Hope

Hope
MATI LAMPU



Setelah seharian sibuk dengan karya tangan Joy dan Feby, mereka akhirnya memutuskan melanjutkan kegiatan menggambar esok hari.


Feby yang cepat sekali belajar sangat membantu Joy menggambar pemandangan senja di pantai. awalnya Joy ingin menggambar pemandangan langit dan awan saja, namun Feby menceritakan bahwa melihat senja adalah hal yang membahagiakan.


"segeralah mandi, aku akan keluar membeli bahan makanan" Joy memerintahkan Feby.


Feby bergegas mengambil baju ganti dan masuk ke kamar mandi. sementara Joy sudah berjalan keluar rumah.


Joy kembali kerumah saat Feby sudah selesai mandi, di letaknya belanjaan yang dibelinya.


"aku mandi dulu" Joy meninggalkan Feby dan bergegas mandi.


***


Mereka sudah duduk berhadapan setelah bergulat di dapur. Feby takjut melihat Joy yang sangat mahir dalam memasak.


"makanlah, kamu pasti lelah membantuku" kata Joy yang melihat Feby masih menganga memperhatikan makanan di depannya.


"aku harus sering belajar darimu, trimakasih yaaaa" jawab Feby berbinar.


mereka menikmati makanan yang di masak Joy, Ayam teriaki serta sayur bayam bening dan tempe goreng.


makanan sederhana yang tingkat kelezatan nya melebihi Restoran berbintang lima.


setelah merasa kenyang, Feby mencuci piring sementara Joy mandi kembali karena merasa gerah.


Feby pun merasa perlu bersentuhan dengan air, setelah Joy selesai ia pun masuk ke dalam kamar mandi. membuka seluruh pakaiannya. mulai mengguyur dari bagian kaki, kemudian ke seluruh badan.


ia menyabuni badannya, menikmati mandi setelah gerah melakukan aktivitas.


namun tiba-tiba, lampu padam. sontak saja ia menjerit ketakutan.


"hei diam lah, jangan berteriak" kata Joy dari balik kamar mandi.


"tolong, aku takut sekali"


"ambillah lilin ini" Joy mengetuk pintu


Feby membuka pintu, dan mengintip.


"balikkan badanmu"


"iya iya, ini"


Feby mengambil lilin dari Joy dan meletakannya di atas bak mandi.


melanjutkan ritual mandinya semakin cepat karena rasa takut yang menyelimuti dirinya.


entah kenapa nyalinya menciut setiap mati lampu dan hujan. dia begitu takut serta khawatir.


Feby keluar dari kamar mandi memegang lilin di tangannya, melihat sekeliling mencari sosok Joy.


dia meletakkan lilin di tempat yang aman agar tidak membahayakan.


dia mulai melihat ke langit-langit kamar, "ah indah sekali ternyata. tampak begitu nyata dan seperti sungguhan"


"andai saja aku bisa menggambar seperti dia, pasti akan aku gambar di setiap sudut kamarku"


"tidurlah, ini sudah larut malam. jangan berbicara sendiri" kata Joy membuyarkan lamunan Feby.


Feby diam tanpa membalas ucapan Joy.


di peluknya guling kecil yang lebih tepatnya seperti guling anak bayi.


Feby masih terus berusaha memejamkan matanya, namun sudah hampir satu jam ia belum juga terlelap.


menggeser posisi badan menghadap kiri, kemudian menggeser lagi menghadap kanan. kiri kanan, kiri kanan.


"tak bisa kah kau tidak bergerak-gerak?"


"ah maaf, aku kesulitan tidur"


"cobalah pejamkan matamu, dan jangan memikirkan apapun"


"baiklah"


namun usaha yang dilakukannya juga tidak berhasil. Feby tampak resah dan tidak bisa memejamkan matanya.


"kenapa lagi?"


"sudah ku coba, tapi gak bisa juga"


"kamu takut kegelapan?"


"sepertinya iya, aku tidak pernah berani tidur di kegelapan. biasanya ada lampu LED jika dikamarku, atau ada mesin genset yang membantu penerangan dirumah."


"kemarilah, kalau kamu tidak keberatan. tidurlah di sampingmu. mungkin rasa takutmu akan hilang"


Feby melangkahkan kakinya, menuju tempat tidur dimana Joy berada.


"kamu tidak terganggu jika aku tidur di sebelahmu?"


"tidak, tidurlah" Joy menjawab sambil menggeser posisinya lebih ke pinggir agar tidak terlalu sempit untuk Feby.


malam ini, Feby tidur di samping Joy untuk yang ke dua kalinya.


seperti dunia terasa terhimpit, Feby merasa canggung dan berat untuk bernafas.


*cobaketik