
"Panggil saja aku Rizuki San!" Teriaku dengan lantang kepada Ratu, Puteri, Panglima kerajaan, Penyihir, dan seluruh orang yang hadir di Altar kerajaan.
"Siapa orang ini?"
"Entahlah, untuk apa kita mendatangkan seorang Guru."
Itulah yang mereka ucapkan pada orang yang di sisi mereka. Aku bisa mendengarnya, dan aku hanya mengabaikannya.
Aku hanya tersenyum ke arah sang Ratu. Selanjutnya yang terjadi kepadaku, aku sudah membungkuk memberi Hormat kepada Ratu.
Aku sendiri tidak ingat kenapa bisa seperti itu. Ketika mataku dan Ratu saling bertemu yang terjadi adalah semuanya menjadi merah. Benar, secara tidak sadar aku sudah tunduk di hadapan sang Ratu.
Aku kembali berdiri, tapi dengan kepala tunduk kebawah. Aku melakukan hal ini karena jika aku berbuat semana-mena lagi kepada sang Ratu. Selanjutnya mungkin aku sudah di penggal di tempat aku berdiri sekarang.
"Tapi, Bodo amat!" kataku di dalam hati, tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku mengangkat lagi kepalaku, dan menghadap kembali kepada Ratu.
Seketika aku bisa melihat, sekelabat warna perak mengarah ke kepalaku. Aku memiringkan kepalaku, mengelak serangan itu.
Semua orang yang tadi ribut kini terdiam setelah melihatnya. Aku yakin, mereka bisa melihatnya, tapi tidak akan pernah bisa menghindarinya.
"Hanya itu saja 'Tes' nya." kataku tersenyum dengan memasukan tanganku ke dalam saku jasku.
Salah seorang prajurit maju ke arahku dengan berlari dan pedang yang di angkat di atas.
"Sialan kau!" katanya sambil mengayunkan pedangnya kepadaku.
Tentu saja aku menghindari serangannya, seperti yang akan dilakukan orang pada umumnya.
Dia terus mengayunkan pedangnya ke arahku, dan aku hanya menghindarinya dengan mudah dan tersenyum.
Dia kesal. Lantas dia mengerahkan tenaga dan kekuatannya. Bukannya semakin terarah melainkan Pola serangannya semakin kacau, sekarang dia hanya ingin mencoba untuk membunuhku.
"Haaahh..!!" Teriaknya mengayunkan pedangnya secara diagonal dan itu adalah Tebasan yang paling cepat yang dimiliki olehnya.
"Hoohh.." kataku kagum dan langsung menunduk.
"Kena kau keparat!!" Dia kembali menyerang dengan kecepatan yang lebih cepat dari tadi secara menyilang.
"Menarik.." melompat mundur menghindarinya.
Dia mengangkat pedangnya di sisi kepalanya sejajar dengan telinganya, dia mengarahkan pedangnya ke arahku. Kemudian memasang kuda kuda yang terlihat jelas, dia akan melesat datang ke arahku dengan cepat, dan menusuku.
Segera aku pun berdiri dan tersenyum melihat ke arahnya, yang benar-benar memancarkan aura yang ingin membunuhku. Dia langsung melesat ke arahku dengan cepat, mencoba menusukku.
Seketika dia terkejut, saat itulah aku menarik karpet merah dengan kakiku, dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Mereka terdiam tidak bersuara, mata mereka terberlak kecuali Ratu, Panglima, dan Penyihir.
Seketika 31 prajurit maju ke arahku secara serempak dan mengepungku dari depan.
"Keparat kau, matilah!!" Teriakan salah satu dari para prajurit yang menuju ke arahku.
Mendengar hal itu membuatku sedikit bersemangat, dan ingin memberi pelajaran kepada mereka semua yang ada disini.
"Menarik sekali!" Kataku tersenyum ke arah mereka semua, dengan memperlihatkan kepada mereke sebuah Aura.
Seluruh prajurit yang datang bisa melihat sebuah Aura di belakangku, seperti kabut keluar dari punggungku dengan pekat dan banyak.
Seketika derap kaki mereka perlahan melambat melihat hal itu dan berhenti. Mereka melihat Monster di balik kabut itu matanya menyala dari dalam kabut. Beberapa dari Prajurit kaki bergetar ketakutan, mereka benar benar ketakutan.
Sedangkan orang yang melihat ini yaitu orang orang yang tidak ikut menyerang diriku nampak kebingungan dengan yang terjadi. Yang mereka lihat sekarang adalah 31 prajurit yang datang ke arahku dengan penuh emosi kini terdiam dan ketakutan tanpa perlawanan dariku.
Nyatanya yang dilihat oleh 31 prajurit itu adalah Monster yang benar benar mengerikan. Monster Kabut Penguasa Udara, Amatshu. Seketika mereka semua tersungkur dan tergelepar tidak sadarkan diri.
"Apakah sudah selesai?" Tanyaku kepada mereka yang ada di Altar. Lalu melihat ke arah Ratu.
"Masih belum." Jawabnya sambil melangkahkan 1 kakinya.
Seketika aku pun mengalihkan pandanganku ke arahnya.
"Baiklah kalau begitu." Kataku. "Apa lagi 'Tes'nya?" Tambah tanyaku kepadanya.
Dia menarik pedang dari sarungnya, dan melihat ke arahku.
"Lawanlah aku." Jawabnya dan langsung melesat ke arahku dengan kecepatan Monster, tempat di mana tadi dia saat melesat sudah membekas cukup dalam.
Aku benar-benar terkejut, dengan cepat menarik Katana miliku dan menahan serangannya. Di saat inilah, aku benar benar bersemangat.
Saat aku menahan serangan miliknya, itu membuat sebuah gelombang kejut yang besar. Yang membuat angin yang kuat didalam Altar. Beberapa prajurit ikut terhempas oleh hal tersebut.
Serangannya berhasil di tahan, dia memutuskan untuk melompat mundur ke belakang. Dan aku menurunkan Katananya.
"Panglima kerajaan Mika Vheindragon. Kau memang special." Ucapku tersenyum ke arahnya.
"Terima kasih. Aku juga sudah tahu." Jawabnya datar melihat ke arahku.