History of Rizuki: Kingdom

History of Rizuki: Kingdom
Perkenalan: 3



"Aku tadi hanya ingin mengujimu saja." Katanya dengan ekspresi datar.


"Baiklah, Aku bisa memahami itu. Lalu siapa namamu?" Tanyaku.


"Hima."


"Hima?"


"Iya, Hima."


"Baiklah, tujuanmu sebenarnya?"


"Aku sudah mengatakannya. Aku datang untuk menguji-"


"Aku bilang tujuanmu sebenarnya."


Sesaat Hima terdiam, lalu menundukkan kepalanya sembari menghela nafasnya.


"Aku ingin menjadi muridmu." jawabnya dengan tertunduk.


"Baiklah, pelajarannya akan di mulai besok." Kataku dengan tersenyum.


Sontak dia langsung melihat ke arahku dengan ekpresi kebingungan.


"Jangan sampai telat di hari pertamamu, Hima." Tambahku kepadanya.


Hima berdiri kemudian sedikit membungkukkan badannya memberi hormat kepadaku.


"Maaf telah membuat kekacauan." Lalu pergi meninggalkan ruanganku.


Ada berbagai macam ras di dunia ini. Salah satunya ras Siluman. Ras yang di percaya bagi sebagian pembawa pesan dari Tuhan, tetapi ada juga yang menganggap Siluman sebagai kejahatan dan pembawa sial.


Dahalu siluman sangat di takuti dan di hormati. Karena merekalah yang dapat menantang para Tuhan di dunia ini. Mereka tidak percaya dengan Tuhan yang berada di seluruh dunia ini.


Ada sebuah cerita di mana ras Siluman berperang dengan Manusia. Pertarungan yang sangat panjang. Dari ras manusia yang berperang adalah seluruh keluarga kerajaan Vin. Sedangkan dari siluman mereka menyebut diri mereka dengan Radars.


Vin adalah kerajaan yang sangat besar. Jika Moonlight memiliki kekuasaan ⅛ dari bagian bumi. Kerajaan Vin hampir mencakup ½ bagian bumi. Sedangkan Radars adalah sebutan sebagai siluman sejati.


Peperangan yang terjadi selama bertahun tahun. Jauh sebelum Moonlight berdiri.


Namun pada suatu hari mereka berdamai dengan menikahkan pemegang pedang Vin dengan seorang siluman rubah. Dengan pernikahan tersebut melahirkan Siluman dengan darah campuran. Salah satunya seperti Hima.


"Jadi begitulah penjelasannya. Nah, apakah sekarang sudah mengerti?" Tanyaku kepada Puteri sembari menutup buku sejarah miliku.


"Aku juga sudah tahu tentang hal itu. Ehh.. " Katanya sambil melihat ke arahku, lalu memiringkan kepalanya.


"Panggil saja aku Rizuki." Sembari tersenyum ramah kepadanya.


"Ekhm.. Rizuki aku memiliki 1 pertanyaan."


"Hmm?"


"Siapa nama orang pemegang Pedang Vin, dan jelaskan padaku seperti apa pedang Vin." Tanyanya.


"Dia bukan keluarga bangsawan." Jawabku.


"Apa maksudmu?"


"Dia hanya orang dengan bernama Vin dari golongan rakyat biasa." Ucapku memperjelas perkataan tadi.


"Tapi aku tahu seperti apa pedang Vin itu." Sembari tersenyum.


"Katakan padaku!" Ucapnya bersemangat lalu mendekatiku.


"Ekhm.. Dia berwarna Hitam seluruhnya, hanya hitam."


"Hitam?" dengan nada yang bingung.


"Lebih hitam dari gelapnya malam. Menetralkan apa saja yang di sentuhnya, udara, api, air, udara, dan cahaya." Memperjelasnya.


"Itu tidak mungkin, apa maksudmu menetralkan Cahaya?!" Katanya dengan ekspresi tidak percaya, tentang pedand Vin.


Aku hanya tersenyum kearahnya, mengisyaratkan bahwa itu benar adanya. Dia pun mundur satu langkah dariku dengan ekspresi yang sama seperti tadi, terkejut. Dia masih memikirkan tentang pedang tersebut. Lalu menundukkan kepalanya.


"Namamu." Kataku dengan mendadak.


Dia langsung menatap ke arahku, lalu aku mengulang kembali perkataanku.


"Siapa namamu?" sembari tersenyum.


"Sora." jawabnya.


Dia berbalik lalu berjalan keluar dari ruanganku. Dia saat dia hampir keluar aku sedikit memberi tambahan kepadanya.


"Semoga harimu menyenangkan." Dengan tersenyum.


Dia melihat ke arahku sesaat, lalu keluar sambil menutup pintu ruanganku.


Aku menghela nafasku, lalu bersandar di kursiku sembari melihat ke arah langit langit.


"Aku berhasil mendapatkan muridku sendiri, Uki. Apakah kau bisa melihatnya dari sana?" Ucapku.


Aku pun menutup mataku, di saat itulah aku membayangkan Uki. Aku mengingat bagaimana dia mengajarku, bagaimana dia melatihku, kebaikannya, senyumannya, dan ocehannya.


"*Uki, bertahanlah Uki!" Kataku dengan tangan kananku menahan punggungnya.


"Nah Rizuki.. Kau berhasil sekarang." Katanya sembari tersenyum dengan darah terus keluar dari tubuhnya.


"Apanya yang berhasil jika begini?! Apanya?!!" Teriakku.


Dia mengakat tangannya dengan tertatih tatih, lalu menjewer telingaku.


"Tidak sopan berteriak kepada seorang guru, Rizuki."


Jewerannya benar benar lemah, perbedaanya benar benar jauh ketika dia menjewerku di saat aku tertidur di kelasnya. Tapi aku meresa ini adalah jewerannya yang paling kuat dan yang paling sakit, yang dia pernah lakukan kepadaku*.


*Lukanya semakin parah, darah terus keluar dan mengalir ke tanah dan terbawa hanyut oleh hujan. Di saat saat terakhirnya dia berkata kepadaku.


"Berjanjilah padaku Rizuki, kau harus*... -"


Aku membuka mataku kembali, dan yang ku lihat hanya langit langit ruanganku. Sesaat kemudian aku menatap sekitar ruanganku dan melihat ke arah jendela. Hari sudah gelap. Cahaya bulan menjadi penerang di dalam ruanganku.


Aku berdiri dari kursiku, lalu berjalan ke arah jendela. Aku melihat keluar jendela, melihat ke arah bulan yang begitu terang. Kemudian tersenyum.


"Semoga besok harimu menyenangkan." Sembari menutup jendelaku dengan gordeng.