History of Rizuki: Kingdom

History of Rizuki: Kingdom
Ujian: Putusan Akhir.



Mika masih melihat keadaan sekitar taman. Lalu menelan ludahnya, menutup kedua matanya, menghela nafas panjang. Dia menghelan nafas panjang untuk memperbesar dan memperluas jarak pandangannya.


"Nah San.. "


Mika berbalik dan menatap ke arahku, lalu ia tersenyum ke arahku. Jujur saja, meskipun hanya Senyuman tipis, tapi itu sudah cukup. Lalu ia menepuk pundak kananku.


Selanjutnya yang terjadi setelah itu sepertinya tidak akan terlalu menarik.


"Dasar Hima, kau memang berbakat tapi kalau begini aku terpaksa memberikanmu.. Ah sudahlah!" Gerutuku sambil terus menulis laporan tentangnya di dalam ruanganku.


Kejadian sebenarnya


Saat Mika menepuk pundakku. Pasti kalian akan mengetahui apa yang aku katakan kepadanya kan. Kalian Benar. Tentu saja aku pasti mengatakan..


"Apakah kau merasa kagum padaku, Mika. Jangan-jangan kau ingin menjadi muridku." Katataku menatap Mika dengan serius.


"Kau bercanda?" Tanya Mika.


"Aku serius." Jawabku.


"Kau tahu Biografiku?"Tanya dia lagi.


"Tentu saja." Jawabku


"Apa yang tertulis di sana."


"Kau bisa mengalahkan 10 Wyvern, 3 Elder Dragon, menghalau Hydra-" Kataku menjelaskan Biografi Mika.


Tapi saat menjelaskannya Mika memotongnya perkataanku.


"Nah kau sudah tahu." Katanya sambil menurankan tangannya dari pundakku.


"Ahh, aku baru ingat. Kalau tidak salah kau lemah terhadap-"


Mika dengan cepat langsung menutup mulutku dengan tangannya.


Aku sendiri terkejut melihat Refleknya yang begitu cepat. Panglima kerajaan memang Berbeda dari manusia biasa. Atau mungkin saja hanya dia saja yang Special.


"Ekhm.. Itu terlalu sensitif untuk dikatakan. Kau tidak malu apa."


"Bhuat ampha mhalu. Thapi shebeulumnya, tholong lemphaskan thanganmhu dhari mhulutku." Pintaku kepada Mika.


"Baiklah." Jawabnya, sambil melepaskan Tangannya dari mulutku.


"Ekhm... Jadi begini San. Aku memang sedikit terkejut dengan apa yang terjadi di sini, aku tidak menyangka sudah sejauh ini Hima belajar kepadamu. Tapi San ini masih belum cukup, lebih tepatnya ini masih kurang. Sepertinya kita memang harus memberikan Ujian kepadanya San. Nah San, itu adalah usulanku. Bagaimana menurutmu?"


"Loh San kau di mana?"


Saat Mika mengutarakan apa yang dia lihat. Aku sudah pergi meninggalkannya mencari Hima, yang sudah pasti ada di atas pohon beringin.


Aku berhasil menenumkannya. Muridku satu satunya, Hima. Dia adalah orang yang cukup unik. Saat aku melihat ke arahnya, aku bisa seperti melihat diriku sendiri dulu saat menjadi seorang murid. Tapi hanya kegigihan dan sikap nakal, apalagi sikap pemalasnya saja yang mirip denganku.


Muridku satu-satunya yang paling periang, dia mudah akrab dengan orang yang baru di temuinya. Tanpa meninggalkan kewaspadaannya. Meskipun pemalas, dia cepat sekali belajar dari pengalaman. Cara belajar dengannya sedikit Teori, banyak Latihan. Itulah sistem yang kupakai.


Dan lagi Hima adalah Siluman, lebih tepatnya Siluman Rubah. Semakin banyak ekor dari Siluman Rubah, itu menandakan Kebijaksanaan yang besar, dan umur yang panjang. Untuk saat ini dia hanya memiliki 1 ekor.


Aku berjalan mendekatinya untuk membawanya menuju kamarnya agar dia bisa istirahat dengan tenang. Tapi saat sedikit lagi jarakku dekat dengan Hima. Tiba tiba aku merasakan seperti ada orang yang datang ke arahku, dan berniat untuk menusuk dari belakang.


Tapi itu sudah terlambat, dia sudah ada di belakangku. Dia sudah siap menancapkan pedangnya di pungguku. Aku tidak bisa melakukan apa apa selain menerima serangannya. Tapi itu tidak akan terjadi, karena orang yang di belakangku adalah Mika.


"Beraninya kau meninggalkanku, San!" Ucap Mika, dengan pedang yang siap di tancapkan kepadaku kapan saja.


"Baiklah aku minta maaf karena meninggalkanmu tadi, Mika." Ucapku


Aku pun berbalik, saat berbalik arah pedangnya berubah arah menuju leherku. Pedangnya begitu terang memancarkan sinar terang berwarna perak.


Terlihat seperti Taring salah satu Elder Dragon. Tapi berbeda. Itu hanya pedang yang sering di pakai oleh para prajurit kerajaan.


"Nah nah Mika tenanglah.. Aku sudah bilang aku minta maafkan, ya." Ucapku sambil tersenyum, dan menbelokan arah pedangnya dengan punggung tanganku.


"Dimana Hima?"Tanya dia, sambil menarik kembali pedangnya.


"Dia sudah kelelahan, sudahlah. Jika kau ingin tahu sekali dia ada disana." Kataku sambil menunjuk ke arahnya.


"Dimana?" Tanya Mika lagi.


"Itu Hima disana." Jawabku sambil berbalik ke arah pohon beringin tempat dimana Hima tertidur.


"Lah kok. Kemana dia? Tadi dia ada di sana." Kataku sambil melihat kiri kanan depan belakang.


Di saat Mika mengarahkan Pedangnya ke arahku, dan akupun berbalik ke arahnya di saat itulah Hima bangun. Dia kaget melihatku dan melihat Panglima kerajaan sudah ada didepan matanya. Sebagai siluman rubah dia mempunyai gerakan yang cepat dan senyap.


"Ahhk.. Ya ampun, kenapa Guru ada di sini, dan kenapa dia juga membawa Panglima kerajaan ke tempat ini..." Ucapnya bersembunyi di belakang batu yang besar.


"Bahkan aku belum menyelesaikan teknik Kirin, dan juga panah yang di berikan oleh Guru juga sudah patah, karena tidak sanggup dengan penggunaan yang berlebihan." Memandangi panah yang di berikan kepadanya.


"Kau bilang belum mengusai Kirin, Hima?" Tanyaku sambil menyandar di batu Hima bersembunyi.


"Gu gu guru.. Aku minta maaf." Jawabnya dengan nada sedih di balik batu tersebut.


"Ya sudahlah jika kau belum bisa. Teruslah berlatih.."


Mendengar hal itu hati Hima langsung membaik. Dia berjalan keluar dari belakang batu, lalu dia melihat Busur sudah bersandar di tempatku tadi.


Hima tersenyum dan langsung menyambar Busur itu, lalu membidik ke arah dahan pohon beringin.


Dia merasakan sepertinya hari ini akan berhasil melakukannya, dia benar benar yakin. Dia menarik nafas pendek untuk mempersempit pandangannya. Lalu


"Melesatlah Kirin!!" Ucapnya melepaskan tali busurnya, dan berhasil.


Mika hanya memandangi Hima yang melompat kegirangan karena berhasil menguasai Kirin. Mika sedikit tersenyum lalu berbalik dan berjalan pergi meninggalkannya.


Itulah kejadian sebenarnya.


Putusan akhir menyatakan Ujian tidak di perlukan untuk Hima.


"Ahh baiklah aku terpaksa memberikan Nilai ini untuk mu Hima. Semoga kau giat lagi ya. Baiklah dengan begini Laporanku selesai." Kataku sambil tersenyum senang sambil menandatangani Laporanku. Dengan Nama 'Rizuki San.'