Hope

Hope
JALAN-JALAN



Hari berganti, tanpa terasa sudah dua Minggu Feby tinggal di rumah Joy. mereka semakin akrab dan mulai melakukan banyak hal bersama-sama. seperti mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan memasak. Feby mulai mahir menyiapkan bumbu masakan, meski harus ada instruksi dari Joy.


pagi ini, Joy berencana mengajak Feby ke tempat favoritnya. tempat dimana dia tidak akan pernah bosan berada disitu meski hanya melihat kelap-kelip lampu yang bertaburan di malam hari.


"gimana? sudah siap?"


"kita akan kemana? kenapa harus bawa perlengkapan perang begini?"


"haha, apa yang perang? kita cuma bawa jaket dan selimut"


"emang kita akan menginap di gunung?"


"sudah, diam lah. nanti kamu akan tau"


Joy menggendong perlengkapan mereka di ransel miliknya. Dengan bekal makanan yang sudah di persiapkan di siang hari.


"kira-kira berapa lama waktu menuju ketempat itu?"


"sekitar satu jam, kita akan naik kereta dari sini"


mereka terus berjalan menyusuri gang tepat tinggal mereka hingga sampai di stasiun yang tidak jauh dari rumah Joy.


"kamu tidak akan menjual ku kan?" tanya Feby menyelidiki. sebab Joy sejak awal tidak memberitahu tempat yang mereka datangi.


"haha sepertinya kamu sering di tipu ya, sampai sekhawatir itu"


"enggak juga, cuma waspada aja"


"Hem"


"jangan macam-macam loh, aku bisa bela diri"


"terus?"


"ya kamu harus tau bahwa aku sangat kuat"


"kuat katamu?"


"ya, sangat kuat dalam membela diri"


"lalu kenapa seminggu yang lalu kau tergeletak di jalanan dengan luka parah di tubuhmu?"


"ah maksudnya ilmu bela diri adalah jurus membela diri sendiri saat di salahkan"


"haha, dasar" Joy tanpa sadar mengelus rambut Feby.


melihat perlakuan itu, Feby tertegun.


pria yang dingin dengan wajah angkuhnya sudah berubah jadi pria humoris yang manis.


ah apa ini hanya jebakan? pikir Feby sepanjang jalan.


hingga saat mereka asik bercerita, Feby merasakan kantuk yang amat parah. entah Joy sudah memberinya obat tidur, apa karena rasa nyaman di dalam dirinya hingga dia begitu ingin tidur saat berada di dalam kereta.


Joy melihat Feby yang berusaha menahan kantuknya,


"sini, tidurlah di pundakku" Joy memberi isyarat dan menarik kepala Feby.


menerima perlakuan itu, Feby merasa bahwa apa yang Joy lakukan sangat tulus dan tidak ada alasannya menolak.


Feby tidur di pundak Joy, aliran kehidupan mulai mengalir dari mulut Feby.


"ah maafkan aku, pundakmu jadi basah" Feby terbangun dan menyadari bahwa dia ngences. dengan sigap langsung melap pundak Joy dengan tissue yang dibawa nya.


"maaf ya, kamu gak marah kan karena aku ngences?"


"Hem"


"tuh kan wajahnya berubah jadi seram lagi, tau gitu aku nyender ke jendela kereta aja"


"aku gak marah bawel, sudah jangan berisik. sebentar lagi kita akan sampai di stasiun tujuan kita"


"ah iya" Feby salah tingkah dengan kalimat bawel yang Joy keluarkan.


setelah beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah daerah pinggiran kota. jam menunjukan pukul empat sore. mereka berjalan menuju tempat yang Joy maksud.


Feby mulai cemas dengan apa yang di lihatnya. sebuah bangunan tua yang masih tampak kokoh namun sudah tidak terawat.


"ngapain kita kesini?"


"aku ingin menculikmu"


"jangan.. tolong lepaskan aku. kalau kamu tidak mau aku tinggal dirumahmu, aku janji akan pergi tapi tolong jangan menculikku" Feby mulai terisak dan ketakutan. tubuhnya mulai gemetar mengingat bagimana tunangan kakak laki-laki nya memperlakukan dia.


"aku tidak mungkin melakukannya bodoh, tenanglah. kamu akan tau kalau sudah tiba di tempat yang aku maksud."


Joy masih melihat ketakutan dimata Feby. gadis itu tampak sangat trauma dengan penculikan.


"hei jangan takut, aku berjanji tidak akan melakukan hal buruk padamu. percayalah."


Feby melihat tatapan Joy begitu tulus ketika memintanya untuk percaya.


"baiklah. aku percaya"


Joy menggenggam erat tangan Feby, dan menariknya berjalan menaiki tangga.


"kalau kamu gak kuat bilang ya, aku akan menggendong mu"


"aku sudah tidak kuat, ini sudah lantai 11"


"yaudah, sini ku gendong. naiklah ke punggungku" Joy membungkukkan badannya.


setelah sampai di lantai 12 Joy membuka pintu keluar. tampak atap gedung yang tidak sama dengan bangunan lainnya. gedung yang begitu indah dengan coretan-coretan seni di bagian temboknya.


"waw keren, semua ini kamu yang buat?"


"Yap.. aku sering ketempat ini bila ingin sendiri. menurutku disini aku bisa melakukan banyak hal. dan sampai semua tembok tak tersisah sedikitpun."


"kamu menggambar semua ini sekaligus?"


"enggak lah, bertahap pastinya"


"tapi kenapa seindah ini? lihat pemandangan di tembok itu, bukan kah itu kota di mana kamu tinggal? namun gambar itu tampak lebih sungguhan dari tempat tinggalmu. ah indah sekali"


Feby memuji hasil karya tangan Joy. sungguh dia sedang bersama dengan seniman hebat.


"sebenarnya itu belum ada apa-apanya, lihatlah matahari yang mulai tenggelam itu. tampak bulat dan begitu indah. warna jingga di sore hari akan membuat mata mu mengagumi keindahan langit" Joy mengarahkan pandangan Feby pada sudut dimana mereka akan menyaksikan sunset.


seakan terhipnotis pada suasana di atas gedung, Feby merasa semua yang dia rasakan seperti larut dalam keindahan sunset di sore hari.


tidak ada yang menjadi beban lagi, semua kesulitan yang ia alami adalah bentuk dari proses agar ia bertemu dengan seseorang setulus Joy.