
Miko sampai dirumah malam itu, ia mendapati Bunga yang sedang duduk didepan televisi sambil termenung.
"Aku pulang"
Bunga seperti terkejut, ternyata benar Bunga sedang memikirkan sesuatu.
"Eeh kau sudah pulang, memang ini sudah jam berapa?" Bunga melihat kearah jam dinding.
"Ya Tuhan sudah jam 7 malam, aku belum membuatkan air minum dan makan malam untukmu" Bunga terlihat panik, Miko memegang kedua bahu Bunga menenangkannya.
"Kau duduk disini, aku akan mandi dan berganti pakaian lalu memasak makan malam untukmu" Miko menekan bahu Bunga pelan agar Bunga duduk kembali.
"Jangan bergerak sampai aku menyelesaikan semua urusanku"
Bunga terdiam, ia hanya mengikuti kata-kata Miko. Setelah 15 menit Miko telah selesai mandi dan ganti pakaian, ia segera menuju dapur lalu memakai apron.
"Apa yang ingin kau makan?" Miko bertanya pada Bunga, jarak antara dapur dan ruang televisi sangat dekat.
"Aku ingin makan ayam" Jawab Bunga, ia tak terlalu antusias.
Miko paham, bak koki profesional Miko memasak membuat makan malam. Bunga melirik ke arah Miko yang sedang memasak didapur.
"Makan malam siap, ayo kita makan" ajak Miko, Bunga terlihat malas untuk menghampiri Miko.
"Cepat kemari, ayam ini akan hidup lagi jika kau tak segera memakannya" goda Miko.
Bunga berjalan dengan lunglai menghampiri Miko, ia membuka mulutnya berharap Miko akan menyuapinya.
"Makan sendiri" Miko memukul kepala Bunga pelan menggunakan sendok, lalu memberikan sendok itu pada Bunga.
Miko berjalan ke depan televisi, ada sofa panjang disitu tempat mereka bersantai.
"Suapi aku" Rengek Bunga.
"Kemarilah kita makan bersama, bawa piringmu"
Bunga membawa piringnya dengan malas, ia duduk disebelah Miko yang sedang lahap makan makanan buatannya.
"Enak?" tanya Bunga, Miko mengangguk namun matanya tidak berpaling dari televisi.
"Ayo makan" Miko melirik ke Bunga yang belum menyentuh makanannya.
Miko hendak menyuap makanannya kembali, namun Bunga membelokan tangan Miko lalu memasukan sendok suapan Miko ke mulutnya. Miko hanya diam saja melihat kelakuan Bunga.
"Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau tidak bersemangat bila aku masak"
"Aku sedang menyesali keputusanku" Bunga terlihat lesu.
"Keputusan apa?" Miko menaruh piringnya di meja lalu menghadap ke Bunga.
"Jadi hari ini aku menemui temanku dan aku diterima bekerja disana"
"Waah kau sangat beruntung, baru melamar kerja sudah langsung diterima" Miko menjabat paksa tangan Bunga, Bunga cemberut.
"Apanya yang beruntung?!! Aku harus berhadapan dengan anak pemilik Yayasan sekolah itu yang sangat brutal dan nakal"
"Apa kau sudah bertemu langsung dengan anak itu?" tanya Miko, Bunga menggeleng.
"Kenapa kau khawatir dengan sesuatu hal yang belum kau hadapi?" Miko mengambil kembali piringnya dan makan, Bunga selalu suka dengan kata-kata yang Miko berikan.
"Bukan begitu, hanya saja guru-guru disana semuanya sudah tidak ada yang sanggup menghadapinya. Dan aku sebagai guru baru pasti akan lebih tersiksa" Bunga merengek menahan tangisnya.
"Jangan menangis, hadapi saja dulu. Siapa tahu guru-guru itu hanya membesar-besarkan saja" Miko berusaha menenangkan Bunga.
"Lalu bagaimana bila kata-kata para guru itu benar?"
"Kau tinggal berakting pingsan didepan mereka semua"
♥️♥️♥️
Pagi itu Bunga bangun dengan lunglai rasanya ia takut berangkat bekerja dihari pertamanya. Namun ia tetap mandi, lalu menyiapkan roti panggang untuk ia dan Miko sarapan.
"Kau sepertinya tidak bersemangat" Miko mengagetkan Bunga dari belakang, Bunga membalik badannya dan memeluk Miko.
"Aku sangat takut" ucapnya sambil membenamkan wajahnya di dada Miko.
"Percaya kata-kataku, ini tidak seperti apa yang ada dibayanganmu. Kau hanya perlu menjalaninya dengan caramu dan jangan dengarkan kata-kata orang lain yang membuatmu takut" ujar Miko, lalu melepaskan pelukan Bunga perlahan dan masuk ke kamar mandi.
Memang tak salah aku jatuh cinta dan menikah denganmu Miko
Gumam Bunga sambil tersenyum, hatinya mulai tenang. Ia mengoleskan selai blueberry diroti panggang dan membuat dua gelas susu putih untuknya dan Miko.
"Bunga, ayo sarapan" panggil Miko yang sudah selesai mandi dan memakai baju kerjanya.
"Iya sebentar" Bunga meletakan alat penyiram tanaman dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Miko sedang menggigit roti panggangnya sambil menonton berita ditelevisi.
"Aku bersyukur pagi ini tidak ada kekacauan apapun yang kau buat" ucap Miko sambil tertawa kecil.
"Huh.. jangan meledekku, pagi ini ku mulai dengan rasa yang menakutkan tahu!" gerutu Bunga. Rey hanya tersenyum dan matanya fokus dilayar televisi.
"Kau memanaskan motormu?"
"Ya aku akan berangkat dengan motorku"
"Biarkan aku mengantarmu"
"Aah tidak perlu, pulang dari sekolah aku berniat membeli beberapa bahan makanan di super market jadi akan lebih simple bila aku menggunakan motor"
Bunga duduk disebelah Miko dan makan sarapan bersama-sama.
"Baiklah, belikan aku biskuit dan pudding" ucap Miko lalu membawa piringnya ke dapur dan menaruhnya di wastafel.
"Oke" Bunga menjawab singkat.
Miko mengambil kunci mobilnya, ia memanaskan mobil dan mengambil tasnya diruang kerja kecil yang ada dirumah itu. Sebenarnya ruang kerja itu adalah sebuah kamar namun disulap oleh Miko menjadi ruang kerja untuk memanfaatkan ruangan yang tidak terpakai.
"Hati-hati dijalan" ucap Bunga sambil menyodorkan wajahnya, Miko mendorong kening Bunga pelan.
"Bisakah kau bertindak normal pagi ini?" ucap Miko lalu masuk kedalam mobil.
Bunga gagal lagi mendapatkan ciuman dikeningnya pagi itu. Miko berangkat, Bunga segera mengambil tasnya. Ia mengunci pintu dan mengeluarkan motornya, memakai helm kuning bergambar Winnie the Pooh kesukaannya lalu berangkat.
Udara pagi sangat sejuk Bunga rasakan sejenak kegelisahannya hilang. Tak lama ia sampai di sekolah.
"Syukurlah kau sudah datang, aku khawatir kau akan lari setelah mendengar semua hal tentang anak pemilik Yayasan" ujar There sambil menghela napas lega.
"Mana mungkin aku lari, aku akan menghadapi semuanya" ujar Bunga yakin.
"Baiklah, aku akan antar kau ke ruangan bimbingan konseling"
Theresia mengantarkan Bunga ke ruangannya, ruangan itu terlihat sudah cukup lama tak ditempati namun bersih karna penjaga sekolah selalu membersihkannya.
"Terima kasih There sudah mengantarku" There mengangguk.
"Aku harus bersiap sebentar lagi bel berbunyi, aku harus mengajar" Bunga mengangguk paham, There meninggalkannya.
"Semoga hari ini berjalan lancar" gumam Bunga.
Bunga mengeluarkan barang bawaannya dan menaruhnya di meja. Sampai siang, tak ada tanda-tanda kegaduhan terjadi. Bunga diajak There untuk makan siang karena memang jadwal sekolah di SMA itu sampai pukul 4 sore.
"Kau ingin makan apa?" Tanya There.
"Aku ingin mie instan rebus dengan sayuran dan telur" Ucap Bunga.
There pergi memesankan makanan untuknya dan Bunga. Bunga melihat-lihat sekitar kantin, ia tertarik melihat seorang siswa sedang berjalan ke arahnya.
"Apa kau guru BK yang baru?" tanyanya dengan suara yang sedikit mengancam.
Bunga melihat siswa itu heran.
"Ya benar" Ucap Bunga sambil tersenyum.
"Tersenyumlah karna setelah hari ini mungkin kau tak bisa tersenyum lagi disini" ujar siswa itu menyeringai dan meninggalkan Bunga yang masih bingung.
There mendekati Bunga dengan cemas.
"Apa dia menyakitimu?"
"Siapa dia?"Bunga belum melepaskan pandangannya dari siswa itu.
"Dia adalah Nicky anak pemilik Yayasan yang aku ceritakan" ujar There sambil menutup wajahnya.
"Dan tadi dia mengancamku!!!?" Bunga membenturkan kepalanya ke meja.
Nih author kasih bonus visual anak pemilik Yayasan aka Nicky.