
"Ya ampun, apa yang telah aku lakukan tadi. Aku sama sekali tidak menyadarinya." Ucapku, berjalan di lorong sembari memikirkan kembali apa yang terjadi di Altar.
Setelah Mika dan Aku beradu pedang dan menimbulkan kerusakan dan keributan di Altar. Yang terjadi selajutnya pada kami berdua, ialah sama yang tadi dialami olehku. Kami kembali tunduk kepada Ratu. Secara tidak sadar.
Arth Vhonty Marldmoon. Itulah nama orang yang sedang duduk di singgasana. Dan kepada dia juga semua orang tunduk, termasuk aku.
"Sihir perintah ya, menarik sekali. Kerajaan ini memang yang terbaik." Kataku mengangkat tangan ke atas dengan semangat.
"Ohh ya, aku harus segera ke ruanganku." menurunkan tanganku, lalu mempercepat langkahku.
Kerajaan ini bernama kerajaan Sinar Bulan, tapi orang-orang biasanya memanggilnya dengan Moon Light. Di pimpin oleh seorang ratu, Arth Vhonty Marldmoon. Dia adalah anak perempuan dari Raja sebelumnya.
Arth diangkat menjadi seorang Ratu di usia muda, yaitu 11 tahun. Pencapaiannya ialah menguasai ⅛ bagian dari bumi, di saat umurnya 13 tahun. Semenjak itulah kerajaan Moon Light mulai terkenal.
Ratu yang sempurna, tapi sebagian orang menganggap dia terlalu sempurna. Umur 15 tahun dia kembali mengguncangkan dunia, setelah 2 tahun mereka tertidur tenang. Akhir ada yang berani mengusik mereka. 10 Wyvern, dan 5 Elder Dragon yang di pimpin oleh Hydra, datang dengan niat bukan untuk bertamu.
Jika kerajaan lain akan mengerahkan seluruh pasukannya untuk mengahalaunya saja. Tapi Dia hanya mengutus Panglimanya saja untuk menghabisinya. Dan dia berhasil menuntaskannya, sebelum Fajar. Setelah kejadian itu nama sang panglima perang itu yaitu Mika, mulai di kenal dunia. Bukan hanya memiliki Ratu yang sempurna, dan Panglima yang mengerikan. Kerajaan ini menyimpan banyak sekali rahasia, dan kejutan yang tersimpan.
"Jadi begitu ya.. " Kataku, sembari menutup Buku tentang kerajaan yang sedang ku baca.
Segera aku pun beranjak dari kursiku, lalu berjalan menuju sebuah rak buku untuk nyimpan buku ini.
"Terlalu sempurna, ya." kataku di saat ingin menyimpan bukunya di rak.
Aku pun menutup mataku dan menghela nafasku, lalu menyimpannya di rak, dan tersenyum sembari menyandarkan bagian atas pungguku ke rak.
"Apakah dia terlalu sempurna menurut mu, Tuhan." Sembari tersenyum.
tok tok tok~
Aku mengalihkan pandanganku menuju Pintu lalu berkata-
"Tunggu sebentar.. " Berhenti menyandar, lalu berjalan menuju Pintu.
"Silahkan masu- Tunggu apa apaan ini?!"
Dia langsung masuk dan menyerangku dengan Cakarnya panjang dan runcing. Aku berhasil menghindarinya, tanpa membuat Kemaja dan jasku robek sedikit pun.
Aku benar-benar kaget. Aku sudah tidak mau membuat keributan lagi, apalagi di dalam ruanganku sendiri. Tapi orang yang tadi mengetuk pintuku, dia adalah Siluman Rubah.
Dia kembali menyerangku dengan cakarnya. Ruanganku tidak terlalu besar, dan aku juga tidak bisa terus bertahan dan menghindari. Aku bisa terpojok.
Siluman ini benar-benar merepotkanku, gerakannya cepat dan gesit. Dan lagi setiap siluman memiliki insting dan reflek yang mengerikan. Salah sedikit saja, aku bisa terluka cukup parah.
"Kau meremahkanku. Jika kau ingin membunuhku, kau harus mengirim sang Alpha datang ke sini." Ucapku dengan senyuman dan masih menghindarinya.
Dia tidak memperdulikannya dan masih menyerangku. Aku hampir terpojok olehnya. Akhirnya aku terpaksa untuk menggunakan sihir kepadanya.
"Sedikit petir mungkin bisa membuat mu tenang."
Dia langsung menggeram, dan menyerangku secara menyilang dengan kedua tangannya. Aku merogoh saku mengambil Koin, aku berhasil dan mengambilnya. Kemudian melemparnya ke atas dengan Ibu jariku.
Dia melihat koin itu, tapi tidak mempedulikannya. Dia langsung datang ke arahku dan ingin menusukku dengan cakarnya.
"Kupikir kau akan berhenti dan melihat ke arah koin, walau hanya sesaat. Baiklah, tangkap koin ini." di saat timingnya sudah tepat, aku mensintil koinnya dengan posisi diagonal.
"Ohh jadi di depan sana tempatnya ya baiklah.. " Ucapnya, dan berlari menuju ke arah runganku.
"Hmm? Pintunya terbuka?"
Saat wanita tadi sudah dekat ke ruanganku, tiba tiba sesuatu keluar dari ruanganku dan menghantam dinding lorong dengan keras, sehingga dindingnya membuat lubang yang besar.
"Apa yang telah terjadi di sini?" Kata wanita tersebut, dengan ekspresi terbelak melihat kejadian tersebut tejadi di depan matanya.