Hope

Hope
12. indentitas Feby



Joy menutup pintu rumahnya, dan bergegas menuju persembunyian Feby. disana dia melihat Feby meringkuk memeluk kedua kakinya. keringat bercucur di sekujur tubuhnya namun badannya terasa dingin.


"Feb, kita perlu bicara. tapi minum dulu ini"


Feby mengambil gelas yang diberikan Joy pada dirinya, dan meminum dengan sedikit tergesa-gesa.


"Joy, aku mau jujur sesuatu padamu. aku yakin setelah ini kamu tidak akan mau lagi menampung aku disini."


"ceritakan lah" Joy duduk di atas kasur sambil menyalakan rokok.


"kamu sudah dengar dari mereka bahwa aku seorang agen rahasia."


"ya, dan kamu ******* sekarang"


"Joy, di tas ku ada satu berkas catatan yang penuh dengan rahasia para mafia. selama ini aku di suruh menjadi mata-mata di beberapa tempat untuk mengungkap kasus para mafia. sebentar akan ku ambil agar kamu percaya"


Joy diam mendengarkan penjelasan Feby. dan menikmati rokoknya.


"ini Joy, lihat. aku sudah mengumpulkan bukti. mereka mengincar ku karena ingin mengambil berkas ini. jadi yang mencari aku bukan hanya satu kelompok mafia, tapi semua para mafia."


"jadi kenapa malam itu mereka tidak ambil saja?"


"Joy, maafkan aku. sejujurnya ada chip di tubuhku, dan mereka sudah temukan. makanya mereka membuang ku"


"terus untuk apa mereka mencari kalau mereka sudah mendapatkannya"


"aku sengaja mengirim mereka ancaman beberapa hari setelah aku tinggal disini. mereka sekarang menahan adekku. karena itu, aku mau mengancam mereka supaya mereka bisa melepaskan adekku"


"lalu siapa orang yang dibelakangmu yang selama ini memberikan perintah kepadamu?"


"dia ayah mu Joy. Pak Rahardian Dinata. beliau sebenarnya seorang agen khusus yang bersembunyi dibalik pabrik konveksi pakaian milik keluarga mu"


"Joy, ayah mu tidak ingin kau hidup di jalanan. dia ingin kau bisa hidup damai tanpa ancaman."


"tapi sejak dahulu, dia mengajarkan aku ilmu bela diri. cara menembak, dan semua hal yang katanya untuk melindungi diri sendiri."


"Joy, itu hanya untuk membuatmu bisa menjaga dirimu sendiri. namun ayah mu adalah seorang yang hidupnya penuh ancaman. bahkan ibu mu sebenarnya meninggal di racun oleh lawan"


"apa? kenapa ayah tidak pernah menceritakannya?"


"sejak kecil kita sering bertemu Joy. aku adalah gadis kurus yang di rawat ayah mu dan di latih menjadi pasukan khusus."


"jadi kamu tinggal disini adalah sebuah rencanamu?"


"tidak Joy, aku baru tau data dirimu setelah aku memeriksa berkas-berkas indentitas mu. sungguh Joy, bahkan ayah mu sendiri tidak tau keberadaan ku sebenarnya."


"aku tidak habis pikir dengan hal ini."


"satu lagi yang kamu harus tau, sekertaris yang bersama ayah mu adalah seorang agen rahasia juga. bukan ibu tiri mu. mereka menikah untuk menutupi dunia mereka sebenarnya."


"jadi itu bukan istri ayahku?"


"bukan Joy, mereka hanya menikah di atas kertas. kebenaran nya adalah, ayah mu sangat mencintai ibu mu"


Joy tampak memikirkan apa yang dikatakan Feby, dia setengah percaya namun tidak tau apa harus memilih memercayainya.


"tidurlah, aku ingin sendiri" Joy meninggalkan Feby, dan keluar dari rumah untuk mencari udara segar.


Joy menyalakan rokok nya, entah sudah berapa batang rokok yang di hisapnya. pikirannya kacau. hatinya tidak tenang.


Joy sangat sedih mengetahui kenyataan pahit yang menimpa hidupnya. merenggut ibu nya saat dia kasih sangat membutuhkan kasih sayang itu. dalam hatinya muncul kebencian dan niat untuk membalaskan dendam Ibunya.