History of Rizuki: Kingdom

History of Rizuki: Kingdom
Kisah Kerajaan: Hantu



Usai sudah pembelajaran hari ini. Rizuki terpaksa menyudahkan kelasnya, dan menyuruh Hima untuk kembali ke Kamarnya sendiri. Tapi Hima menolaknya, ia ingin menyelidiki semua kejadian yang telah terjadi. Rizuki tersenyum sembari menggaruk-garuk kepalanya. Hima pun tersenyum lebar, karena Rizuki mengizinkannya.


Sementara itu Sora berencana untuk melaporkan hal ini kepada Ratu, tapi Kitori melarangnya. Menurutnya hal seperti ini tidak perlu di laporkan kepada Ratu. Kitori mejelaskan kenapa hal seperti ini tidak perlu beritahukan kepada Ratu. Sora pun mengangguk, ia tidak akan melaporkan hal ini kepada Ratu.Hari berlalu seperti biasanya, mereka menyembunyikan kisah yang akan menggemparkan seluruh kerajaan, dengan ekspresi tidak terjadi apa apa kepada penghuni kerajaan.


Setelah semua kejadian yang telah terjadi, akhirnya mereka memutuskan untuk menyelidikinya, hanya saja Rizuki dan Hima saja yang menyelidiki hal ini. Rizuki melarang Kitori dan Sora untuk ikut menyelidikinya. Kitori mengangguk paham, sedangkan Sora memaksa untuk ikut bersama Rizuki dan Hima. Akhirnya Rizuki terpaksa untuk menipu Sora. Ia menyuruh Sora untuk menunggu di ruangannya. Ia memakan umpannya. Dan penyelidikan di mulai.


"Guru, menurutmu kejadian kemarin itu, apa?" tanya Hima sebagai pembuka, berjalan melewati lorong bersama Rizuki.


"Entahlah.. " jawabnya. "Menurut Hima sendiri itu seperti apa?"


Hima kembali berpikir tentang apa yang dia rasakan kemarin saat kejadian itu terjadi, yang ia rasakan saat itu benar-benar samar. Hima tidak bisa menggambarkan, ia hanya merasa sesuatu mendekat saja. Sama seperti ketika orang-orang merasakan ada yang mengikutinya, tapi saat ia melihatnya, tidak ada. Layaknya Hantu.


Rizuki tersenyum melihat ekspresi muka Hima yang berpikir begitu serius tentang kejadian kemarin. Bukan hanya Hima yang merasakannya, Rizuki juga bisa merasakan hal yang sama seperti Hima. Hanya saja, Hima jauh lebih cepat menyadarinya daripada Rizuki. Rizuki tersadar akibat Hima yang berdiri secara tiba-tiba, dan dari mimik mukanya.


Karena melihat muridnya berpikir keras disisinya, Rizuki pun secara tiba-tiba memegang kepala Hima dengan lembut, kemudian mengelusnya perlahan.


"Kau tidak perlu memikirkannya terlalu keras, Hima. Ini sudah menjadi tugasku sebagai Guru." Ucapnya, dengan tersenyum melihat ke arah Hima.


Rizuki kembali mengangkat tangan dari kepalanya, dan kembali mereka ulang setiap kejadian yang terlihat oleh mata, di dalam kepalanya. Hima tersenyum senang, setelah Rizuki mengelusnya. Tapi kemudian..


"Ohh ya, Guru bagaimana dengan wanita itu?" Tanya Hima kembali.


"Wanita? Ohh.. Maksudmu dia.. "


"Iya, dia. Puteri Kerajaan ini. Puteri Sora."


"Bagaimana menjelaskannya, bagiku dia tidak perlu ikut campur dalam urusan ini. Untuk itulah aku melarangnya. Tapi ya, bagaimanapun juga aku memang telah membohonginya, mungkin aku harus meminta maaf padanya nanti." ujar Rizuki.


"Lalu kenapa Guru memperbolehkan aku ikut?"


Sejenak Rizuki melihat ke arah Hima dengan tersenyum senang.


"Itu karena kau memang harus mengetahuinya, Hima. Bisa di bilang, ini akan menjadi pembelajaran untukmu" jawabnya.


Sementara itu Sora hanya diam menunggu di ruangan Rizuki, dengan duduk sabar sembari melihat setiap sisi ruangan.


"Ehh.. Guru.. "


"Yak?"


"Kita akan kemana?"


"Pertanyaan yang Bagus, Hima. Tenang saja kita tidak akan pergi ke pemakaman, karena itu bukanlah Hantu. Itu hanya sihir."


"Sihir?"


"Benar, sihir."


Rizuki pun berhenti di depan sebuah Pintu ruangan, begitu juga dengan Hima. Hima masih kebingungan dengan pikiran gurunya sendiri. Sedangkan Rizuki sendiri lupa untuk menjelaskannya kepada Hima, ia hanya tersenyum saja.


Sebuah ruangan dengan tiga jendela berukuran besar berderet dan terbuka menuju keluar, Buku yang di tumpuk tersebar diatas meja dan di bawah lantai dengan berantakan, begitu juga lembaran-lembaran kertas yang berhamburan di seluruh penjuru ruangan, serta sebuah lingkaran sihir berukuran sedang tertulis di bawah, dan seorang laki-laki yang terkapar di sisi lingkaran tersebut dan beberapa lembaran-lembaran kertas berada di punggung dan kepalanya.


"Ahh.. Ada tamu ya. Se selamat datang, mohon maaf atas atas ketidaknyamanannya. Ruangan ini memang, memang berantakan. Mohon tunggu sebentar.. " ujar laki-laki tersebut dengan suara serak dan nada yang lemah. Layaknya orang yang kesusahan.


"Baiklah, kami akan menunggunya." jawab Rizuki "Nah, Hima kita pergi keluar dahulu." ajaknya


Mereka berdua pergi keluar lagi dan di saat Hima menutup pintu ruangan tersebut. Secara tiba-tiba angin mulai bergemuruh di dalam ruangan tersebut, Hima terkejut dengan suara tersebut. Benar-benar suara yang besar, layaknya angin bertiup kencang. Hima mendengar suara buku yang kembali di tumpuk di rak buku, dan suara lembaran-lembaran kertas yang di ambil, suara sapu, suara mengepel, beberapa suara tabuhan. Itu semua terjadi di saat bersamaan.


"Guru, apakah guru bisa menjelaskan semuanya?" tanya Hima kembali dengan suara yang sedikit di keraskan.


"Hmmm.. Ohh ya, aku lupa untuk menjelaskannya, Maafkan aku ya Hima.. hahaha.. " Jawab Rizuki dengan tertawa sedang.


Sementara itu di salah satu ruangan kerajaan yang berada di lorong timur paling ujung, seorang wanita diam menunggu di salah satu ruangan. Puteri kerajaan Sora Vhonty Mardlmoon, menunggu sang pemilik ruangan Rizuki San dengan sabar.


Sora kemudian memperhatikan setiap sudut ruangannya, Mata Sora tiba tiba tertarik pada lemari kaca Rizuki. Ia pun berdiri lalu berjalan memutari meja Rizuki kemudian melihat lemari kaca tersebut.Beberapa barang di pajang di sana, tidak semua barang yang di pajang terlihat usang dan tidak bisa di pakai di lemari tersebut. Nyatanya Barang-barang tersebut terlihat sangat Bagus dan masih bisa di pakai. Tapi ada satu benda yang terlihat sudah sangat usang.


Sebuah bingkai foto dari kayu yang sudah mulai lapuk, dan tua. Terdapat sebuah lukisan yang catnya mulai sedikit memudar. Mata Sora kemudian kembali menangkap sesuatu yang menarik, ia melihat Rizuki. Ia melihat Rizuki di lukisan tersebut, tapi ia merasa tidak yakin bahwa itu Rizuki. Wajahnya terlihat seperti Rizuki hanya saja ada perbedaan yang sangat mencolok di dalam lukisan tersebut, yaitu rambut. Rizuki memiliki rambut hitam yang agak bergelombang, dan sedikit mengembang. Tapi di lukisan tersebut rambut Rizuki berwarna putih dan lurus jatuh kebawah.


Mata Sora terus menangkap sesuatu yang menarik di lukisan tersebut, ia melihat Kitori di lukisan tersebut, wajah Kitori tidak banyak berubah dari dulu. Sora juga melihat seorang wanita yang menurutnya begitu dekat dengan Rizuki. Di lukisan tersebut ia merangkul Rizuki dengan wajah tersenyum senang.


Satu demi satu mata Sora menangkap sesuatu yang menarik dari lukisan tersebut, dan di saat bersamaan pertanyaan demi pertanyaan mulai tertumpuk di dalam pikiran Sora. Sehingga akhirnya seluruh pertanyaan itu menjadi satu pertanyaan.


"Siapa kau sebenarnya, Rizuki San" ujar Sora dengan tangan menyentuh lemari kaca tersebut.


"Itu pertanyaan yang sulit untuk aku jawab. Tidak, bukan. Aku bisa menjawabnya hanya saja untuk 'Aku ini siapa', lah yang sulit untuk di jelaskan" ujar Rizuki dengan melihat ke arah Sora dari depan pintu.


Sora sontak menarik kembali tangannya, lalu menoleh kebelakang. Melihat ekspresi Sora yang kelihatannya begitu kaget dengan kehadirannya, Rizuki pun tersenyum menandakan bahwa dia tidak keberatan sama sekali atas apa yang di lakukan oleh Sora.


"Maaf karena telah berbohong tadi, kau bisa meng-"


"Kamu tidak perlu khawatir, aku mengerti, aku mengerti akan hal itu" ujar Sora dengan memotong perkataan Rizuki. "Jika masalahnya sudah selesai aku akan pergi, maaf karena telah berbuat semena-mena"


Sora kembali berjalan memutari meja Rizuki, dan hendak berjalan keluar. Rizuki mempersilahkannya pergi dengan tidak menghalangi pintu tersebut, Sora pun keluar dari ruangan Rizuki tanpa melihat ke arahnya lagi sama sekali.


Sesaat Rizuki melihat ke arah Sora saat ia berjalan melewatinya, lalu kemudian Rizuki melihat ke arah lemari kacanya. Ia sedikit menghela nafasnya, kemudian berjalan ke luar dari ruangannya.


"Aku ingin meminta bantuan kepadamu satu kali lagi, Sora" pinta Rizuki dengan suara yang sedikit di tinggikan.


"Maaf, tapi aku ada urusan" jawab Sora dengan cepat tanpa berhenti untuk menoleh ke belakang sama sekali. "Tapi aku bisa membantu kamu lain kali, selamat siang."


Mendengar jawaban Sora, Rizuki terdiam sesaat melihat kearahnya dengan wajah datar. Rizuki menutup pintu ruangannya, kemudian berbalik dan berjalan di belakang Sora. Sora hanya terus berjalan tanpa melihat ke belakang, kemudian ia berbelok ke arah kanan, sedangkan Rizuki berbelok ke arah kiri menuju ke arah perpustakaan yang berada di arah lorong Selatan.


Mereka berdua semakin jauh, tidak memandang satu sama lain. Sora mempunyai urusannya sendiri begitu juga dengan Rizuki. Seluruh masalah dan kejadian yang telah terjadi sebelumnya belum terjawab dengan benar. Sesuatu yang janggal masih terus bergentayangan di setiap lorong dan ruangan kerajaan.


"Ini semua akan aku selasaikan, maafkan aku Hima. Tapi masalah ini jauh lebih rumit daripada yang kau kira. Lagi-lagi aku terpaksa untuk berbohong." ujar Rizuki didalam hatinya dengan perasaan nyesal.


"Aku akan membawamu kembali ketempat yang seharusnya. Penyihir Angin Andelrwi. Tempatmu bukan berada disini, karena kau sudah mati"