorang wanita dengan dress biru dan memakai masker diwajahnya mulai memasuki ruangan yang ada di depannya. Saat masuk ke dalam ruangan, hal yang dilihatnya pertama kali adalah seorang gadis yang duduk di kursi dengan tangan dan kaki yang terikat.


Wanita itu mulai berjalan mendekati sosok yang belum sadar dari pingsannya, dia mengambil air dan dan tanpa mempedulikan kondisi gadis di depannya dia langsung menyiramkan air tersebut.


Uhuk...uhuk...uhuk...


Gadis itu tersentak kaget dan terbatuk saat dirasa tubuhnya terkena siraman air. Dia mulai membuka matanya perlahan karena merasakan pedih saat air itu masuk ke matanya.


Ruangan kotor dan cahaya yang minim adalah pemandangan pertama yang gadis itu lihat. Ini terlihat seperti gudang tua yang sudah lama terbengkalai.


Kini tatapan gadis itu mengarah ke tiga orang yang ada dihadapnnya. Dua laki-laki yang ia perkiran sekitar umur tiga puluh tahunan dan seorang wanita. Dia tidak dapat mengenali siapa wanita itu karena memakai masker diwajahnya.


Menatap bingung ketiganya dan berkata, “Kalian siapa?” Tanya Ara. Ya gadis itu adalah Ara. Dia diculik setelah berhasil mengalahkan salah satu dari pria di depannya.


“Kalian siapa?” Tanyanya masih mengumpulkan kesadarannya.


Wanita yang sedari tadi diam itu mulai berkata, “Gadis bodoh.” Ujarnya sinis.


Ara yang mendengar itu langsung membuka matanya lebar, bisa-bisanya dia dikatai seperti itu. Ara, ah lebih tepatnya Kiara paling tidak suka jika ada orang yang mengatainya buruk.


“Anda siapa mengatai saya bodoh?” Jawabnya menantang. Dia meneliti tubuh wanita didepannya dengan mata tajamnya.


Wanita itu menaikkan alisnya, “Kau tidak perlu tahu. Yang jelas kau akan mati disini, sendiri.”Ujarnya menekan kata terakhirnya.


“Apa maksud Anda?!” Ara sedikit berteriak saat mengatakan itu.


“Lepaskan saya!!!” Teriak Ara.


“Woy, lepasin gue!” Teriaknya lagi, saat ini dia sudah emosi.


“Tolong! Tolong gueee! Kak Azkaaa.” Berharap Azka menolongnya karena sebelum diculik dia sempat mendengar suara panik Azka ditelepon.


“Gak ada jalan keluar lagi.” Ara menghela napas, dia hanya berharap ada seseorang yang menolongnya.


“Bodo ah, lagian gue udah pernah mati jadi gapapa deh mati dua kali.” Monolog Ara. Dia tidak takut sama sekali jika dirinya mati, lagi.


Sementara ditempat lain, Azka langsung bergegas mangambil jaketnya dan langsung berlari ke garasi mobil. Saat dia bertelepon dengan adiknya, Ara, dia sangat panik saat mendengar suara gaduh yang ia yakini kedua orang itu berkelahi. Dirinya merasa khawatir dan marah saat itu juga.


“Kenapa?” jawab seseorang diseberang sana. Azka menelpon temannya untuk meminta bantuan.


“Ikut gue cari Ara.” Jelasnya.


“Ara kenapa?” Terdengar nada khawatir yang ditunjukkan si penelpon.


“Diculik. Ajak teman-teman yang lain.” Tanpa mendengar ucapan yang akan si penelpon ungkapkan, Azka sudah lebih dulu mematikan sambungannya.


“Lokasinya jauh dari keramaian kota.” Monolog Azka saat melihat gps yang tersambung dengan ponsel Ara.


“Hutan?” Tanyanya kepada diri sendiri saat tahu letak adiknya diculik.


“Sialan.” Umpatnya.


🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍