History of Rizuki: Kingdom

History of Rizuki: Kingdom
Pembelajaran: 1



Sebuah kelas tengah berlangsung di dalam sebuah kerajaan hebat. Hanya 2 orang yang hadir di sana. Seseorang gadis yang penuh dengan semangat duduk memperhatikan, dang seseorang pria yang tengah menulis di sebuah papan hitam.


Suasana yang tenang, sang murid hanya diam tak bergeming dan Gurunya masih menuliskan sebuah sejarah di papan tulis. Kemudian menyimpan kapur, dan berbalik kepada muridnya untuk menjelaskannya.


"Nah, jadi.. bisa kamu lihat Hima, jika pada masa itu- geehh.. " Ucap Rizuki ketika dia melihat ke arah Hima.


Rizuki melihat muridnya, Hima. Tertidur dengan menggunakan 1 tangannya menahan kepalanya. Rizuki menghela nafas, sembari menggaruk garuk bagian belakang kepalanya.


"Ya ampun.. " Keluhnya, dan menghampirinya.


Kini Rizuki sudah berdiri di samping baku Hima, dan dia sama sekali tidak menyadarinya. Tanpa basa basi dan belas kasihan. Rizuki mengepalkan tangannya, kemudia mengetok kepalanya dengan keras.


Itu benar benar keras, tangan Hima tidak kuat menahannya dan akhirnya dagunya tergelincir yang lansung membuat wajah Hima menghantam permukaan kasar bangku.


Hima langsung tak berdaya seketika, tangan yang ia gunakan menahan kepalanya akhirnya tumbang setelah beberapa detik bertahan. Rizuki berbalik, kemudian pergi meninggalkannya menghampiri meja Guru.


"Baiklah, waktunya istirahat." Ucap Rizuki sembari berjalan menghampiri meja.


*****


Matahari naik semakin tinggi, menerpa sebuah bangunan besar yang berdekatan dengan Kerajaan. Dimana Prajurit terbaik terus di tempa dan di tajamkan dengan sangat baik.


Panglima besar kerajaan, Mika. Dialah yang bertanggung jawab penuh atas tempat tersebut.


Sebelum Fajar keluar, para prajurit biasanya melakukan pemanasan dengan melatih fisik meraka. Kebanyakan dari mereka biasanya berlari mengelilingi bagian dalam Benteng kerajaan.


Kerajaan ini memiliki dua Benteng yang melindungi mereka dari setiap serangan, mengelilinginya dengan kokoh dan kuat.


"Ayunkan pedangnya dengan lebih cepat dan kuat!"


"Tenanglah! atur nafas kalian. Fokus! dan bidik dengan benar!"


Perintah setiap Kapten dari divisinya masing masing dengan tegas kepada setiap Prajuritnya.


Seseorang Pria berdiri memerhatikan mereka di sisi atas lapangan tempat prajurit berlatih, sembari tersenyum melihat Prajurit yang berlatih dengan keras di bawahnya. Kemudian matanya tertuju kepada prajurit yang tengah berlatih dengan bertarung 1 lawan 1.


"**Ayo! Mika.. kita selesaikan ini!"


"Baiklah! jika itu maumu!"


Teriak mereka berdua dengan kelelahan tetapi masih bersemangat, dan tekad yang kuat ingin menjatuhkan orang yang ada di hadapannya masing-masing kemudian kembali berdiri sebagai seoarang pemenang.


Mikapun lansung belari kearahnya dengan cepat, Prajurit itu pun bersiap dan memegang pedangnya dengan kuat. Mika langsung mengayunkan pedangnya dari bawah dengan kuat. Prajurit tadi langsung menahannya, tetapi serangan Mika tadi meski berhasil di tahan. Kekuatannya benar-benar hebat dan membuat Prajurit tadi terdorong ke belakang. Hampir kehilangan keseimbangan dan tersungkur tapi dia dengan sergap berhasil menyimbangkan kembali dengan kaki kiri yang di hentakan ke belakang, sehingga menahannya.


Mika tidak mensia-siakan serangannya tadi, meskipun Prajurit tadi berhasil bertahan. Mika kembali menyerangnya dengan beruntun membuat Prajurit itu terpojok. Semua yang melihat pertarungannya hanya terdiam. Pertarungan yang sengit, yang tidak bisa di lakukan oleh Prajurit lainnya. Kekuatan, kecepatan, stamina, insting, dan semangat mereka jauh berbeda dengan Prajurit yang lainnya.


Mereka benar-benar menikmati pertarungannya, mereka tersenyum dengan lebar dan puas, mengisyaratkan sebuah kata di dalam pikiran mereka berdua yaitu..


"Akhirnya datang di saat ini juga! Aku akan menghancurkanmu!!" Kata mereka di dalam hati.


Prajurit tadi hampir terpojok oleh serangan beruntun dari Mika yang terus semakin cepat, dia mulai kewalahan sama seperti Mika yang hampir habis kehabisan staminanya. Setiap serangan yang di lancarkan oleh Mika bisa di tangkis oleh Prajurit itu dengan tepat. Seolah olah dia sudah tahu ke mana Mika akan menyerang.


Mika semakin bersemangat untuk mengalahkannya, dia merasakan di dalam dirinya untuk segera mengalahkannya. Tapi tidak tahu apa yang harus dia lakukan, semakin Mika memikirkannya semakin bersemangat dan kecepatan menyerang sedikit melambat dan berfokus kepada kekuatan serangannya untuk mengahancurkan pertahanannya.


Begitu pula dengan Prajurit itu, dia juga terus menunggu untuk menyerang Mika. Dia terus menangkis serangan Mika serangannya agar Mika kelelahan. Prajurit itu pun memperkuat pertahanannya.


Di saat seperti inilah seseorang bisa melebihi sedikit batas yang ada dirinya. Dan itulah yang terjadi kepada Mika. Prajurit wanita pertama di kerajaan ini. Dia mampu melebihi batasnya walaupun hanya sesaat, tetapi nyatanya karena itulah yang membuat Mika bisa menjadi seoarang Panglima Besar Kerajaan Moonlight nantinya.


Mika akhirnya berpikir untuk melakukan sebuah tebasan dalam 2 tebasan secara bersamaan dengan begitu pasti Prajurit itu akan terkejut karena melihat 2 tebasan yang datang ke arahnya secara bersamaan.


Mika mengayunkan secara diagonal dengan cepat, kemudian menarik pedangnya ke belakang dan menahan pedangnya. Akhirnya prajurit itu melihat sebuah celah yang cukup besar baginya. Dia pun sedikit merunduk setelah dia berhasil menangkis tebasan Mika tadi, kemudian melesat ke arah Mika dan akan menebasnya dengan serangan tercepat miliknya.


Tapi kemudian di saat Prajurit itu benar benar yakin bisa menyerangnya dan menjadi pemenang. Seketika dia melihat sekelebat warna perak di sisi kiri dan kanannya, layaknya sebuah tebasan. Sudah terlambat untuk menghindarinya dan menangkisnya. Tebasan itu semakin dekat dengannya, itu jauh lebih cepat daripada serangannya yang dia lancarkan sekarang. Tebasan itu akan sampai kepada sebelum serangan miliknya mengenai Mika. Dia sudah tidak tahu apa yang harus dia lakukan lagi. Tapi kemudian..


"Berhenti!!" Perintah seorang Pria sembari berjalan mendekati mereka berdua.


Seketika mereka berdua pun berhenti bertarung. Mika pun langsung menatap ke arah orang yang tadi memerintahkan. Dia masih menghampiri ke arah keduanya, memakai Mahkota berwana emas di atas kepalanya, dan sisinya seoarang anak perempuan yang memeluk kakinya. Dia adalah Raja sebelum Arth diangkat menjadi Ratu. Dan anak kecil disisinya adalah Ratu Arth saat dia masih kecil.