Hidden Treasure Hunter's

Hidden Treasure Hunter's
Liu He Dan Makam Dua Ratus Koin



"Ayah!" panggil Cheng Mai terkejut.


"Cheng Mai." Cheng Xin juga tak kalah terkejutnya melihat anaknya ada disana.


Cheng Xin langsung menghampiri anaknya dan bertanya, "Kamu kenapa bisa disini nak, dan kalian juga? Bukannya kalian sedang kemah di desa sebelah?"


"Kami sebenarnya sedang mencari teman kami yah, Vivian namanya, dia tiba-tiba hilang dari perkemahan," jawab Cheng Mai menjelaskan.


"Permisi, kalian...." Pak Gong dan Bu Gong yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua akhirnya menyela tiba-tiba.


"Iya kami ayah dan anak, dia anak ku," potong Cheng Xin memberitahu.


"Ya ampun ternyata Bapak, ayah anak ini. Syukurlah anak Bapak dan teman-temannya tadi saya temukan sedang di dalam hutan, karena saya takut akan ada hewan buas, jadi saya bawa mereka ke rumah saja." Bu Gong terkejut lalu menjelaskan yang sebenarnya terjadi pada anaknya.


"Oh iya Pak, orang-orang yang dibawa Bapak siapa ya?" tanyanya beralih pada suaminya.


"Oh mereka datang dari kota karena dapat informasi tentang kejadian di desa kita dan sepertinya mereka ingin mengetahuinya lebih," jawabnya.


"Oh begitu, ibu bawakan minum untuk mereka, ya Pak," tawar Bu Gong pada suaminya.


"Iya istri ku, terima kasih," jawab Pak Gong sambil tersenyum manis kepadanya.


"Pak Cheng dan lainnya, silahkan duduk." Pak Gong lalu mempersilahkan tamu-tamunya untuk duduk.


Pak Cheng beserta orang-orangnya duduk setelah di persilahkan, lalu Cheng Mai dan teman-temannya juga ikut duduk bergabung bersama mereka. Tak lama Bu Gong datang sambil membawa nampan berisikan beberapa minuman serta cemilan untuk tamu-tamunya. Setelah meletakkan isi nampannya, Bu Gong duduk untuk bergabung bersama mereka. Pak Gong mulai menceritakan kenapa ada banyak makam yang di gali di tempat pemakaman.


Kata Pak Gong, dahulu kala ada seorang yang pernah bercerita tentang makam pangeran Liu He dan harta 200 koin mas didalamnya. Liu He sendiri adalah seorang pangeran yang berasal dari Dinasti Han. Ia dikenal dengan pangeran muda yang nakal dan suka menyia-nyiakan kekayaannya. Liu He adalah seorang cucu dari Liu Che, Kaisar Wu dari Han, Kaisar ke tujuh dan yang paling lama memerintah dari Dinasti Han, dan selir kesayangannya Li Furen, Liu He mewarisi gelar Raja Changyi. Mungkin saja ia mewarisi gelar ini pada usia enam tahun.


"Dan katanya di pemakaman Desa Loufen tersimpan makam Pangeran Liu He yang tersembunyi dengan ratusan koin emas didalamnya," jelas Pak Gong setelah bercerita.


"Sebaiknya kita kembali ke pemakaman, Pak, kerena sepertinya memang benar di antara ribuan makam disana terdapat makan Pangeran Liu He," saran Cheng Xin.


"Dan satu lagi kemungkinan mereka yang menggali makam sudah tahu jika ada sesuatu di pemakaman tersebut," sambung Fan Fan.


Cheng Mai dan teman-temannya hanya menyimak pembicaraan mereka dengan serius.


"Benar juga kemungkinan mereka sudah tahu, makannya sudah ada beberapa makam digalinya untuk mencari harta karun itu," kata Pak Gong setuju.


"Apa Bapak tidak keberatan jika kami menelusuri nya?" tanya Cheng Xin meminta izin.


"Tidak masalah karena bapak juga akan ikut bersama kalian untuk membantu. Sebenarnya bapak juga penasaran," jawab Pak Gong mengizinkan.


"Ya sudah kalian pergi sekarang saja mumpung masih siang, ibu tunggu kalian dirumah," suruh Bu Gong pada mereka.


"Hayo Pak Cheng dan anak-anak kita kesana sekarang," ajak Pak Gong sambil berdiri.


"Iya Pak," jawab Cheng Xin sambil berdiri diikuti yang lainnya. Mereka juga mengangguk pada Bu Gong sebelum pergi keluar.


...******âš°ī¸đŸĒĻâš°ī¸******...


Mereka sekarang sudah berada di pemakaman kembali, tampak beberapa orang juga ikut pergi kesana untuk membuktikannya. Walau tadi mereka menolak ajakan bos Yang tapi sebenarnya mereka juga penasaran akan sesuatu yang tersembunyi itu. Beberapa warga berbondong-bondong pergi ke pemakaman kembali setelah melihat kepala desa dan orang kota melangkah menuju ke sana.


Di pemakaman mereka semua berpencar menelusuri area pemakaman yang begitu luas, mereka mengincar makan-makan lama yang dikiranya memungkinkan itu adalah malam pangeran Liu He.


Namun sudah satu dua tiga jam mereka menelusuri untuk melihat apakah ada batu nisan yang bertuliskan nama Pangeran Liu He disana, tapi hasilnya nihil. Mereka tak menemukannya dan mereka hampir saja menyerah. Hingga pada akhirnya Cheng Mai yang sedang berjalan masuk lebih dalam ke area pemakaman yang dekat hutan, ia melihat benda berkilau disebelah makam yang terpancar cahaya matahari. Ia pun menyerngitkan matanya dan mendekat ke makam tersebut.


Tampak makam tersebut sudah sangat tua dan banyak ditumbuhi rumput liar sampai tak terlihat lagi. Ia lalu mengambil koin tersebut dan berkata, "ini ini koin emas kah?" Dirinya terkejut tak percaya dan untuk membuktikannya ia menggigit ujung koin mas. "Wah ini ini asli, tunggu apa ini...." Cheng Mai pun membersihkan dedaunan yang menutupi tulisan di nisan tersebut. "Li...u... He" ia tampak berfikir. "Liu He ini kah makam itu," sontak dirinya terkejut tak percaya.


'Ayah.....Yah Ayah cepat kesini," teriak Cheng Mai memanggil ayahnya segera sambil terus melihat ke belakang alih-alih ayahnya sudah datang atau belum.


Cheng Xin yang merasa mendengar panggilan anaknya, langsung segera pergi ke asal suara sambil diikuti yang lainnya. Berbondong-bondong warga mengikuti Cheng Xin melangkah.


"Pak, apa yang terjadi dengan anak Bapak?' tanya Pak Gong padanya.


"Aku tak tahu sepertinya anak ku menemukan sesuatu," jawabnya sambil terus berjalan.


"Ayah....A__." Cheng Mai menghentikan panggilannya. "Ayah cepat kesini lihatlah apa yang kutemukan," sambungnya setelah melihat ayahnya dan beberapa orang mulai mendekat.


"Ada apa Nak? Memang apa yang kau temukan?" tanya Cheng Xin langsung.


"Itu lihat yah itu makam itu kan?" Tunjuk Cheng Mai ke makam tua didepannya.


"Makan pangeran Liu He maksudnya?" tanyanya memastikan.


"Iya Yah dan ini, ini koin emas asli," jawab Cheng Mai sambil menunjukkan koin emas yang ia temukan tadi.


"Coba Kekek periksa," sela Kakek Zhang karena penasaran.


"Ini Kek." Cheng Mai memberikan koin emas itu padanya. Kakek Zhang lalu mengecek nya menggunakan alat miliknya.


"Benar ini memang asli," katanya, "Sebaiknya kita cepat menggalinya," sarannya pada yang lain.


Di kerumunan warga, beberapa orang saling berbincang tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Ya ampun jadi beneran desa kita ada harta karun nya," ucap salah satu ibu-ibu disana yang terkejut.


"Iya Bu aku tak menyangka nya, pantas saja beberapa makam kerap di bongkar ternyata ucapan pria waktu itu benar," timpal bapak-bapak kerempeng disebelahnya.


"Pak Gong, bisa bapak telpon kepolisian distrik Jiangxi untuk segera menuju ke sini," suruh Cheng Xin padanya sebelum mulai menggali.


"Baik Pak." Dengan segera Pak Gong pergi untuk menelpon. Tak lama dirinya kembali dan mengangguk tanda tugasnya sudah selesai.


"Ayo kita mulai menggalinya," ajak Cheng Xin pada warga.


"Prof, keluarkan alat-alatnya," suruhnya tertuju pada Profesor.


"Ini Cheng, dan untuk yang lainnya juga." Profesor Zhou memberikan beberapa alat pada mereka setelah diambilnya dari dalam tas.


Semua warga ikut membantu menggali makam tersebut sampai akhirnya mereka menemukan sebuah peti mati didalamnya. Peti tersebut lalu di angkat bersama-sama sampai ke atas. Sore menjelang malam akhirnya peti tersebut berhasil diangkat ke permukaan. Polisi yang tadi di telepon juga sudah datang ke lokasi.


"Permisi bapak-bapak selamat malam," sapa Pak Polisi sambil memberikan hormat pada orang yang ada disana.


"Selamat malam pak polisi," balas Cheng Xin sambil berjalan menghampirinya.


"Bisa kita buka peti itu sekarang," ujar Pak Polisi padanya.


"Silahkan Pak Polisi," ucap Cheng Xin mempersilahkan.


Beberapa Polisi perlahan membuka peti mati tersebut. Semua orang yang disana penasaran dengan isi peti matinya bukan hanya mereka saja, tapi empat pasang mata yang mengawasi mereka dari balik pohon juga ikut penasaran. Mereka berdua adalah Bos Yang dan Sing. Mereka awalnya berniat untuk mencari makam tua tersebut setelah berhasil merampas kompas dan kertas milik Gao Ting. Bos Yang dan Sing juga tak bisa mendekat untuk merebut peti tersebut karena sudah ada beberapa polisi disana. Mereka berpikir jika mereka mendekat yang ada kena tangkap karena ingin merebutnya.


Semua orang terkejut ketika peti perlahan dibuka memunculkan cahaya yang berkilauan. Setelah berhasil dibuka semua, tampak kerangka tubuh pangeran Liu He diselimuti oleh ratusan koin emas. Jika itu ditemukan sendiri mungkin bisa kaya mendadak orang tersebut. Sayang harta tersebut akan diserahkan ke pihak berwajib untuk di tindak lanjuti.


"Wah emas beneran emas, ternyata desa kita beneran ada harta karun nya," celetuk salah satu warga.


"Hush," seorang ibu-ibu yang berdiri di belakangnya langsung memukul pundaknya dengan keras.


"Sial mataku tak bisa berkedip itu harta karun yang sangatlah indah, jika tak ada mereka pasti aku sudah memiliki nya, gerutu Bos Yang di balik pohon.


"Bos itu itu emas sungguhan kah?" tanya Sing sambil mengucek matanya.


"Iya tapi kita tak berhasil lagi untuk memiliki nya," jawab Bos nya merasa kecewa.


Mereka berdua sangat kesal karena tak berhasil mendapatkan harta yang sangat berlimpah dari bawah tanah tersebut. Mereka berdua pun memilih pergi untuk menenangkan diri atas kekecewaannya.


...******🧭🧭🧭*******...


Sementara di hutan, beberapa warga desa Lounge sedang mencari Vivian termasuk Bu Lin dan Pak Kepala Sekolah. Dua teman Vivian, Kei Lin dan Fu Jie juga ikut mencari bersama mereka. Mereka berdua tak mau kembali sebelum temannya ditemukan. Beberapa Tim SAR juga ikut membantunya agar pencarian menjadi mudah.


"Vivian....Vivian Liu dimana kamu?" teriak Bu Lin dan beberapa warga memanggil namanya.


"Pak Kepala, apa bapak sudah menghubungi orang tua Vivian?" tanya Bu Lin padanya sambil berjalan.


"Sudah Bu tapi tak ada satupun dari mereka yang mengangkat nya," jawabnya.


"Maaf Bu, orang tua Vivian sepertinya sedang sibuk," sela Fu Jie memberitahu.


"Fu Jie, orang tua Vivian emang selalu sibuk, dia di rumah bahkan selalu sendiri," tambah Kei Lin membenarkan.


"Ya sudah kita teruskan cari lagi saja, semoga segera ditemukan," ujar Bu Lin pada mereka.


"Baik Bu." Mereka menurut dan kembali fokus mencari teman nya itu.


Vivian Liu memang lah orang kaya, tapi ia kekurangan kasih sayang orang tuanya. Ayah dan ibunya disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Ayahnya yang jadi donatur sekolah Puiying sedang ada Dinas di Jepang sedangkan ibunya yang seorang model sedang di landa jadwal padat ke berbagai negara. Terakhir kali, ia bisa berlibur bersama orang tuanya ke luar negeri yakni Sydney itu pun karena mereka ada bisnis di tempat yang sama. Ia berlibur tapi tetap saja sendirian.


"Pak Pak, itu sepertinya ada bangunan di sana, apa kita cek kesana saja?" Bu Lin tiba-tiba berhenti dan memberitahu semuanya bahwa didepan ada sebuah gubuk.


"Boleh Bu, semoga kita bisa menemukan murid ibu disana," jawab salah anggota Tim SAR setuju.


"Semoga saja Pak," balas Bu Lin berharap.


Di dalam gubuk, Vivian bener-bener sudah tak punya tenaga dia bahkan rasanya ingin pingsan. Namun tiba-tiba ada yang membuka pintu gubuk bambu tersebut, tapi mata Vivian terlihat samar-samar untuk melihatnya.


"Ya ampun Vivian, Nak Nak. Bertahan Nak. Bu Lin langsung berlari karena panik setelah melihat anak didiknya sedang dalam keadaan lemas dan terikat. Dia menggoyang-goyangkan tubuh murid didiknya agar tetap sadar.


Bu Lin dengan segera melepaskan tali yang mengikat tangan muridnya.


"Pak tolong bawa murid saya ke rumah sakit segera," pinta Bu Lin pada petugas SAR.


"Siap Bu kami akan membawanya, sepertinya anak didik ibu kekurangan oksigen," kata salah satu anggota Tim SAR yang memeriksa Vivian sebelum diangkat ke tandu.


"Cepat angkat anak ini dan segera beri pertolongan padanya," suruhnya pada anggota yang lain.


Vivian diangkat ke tandu oleh Tim SAR. Setelah sampai di lapangan kemah, Vivian langsung di bawa ambulans ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Bu Lin serta yang lainnya ikut juga ke rumah sakit menemaninya.


Cheng Xin dan yang lainnya kini sedang berpamitan kepada pak Gong serta warga Desa Loufen. Pak Gong berterima kasih pada Cheng Xin karena dirinya telah berhasil membongkar harta karun tersembunyi di desanya


"Bukan saya pak yang menemukannya tapi anak saya," kata Cheng Xin membenarkan.


"Hehehe iya," kekehnya, "terima kasih ya Nak Cheng, kamu benar-benar anak yang pandai," ucapnya pada Cheng Mai sambil memuji.


"Terima kasih paman," balas Cheng Mai sambil tersenyum.


Setelah dirasa cukup, Cheng Xin mewakili yang lainnya untuk berpamitan pada Pak Gong dan warga. "Baiklah pak Bu dan semuanya, kami izin pamit kembali ke kota dulu."


"Silahkan Pak, hati-hati dijalan," ucap Pak Gong sambil berpesan.


Cheng Xin mengangguk, mereka semua masuk ke mobil profesor Zhou. Untung mobil profesor Zhou adalah Mobil Elf yang panjang dan luas jadi bisa muat untuk banyak orang. Perlahan-lahan mobil melaju meninggalkan Desa Loufen. Belum ada seperempat jalan, mereka dikejutkan oleh orang yang tiba-tiba saja berlari ke tengah jalan. Profesor Zhou yang menyetir, dengan cepat dirinya langsung menginjak pedal gas. Mobil berhenti seketika dan yang di belakang terjungkal ke depan karena terkejut.


"Aduh!" Pekik Cheng Mai dan yang lainnya.


"Prof ada apa?" tanya Cheng Xin padanya.


Profesor menggerakkan pandangan nya ke depan.


Pria yang tadi berlari juga terkejut dan menjadi diam seketika.


Dengan segera Cheng Xin turun dan menghampirinya.


"Hati-hati Nak Cheng," pesan Kakek Zhang padanya.


"Ayah." Cheng Mai merasa khawatir pada ayahnya.


"Hee permisi kau tak apa-apa?" tanya Cheng Xin pada pria itu sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.


Pria muda itu memicingkan matanya untuk melihat namun tiba-tiba pandangannya menjadi kabur dan akhirnya jatuh pingsan.


"Ya ampun hee bangun, Nak bangun Nak." Cheng Xin seketika terkejut dan berusaha membangunkannya.


Kakek Zhang dan Profesor yang melihatnya langsung turun.


"Ada apa Cheng?" tanya Profesor padanya setelah tiba.


"Dia pingsan cepat bantu aku bawa kedalam," jawab Cheng Xin dengan panik.


Kakek Zhang dan profesor membantu Cheng Xin dengan segera. Cheng Xin dan Kekek Zhang mengangkat pria itu dan di letakkan di belakang sementara Profesor Zhou yang membantu membukakan pintunya. Cheng Mai dan lainnya langsung terkejut ketika melihat ayahnya membawa seseorang


"Ya ampun Pak, siapa dia?" tanya Fan Fan yang terkejut.


"Aku tak tahu sepertinya dia sedang membutuhkan pertolongan," jawabnya setelah merebahkan tubuh pria muda itu ke kursi.


"Ayah, Kaka ini kenapa?" tanya Cheng Mai penasaran.


"Kita bawa dulu ya Nak, bantu ayah ambilkan selimut di belakang mu selimuti dia," jawabnya lalu menyuruhnya.


"Baik Yah." Cheng Mai menurut dan segera mengambil selimut yang ada di belakangnya dan setelah itu ia membantu menyelimuti tubuh si pria itu.


Cheng Xin dan kakek Zhang kembali ketempat nya, profesor Zhou melanjutkan menyetir sampai keluar ke jalan raya


Bersambung.....đŸ—ī¸đŸ—ī¸đŸ—ī¸



...200 koin emas milik Pangeran Liu He yang sudah di simpan dan diamankan...