I Love You, You Love Me Too

I Love You, You Love Me Too
Kekhawatiran



"Kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu?" tanya Miko heran, ia melepaskan pelukan Bunga.


"Tak apa, terkadang aku sedih bila memikirkan pernikahan ini. Aku takut bila suatu saat kau meninggalkanku"


"Aku tak pernah punya pikiran seperti itu" Miko menyentil kening Bunga pelan.


Di pergelangan kemeja Miko terlihat ada bekas lipstick seorang wanita dan Bunga juga mencium wangi parfum kemarin.


"Apakah kau bertemu dengan Jessy lagi?" tanyanya dengan wajah sedih.


"Ya aku bertemu dengannya lagi, kami sedang bekerjasama dalam sebuah proyek bisnis" ujar Miko santai.


Wajah Bunga bertambah sedih.


"Jangan berwajah seperti itu, kau membuatku terlihat seperti suami yang sedang berselingkuh" kata Miko sambil berjalan ke arah ruang kerjanya.


"Emm aku tak berpikir seperti itu" Bunga berkilah.


"Tapi matamu mengatakan demikian"


Miko masuk ke ruang kerjanya. Bunga menghela napas panjang.


"Dia benar-benar tidak mencintaiku" Bunga menunduk sedih, ia berjalan gontai ke arah kamar.


"Sudah jangan berwajah seperti itu" Miko berjalan cepat mendahului Bunga, ia berjalan ke dapur.


"Mikooo.... aku minta cintailah aku sediki sajaaaaa..." teriak Bunga, membuat Miko terkejut.


"Iya iya aku akan mencoba memikirkannya"


♥️♥️♥️


Makan malam terasa sepi karena Bunga terlihat terus cemberut padahal Miko sengaja membuat makanan kesukaan Bunga namun itu tidak membuat senyuman Bunga mengembang.


"Kau marah karena aku bertemu lagi dengan Jessy?" tanya Miko yang mulai tak nyaman dengan kesunyian itu.


Bunga memanyunkan bibirnya dan mengangguk pelan. Ia tak mau menatap Miko.


"Baiklah, aku akan menelpon tuan Lilo dan mengatakan padanya bahwa istriku tidak suka dengan klien wanita yang menemuiku.." Miko mengambil ponselnya namun Bunga mencegahnya.


"Bukan begitu Miko.. Hanya saja Jessy sangat terlihat menyukaimu. Aku merasa tak nyaman kau bertemu terus dengannya" Bunga berkata dengan suara pelan.


"Emm begitu, lalu aku harus bagaimana? Aku juga tak mau disebut suami yang tak menjaga perasaan istrinya" ujar Miko sambil menyuap makanan ke mulutnya.


"Aku juga tidk tahu" suara Bunga terdengar miris.


"Apa aku harus berbohong untuk menenangkan hatimu setiap bertemu dengan Jessy?" tanya Miko berusaha memberi solusi, Bunga menggeleng air mata sudah memenuhi pelupuk matanya dan dengan satu kedipan maka mengalirkan bulir-bulir itu.


"Aku masih bisa menerima jika kau masih mencintai kak Nana, tapi bila memiliki saingan lain yang cantik, muda, sukses dan kaya seperti Jessy.... Semua wanita pasti akan takut suaminya tergoda Mikooo..." Bunga mulai merengek.


Miko menghela napas panjang melihat istrinya yang manja.


"Kemarilah..." ucap Miko, Bunga menggeleng.


Miko menarik paksa tangan Bunga, dan bunga terjatuh diatas badan Miko.


"Ma... maaf.." ucap Bunga agak ketakutan.


Miko memegang dagu Bunga dan mencium bibir istrinya dengan lembut.


"Aku tak bisa menjanjikan cinta yang lebih besar dari aku rasakan untuk Nana, tapi setidaknya aku akan memberikan kesetiaan untukmu Bunga" Miko memeluk Bunga erat, ia ingin menyingkirkan segala ketakutan yang bunga rasakan.


"Begitu kah?" tanya Bunga ragu.


Miko mengangguk yakin, Bunga membalas pelukkan Miko.


"Semoga saja ini bukan hanya sekedar kata-kata"


♥️♥️♥️


Pagi itu Miko sampai dikantor, ada sebuah tiket pesawat dimejanya.


"Apa ini?" tanyanya dalam hati sambil membolak-balik tiket yang ada ditangannya.


Tania masuk ke ruangan Miko, ia terlihat sudah siap untuk pergi.


"Saya sudah mengirimkan pesan dan email kepada tuan, hari ini kita akan perjalanan bisnis ke negara X" kata Tania.


"Benarkah?" Miko mengambil ponsel dari tasnya, ia tak mengecek ponselnya semalam karena ia sibuk menenangkan istrinya.


"Ya Tuhan... kenapa mendadak sekali?" keluh Miko sambil duduk dikursinya.


"Ini tidak mendadak pak, kemarin saat meeting dengan nona Jessy kita sudah sepakat untuk berkunjung ke salah satu perusahaan nona Jessy yang ada di negara itu untuk melihat perkembangan bisnis yang akan menjadi tempat investasi perusahaan ini" Tania menjelaskan, Miko mengusap wajahnya kasar.


"Ya Tuhan bagaimana aku bisa lupa" tukasnya kesal.


Miko segera menelpon Bunga, ia meminta Bunga menyiapkan segala keperluannya. Bunga yang baru saja sampai di sekolah langsung meminta izin kepada kepala sekolah untuk pulang sebentar.


"Kemeja dan celana 4 stel, kaos santai 4 dan celana pendek 3..." Bunga mulai mengemasi barang-barang Miko.


Miko sampai dirumah, ia langsung menuju ke kamar.


"Sudah selesai?" tanyanya.


Bunga mengangguk.


"Ini semuanya sesuai dengan catatan yang ada dimeja kerjamu" kata Bunga sambil tersenyum.


"Terima kasih" ucap Miko, ia segera mengambil kopernya dan berjalan keluar dari kamar.


Bunga memeluk Miko dari belakang.


"Cepatlah pulang, aku tak ingin kau berlama-lama dengannya" kata Bunga lirih.


Miko mengangguk.


"Tenanglah, aku akan menghubungimu setelah selesai bekerja.. itu pun bila aku tidak lupa" Miko terkekeh sambil berjalan keluar.


♥️♥️♥️


Bunga kembali ke sekolah, jam menunjukan pukul 10 pagi. Beberapa guru baru saja kembali dari mengajar jam pertama. Seorang guru bernama pak Pito menjewer seorang murid masuk ke ruangan Bunga, murid itu adalah Nicky.


"Ada apa pak?" tanya Bunga heran, Pak Pito melepaskan jewerannya dari telinga Nicky.


"Lihat ini..." Pak Pito yang merupakan guru Fisika memberikan lembar ujian harian Nicky, nilainya sempurna.


"Dia tak mau mengaku dimana ia menaruh kertas contekannya" omel Pak Pito sambil memandang rendah Nicky.


Bunga menghela napas panjang.


"Kenapa bapak menuduhnya mencontek?" tanya Bunga dengan nada santai.


"Mana mungkin dia bisa mengerjakan soal ini, dia tak pernah memperhatikan saat saya sedang menjelaskan!" ujar pak Pito yakin.


Sekali lagi Bunga menghela napasnya. Ia mengeluarkan selembar kertas dan memberikannya pada pak Pito.


"Silakan bapak membuat sebuah soal dan biarkan Nicky mengerjakannya untuk membuktikan apakah dia mencontek atau tidak"


Dengan wajah tak percaya pak Pito menerima kertas pemberian Bunga, ia duduk didepan Bunga dan menulis beberapa soal baru untuk Nicky.


"Ini.." kata pak Pito sambil memberikan soal itu pada Nicky.


Nicky duduk di kursi sebelah pak Pito, ia mulai mengerjakan soal yang diberikan pak Pito. Dua soal yang diberikan oleh pak Pito dapat ia selesaikan dalam waktu 15 menit.


"Selesai.." seru Nicky sambil memberi tanda titik dikertas soalnya.


Pak Pito mengambil kertas itu dari Nicky, ia memeriksanya dan matanya membulat karena terkejut.


"Apa benar Nicky mencontek pak?" tanya Bunga datar sambil memperhatikan ekspresi pak Pito yang masih terperangah.


"Ehem.. dia tidak mencontek. Jawabannya benar" kata pak Pito menahan rasa malunya.


"Jadi?" Bunga mendesak pak Pito untuk minta maaf kepada Nicky.


"Baiklah saya salah, maaf.." Pak Pito segera keluar dari ruangan Bunga.


Nicky memandang kepada Bunga dengan tatapan curiga.


"Apa kau membelaku agar hutang budiku semakin banyak kepadamu?"