I LOVE MY HUSBAND / On Going

I LOVE MY HUSBAND / On Going
SEPULUH



Berbulan-bulan sudah terlewati. Tepatnya sudah 4 bulan kecelakaan yang menewaskan cucu keluarga hermawan, yang belum mereka lihat wajahnya secara langsung, hanya berlembar lembar foto yang menjadi kenangan bahwa pernah ada penerus keluarga hermawan yang hadir di dunia ini.


Suasana duka masih menyelimuti mereka sekeluarga. Meskipun aktifitas masih mereka lakukan, tetapi di hati terdalam masih menyisahkan kesedihan yang mendalam. Apalagi dengan keadaan menantu keluarga hermawan yang masih murung, semakin menambah kesedihan mereka.


Semua sudah berusaha menghibur kristal, tetapi tidak ada respon sama sekali. Sepanjang hari ia hanya melamun di dalam kamar. Makan pun jika ia sudah merasa sangat lapar . Mandi pun jika tidak di mandikan daren, sepanjang hari kristal tidak akan mandi.


Daren yang melihat kondisi istrinya seperti itu sangat sedih, sudah berbagai cara ia lakukan agar kristal keluar dari kesedihan nya. Tetapi tidak ada hasilnya. Beberapa hari kemarin ia sudah mendatang kan psikiater tetapi belum juga ada kemajuan sama sekali.


...


Pagi ini semua orang berkumpul seperti biasa di meja makan. Sebelum memulai aktivitas mereka di pagi ini. Tidak ada obrolan untuk mengisi keheningan yang terjadi. Hanya suara denting sentok yang terdengar .


Suara derap langkah yang terburu buru membuat fokus semua orang di meja makan teralihkan.


"Ada apa bik?" tanya papa pertama kali melihat bibik yang sedang terburu buru menuruni tangga dengan tergesa gesa.


"Anu ...Tuan i....tu.." ucap bibik dengan nafas tersenggal senggal.


"Nyonya kristal pingsan" ucap bibik setelah berhasil mengatur nafasnya.


Daren yang mendengar kristal pingsan langsung berlari ke kamarnya di lantai 2.


BRUK....


Daren membanting pintu dengan sangat keras saat sudah sampai di depan kamarnya dan kamar kristal. Meskipun kristal sering melamun dan susah di ajak komunikasi, daren tetap tidur sekamar dengan kristal. Ia tidak mau istrinya pisah kamar dengannya. Berpisah saat ia bekerja saja sudah membuatnya rindu, apalagi jika ia pisah kamar, bisa di pastikan jika ia tidak akan pernah bisa tidur dengan nyenyak.


"Tiba-tiba nyonya muntah setelah memakan sarapan paginya, lalu pingsan tuan " jawab syifa-suster yang menemani kristal selama daren tidak di samping kristal.


"Dokter toni sudah tiba tuan " ucap bibi yang berdiri di samping pintu.


Mendengar jika dokter toni-dokter pribadi keluarga hermawan telah tiba, daren menyingkir dari samping kristal. Ia mempersilah kan dokter memeriksa kondisi istrinya.


"Bagaimana ?" tanya daren setelah melihat dokter toni selesai memeriksa kondisi kristal.


"Bisa kita bicara di luar saja, agar nyonya kristal dapat beristirahat" ucap dokter toni kepada daren yang berdiri di belakangnya.


"Iya silahkan dok, kita ke ruang tamu saja supaya lebih nyaman ngobrolnya" ucap daren mempersilahkan dokter toni mengikutinya ke ruang tamu.


"Silahkan duduk dok" ucap daren setelah mereka sampai di ruang keluarga.Orang tua daren hari ini ada acara amal di salah satu yayaran keluarga hermawan jadi mereka tidak bisa melihat kondisi kristal. Tetapi mereka tetap mendapatkan kabar kondisi kristal.


"Jadi begini tuan" ucap dokter toni sambil mengambil nafas dalam.


"Ada apa dokter, jangan membuat saya penasan. Kondisi istri saya baik-baik saja kan" ucap daren.


Dakter toni yang mendengar pertanyaan daren hanya bisa tersenyum kecut.


**STOP DULU YA.


MENURUT PEMBACA GIMANA.LAYAK LANJUT ATAU TIDAK**?