Hope

Hope
9. SISI MENGAGUMKAN JOY



Hari semakin gelap, setelah matahari tenggelam sore itu Joy mengajak Febby pulang kerumah.


"Ayok pulang, nanti keburu gak dapat kereta lagi"


"kapan-kapan ajak aku kesini lagi ya"


"siap bos"


Mereka mulai menuruni tangga, dari lantai 12 menuju lantai dasar. meski ada lift, tetapi tidak bisa di akses karena listrik gedung tersebut sudah tidak berfungsi.


bukan hanya itu, gedung itu merupakan gedung sengketa yang sudah bertahun-tahun tidak di gunakan. dan selama masih ada peluang untuk naik ke atasnya, Joy akan selalu ketempat itu.


"pelan-pelan, disini semakin gelap. aku lupa membawa senter."


"aduh" jerit Feby, saat kakinya terpeleset.


"baru juga aku bilang pelan-pelan, sini aku gendong aja. sampai bawah baru di priksa"


"kamu gak capek gendong aku? kita masih di lantai 10 loh."


"gak masalah, hitung-hitung aku fitnes gratis"


"haha, ada-ada saja kamu"


"yaudah, naik sini"


"maaf ya Joy, aku selalu saja merepotkan mu"


"kalau di novel, pasti jawab nya gapapa kok. kali ini kamu harus dengar kenyataan, bahwa kamu memang sangat-sangat merepotkan"


"kalau gak ikhlas, turunkan aja. aku bisa nahan sakit kok"


"drama wanita, pura-pura berkata ini padahal artinya beda."


"kamu iiih"


"makanya, peluknya erat dong"


"oh, tadi modus ceritanya?"


"dikit doang, biar gak kayak gendong tuyul"


"tuyul gak seberat aku"


"kok tau, pernah ya gendong tuyul?"


"ih Joy, apaan sih"


"hahaha"


mereka bercanda sepanjang menuruni tangga, keasikan itu membuat mereka lupa bahwa hari semakin larut. gelap di gedung itu, sedikit membuat suasana mencekam. banyak sekali nyamuk, juga bunyi-bunyi suara jangkrik.


sampai pada tangga akhir, mereka mulai bernafas lega. seandainya ada warga yang akan memergoki mereka di tempat ini,.mungkin mereka akan di nikahkan dan di tuduh sudah berbuat mesum.


mereka menuju stasiun kereta dekat gedung, Joy masih terus menggendong Feby yang kesakitan.


"turunkan aja aku, kasihan kamu harus menahan capek"


"sudah diam aja, kan kamu pasti gak pernah di gendong sama cowok ganteng"


"dih, mulai deh pamer diri"


"iyain aja napa, biar aku senang"


"iya iya, aku beruntung sekali di gendong oleh Pria terganteng sejagat raya"


"nah kalau gitu keliatan gak ikhlasnya"


"ikhlas kok, terimakasih cowok ganteng"


"sama-sama bawel"


"dihhh, bawel. aku pendiam tau"


"tuh kan ngejek, aku emang pendiam Joy"


"iya diam diam banyak bicara"


"apa bedanya itu Bambang?"


"berarti sama kan?"


"iiih, nyebelin kamu Joy"


"tapi nyaman kan?"


"terpaksa"


"oh, yaudah kamu pergi aja sekarang. pulang sana, jangan tinggal dirumah ku lagi"


Joy sambil menurunkan Feby.


"yah ngambek, ampun pak bos. saya bercanda"


"hm"


"dih ngambek beneran, malu oi sama bulu hidung"


"gak kok, kan katanya terpaksa"


"maaf, bercanda aku tuh. jangan dibawa ke hati. bawa ke perut aja"


"lapar yang ada kalau ke perut"


"bagus dong biar kita makan"


"emang kamu udah lapar"


"hehe,.makanya aku gak mau terlalu nyender sama kamu karena takut kamu dengar bunyi perutku pas Tertekan"


"astaga, kenapa gak bilang"


"malu aku tuh, nanti kamu bilang aku sangat beban untukmu"


"ya anggap aja aku lagi nolong, nanti kalau kamu udah kerja bisa ganti semua yg kamu dapat dari aku"


"deal kalau gitu, ayok kita makan"


"yaudah naik ke punggungku, kita cari makan terus di bungkus biar bisa makan di kereta. takut kereta terakhir malah udah lewat"


"kamu masih kuat kan?"


"masih, akukan Hero"


"kamu Joy, bukan Hero"


"maksudnya penolong loh bawel"


"yaudah ayok jalan"


Joy kembali menggendong Feby, hanya 100 meter dari gedung tersebut. mereka akhirnya sampai. beberapa pasang mata memperhatikan mereka, Joy tidak ambil pusing. Feby yang sedikit tidak enak, dan berusaha memberi isyarat agar Joy menurunkannya saja.


Joy akhirnya menurunkan Feby di kursi tunggu terminal, sambil memeriksa bagian kaki Feby yang keseleo. dengan penuh kelembutan, Joy memijet kaki Feby dan meluruskan kakinya agar bagian yang keseleo bisa kembali pulih.


Feby hanya terus memperhatikan yang di lakukan Joy, saat ini Feby menutup sebagian wajahnya dengan masker. dan menggunakan topi. agar tidak ada yang mengenali dirinya.


sambil tertatih, Feby masuk ke dalam kereta. Joy terus membantu Feby berjalan, sedangkan Feby sangat terharu pada apa yang dilakukan Boy.


kereta terakhir malam ini, di padati penumpang. Joy kesulitan mencari tempat duduk untuk mereka. untunglah di pojok kiri Kereta, ada dua bangku. mereka menuju kesana, sambil terus menuntun Feby melangkah melewati ramainya penumpang di dalam kereta.


Joy dan Feby duduk, namun baru beberapa menit merasakan duduk. Joy berdiri dan mempersilahkan Ibu tua yang tidak kedapatan bangku untuk duduk di kursinya. Joy kembali berdiri, tanpa memikirkan kelelahannya yang sedari tadi menggendong Feby.


melihat kebaikan yang dilakukan Joy, membuat Feby sangat bersyukur di pertemukan oleh orang yang sangat baik. pria yang peduli pada orang lain, dan mengutamakan orang lain di atas kepentingannya.