History of Rizuki: Kingdom

History of Rizuki: Kingdom
Kisah Kerajaan: Hantu.



5 hari setelah pertarungan Kitori dan Rizuki terjadi. Rizuki masih melakukan rutinitasnya, bukan rutinitas, melainkan tugasnya. Rizuki masih terus mengajar Hima seorang saja. Benar, bahkan setelah kejadian tersebut dimana Rizuki berhasil mengalahkan Kitori, tidak ada yang pernah berkunjung ke kelasnya sama sekali, tidak ada. Hati Rizuki benar-benar hancur, ia merasa tidak di anggap sebagai seorang Guru kerajaan. Bukan, Rizuki benar-benar tidak di anggap sebagai seorang Guru oleh kerajaan.


Rizuki benar-benar putus asa, tidak ada yang bisa mengerti akan perasaannya. Mungkin bagi mereka semua itu adalah hal yang sangat sepele, tapi bagi Rizuki ini benar-benar penting. Benar-benar penting.


Rizuki hanya tertunduk di meja guru di dalam kelas yang hanya berisi 1 orang. Seorang gadis cilik yang begitu polos, tapi memiliki bakat yang sangat luar biasa bagi Bangsanya dan juga untuk kerajaan ini, ia adalah Hima.


Rizuki memberi tugas kepada Hima untuk di kerjakan segara. Rizuki masih menunggunya dengan posisi yang sama sekali tidak berubah dari tadi, hanya tertunduk di mejanya dan mengeluarkan aura berwarna hitam pekat.


Hima ingin sekali untuk menghibur Gurunya yang hatinya hancur dan merasa putus asa, tapi ia tidak bisa. Hima berpikir yang bisa menghibur Rizuki sekarang adalah dirinya sendiri, Hima harus bisa menjadi murid yang terbaik bagi Rizuki. Benar, dan cara terbaik untuk saat ini ialah mengerjakan tugas yang di berikan Rizuki.


Kerajaan yang hebat masih berdiri dengan kokoh dan kuatnya, Moonlight. Hari ini, di dalam sebuah kelas yang hanya berisikan 2 orang setiap harinya, Rizuki dan Hima. Pembelajaran mereka seketika berhenti akibat, suara dari suara pintu kelas yang terbuka.


Rizuki sekitika bangun dengan semangat, dan senyum ramah miliknya akhirnya bisa kembali terlihat di wajahnya. Hima pun langsung melirik ke arah Pintu kelas untuk melihat siapa yang datang.


Rizuki tidak menyangka ia akan datang, begitu juga dengan Hima. Dia adalah Kitori, bersama dengan Sora. Rizuki seketika kembali merasa putus asa, ketika melihat mereka berdua yang datang. Rizukipun menunduk kemudian masuk kedalam kolong meja, dengan mendekap kedua lututnya.


"Ada apa dengan dia ini?" tanya Kitori melihat keadaan Rizuki yang memprihatinkan.


Wajah tanpa ekspresi, ia hanya melihat setiap sisi seluruh kelas, kiri kanan atas bawah. Ia adalah Sora. Sementara Kitori berjalan mendekati Rizuki, Sora hanya diam dan terus memerhatikan kelas.


"Ayolah Rizuki, hanya karena tidak mendapat murid kau merasa putus asa? Rizuki? Oii!" bujuk Kitori sembari mengetuk-ngetuk meja guru yang di bawahnya ada Rizuki.


Kitori masih terus mengetuk meja Rizuki, yang semakin lama semakin keras ketukannya begitu pula dengan suaranya Kitori semakin berteriak untuk memenangkan Rizuki, hanya saja situasi menjadi terbalik sekarang. Rizuki sama sekali tidak terhibur dengan kedatangannya, sedangkan Kitori menjadi kesal karena kelakuan Rizuki yang benar-benar bodoh.


Sementara itu Sora, hanya diam melihat mereka berdua semakin menjadi-jadi, sebenarnya yang semakin menjadi-jadi adalah Kitori sedangkan Rizuki tidak berubah sama sekali rasa putus asa-nya.


Mata Sora kemudian melirik ke arah Hima yang masih terus mengerjakan tugas dari Rizuki, hanya saja Hima tidak terlihat seperti mengerjakannya, ia terlihat seperti sedang berpikir. Itulah yang di lihat oleh Sora, dia berpikir seperti itu setelah melihat gestur dan gerak tubuh Hima.


Berhenti menulis, matanya terus melihat ke arah tugas dengan serius, serta tangannya tidak berhenti terus mengetuk meja dengan alat tulis miliknya. Terlihat jelas bahwa Hima kesusahan dengan tugasnya. Sora pun mendekatinya, untuk melihat tugasnya. Hima tidak menyadarinya keberadaan Sora sama sekali.


Sora memerhatikan tugasnya, ia melihat hanya satu soal saja yang belum terjawab.


"Apa kamu meresa kesusahan?" tanya Sora, melihat ke arah Hima.


Hima pun merasa kaget, kemudian menengok ke arahnya, Hima tidak menyadari ke beradaan Sora. Sora yang melihat ekspresi muka Hima yang meresa kaget karena dirinya, Sora pun tersenyum tipis dan sungguh lembut.


"Maafkan aku, apakah aku membuatmu kaget?."


Hima mengehela nafasnya, ia benar-benar kaget, menyadari bahwa ada orang di belakangnya. Sesaat ia berpikir bahwa itu adalah Hantu.


"Jika kamu merasa kesusahan kenapa tidak bertanya?"


"Tapi guru bilang, ini adalah tugasku."


"Benarkah? kalau begitu dia tidak berkata ini adalah Ujian bukan?"


"Ehh.. itu.. itu.. "


Hima sejenak terdiam, sembari mengalihkan pandangannya ke bawah. Sora tersenyum melihat Hima yang malu. Sora sedikit melangkah kedepan, ia berhenti di sisi meja Hima lalu menunjuk ke arah soal.


"Aku akan membantumu, ehh.. ehh.. "


"Hima. Kau boleh memanggilku Hima."


Hubungan antara mereka pun terjalin. Sora membantu Hima yang kesusahan, dan Hima sendiri merasa sangat terbantu oleh Sora. Mereka tersenyum dan tertawa riang di dalam kelas.


Semantara itu Kitori dan Rizuki.


"Nah, Rizuki."


"Yak?"


"Apakah kau merasakan apa yang kurasakan?"


"Ya, aku bisa merasakannya."


"Begitu hangat."


"Begitulah, tiba-tiba rasa putus asa ku sirna seketika."


"Benarkah?"


"Iya."


"Syukurlah."


"Iya."


Obrol mereka berdua dengan duduk menyendari dinding di bawah papan tulis, dan melihat ke arah Sora dan Hima.


Tapi tiba-tiba Hima berdiri, wajahnya seketika berubah menjadi serius. Sora pun kaget, melihat Hima yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Kitori dan Rizuki hanya sedikit merasa heran melihat Hima.


"Kalian bisa merasakannya?" tanya Hima dengan melihat sesekali ke arah kiri dan kanannya.


"Merasakan apa, Hima?" jawab Sora dengan raut wajah kebingungan.


"Sepertinya akan ada yang datang." ungkap Rizuki dengan tiba-tiba.


Kitori seketika berdiri dan melihat ke arah Rizuki yang masih duduk menyadari dinding, begitu pula Sora, ia juga melihat ke arah Rizuki.


"Apa maksudmu Rizuki?" tanya Kitori, untuk memperjelas keadaan.


Rizuki kemudian berdiri, ia membalikan badannya ke arah Pintu, lalu menjawab pertanyaan Kitori dengan jawaban.


"Dia datang."


Pintu kelas tiba-tiba terbuka dengan sangat keras, disusul dengan hembusan angin kuat masuk kedalam kelas. Kitori memasang posisi bertahan, sedangkan Sora lah yang paling merasa kesulitan. Dia pun lansung menunduk dan bersembunyi di bawah meja.


Angin pun kemudian melamah sedikit demi sedikit kemudian menghilang tanpa bekas, kelas menjadi Normal seperti biasa. Kitori benar-benar tidak percaya dengan apa yang telah terjadi di hadapan kedua matanya.


Saat angin menghilang, tidak ada orang di depan pintu kelas, tidak ada sama sekali. Di sana hanya ada dinding lorong yang kosong. Tidak ada siapa-siapa.


"Kau tidak bercanda kan...?"