History of Rizuki: Kingdom

History of Rizuki: Kingdom
Ujian.



Terdengar derap langkah seseorang di lorong kerajaan. Lorong yang sepi, hanya sinar matahari yang menerangi lorong tersebut sebagai penerangan, dan ketika malam tiba hanya lilin dan cahaya bulan saja yang menerangi lorong. Langkah itu semakin terdengar jelas olehku lalu-


"San! Ada yang harus kita bicarakan sekarang." Seorang wanita datang mendorong pintu ruanganku dengan keras, dengan nada yang serius.


Aku sedikit terkujut ketika dia datang tiba-tiba ke ruanganku. Aku sedang duduk dengan posisi sedikit bungkuk karena menulis laporan. Secara tidak sadar badanku sudah duduk tegak.


"Iya. Ada apa, Mika?" jawabku, dengan senyum ramah.


Inginku berkata "Setidaknya ketuk dulu, Mika." tapi aku mengurangkan niatku.


"Kenapa kau belum memberikan ujian kepada muridmu, San." ujarnya, dan memasuki ruanganku.


Aku melihat Mika masih menyimpan pedang disisinya. Aku mulai bertanya-tanya didalam pikiranku Mau apa dia dengan pedangnya itu?


"Ujian? untuk siapa Mika?"


"Ujian untuk muridmu sudah jelaskan. Agar kita mengetahui bakat yang dia miliki, dan mengetes sudah bagaimana dia berkembang."


"Aku tidak butuh Ujian untuk melakukan hal itu. Itu tidak di butuhkan dalam Pengajaranku."


Mika langsung menatap tajam ke arahku ketika aku mengatakan hal itu, ia perlahan mendekati mejaku, lalu berhenti. Tepat di depan mejaku.


Dia terlalu dekat, yang bisa kulihat hanya perut. Dan jika aku mengangkat wajahku sedikit, aku bisa melihat dadanya. Tapi aku tidak melakukannya. Aku mengangkat wajahku, ke arah wajahnya.


Ketika seseorang sedang berbicara atau ingin mengajak bicara. Kita harus menghadap ke arah wajahnya. Tidak sopan jika menghadap ke arah yang lain.


"Apa maksudmu, San?" tatapannya benar benar mengerikan, jika orang biasa mungkin sudah menuruti apa yang dia katakan.


"Sudah aku katakan, aku tidak membutuhkannya." Jawabku dengan senyuman yang tidak berubah, ke arah tatapannya.


"Jelaskan kepadaku, San."


"Dia membenci ujian, aku bisa melihatnya dengan jelas."


Mika mundur beberapa langkah dari mejaku setelah mendengar hal itu. Tapi tatapannya masih belum hilang, bahkan jika dia berkedip tatapannya masih sama.


Tidak lama setelah itu dia menutup matanya dan menjelaskan pentingnya Ujian.


"Tapi, San. Kita harus tahu sampai manakah dia telah belajar. Dia belajar denganmu sudah cukup lama, jadi Ujian sangat di butuhkan agar aku bisa melihat perkembangannya, dan agar aku bisa menyatakan dia lulus atau tidak. Jadi kita harus....." Dia terus menjelaskan bagaimana pentingnya Ujian, dengan jari telunjuk yang terus di gerakan.


Aku berhasil menemukan berkas yang ku cari. Tapi aku bisa mendengar Mika masih terus berbicara, menjelaskan pentingnya sebuah Ujian.


"Sudah cukup Mika!" Kataku dengan lantang, dan menghepaskan Berkas tadi ke mejaku dengan keras.


Tapi aku tidak melakukan hal itu. Itu seperti aku mengajak dia untuk Berduel, jika aku melalukan itu bisa saja Pedang yang di simpan di pinggangnya, akan tersimpan di kepalaku.


Jadi aku memutuskan untuk berkata kepadanya


"Terima kasih atas semua penjelasannya, Mika. Tapi aku tidak akan mengadakan Ujian kepada muridku." Ucapku, sambil meletakan berkas yang tadi aku cari di atas meja.


"Apa itu San?" Tanyanya ketika dia melihat berkas tadi.


"Ini adalah berkas yang berisikan dokumen tentang Hima." Jawabku.


"Sepertinya kau menyayangi muridmu, San."


"Karena dia saja yang mau datang kepadaku secara langsung, dan lagi dia adalah satu satunya muridku. Kenapa tidak ada yang mau belajar ya."


"Iya iya bersabarlah nanti juga mereka datang sendiri." Ujarnya dengan nada menyepelekan.


Aku sedikit kesal mendengar hal itu. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya, karena wajar jika mereka tidak mau datang. Mereka lebih memilih langsung berlatih di medan perang.


Dia kembali berjalan mendakati mejaku ingin mengambil berkas tadi, tangannya mengambil berkas itu, dan saat itu juga terbesit sebuah ide di pikiranku.


"Hmm.. Baiklah kita lihat perkembangannya."


"Bagaimana kalau kau lihat sendiri bagaimana dia, Mika." Usulku, saat di hampir melihat isi Berkas itu.


"Baiklah, aku setuju ayo kita lihat dia." Dia langsung setuju, dan berjalan keluar dari ruanganku dengan langkah yang cepat.


Aku menghela nafas, dan membereskan mejaku yang berantakan karena tadi. Untungnya tidak Tinta yang tumpah, jadi aku tidak perlu repot repot membersihkannya.


Semuanya telah bersih dan rapih. Aku bangkit dari duduk, dan mengambil Jas yang ku gantungkan di belakangku, lalu memakainya.


"Baiklah, kita mulai.. "