Hope

Hope
10. Rencana Joy untuk Feby



Siang ini, Joy melakukan aktivitas kerja seperti biasanya. sementara Feby dirumah mulai berpikir untuk mencari pekerjaan.


seakan mereka terkoneksi, pikiran Joy pun saat ini tentang kehidupan Feby selanjutnya. bagaimana ia akan tetap bisa hidup aman, tanpa ada orang-orang di masalalu nya yang muncul suatu saat.


"kenapa bengong Bro?" sapa seorang teman Joy.


"ah gapapa bro, cuma lagi ada something aja" jawab Joy enteng


"cerita lah, siapa tau kan bisa bantu"


Joy memikirkan fakta bahwa temannya satu ini kerja di bagian detektif.


"Bro, tapi ini rahasia."


"aman bro, apa sih. kayaknya serius banget ini"


"gini Bro, beberapa waktu lalu ada cewek yang di culik terus di buang dekat gang rumah. keadaannya miris banget, sampai gak tega kalau di lihat langsung. Dia di culik sama tunangan kakaknya. karena dianggap mengancam hubungan mereka. sekarang cewek itu ada dirumah, dan udah lebih baik keadaanya"


"wah lapor aja, biar di tindak lanjuti"


"tadinya sih mikir gitu, tapi kalau sampai kalah bukti juga bakal di tuntut balik kan?"


"iya juga sih, terus kamu mau gimana?"


"aku mau ganti biodata dia, semua nama, tanggal lahir, dan lainnya harus di ubah. kalau gak dia bisa ketahuan masih hidup"


Joy tampak menunggu respon Bona, sahabatnya. berharap ada solusi baru yang akan memecahkan kebingungannya.


"gue punya kenalan sih yang bisa ngurusin gini, tapi harus bayar mahal"


Joy langsung berpikir bagaimana dia akan mendapatkan uang untuk membayar pergantian biodata Feby.


"emang brapa?" tanya Joy meyakinkan nominalnya.


"500 juta, tapi di jamin sampai ke akar-akarnya."


"iya, jadi akan ada satu indentitas yang emang bisa di jamin kalau itu asli. dengan menyamakan di sekolah yang di maksud, dan keluarga baru tentunya."


"maksudnya keluarga baru?"


"jadi dia akan di Carikan keluarga baru, yang akan bisa di ajak kerja sama bahwa dia adalah anak dari pasangan tersebut?"


"sampai sedetail itu?"


"Yes, dan untuk semua hal itu dengan harga segitu pasti setimpal lah"


"gak usah takut kalau bakal di tipu, lu akan bayar setelah semua selesai kok"


"serius?"


"iya"


"tapi dapat duit dari mana sebanyak itu?"


"Joy, sudahilah semua keegoisan mu. kembali ke perusahaan Ayahmu. terima saja pernikahannya."


Bona menarik nafas sejenak, dan melanjutkan kalimatnya


"menurut pengamatan yang sudah ku lakukan terhadap ibu tiri mu, dia wanita yang baik kok. dia memang belum menikah sampai usia 35 tahun karena selalu bekerja untuk menyekolahkan adik-adiknya. dia adalah tulang punggung keluarganya"


"Sorry Bro, saat ini aku memang belum bisa menerima kenyataan itu. nanti akan ku pikirkan cara mendapatkan uang itu"


Joy menepuk pundak Bona dan meninggalkannya.


memang setelah Ibu nya meninggal, Joy adalah yang paling terluka. selain karena Ayahnya selalu sibuk bekerja, Joy hanya tumbuh dan besar dalam asuhan pembantu.


Ayah Joy adalah pemimpin perusahaan dibidang tekstil. bukan hanya itu, Ayahnya juga memiliki pabrik konveksi pakaian, juga sepatu yang sangat berkembang. setelah kepergian ibu Joy, duka itu membuat Ayahnya kehilangan semangat.


setelah pernikahan ayahnya itu lah Joy pergi ke Kota B untuk mengasingkan diri dan hidup mandiri.


*


Di sisi lain, Feby tiba-tiba ketakutan saat ada yang menggedor pintu rumahnya. berkali-kali suara ketukan itu terdengar tanpa ada suara.


karena rasa takutnya, Feby bersembunyi di dalam lemari pakaian yang kosong. sepertinya orang yang di luar mulai mengelilingi rumah, berharap menemukan cela untuk mengintip ke dalam.


Feby semakin frustasi memikirkan siapa yang berada di luar, saat ia mulai mendengar percakapan dua orang laki-laki yang menyebut namanya.


"gak ada Bang, kayaknya rumah ini kosong."


"duh, udah dua Minggu kita mencari keberadaan Nona Feby. tapi belum juga ada hasilnya. gimana penculik itu, sudah mengaku?"


"belum bang, dia hanya bilang kalau mereka mencuri uang dan membuang kesini"


"ayok cabut, sebelum warga berpikir kita maling"


mendengar sepenggal percakapan tersebut, Feby yakin bahwa yang menyuruh orang untuk mencari dirinya adalah kakak tirinya.


Feby masih mematung di dalam lemari, nafasnya mulai terasa sesak. dia belum berani keluar, karena kakinya terasa kelu dan kehilangan tenaga.


seakan lumpuh, Feby pelan-pelan pembuka pintu lemari. dan, bruak.....


Feby tak sadarkan diri.


sedangkan Joy, saat ini mulai merasa gelisah. seperti ada sesuatu yang terjadi, dan membuatnya ingin segera pulang.


Joy menyelesaikan pekerjaannya, dan kembali ke rumah dengan angkutan umum. dia membeli bahan makanan, juga beberapa roti untuk dinikmati dengan kopi.


sesampainya dirumah, dia mencari setiap sudut. Feby tidak terlihat, Joy semakin khawatir dan mencari kebagian kamar.


ia terkejut melihat Feby tergeletak di lantai, sepertinya dia habis menahan nafas cukup lama hingga wajahnya seperti kekurangan oksigen.


tanpa berpikir panjang, Joy membetulkan posisi Feby. mengangkat Feby ke atas tempat tidur dan memberikan CPR. beberapa saat kemudian, Feby tersadar dan memeluk tubuh Joy.


"aku..."


"kamu kenapa Feb?"


"aku takut"


"kamu takut apa?"


"aku takut kalau mereka akan menemui ku"


"sudah tenang lah, sebentar aku ambilkan minum."


Joy berlari kecil menuju dapur dan mengambil segelas air, kemudian memberikannya pada Feby.


"minumlah, tenangkan dirimu dulu"


Feby mengambil Gelas yang di sodorkan Joy, dan perlahan meminumnya.


"ada apa sebenarnya?"


"tadi ada suruhan kakak tiru ku mengetok pintu rumah ini, sepertinya mereka terus mencari keberadaan ku Joy. aku takut, aku gak mau terlibat dalam hidup mereka lagi. aku ingin lepas dari masalah ini"


"tenanglah, mereka tidak akan tau. yang penting kamu selalu di dalam rumah dalam keadaan apapun. jangan keluar selama aku gak ada disini."


"tapi bagaimana kalau mereka tidak berhenti mencari keberadaan ku Joy?"


"aku akan memikirkan caranya"


Joy mulai merencanakan bagaimana ia akan mengumpulkan uang agar indentitas Feby segera berubah.