
Terdengar suara bising beberapa motor yang saat ini memasuki kawasan hutan. Dikalangan masyarakat hutan itu terkenal dengan keangkerannya yang membuat beberapa orang tidak mau memasuki kawasan tersebut. Banyak yang bilang jika hutan itu dihuni oleh makhluk tak kasat mata yang sudah lama tinggal didalamnya.
“Ka, lo serius Ara disekap disini?” Tanya Dafri mengusap tengkuknya, dia sangat takut dengan hutan ini. Apalagi setelah mendengar rumor yang beredar dikalangan masyarakat.
“Iya Ka, beneran ini? Ini kan hutan yang emak gue ceritain.” Timpal Dito. Dia sangat mengingat bagaimana ibunya menceritakan tentang hutan itu.
“Takut lo?” Tanya Vero.
Ya, Azka mengajak beberapa anak VENUS untuk mencari adiknya. VENUS sendiri merupakan geng motor yang diciptakan Azka dan Gevano.
Awalnya hanya mereka berempat yang menjadi anggota VENUS. Tapi lama-kelamaan geng tersebut berkembang setelah Azka mencari anggota untuk tambahan. Untuk sekarang anggota VENUS mempunyai 50 anggota termasuk ketua, Azka dan wakil ketua, Gevano.
Jangan kalian pikir geng motor yang Azka pimpin sama dengan geng motor yang biasa membuat kerusuhan seperti pada film-film. Geng ini sangat berbeda, mereka kerap kali membantu orang-orang yang sedang kesusahan dan membasmi para begal yang meresahkan warga.
Setiap bulannya mereka akan mengunjungi panti untuk memberikan sedekah kepada anak-anak yang ada disana. Mereka banyak melakukan kegiatan bakti sosial, karena itu mereka sangat disegani oleh masyarakat luas.
“Dih bukan takut. Cuman kaget aja.” Jawabnya lirih.
“Halahh bilang aja kalo lo takut.” Jawab Vero lagi dengan nada mengejeknya.
“Heh gue bilang gue gak takut.” Tegasnya dengan angkuh.
Tidak lama kemudian ide jail melintas dipikiran Vero, dia mengode salah satu temannya yang bernama Roy untuk menakuti Dito dan Dafri.
“Hihihihihi” Terdengar suara yang Dito dan Dafri sangat kenali. Itu suara hantu yang memakai baju putih dan berambut panjang.
Saat mereka membalikkan tubuh, keduanya langsung berjingkrak kaget melihat pemandangan yang dilihatnya.
“KYAKKK MAK ADA KUNTI.”
“HUAAA ADA MBAK KUNTI TOLONG.”
Keduanya berteriak heboh saat melihat Roy memakai pakaian panjang berwarna putih, entah darimana Roy mendapatkan itu.
Semua anggota tertawa melihat tingkah keduanya.
“Sialan lo, gue kaget beneran ini,” Jawabnya kesal saat dirinya ditertawai.
“Kampret lo Roy, kalo gue jantungan gimana?” Adu Dafri yang sama kagetnya dengan Dito.
“Hhahahah sok-sokan gak takut, liat Roy make baju kayak gitu aja udah teriak lebay.”
“Udah ah. Ka gimana?” Pembicaraan mulai kembali serius. Azka menatap hutan itu lama.
“Masuk.”
Semua anggota VENUS mulai memasuki hutan, berjalan dengan perlahan karena jalannya cukup licin.
“Dimana?” Tanya Gevano
Azka tidak menjawab, dia hanya melanjutkan langkahnya sampai berdiri di depan sebuah gudang yang sudah lama tak terpakai.
“Gue rasa ini tempatnya.”
“Yang lain tunggu disini buat jaga-jaga. Gue, Gevan, Dafri sama Dito masuk ke dalam.” Semua anggota mengangguk mengiyakan.
“Serem amat.” Bisik Dito kepada Dafri.
“Iya, mana kotor lagi.”
Mereka melanjutkan langkah dan berhenti di salah satu ruang yang tertutup. Gevan meraih gagang pintu tersebut, memutarnya,
“Dikunci.” Ujarnya saat mencoba membuka pintu tersebut.
“ARA.” Teriak Azka. Dia harus memastikan jika adiknya ada didalam sana.
Ketiga sahabatnya sibuk mencari cara agar pintu itu bisa terbuka.
“Kita dobrak.” Putusnya.
Bruk....bruk.....
Brakh
Berhasil. Pintu itu terbuka saat tendangan ketiga dilayangkan Azka. Mata keempatnya membulat saat melihat kondisi Ara.
“Sialan.” Kata Gevan emosi saat melihat kondisi Ara yang berlumuran darah dibagian tangannya. Belum lagi pecahan kaca yang menancap di bagian atas lengannya.
“Kak.” Lirih Ara, dia masih bisa tersenyum disaat seperti ini.
Semuanya membantu melepaskan ikatan yang menjerat Ara. Kondisinya saat ini sangat memprihatinkan.
“Bertahan Ra.” Azka langsung mengangkat tubuh itu dan langsung berlari keluar diikuti ketiga temannya.
“Bawa mobil kesini. Sekarang!” Tegasnya kepada anggotanya yang berjaga diluar.
“Bertahan, gue mohon.” Azka sangat menyesal telah memperlakukan adiknya seperti yang lalu. Dia sudah tahu semua kejadian di masa lalu, benar kata Ara ada orang asing waktu itu yang masuk ke rumahnya. Dia sudah menyelidiki semuanya, dan sekarang dia menyesali perbuatannya.
“Kak, ma-maafin Ara.” Ucap Ara terbata-bata, menahan sakit.
Azka menggeleng, “Kakak yang minta maaf sama kamu. Maaf Ra, maaf.” Azka sampai meneteskan air mata melihat kondisi sang adik.
“Jangan nangis. Jelek” Canda Ara. Dia masih bisa menghibur Azka yang menatapnya khawatir.
“Akh.”
“CEPAT BAWA MOBIL KESINI!!” Teriaknya emosi, kenapa pada saat seperti ini semua yang dikerjakan menjadi lambat?
“Ra, bangun Ra.” Azka mengguncang tubuh Ara guna menyadarkannya. Tapi mata cantik itu sudah tertutup rapat.
“Maafin kakak.”
🍀🍀🍀
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍