
Prajurit itu kebingungan dengan yang terjadi, benar benar terjadi dalam persekian detik. Dia melihat 2 tebasan yang secara bersamaan mengarah kepadanya. Prajurit itu terus mereka ulang kejadian itu di dalam kepalanya. Hasil yang di dapatnya dia benar-benar melihat 2 serangan dari arah yang berbeda secara bersamaan dengan 1 pedang.
Mika menurunkan pedangnya, kemudian memasukannya kembali ke dalam sarungnya. Tanpa perintah dia langsung Tunduk, memberi hormat kepada seorang Pria yang memakai Jubah merah panjang, dan di atasnya Mahkota dari emas murni.
Para prajurit yang berada di dalam bangunan tersebut kemudian Tunduk kepadanya setelah Mika. Hanya 1 Prajurit saja yang tidak tunduk kepadanya, Dia adalah Prajurit yang di lawan oleh Mika. Dia masih terdiam dengan posisi bersiap menyerangnya secara Diagonal ke arah dada.
Pria itu tersenyum, melihat Prajuritnya berlatih dengan keras dan giat. Dia bisa melihat semangat bertarung Prajuritnya untuk melindungi kerajaannya. Terutama kepada Mika dan Prajurit yang tadi melawan Mika, dia menaruh harapan yang besar kepada mereka berdua. Prajurit itu kemudian tersedar, dan melihat sekelilingnya, para prajurit lain telah tunduk. Betapa terkejutnya Prajurit tadi melihat Raja Moonlight telah ada di depannya. Prajurit itu langsung Tunduk kepadanya.
Mika kemudian kembali berdiri, Prajurit lain pun berdiri begitu pula dengan Prajurit yang tadi melawan Mika. Raja itu menatap ke arah Mika, kemudian berjalan menghampiri
Mika bersama Putrinya.
"Mika, ajaklah Putriku bermain ya. Aku mohon." Pintanya kepada Mika dengan senyum Ramah.
"Ya, dengan senang hati." Jawab Mika dengan cepat.
Sesaat kemudian Mika tersadar ada sesuatu yang Aneh. Dia sadar belum mengatakan Namanya sama sekali kepada Raja. Mika masih memerhatikan Raja yang tengah berbisik kepada Putrinya. Tidak lama kemudian Putrinya mengangguk, kemudian berlari kecil ke arah Mika. Lalu menarik bajunya ke bawah, Mika pun milirik ke arah sang Putri. Mika melihat isyarat dari Putri untuk sedikit membungkuk. Mika pun membungkuk lalu Putri pun berbisik kepadanya.
Prajurit masih hanya terdiam melihat ke arah Mika yang tengah mendengarkan bisikan dari Putri. Dia masih berpikir tentang serangan dari Mika tadi.
"Apakah mereka bisa melihatnya, atau hanya aku saja?" pikirnya.
Sang Putri sekitika memegang tangan Mika, kemudian menariknya untuk keluar dari tempat pelatihan. Dengan wajah keheranan Mika pun menuruti keinginannya, dan berjalan keluar bersama Putri. Raja tersenyum melihat mereka yang sepertinya akan sangat akur.
Seketika pandangan Raja beralih kepada Prajurit tadi. Diapun kaget ketika Raja melihatnya. Raja itu kemudian berjalan ke arahnya, dan berhenti di depannya sembari tersenyum.
"Kau akan menjadi Prajurit hebat suatu saat nanti bersama Mika. Aku berharap agar kau bisa terus bersama Mika, aku menaruh harapan besar kepadamu." Ucap Raja, memegang pundak Kanan Prajurit itu.
Prajurit itu terdiam saat mendengar hal itu dari sang Raja, sang Raja masih tersenyum ke arahnya lalu kemudian berbalik dan berjalan pergi meninggalkannya untuk pergi keluar dari tempat pelatihan prajurit.
Tapi kemudian...
"Hei! kau sedang apa, melamun seperti itu." Tanya seseorang kepada Pria itu dengan menepuk pundaknya dari kanan dengan cukup keras.
Pria itu kemudian tersadar, dari tadi dia melamun, mengingat perturangannya dulu dengan Mika. Dia langsung berbalik melihat siapa orang yang tadi menepuknya dengan cepat.
"Tenang tenang, kau tidak perlu kaget seperti itu Kitori.. " Ucapnya dengan tersenyum melihat dia yang langsung menatap ke arahnya sembari sedikit mengakat kedua tangannya.
Kitori kemudian menghela nafas, lalu..
"Kau sama sekali tidak berubah ya, Mika." Jawab Kitori ketika melihat Mika dengan ekpresi sesaat kecewa, tapi kemudian tersenyum senang.
Benar, pada akhirnya mereka berdua menjadi seorang prajurit kerajaan yang hebat. Mika menjadi panglima besar kerajaan, sedangkan Kitori menjadi seorang Ahli Strategi, terutama dalam hal pertahanan, dialah yang terhebat.
Mika adalah Pedang, Kitori adalah Perisai. Perumpamaan yang tepat untuk mereka berdua, dan yang mengendalikan mereka adalah Arth. Tidak heran Moonlight bisa mengusai satu perdelapan wilayah bumi.
"Nah, Kitori aku membawa seseorang yang sangat menarik kesini."
"Seseorang yang sangat menarik?"
"Di disana." Mika pun menunjuk ke arahnya.
Kitori berbalik melihat ke arah orang yang di tunjuk oleh Mika, Betapa terkejutnya dia ketika melihatnya dia tidak menyangka di akan datang kesini.
"Kau kenapa? Aneh sekali, kau bahkan belum bertemu dengannya sama sekali." ucap Mika ketika melihat ekspresi muka Kitori. "Kalau tidak salah namanya.. "
"Rizuki San." ucap Kitori, memotong kata-kata Mika.
Mikapun kaget, dia tidak menyangka bahwa Kitori tahu siapa dia. Mika kemudian melihat ke arah Rizuki yang berada di bawah, Rizuki berdiri diam memerhatikan para prajurit yang sedang berlatih. Kemudian ia sadar seperti ada yang memperhatikannya dengan perasaan yang berbeda.
Rizuki berbalik kemudian melihat keatas, Rizuki melihat teman lamanya sedang bersama dengan Mika, ia benar benar suka melihat ekspresi muka Kitori yang kaget melihatnya. Rizuki ingin sekali meledeknya tapi karena dia sudah menjadi Guru sekarang dia harus menjaga sikapnya.
Rizuki sedikit mengangguk, menurunkan pandangannya ke bawah, sebuah tanda hormat kepada mereka yang lebih tinggi Kastanya. Rizuki kemudian mengangkat lagi pandangannya, tapi tidak melihat ke arah mereka lalu kemudian berbalik di saat Rizuki ingin melangkah Kitori langsung..
"Apa apaan dengan sikap mu itu!! Rizuki!!!" Teriaknya. "Orang bodoh sepertimu tidak pantas untuk sikap hormat seperti itu!!!"
"Kitori?" Ucap Mika dengan cepat dan pendek, serta dengan nada yang bercampur kaget dan bingung.
Mika melihat muka Kitori yang benar benar kesal ketika Rizuki, memberi Hormat kepadanya. Tangannya mengcekram pagar kayu dengan sangat kuat, membuat Kayu setebal 18cm langsung hancur sekali cengkram. Mika belum pernah melihat Kitori sekesal ini, lalu kemudian ia langsung melihat ke arah Rizuki dan terus bertanya-tanya di dalam pikirannya.
"Rizuki San. Siapa kau sebenarnya?"