
"Cepat juga dia berjalan. Apakah dia tahu dimana Hima berlatih. Sudahlah." Kataku, lalu menambah sedikit laju jalanku.
Masih berjalan di lorong kerajaan yang sepi. Tidak ada orang yang berjaga di setiap lorong, mereka berlatih tidak jauh dari Kastil ini. Jadi yang berada di dalam kastil ini adalah orang-orang yang penting di dalam sebuah kerajaan.
Untuk mengusir kejenuhan, aku bersiul di sepajang lorong. Sunyinya lorong membuat suara siulan yang kecil menjadi terdengar agak keras.
Sebanarnya siulan itu adalah Lagu dari temanku dulu. Dia memberi nama lagu itu "Matinya Sang Raja."
Dia dulu sering menyanyikannya, sedangkan aku suka lebih suka bersiul di hutan, di tepi sungai, atau di tepi tebing.
Mika sudah menunggu di akhir lorong, dia bersandar sambil terus membaca Berkas yang kuberikan kepadanya.
Dia sedikit kaget mendengarku bersiul. Dia kaget bukan karena suara bersiulku, tapi karena Dia merasa siulan tersebut mirip dengan Lagu yang pernah ia dengar dulu.
Aku bersiul sambil menutup mataku, aku melakukannya demi menghayatinya, dan lagi lorongnya benar benar sepi. Jadi tidak mungkin aku tersandung oleh seseorang.
Seketika Mika mengalihkan pandangannya, yang tadinya membaca kini mencari sumber suara yang ia dengar. Dan menemukannya.
"Rasanya aku pernah mendengar siulan itu. Tidak, itu lagukan." Ujar Mika dengan bersandar di dinding. Lalu menutup berkasnya.
Aku bisa melihatnya, sepertinya dia sudah menungguku cukup lama. Aku berhenti bersiul, lalu menggantinya dengan senyuman.
"Ya begitulah, sepertinya lagu itu cukup terkenal." Jawabku.
"Jadi dimana dia?"
"Tenanglah Mika, tidak jauh dari sini. Setalah kita keluar dari lorong ini."
"Baiklah kalau begitu." Mika, meluruskan kembali badannya, dan berjalan duluan keluar dari lorong.
"Sepertinya kau tidak suka basa basi ya, Mika."
Mika hanya diam, aku tahu dia pasti mendengarnya. Jadi aku mengartikannya sebagai tanda bahwa yang aku katakan itu Benar. Dia tidak suka basa basi.
Aku tidak jauh dari belakangnya menyusul dia yang sudah keluar. Sesaat di luar Cahaya matahari membuat mataku menjadi sedikit kabur. Aku tidak terlalu biasa pergi keluar, aku hanya keluar jika Hima sudah selesai dengan Tugas yang kuberikan kepadanya.
Aku sudah mulai terbiasa dengan cahayanya. Aku bisa melihat pemandangan berwarna Hijau di depanku. Benar, tempat ini adalah salah satu taman kerajaan, disini hanya tanaman berwarna Hijau.
"Nah San-"
"Panggil aku Rizuki saja. Aku tidak terlalu terbiasa di panggil San, karena itu adalah nama Keluargaku." Ucapku, memotong kata yang ingin di ucapkannya.
"Tidak, nama Rizuki terlalu panjang jika di ucapkan. San jauh lebih mudah."
"Hanya itu saja. Jika kau mau, kau bisa memanggilku Uki saja."Usulku.
"Apakah masih jauh, San?"Mengalihkan pembicaraan.
"Tidak. Kita sudah sampai."
Kami berhenti. Mika kembali agak terkejut, melihat tempat Hima berlatih.
"Apakah kau bercanda, San?" Tanya ia kepadaku, dengan melihat ke segala arah tempat Hima berlatih.
"Tentu saja tidak." Jawabku, dengan tersenyum puas ke tempat latihannya.
Sebenarnya taman yang di pakai tempat latihan Hima adalah taman terluas yang di miliki oleh kerajaan ini. Taman Bambu. Nama dari taman ini. Sesuai dengan namanya taman ini di penuhi Pohon Bambu.
Meskipun dinamakan Taman Bambu, bukan berarti hanya terdapat Bambu saja. Terdapat pohon lain. Pohon terbesarnya adalah Pohon beringin yang terdapat di tengah-tengah kerumunan Bambu.
"Sudah aku duga kau akan kaget melihat ini Mika."Kataku masih tersenyum puas melihat ke arah pohon pohon bambu yang sudah terpotong dan berserakan.
Mika menelan ludahnya saat meliha itu semua. Dia bukan hanya bisa melihat Bambu yang terpotong, ia melihat ke arah lain. Terdapat beberapa Logak yang dalam, membekas di taman ini.
"Apa yang telah kau ajarkan kepadanya, San?" Tanya dia kembali, dengan rasa tidak percaya apa yang telah dia lihat dengan matanya.
"Aku hanya mengajarkan Pelajaran Dasar, sesuai apa yang aku tulis di Berkas itu." Jawabku, dengan menunjuk ke arah berkas yang masih di pegang oleh Mika.
Dia masih melihat keadaan sekitar taman yang sudah seperti terjadi sebuah pertempuran. Meskipun dia sudah terbiasa melihat bekas pertempuran seperti apa, ia sudah tahu bekas pertempuran kecil, sedang, dan, besar.
Yang terlihat oleh Mika sekarang adalah seperti Bekas pertempuran Sedang. Yang membuat dia tidak percaya dengan apa yang ia lihat adalah. Semua ini adalah hanya bekas latihan dari satu satunya murid yang dimiliki oleh Rizuki. Yaitu Hima.
"Bagaimana kau masih ingin melanjutkan sebuah Ujian kepadanya, Mika?" Tanyaku kearahnya dengan senyuman puas, setelah melihat wajah Mika yang kaget.