
"Senang bertemu denganmu kembali." Ujar seorang wanita paruh baya yang memakai masker dan topi menutupi wajahnya.
Dia melihat ke arah depan dimana seorang gadis duduk di kursi yang tangan dan kakinya sudah terikat dengan tali.
"Tidurmu nyenyak sekali, aku akan membuatmu tertidur untuk selamanya. Tapi sekarang aku harus membangun kamu terlebih dahulu." Ujarnya menatap intens gadis yang masih tidur karena pengaruh obat bius yang diberikan.
"Bangunkan dia." Perintahnya kepada anak buahnya yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
Pria itu mengambil air dan langsung menyiramkan ke arah sang gadis. Tanpa belas kasihan dia menyiramkan air tersebut ke wajahnya, sehingga membuat sang empu kaget dan terbangun dari tidurnya.
Wanita paruh baya itu mendekat, "Apakah tidur nyenyak sekali hm? " Tanyanya.
Gadis itu menatap sinis ke arah wanita di depannya, "LEPASKAN AKU! " Teriaknya, berusaha menggerakkan tangan dan kakinya agar terlepas dari jeratan tali yang mengikatnya.
"Wah kau jauh berbeda dari sebelumnya. Pelan kan suaramu atau aku akan membuatmu tidur lagi untuk selamanya. " Ucapnya kejam.
"LEPASIN AKU! LEPASIN!"
"Diam! " Bentaknya mampu membuat gadis yang sejak tadi memberontak itu diam.
"Kamu siapa hah? Kenapa kamu culik aku?" Ujar gadis itu lirih.
"Kamu tidak mengenaliku? Aku akan memperkenalkan diri sekarang."
Wanita itu lalu memegang pipi sang gadis, "Kau akan tau sebentar lagi." Ujarnya mengeratkan tangannya membuat gadis itu meringis.
"Sa-sakit." Jawabnya terbata merasakan perih di pipinya.
Brukk
"Lepaskan tangan kotor mu itu dari adik saya." Ucapan datar yang terlontar dari sosok pemuda yang mendobrak pintu ruangan.
Wanita paruh baya itu langsung melepaskan tangannya. Dia berjalan ke arah sang pemuda dan berhenti tepat di depannya.
"Azka. Senang bertemu denganmu sayang."
Azka berdecih mendengar perkataan itu, "Lepaskan adik saya sekarang. " Ucapnya dingin.
"Kau meminta itu? Ah saya akan melepaskannya sekarang."
Wanita itu berjalan ke arah lemari dan mengambil sesuatu.
"Apakah kau mau melihatnya Azka?"
Azka diam, menunggu ucapan wanita paruh baya itu.
"Melihat kematian adikmu." Setelah mengatakan itu, dia mengeluarkan pistol dari sakunya dan mengarahkannya ke kepala adiknya.
"KAKAK TOLONGIN AKU!!! " Sontak hal itu membuat adiknya berteriak ketakutan.
Azka berusaha tenang meskipun dalam hatinya dia khawatir rasanya ingin berlari dan menyelamatkan sang adik.
"Takut?"
"Cih lepaskan adik saya sekarang juga." ucap Azka menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Ah, kau sudah kehilangan adikmu yang satunya. Kasihan sekali."
"Dan kali ini kau akan melihat adikmu mati dengan mata kepalamu sendiri." Wanita itu perlahan mengarahkan pistol tersebut ke arah adiknya.
Dorr
Suara itu membuat suasana menjadi hening, semua orang membeku ditempat. Melihat sosok yang sudah menembakkan pelurunya ke arah yang ditujuinya. Azka membulatkan matanya begitupun wanita paruh baya tadi.
"Papah."
Ya, orang menembak itu adalah Reno, Ayah dari Azka, Ara dan juga Ira. Ia menembakkan pelurunya ke arah pistol yang dipegang wanita paruh baya itu sehingga membuat pistol tersebut terlempar jauh.
"Kau." Geram wanita itu.
"Apa yang kau inginkan dari keluarga ku Sarah!?" Tanya Reno dengan mata menajam.
Wanita yang dipanggil Sarah itu berdecih, "Semua harta yang kalian miliki." Dengan tidak malunya dia mengatakan kalimat itu.
"Aku sudah membunuh anak bungsu mu Reno. Dan saat ini aku akan menghabisi semuanya."
Sarah adalah saudara kembar dari Farah, ibu dari Azka, Ara dan Ira. Dia sangat iri dengan keluarga yang dimiliki oleh Farah.
Kehidupan yang sempurna dan memiliki keluarga harmonis membuatnya sangat iri dengan saudara kembarnya itu. Seiring berjalannya waktu, kebencian di hati Sarah semakin besar kala mengetahui Ayahnya memberikan beberapa harta yang dimilikinya kepada Farah.
Sarah yang tidak menerima itu kemudian menghampiri sang Ayah. Ayahnya mengatakan jika pembagian harta yang diberikan itu sudah adil untuk kedua putrinya.
Sarah semakin membenci adiknya itu sehingga membuatnya merencanakan kejahatan yang akan dilakukan kepada keluarga Farah. Mulai dari insiden yang terjadi di masa lalu sehingga membuat Ara dibenci oleh semua anggota keluarganya, hingga kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Ira.
Itu semua adalah ulah Sarah, tante mereka sendiri. Dia menginginkan semua anak Farah mati, karena jika itu terjadi maka Farah akan hancur sehancur-hancurnya. Dia senang melihat Farah menderita
"Jangan pernah menyentuh anakku dengan tangan kotormu itu!" Tegas Reno.
Bukannya takut Sarah semakin mendekati Ira, gadis yang menjadi tahanannya sekarang.
"Bagaimana dengan ini?" Dia mulai mengeluarkan pisau lipat yang ada di sakunya.
"JANGAN PERNAH MENYAKITI ADIKKU!" Ara datang berlari dari arah pintu dan langsung menghampiri tantenya. Dia memelintir tangan tantenya hingga membuat wanita aruh baya itu merintih kesakitan.
"Akh, kau? Bagaimana bisa? " Rintihnya menahan sakit, terlihat juga dari raut wajahnya yang sangat terkejut melihat kedatangan Ara.
"KAU SUDAH MATI!! " Teriaknya.
"Cih tante bakal nyelakain dia lagi? Jangan harap tante!"
Sarah membulatkan matanya saat mengetahui situasi yang terjadi. Jadi selama ini anak yang dia katakan sudah mati ternyata masih hidup dan sedang duduk di kursi dengan tangan terikat nya.
"KAU! LEPASIN SAYA." Sarah memberontak.
Dia mengode anak buahnya untuk menyerang keluarga Atmaja.
Brukh
Brukh
Brakk
Krekk
Dugh
Suara perkelahian itu menggema di dalam ruangan luas itu. Semuanya menyerang tanpa henti, anak buah Sarah menghampiri Ara untuk memukulnya dari belakang.
"KAKAK AWASSS!! " Ira berteriak.
Ara yang mendengar itu langsung menghindari serangan musuhnya. Dia masih memegangi Sarah, tantenya agar tidak kabur.
Dugh
Bugh
Ara menendang dengan keras ke arah lawannya mengakibatkan lawan tersebut pingsan seketika.
"Jangan kabur tante! " Ara langsung berlari menyusul Sarah yang hendak kabur.
Sarah yang melihat itu langsung meraih pistol yang terlempar tadi.
"Jangan mendekat, atau dia tidak akan selamat." Ucap Sarah frustasi, dia mengarahkan pistol itu ke arah Ira.
Melihat adiknya yang menjadi tawanan sang tante Ara langsung menghentikan langkahnya, "Jangan sakiti dia tante." Ujar Ara sedikit memohon.
"Jangan mendekat!!" Teriaknya, saat ini kondisinya cukup berantakan. Dia sangat ketakutan karena anak buahnya sudah banyak yang terkapar tak berdaya.
"Saya bilang jangan mendekat!!!"
Tanpa disadari, Reno berdiri dibelakang Sarah dan langsung merebut pistol itu dan membuangnya jauh ke sudut ruangan.
"ARGH LEPASKAN SAYA!" Sarah memberontak saat Reno menangkapnya.
"Bawa dia." Perintah Reno.
"LEPASKAN SAYA. KALIAN AKAN TAHU AKIBATNYA."
"LEPASS. KALIAN, SAYA AKAN MEMBALAS KALIAN!" Suara itu mulai perlahan menghilang.
"Papah, kakak. " Ira segera berlari menuju Ara dan langsung memeluknya. Dia sangat ketakutan atas kejadian yang menimpanya tadi.
"Maaf kakak gak bisa jagain kamu."
"Ngga kak, kakak gak salah. "
Azka yang melihat itu ikut bergabung memeluk kedua adiknya. Dia meminta maaf karena hampir terlambat menolong sang adik.
Ketiganya berpelukan melepaskan penat dan memberi kehangatan sebagai saudara. Reno yang melihat itu hanya tersenyum melihat ketiga anaknya saling menyayangi satu sama lain.
🍀🍀🍀
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍