
Allana yang terbangun dari tidurnya masih merasakan sakit dikepalanya, di tambah lagi tenggorokannya seperti terbakar. tapi dia menahannya, Allana lalu beranjak turun dari kasur secara perlahan. pertamakali menginjakkan kakinya di tehel Allana merasakan kepalanya begitu berdentum dengan keras, tapi Allana berusaha menahannya. setelah itu Allana berjalan dengan sekuat tenaga ke arah dapur untuk mengambil minum.
Brian yang sedang makan dikagetkan dengan kehadiran Allana. "kenapa kau bangun, apakah kau sudah baikan?" katanya, sedangkan Allana yang mendengar pertanyaan Brian tidak digubrisinya.
Allana tetap melangkah dengan perlahan ke meja pantri, lalu Allana mengambil segelas air dan meminumya dangan rakus.
Brian yang melihat tingkah laku Allana merasa heran dan juga bingung "kau tidak apa apa?" kata brian, dan kali ini Allana menjawabnya "Aku tidak papa, hanya merasa haus dan juga" tiba tiba perut Allana berbunyi dan semburat merah yang samar di tutupi oleh wajah pucatnya muncul dikarenakan Allana merasa sedikit malu.
Allana lalu memalingkan wajahnya kearah yang berlawanan dengan brian. Brian yang mendengar perut Allana berbunyi dan di tambah lagi semburat merah dipipinya walau samar tapi terkesan imut bagi Brian. Brian lalu terkekeh pelan "kau lapar kebetulan aku sudah memanaskan buburmu" sambil tersenyum.
Allana yang melihat senyuman Brian merasakan jantungnya begitu tidak terkontrol sampai Allana takut jika brian mendengar debaran jantungnya yang begitu cepat " kenapa kau melamun" mendengar suara yang begitu tak asing, Allana merasa tertarik ke Alam sadarnya dan balik menatap brian hanya sekilas lalu Allana melihat ke arah lain "tidak papa" singkat dan jelas jawaban yang Allana berikan.
Brian merasa tidak cukup puas dengan jawaban yang diberikan Allana untuknya tapi brian berfikir itu juga bukan urusannya lalu Brian menyuruh Allana menyantap makanannya dan setelah itu meminum obat yang sudah brian sediakan dari resep dokter.
Allana yang sudah selesai dengan sarapannya, langsung meminum obat yang Brian kasih setelah itu Allana beranjak ke kamar untuk istirahat karena Allana merasa mengantuk sekali mungkin pengaruh obat yang diminumnya. setelah sampai dikamar Allana yang melihat Brian yang sedang fokus dengan berkas berkasnya merasa kasihan "pasti dia lelah karena merawatku sambil mengerjakan berkas berkas kantor" pikirnya, Allana lalu menuju ke tempat tidur dan memposisikan tidurnya agar tetap nyaman tapi pandangn Allana tetap fokus pada objek disampinya, sedangkan objek yang diperhatikannya tidak sadar akan tatapan yang begitu memuja dari seorang Allana lalu dengan perlahan mata Allana mulai terpejam dan menghilangkan sosok brian dari indra penglihatannya, tidak terasa Allana sudah terlelap dalam tidurnya.
Brianan yang sudah selesai dengan berkas berkasnya mulai berdiri dan merenggangkan otot ototnya lalu mulai pandangannya mengarah pada Allana yang sudah terlelelap, melihat Allana yang sudah terlelap. Brian lalu menuju kearah kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena hari sudah mulai menjelang malam setelah selesai dengan rutinitasnya Brian lalu berpakaian dengan rapi Brian menggunakan baju kemeja warna putih, jas silver, celana silver dan sepatu hitam berlapiskan kulit buaya dengan harga mencapai US$ 10 ribu atau Rp 133,85 juta dengan brand ternama di negara paris membuat Brian begitu maskulin dan juga berkelas sebagai pelengkap aksesoris lainnya Brian menggunakan jam tangan silver dan kaca mata hitam dan setelah itu Brian menyemprotkan parfum yang begitu memukau indra penciuman siapa saja. setelah siap Brian lalu berjalan keluar tidak lupa di mengunci pintu kamar hotel lalu bernjak pergi menuju targetnya dengan mobil sport hitamnya yang bergitu berkelas dengan begitu gesit mobil sportnya membelai kota singapura.