
Pagi ini di kediaman hermawan sedang sibuk di karenakan hari ini hari ulang tahun Fabian yg ke 19 tahun serta memperingati kelulusan Fabian serta rasa syukur karena ia di terima di universitas bergensi di kotanya. Walaupun bian anak orang kaya tetapi ia tidak bisa berlaku semena mena seperti temannya. Ayahnya, daren sering memangkas uang jajannya karena ia sering menghina ibunya, Oleh sebab itu ia belajar dengan giat agar segera bisa keluar dari rumah ini.
Ia bukannya benci ibunya, hanya saja ia malu sering di olok-olok oleh teman-temannya serta ketidak pedulian ayahnya membuat ia kesepian serta sedikit demi sedikit mulai menumbuhkan kebencian untuk kedua orang tuanya. Ayahnya selalu memprioritas kan ibunya tanpa memikirkan perasaannya yang juga sedang membutuhkannya.
Tetapi setelah ia melihat keadaan orang tuanya beberapa hari yang lalu, fikirannya sedikit terbuka tentang keadaan ibunya.
Flasback
Waktu itu bian tidak sengaja melihat ibunya yang tidak stabil keadaannya. Barang-barang berserakan dimana-mana, boneka yang biasanya selalu ibunya bawa sudah tidak berbentuk lagi. Ibunya hanya menangis memanggil nama kakak-kakaknya yang sudah tiada.
Setelah ibunya menangis cukup lama, Ayahnya datang.
"Sayang" ucap daren sambil menghapus air mata yang terus membasahi pipi ibunya ( kristal)
" Aku di sini sayang" ucap daren memeluk kristal
"Maafin aku yang selama ini tidak bisa menjadi ibu yang baik buat anak-anak kita" ucap kristal lirih ***sambil melihat fabian dengan pandangan sendu yang sedang berdiri di samping pintu.
Setelah mengucapkan itu kristal pun terjatuh pingsan. Daren pun langsung menggendong kristal tanpa menengok fabian yang sedang berdiri di samping pintu***.
...
Setelah kejadian itu fabian seolah merasa kan apa yang sedang di rasakan oleh ibunya. Kesedihan, penyesalan, cinta, semua terasa tergambar di mata ibunya. Semua kejadian yang sudah ia lakukan seolah meremas hatinya. Apakah selama ini, ia sudah sangat keterlaluan. Dari kecil banyak teman sekolahnya yang menghinanya, membuat ia di buli, di kucilkan serta di hina. Menimbulkan kebencian tersendiri untuk orang tuanya yang tidak pernah ada untuknya. Ibunya gila sedangkan ayahnya sibuk dengan pekerjaan serta ibunya. Hanya pengasuhnya yang selalu ada untuknya.
Tidak tau kenapa beberapa hari yang lalu ayahnya memberi tahunya ingin merayakan hari kelulusannya serta rasa syukur atas penerimaan ia di universitas, ingin menolak tapi kata-kata selanjutnya mampu membungkam mulutku yang ingin memprotesnya.
" Ia " ucapnya kala itu, melihat punggung ayahnya yang gagah tetapi begitu rapuh saat di dekati.
Setelah berdiam cukup lama dalam keheningan, ia meminta izin untuk keluar. Di tengah lorong menuju kamarnya, ia melihat ibunya sedang duduk di kursi taman memandang taman dengan pandangan kosong. Setelah keluar dari rumah sakit, ibunya banyak diam, kadang-kadang menangis tetapi sudah tidak pernah mengamuk lagi serta tidak mencari bonekanya lagi.
...
Tamu undangan datang satu persatu memasuki kediaman hermawan, ruang tamu yang awalnya sepi lama-lama semakin penuh, banyak hidangan yang tersaji dari yang makanan lokal hingga yang internasional.
Fabian di samping ayahnya (daren) menyambut tamu yang terus berdatangan di kediaman mereka. Senyum manis mereka tebarkan. Ucapan selamat silih berganti. Tidak jauh dari mereka, kristal duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh daren. Meskipun kondisi kristal seperti itu, ia tidak pernah malu untuk menunjukkannya kepada semua orang.
Banyak yang menggoda daren di kantor atau saat pertemuan bisnis, semua ia tolak karena di hatinya hanya ada kristal, wanita yang sangat ia cintai, tidak apa-apa jika ia di hina lelaki bodoh, yang hanya setia dengan orang gila. Tetapi di matanya, istrinya tidak gila hanya sedang sedih karena kehilangan anak-anak mereka.
prangggggg......
Di tengah pesta yang sedang berlangsung, terdengar salah satu pelayan yang menjatuhkan nampan yang berisi minuman.
" Maaf " ucap pelayan itu yang tubuhnya bergetar ketakutan karena tatapan semua orang sedang memandangnya.
...
...***15 NOVEMBER 2022...
HAPPY READING***