I'M Not Ara

I'M Not Ara
Bab 23 Bertemu kembali



"Ayo kita masuk."


Ira yang saat ini membuka pintu mobil, berhenti sejenak lalu melanjutkan membuka lebar pintu tersebut. Dia menghela napas.


"Kak."


Ara tersenyum,"Mama pasti bakal senang." Ujarnya menyemangati adiknya yang sedari gugup bertemu sang ibu.


"Ayo."


Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan, disusul oleh Azka dan sang Ayah dibelakangnya.


"Mah." Sahut Ara saat mereka sudah tiba di depan pintu utama rumah itu.


Suara teriakan dari arah dalam membuat Ira semakin gugup, dia bahagia karena akan bertemu dengan ibunya lagi.


"Ara sayang, kamu udah pulang?" Farah, langsung mendekati Ara dan memeluknya. Dia belum menyadari jika di samping putrinya terdapat gadis yang sedang menahan air matanya.


"Mah." lirihnya membuat Farah menoleh ke arah gadis yang sedang menunduk itu.


Farah menunjukkan muka bertanyanya saat belum melihat gadis di depannya karena sedari tadi hanya menunduk.


"Ra? Ini siapa?" Ara yang ditanya hanya tersenyum.


Perlahan tapi pasti Ira mendongakkan kepalanya dan berakhir menatap mata sang ibu. Farah terdiam beberapa saat melihat wajah tersebut. Farah sangat terkejut melihat siapa yang ada di depannya saat ini.


"Ka-kamu?" Ujarnya terbata-bata.


"Mah." Panggil Ira sekali lagi.


"Ini Ira mah."


"Ira?" Tanyanya meyakinkan diri.


Ira mengangguk, dia sudah tidak bisa lagi menahan air matanya saat melihat sang ibu. Dia sangat merindukan sosok di depannya ini.


"Anak mama?" Tanyanya sekali lagi. Tampak sekali kalau ia ingin memastikan pengelihatannya.


"I-ira? Mama lagi gak mimpi kan?" Ira hanya mengangguk dengan tersenyum. Hidungnya nampak memerah begitupun air mata yang masih mengalir di pipinya masih sangat terlihat jelas.


Farah pun mendekat dan tanpa aba-aba langsung memeluk putrinya tersebut.


"Hiks... Hiks... Kamu kemana aja sayang? " Tangis keduanya pecah saat Farah memeluk tubuh Ira. Dia menangis sejadi-jadinya, dia tidak bermimpi dan ini benar-benar nyata. Ya, dia memang benar memeluk anak bungsunya.


"Mama kangen Ira." Farah berucap dengan nada rendah bagaikan gumaman.


"Ira kangen mama." Ira pun menyatakan hal yang sama.


"Mama lebih kangen sama kamu sayang." Farah semakin menunjukkan perasaannya pada sang putri.


"Ka-kamu, kamu gapapa kan? Ada yang luka? Kenapa Ira baru datang ke mama?" Tangis Farah semakin deras.


Ira hanya mampu menggeleng dengan pertanyaan sang ibu.


"Maaf, maaf, maafin mama yang gak bisa jaga kamu. Maaf" ujar sang ibu dengan tangis belum juga reda.


Ira menggeleng dalam pelukan, "Nggak mah, mama gak salah." Ujar Ira seraya menyusut airmatanya.


"Jangan tinggalin mama lagi." Ucap wanita paruh baya itu dengan suara parau.


"Mama sayang sama Ira."


"Mama sayang sama kalian semua."


Ara ikut memeluk keduanya, dia tahu ibunya pasti akan sangat terkejut mengetahui hal ini.


Setelah tangis sang ibu reda Ara mulai mengambil napas. Perlahan Dia mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada sang ibu. Dia menceritakan semuanya tanpa ada yang dikurangi atau pun ditambahkan.


"Papah kenapa gak ngasih tahu mama?" Perempuan itu menatap suaminya dengan tatapan tajamnya.


"Iya mah, maaf papah gak mau kalo rencana yang papah buat itu gagal jadi papah terpaksa rahasiain ini dari mama." Reno menjawab dengan senyum meringis.


"Udah, yang penting sekarang kita semua sudah berkumpul lagi," lanjutnya seraya memandang semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


Mereka semua pun berpelukan melepaskan rindu yang tertumpuk di hati.


🍀


Azka dan Ara saat ini sedang berada di minimarket yang tak jauh dari rumahnya. Dia dan sang kakak membeli bahan makanan yang di pesan oleh ibunya tadi.


"Kita mencari aja deh kak biar cepet. "


"Ya udah, kakak kesana kamu kesitu."


Keduanya mulai berpencar, Azka ke sisi kanan toko dan Ara ke sisi kiri toko.


"Ini, ini, trus ini juga." Ara mulai mengambil satu persatu bahan yang diperlukan.


"Apa lagi ya?" tanyanya pada diri sendiri. Ia nampak berpikir dengan wajah serius.


"Ah, itu." Tunjuknya pada rak bagian atas dihadapannya. Bahan itu berada di rak paling atas. Dengan tubuhnya yang pendek dia berusaha menjangkau bahan tersebut dengan melompat.


"Susah banget sih." Keluhnya.


"Kak Gevan?"


Gevan menyodorkan bahan itu, Ara tidak mengerti.


"Ambil." Ujar Gevan singkat.


"Kakak ngambilin ini buat aku?"


Gevan hanya berdehem saja menjawab pertanyaan dari Ara.


"Makasih ya kak. Kalo gitu aku duluan ya." Belum sempat melangkahkan kaki, tiba-tiba saja Gevan menarik tangannya sehingga mereka bertatapan dengan mata yang saling menatap.


Gevan menatapnya intens, "Lo gak usah pura-pura kayak gini. " Ujarnya.


Ara tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Gevan.


"Hah? Apa kak? Pura-pura kayak gimana? " Ujarnya cengo.


"Ra, kita cuman berdua disini." Ada nada ketidaksukaan yang Gevan katakan.


"Iya? Trus kenapa kak? " Tanya Ara membuat Gevan semakin kesal dibuatnya.


"Ra, I miss you so much. "


Jantung Ara tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Dia tidak tahu kenapa? Apa lagi saat melihat tatapan yang Gevan berikan.


Ara berdehem untuk menetralkan wajah dan jantungnya yang semakin berdebar, "Kakak kangen sama aku? "


"Iya Ra, aku kangen sama kamu. Kapan kita jalan berdua lagi? "


Apa? Ara tidak salah dengarkan? Aku kamu? Gevan berbicara aku kamu ke dirinya? Pipinya mulai memerah, dia salah tingkah.


"Ja-jalan? Ah iya nanti kita jalan ya kak. Ak-aku harus pergi dulu."


"Aku anter."


Ara mengiyakan saja perkataan itu. Dia sama sekali tidak mengerti dengan sikap Gevan hari ini. Gevan mendorong troli belanjaan Ara, sebenarnya Ara tidak enak tapi Gevan memaksanya.


"Gev? Lo ada disini?" Tanya Azka.


"Iya." Jawab Gevan.


"Mau pulang bareng? "


"Boleh. "


Setelah itu mereka membayar belanjaan dan pulang dengan Gevan yang mengikuti dari belakang.


Sesampainya di rumah, Ara langsung berlari menuju kamar Ira yang terletak di lantai dua bersebelahan dengan kamarnya. Dia masuk dengan terburu-buru dan mengagetkan pemilik kamar.


"Kakak ngagetin tau gak!" Kesal Ira, dia sedang asik menonton drama favoritnya tapi dikagetkan dengan kedatangan sang kakak.


"Ra, kakak mau nanya."


"Apa?" Malas Ira. Bukannya meminta maaf, kakaknya itu langsung menanyainya.


"Ekhm, kakak sama kak Gevan itu udah lama temenan? " Tanyanya.


Ditatap dengan tatapan bingung, Ara melanjutkan perkataannya.


"Maksud kakak, kak Azka buat geng motor itu udah lama?" Aduh pertanyaan apaan itu, batin Ara.


Ira mengangguk, "Ohh kak Gevan sama kak Azka. Mereka kan temenan udah dari kecil."


"Kakak gak pergi?"


"Pergi? Kemana? "


"Biasanya kan kalo ada kak Gevan langsung pergi berdua, kencan gitu." Goda sang adik.


"Hah?" Cengo Ara.


"Kok kaget gitu sih? " Heran Ira, tadinya dia mau melanjutkan menonton dramanya tapi melihat keterkejutan sang kakak, dia pun menatap kembali sang kakak.


"Eh gapapa."


"Udah lama pacaran juga, masa masih malu-malu gitu." Jelas Ira.


"HAH?"


🍀🍀🍀


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Duh maaf banget nih, kalau updatenya gak teratur gitu, maklum lah othornya suka gabut 🤧😅🤣


Nikmati alurnya dan happy reading ya 😍