
Hari sudah sore cahaya matahari sangat indah karena di gantikan oleh senja, Ansel akhirnya bangun dia melihat kamar nya ternyata masih ada Diky dan Wily tidur di kasur nya, laki-laki itu pun langsung menuju kamar mandi untuk mandi.
Setelah mandi dia langsung turun ke bawah, ternyata papa dan mama nya beserta Dimas, sedang nonton bersama. Ansel duduk di sebelah Dimas "Sudah bangun ?" tanya Dimas tanpa melihat Ansel, matanya fokus ke layar TV.
"Sudah ! "jawab Ansel dan ikut nonton bersama.
Anak mama sudah bangun sahut mama Rosa dan menggoda anaknya.
Ansel hanya diam tanpa menjawab pertanyaan sang mama, dia tau mamanya ingin menggoda nya , " Kok mama di cuekin sih" ketus mama
dengan pura-pura cemberut.
" Sudah ma, ini Ansel sudah bangun "jawab Ansel sekenanya.
" Habis kalo mama nanya di jawab dong, nggak malu apa kamu sama Dimas" balas sang mama.
" Iya ma, maaf Ansel yang salah "kata Ansel pada mama nya.
"Good job boy" timpal sang papa.
" Diky sama Wily belum bangun ? "tanya Dimas.
Belum, masih tidur, lama-lama kalo kamu kayak gini orang mengira kamu adik ku ujar Ansel.
" Malah itu lebih bagus kan" sahut mama.
"Kok bagus tante ?" tanya Dimas.
" Ansel kan teman mu, jadi kamu juga anaknya tante dong "jawab mama Rosa tanpa dosa.
"Sekalian aja ma adopsi Dimas nya "ketus Ansel.
" Iya nggak papa..nanti mama adopsi dan jadi anak mama "balas sang mama.
" Yang anak nya siapa sih" batin Ansel.
"Kami juga mau dong di adopsi sama tante" timpal Diky.
" Tentu saja "jawab sang mama.
" Kalian sudah bangun rupa nya !" tanya papa Adi.
" Sudah om" jawab mereka serentak.
"Syukurlah, biar tidak semakin sore kita makan bersama di luar saja "sahut papa Adi.
"Mau makan di luar pa ?" tanya mama Rosa.
" Iya ma, mumpung anak-anak pada ngumpul semua "jawab suaminya.
"Baiklah mama siap-siap dulu" kata mama Rosa dan meninggalkan para lelaki itu di ruang tamu.
" Kita makan dulu ya di luar "kata papa Adi.
"Siap om "jawab mereka serentak.
Mereka menunggu mama Rosa untuk ganti baju dalam kamar, keluarga mereka serasa punya anak banyak, tapi itulah kenyataan nya, teman-teman Ansel akan di anggap jadi anak mereka juga, mungkin karena mereka punya anak satu.
Setelah selesai berdandan mama Rosa pun kembali ke ruang tamu, " kalian sudah siap ?" tanya nya.
" Sudah ma" jawab mereka serentak.
Mama rosa tersenyum melihat ke kompakan mereka Ya sudah kita berangkat saja sahut mama Rosa.
" Bibi Iyem, kami pergi keluar sebentar, bibi mau di nitip apa nanti ? "tanya Ansel.
"Tidak usah mas, lagian di rumah masih banyak makanan" tolak bibi Iyem.
" Ya sudah kalo begitu bibi, kami pergi dulu" sahut Ansel.
" Iya mas Ansel, hati-hati di jalan" jawab bibi Iyem.
Akhira nya mereka pun berangkat untuk makan malam bersama seperti yang di katakana sang papa.
🍁🍁🍁
Hari sudah mulai sore, keluarga pak Hermanto masih sibuk mencari kopi di kebun mereka, walau matahari sudah mulai tenggelam ke ufuk barat tapi semangat mereka untuk mencari kopi tetap semangat.
" Kakak punya adik Nico sudah penuh ember nya " teriak adik bungsu mereka.
" Adik kakak pintar bangat sih" jawab Grace pada sang adik.
" Iya dong kak" jawab Nico.
" Dia curang kak, punya ku di ambil" sahut Elina.
" Senang lah dia kakak bela terus" kata Elina.
"Kenapa bicara seperti itu pada adikmu, kan emang masih kecil dek" balas Grace, memang adik perempuan nya ini agak sedikit keras pada adik bungsu mereka, mungkin karena tergeser dengan lahir nya Nico.
"Sudah jangan berantem lagi kalian "peringat pak Hermanto.
"Kita pulang saja ya sahut "ibu Mira.
Iya bu jawab mereka serentak.
" Sini biar bapak yang bawa kopi nya ke rumah, kalian jadikan satu ke karung itu" sahut pak Hermanto, mereka pun menuruti perkataan orang tua mereka, setelah di jadikan satu, ternyata dapat setengah karung.
"Wah lumayan juga ya bu "kata Grace.
" Iya nak, lumayan dapat segini besok kita lanjut lagi buat metik nya " balas bu Mira.
" Iya bu, lumayan buat beli gula sama ikan di pasar" jawab Grace.
" Semuanya sudah terkumpul kan ?" tanya pak Hermanto.
" Sudah pak " jawab Elina.
" Ya sudah kalo begitu biar bapak ikat "kata Hermanto dan mengikat karung yang berisi kan kopi.
" Bapak sama adik duluan saja pulang ke rumah " sahut bu Mira.
" Loh kenapa bu ? "tanya pak Hermanto.
"Ini pak, kita mau metik sayur dulu sama cabe sekalian bawa kayu, buat persediaan di rumah" jawab bu Mira.
"Ya sudah kalo begitu, kalian pulang nya jangan lama, hari sudah mulai gelap" ujar pak Hermanto.
"Iya pak" jawab mereka serentak.
"Adik Nico ayo kita pulang duluan "sahut pak Hermanto pada anak bungsu nya..
" Adik mau bareng sama kakak saja" jawab Nico.
" Ibu sama kakak mau petik sayur dulu, kita pulang duluan ya nak, habis ini kita ke warung buat beli jajan "bujuk pak Hermanto.
"Beneran kan pak ?" tanya Nico.
" Tentu saja, memang bapak sedang bohong" jawab pak Hermanto.
Nico memang harus di bujuk seperti itu, karena kalo tidak dia akan menunggu ibu dan kakaknya pulang, adik nya masih kecil, kasihan kalo nunggu sampai sore.
" Ayo pak, kita pulang kata Nico "dan mendahului pak Hermanto.
" Pamit dulu sama ibu dan kakak nak "balas nya.
Nico hanya mengangguk kan kepalanya dan menuruti apa yang di ucapkan pak Hermanto,
"Ibu..kakak..adik sama bapak pulang duluan ya " teriak Nico.
"Iya dik, hati-hati di jalan, jangan nakal sama bapak "jawab Ibu.
"Iya ibu "sahut Nico.
Nico dan pak Hermanto pulang duluan membawa kopi hasil mereka petik, sedangkan ibu Mira dan kedua putrinya mengambil sayur dan cabe untuk di masak buat makan malam.
"Bu..ternyata sayur kita banyak juga ya bu" kata Elina.
"Iya nak, lumayan buat kita masak dari pada beli" jawab bu Mira.
" Iya bu, lumayan buat beberapa hari "timpa Grace.
" Kakak ini , paling-paling besok siang udah habis" kak sahut Elina.
" Benar juga ya dek "jawab Grace dengan tertawa.
" Ibu, besok jumat mau ke pasar, siapa yang mau nemenin ibu ?" tanya bu Mira pada ke dua putrinya.
"Kakak saja bu, Eli masih ujian " jawab Elina, dia memang menghindar buat naik angkot, karena suka mabuk dalam perjalanan.
" Baiklah, biar kakak yang nemenin ibu" kata Grace.
...****************...
Mohon dukungannya teman-teman...
jangan lupa di like 🙏🙏