I Love You, You Love Me Too

I Love You, You Love Me Too
Ingin Dicintai



Miko pulang sore itu, ia menemukan Bunga yang sedang memakan cemilan didepan ruang televisi.


"Kau sudah pulang" sambut Bunga dengan senyuman merekahnya.


"Ya.." Jawab Miko sambil membalas senyuman Bunga.


Bunga berdiri dan meletakan cemilannya di atas meja. Ia ingin memeluk Miko namun ia mencium aroma parfum wanita di jas suaminya itu.


"Apa kau habis bertemu dengan seorang wanita dan memeluknya?" tanya Bunga sambil cemberut, ia mengurungkan niatnya untuk memeluk Miko.


Miko tersentak, ia tadi tak sengaja menabrak tubuh Jessy saat akan keluar dari restauran tempat ia dan Jessy makan siang.


"Emm..." Miko berpikir, ia bingung harus berkata jujur atau berbohong karena ia tahu pasti Bunga akan marah.


Bunga menunggu jawaban Miko dengan wajah penasaran.


"A.. aku tadi bertemu dengan Jessy" jawab Miko pelan hampir tak terdengar, ia memegang tengkuknya karena ragu.


"Apa? Katakan sekali lagi? Suaramu terlalu kecil" desak Bunga yang semakin penasaran dengan jawaban Miko.


"Tadi aku makan siang bersama Jessy" Miko mengatakannya sekali lagi dengan ragu, ia melirik ke arah Bunga.


Ekspresi Bunga terlihat cemburu, ia memanyunkan bibirnya dan mengalihkan pandangannya dari Miko.


"Aku sudah berusaha jujur padamu, bila aku berbohong untuk menyenangkan hatimu maka dampaknya tidak baik untuk pernikahan kita" ucap Miko sambil berjalan kearah ruang kerjanya.


Bunga menatap Miko sampai suaminya itu menghilang dibalik pintu.


"Ya benar, setidaknya kau tidak mencoba membohongiku"


♥️♥️♥️


Hati Bunga senang pagi itu, ia berangkat ke sekolah dengan hati riang.


"Kau harus membantuku" sebuah suara membuat senyuman di wajah Bunga terhenti.


Bunga menoleh dengan wajah malas.


"Membantu apa?" tanya Bunga kepada si empunya suara berat dan serak itu.


"Aku mau mendapatkan nilai 100, kau harus membantuku belajar" ucap Nicky sedikit malu.


"Kenapa aku harus membantumu?" ujar Bunga heran, dalam dirinya tidak mau berurusan dengan Nicky lebih jauh.


"Aku yakin kau pasti tidak mau berurusan denganku lebih lama kan? Ajari aku agar bisaa segera mendapatkan nilai 100" pinta Nicky namun dengan nada angkuh.


Bunga sangat malas meladeni tingkah laku Nicky.


"Ya baiklah, aku akan mengajarimu. Tapi hanya 1 minggu ini saja tidak lebih. Namun kau harus tahu, itu artinya kau menambah hutangmu padaku" Bunga menyeringai.


"Itu bukan hutang tapi salah satu kewajiban mu sebagai guru disini" Nicky tak mau kalah.


Bunga menunjukan rasa tidak suka atas jawaban Nicky.


"Aku bukan guru mata pelajaran disini, kau tak bisaa memaksaku mengajarimu!"


Nicky cuek saja.


"Aku tunggu sepulang sekolah di perpustakaan" katany sambil berjalan meninggalkan Bunga.


"Apa?! Heiii aku belum selesai bicara denganmu!!" Bunga tak percaya Nicky seenaknya saja memutuskan.


♥️♥️♥️


Miko sampai di kantornya, ia langsung membaca beberapa berkas yang telah diberikan sekretarisnya. Ada beberapa jadwal meeting dengan kliennya, salah satunya dengan perusahaan Jessy.


"Apakah aku harus bertemu dengannya setiap hari?" pikir Miko sambil memegang tengkuknya.


Tania masuk ke ruangan Miko.


"Tuan, nyonya Jessy ingin memajukan pertemuan dengan tuan menjadi pukul 9 pagi. Apakah tuan bersedia?" tanya Tania agak gugup.


"Apakah pertemuan itu mengganggu jadwalku selanjutnya?" Miko memastikan keinginan Jessy itu itu merusak jadwal yang sudah disusun rapi oleh Tania.


Miko menghela napas panjang. Sulit berurusan dengan seseorang yang terobsesi dengannya.


"Ya baiklah, siapkan semuanya. Kau ikut denganku Tania" katanya sambil merapihkan jas.


"Baik tuan"


Tania keluar dari ruangan Miko, Miko terlihat berpikir kembali.


"Ini semua untuk menjaga kerja sama antara perusahaan ini dan perusahaannya. Aku harus bisa bertindak profesional, Lilo sudah mempercayakannya padaku" kata Miko memberi semangat kepada diri sendiri.


Tak lama Tania sudah siap dengan segala berkas, Miko dan Tania pergi bersama ke perusahaan milik Jessy. Jessy menyambut kedatangan Miko dengan wajah gembira.


♥️♥️♥️


Bel pulang sekolah berbunyi, murid-murid berhamburan keluar dari kelas menuju pintu gerbang keluar. Nicky langsung menuju perpustakaan, para murid yang melihat kedatangan Nicky terlihat heran karena tak biasanya anak yang terkenal nakal itu mengunjungi perpustakaan.


"Kau terlambat datang 5 menit, hampir saja aku pergi" ucap Bunga dengan nada datar.


"Aku harus berurusan dengan guru menyebalkan itu dulu" Nicky menjawab dengan kesal karena seorang guru yang sangat ingin tahu mengenai dirinya.


"Dan kau lari darinya?" tanya Bunga masih dengan nada yang sama.


"Ya tentu saja, aku paling malas dengan guru yang banyak bertanya mengenai hal tak jelas" Nicky duduk berhadapan dengan Bunga, kedua tangannya dimasukan kedalam saku celananya.


"Baiklah apa yang ingin kau pelajari?"


"Fisika.."


Bunga mengangguk setuju, ia membuka buku fisika yang sudah ia ambil dari rak buku di perpustakaan. Bunga mulai menjelaskan satu persatu dan menanyakan apa yang tidak dipahami oleh Nicky.


"Jadi hambatan dan tegangan bisa ditemukan besarannya dengan rumus ini?" tanya Nicky antusias.


"Yap benar..."


Bunga menjelaskan cara mudah agar Nicky bisa menyelesaikan soal yang ia berikan.


"Okee.. ini sudah benar.. coba kau lanjutkan kerjakan soal yang dibawahnya"


Bunga memberikan buku latihan soal untuk Nicky, dengan semangat Nicky mengerjakannya. Karena lelah bunga tertidur di depan Nicky.


"Sudah selesai..." ucap Nicky sambil menutup balpoin yang dipegangnya.


Ia melihat ke arah Bunga, Bunga tertidur dengan pulas dengan wajah yang sangat imut. Tanpa disadari Nicky memperhatikan Bunga.


Aku baru tahu bahwa guru ini terlihat manis..


Pikir Nicky, ia menyentuh hidung Bunga. Bunga masih terlelap dan tak menyadari Nicky juga menyentuh pipinya.


"Miko....."


Panggil Bunga dalam mimpinya. Entah mengapa Nicky kesal mendengar Bunga menyebut nama pria lain. Ia menendang kursi Bunga dengan kaki panjangnya.


"Hah..." Bunga terkejut.


"Ini aku sudah selesai..." Nicky memberikan buku latihannya dan beranjak pergi.


♥️♥️♥️


Bunga sampai dirumah, Miko belum pulang. Ia duduk di sofa ruang tamunya sambil mengedarkan pandangannya ke rumah yang menjadi saksi bisu rumah tangganya dengan Miko.


"Apakah sampai saat ini Miko masih memikirkan Kak Nana?" pikir Bunga, hatinya sangat sakit jika mengingat suaminya yang masih mencintai wanita lain.


"Emmm.. aku sangat ingin Miko bisa menatapku dengan cinta seperti saat melihat kak Nana. Entah kapan tapi aku selalu menunggu tatapan itu" tak terasa air mata Bunga menetes.


Suara deru mobil Miko memasuki garasi rumah, Bunga tersentak dan langsung menghapus air matanya. Tak lama Miko masuk ke dalam rumah, ia mendapati Bunga yang sedang duduk di sofa.


"Ada apa?" Miko bertanya karena melihat Bunga terlihat sedih.


Bunga langsung berdiri dan memeluk Miko.


"Ku mohon cintailah aku Miko..."