
"Aku tak pernah berpikir sejauh itu, hanya saja aku tidak suka ada orang yang menuduh orang lain untuk kesalahan yang belum tentu orang itu lakukan" ucap Bunga enteng, membuat Nicky melihatnya tajam.
"Aku tak percaya orang sepertimu bicara begitu" kata Nicky menyeringai.
"Orang sepertiku? Hei kau sudah pernah ku tolong dua kali, kau ingat itu" ujar Bunga kesal sambil mengingatkan Nicky.
"Ya ya yaa baiklah, ibu Bunga yang baik. Terima kasih atas bantuannya" ucap Nicky dengan senyuman anehnya, membuat Bunga ingin memukulnya.
Nicky hendak berdiri namun ia kembali duduk, ia menatap ke arah Bunga.
"Apa kau luang malam ini?" tanya Nicky sambil menunduk, ia melirik sedikit ke arah Bunga untuk melihat ekspresi wanita itu.
"Emm ya aku luang" jawab Bunga cepat, karena ia juga tak tahu harus melakukan apa saat Miko tidak ada dirumah.
"Baiklah aku akan mentraktir mu makan sebagai ucapan terima kasih dan aku tidak menerima penolakan" Nicky langsung keluar dari ruangan Bunga sambil tersenyum puas.
"Hah? Apakah aku tidak salah dengar?" pikir Bunga sambil menatap Nicky yang berlalu dari ruangannya.
♥️♥️♥️
Miko baru sampai diperusahaan Jessy di kota X, Ia bersama Tania memasuki sebuah ruangan meeting yang besar. Jessy sudah menunggu dengan memakai setelan blazer berwarna pink muda yang membuatnya terlihat sangat elegan.
"Selamat datang Miko, aku sudah menunggumu" ucap Jessy sambil tersenyum, senyumannya menyiratkan sesuatu yang membuat Miko curiga.
"Em.. Tania bisakah kau membuatkan aku dan Miko dua cangkir teh hangat?" tanya Jessy seolah ingin mengusir Tania agar ia bisa berdua dengan Miko.
Tania mengangguk namun wajahnya sedikit kesal.
Cih.. dia pikir aku office girl?
Maki Tania dalam hati.
"Bagaimana Miko pendapatmu mengenai perusahaan ini? Nanti aku akan mengajakmu berkeliling" kata Jessy sambil mendekat pada Miko.
"Ya bagus, sepertinya perusahaan yang bonafit dengan banyak karyawan yang dapat diandalkan" puji Miko.
Jessy sudah berada didepan Miko jarak mereka kurang dari 1 meter.
"Emm sebaiknya kita mulai meetingnya" Miko menjauh dari Jessy dan duduk disebuah kursi, Jessy mendengus kesal.
Sangat sulit baginya mendekati Miko, padahal ia sudah sejauh ini mengajak Miko pergi.
"Oh oke..." Jessy menjawab singkat dengan kesal.
♥️♥️♥️
Bunga berusaha menghubungi Miko, ia ingin meminta izin untuk pergi bersama Nicky nanti sore namun Miko sangat sulit dihubungi karena memang rapat sedang berlangsung.
"Apa dia sedang sibuk saat ini? Huft, dia bahkan belum menghubungiku sama sekali saat tiba disana. Apa dia sedang bersama wanita itu?" pikir Bunga, hatinya berkecamuk.
Ia terus menghubungi Miko namun hasilnya nihil, ia menghela napas kesal. Ponselnya berbunyi.
"Dimana rumahmu?" Suara ditelpon langsung bertanya.
"Siapa ini?" Bunga heran, nomor yang tertera tidak ia simpan namun sebenarnya dari suara berat sang penelpon dia bisa mengetahui siapa itu.
"Nicky.. Kau tidak menyimpan nomorku? Ais.. benar-benar kau ini" Nicky mendengus kesal.
"Bagaimana bisa aku menelponmu jika kau tak pernah memberitahukannya" Bunga tak kalah sewot.
"Begitukah? Ya sudah cepat beritahu dimana rumahmu. Aku sudah dijalan untuk menjemputmu"
Bunga melihat jam dinding, sudah pukul 7 malam. Hampir saja ia lupa kalau ia akan pergi bersama Nicky malam itu.
"Aku akan mengirimkan lokasiku segera"
Bunga beranjak dari rasa malasnya dan keluar dari kamar menuju kamar mandi. Ia mengirim lokasi kepada Nicky lalu segera bersiap.
Tin.. tin...
Bunyi klakson mobil terdengar nyaring didepan rumah. Bunga buru-buru keluar.
"Kau terlalu berisik!" keluh Bunga dengan nada kesal.
"Hahaha aku tak suka menunggu, kau tahu itu" Nicky terkekeh, ia memperhatikan Bunga yang terlihat cantik malam itu walaupun hanya menggunakan make up tipis.
"Apa kau bisa membuka kunci mobil ini?" Bunga protes tak dapat masuk.
"Oh iya.." Nicky membukakan kunci mobilnya.
Bunga masuk, ia melihat wajahnya kembali di kaca spion.
"Kita akan makan dimana?" tanya Bunga penasaran.
"Tempat yang enak, kau tak perlu khawatir" ucap Nicky santai sambil melajukan mobilnya.
"Aku sedang ingin makanan pedas dan minuman buah yang segar" ucap Bunga dengan wajah riang, membuat Nicky melirik padanya.
Entah mengapa wajah riang Bunga membuat dunia Nicky sedikit teralihkan.
"Ehem.. ya baiklah" jawab Nicky singkat.
♥️♥️♥️
Setelah makan, Bunga melihat ponselnya dan terlihat sedih.
"Apa kau menunggu sesuatu?" tanya Nicky heran.
Bunga menatap ke arah Nicky dan menggeleng.
"Aku menghubungi suamiku dan belum mendapatkan jawaban apapun dari sore" jawab Bunga membuat Nicky terkejut.
"Suami? Jadi kau sudah menikah?" Nicky memalingkan wajahnya.
"Kau tak tahu?" Bunga membesarkan matanya.
Nicky mengusap wajahnya kasar.
"Bila aku tahu kau sudah menikah, aku tak akan mengajakmu makan malam ini. Ya Tuhan aku bisa disebut sebagai pria yang mendekati wanita yang sudah menikah"
"Apa?! Kau berniat mendekatiku? Aku gurumu, kau ingat?" Bunga menjadi sewot.
"Ya aku tahu, dan ini menjadi sebuah kesalahan yang besar" Nicky menjadi berteriak, membuat semua orang yang ada disana menoleh ke arah mereka.
"Dan sekarang kau membuatku terlihat sebagai seorang wanita yang sedang bertengkar dengan kekasihnya" gerutu Bunga kesal sambil berbisik.
Nicky menarik tangan Bunga dan keluar dari caffe itu. Mereka segera masuk ke mobil. Ponsel Bunga berdering, Miko menelponnya.
"Ya baiklah, aku paham.." Bunga mengatur napasnya, ada sesak yang tertahan disana.
Nicky melirik pada Bunga, ia mulai paham dengan situasi Bunga. Ia memiliki suami yang sibuk bekerja.
"Telpon aku saat kau tidak sibuk ya" pinta Bunga pada Miko.
Bunga menutup telpon dari suaminya dengan wajah meratap pada ponselnya.
"Itu dari suamimu?" Nicky penasaran.
Bunga mengangguk tanpa menoleh.
"Bukankah seharusnya kau senang dia menelpon? Kau menunggu kabarnya kan?" Nicky mengingatkan Bunga.
"Ya kau benar, namun saat dia menelpon aku menjadi lebih khawatir" ucap Bunga pelan.
"Kenapa begitu?"
"Entahlah, aku merasa ada yang mengganjal di hati dan pikiran ku saat ini. Aku merasa.. sesak dibagian sini" Bunga menyentuh dada sebelah kirinya.
Nicky memandang iba pada Bunga, ia menebak rumah tangga Bunga tidak bahagia. Tidak sesuai dengan wajah riang yang selalu Bunga tampakan pada semua orang.
"Kau seperti gadis muda yang sedang patah hati" goda Nicky sambil terkekeh.
Bunga memanyunkan bibirnya sambil melirik kesal ke arah Nicky.
"Lihat ini.. Wajah cemberutmu mengartikan segalanya" Nicky memiringkan sedikit kaca spion yang ada didalam mobilnya ke arah Bunga.
Bunga melihat sekilas dan ia setuju, namun ia tak mengatakan apapun.
"Ya biarlah ini semua menjadi tanggungan ku sendiri"