Hidden Treasure Hunter's

Hidden Treasure Hunter's
Benda Berkilap Milik Pak Kepala Sekolah



Disebuah rumah, dua orang ayah dan anak sedang melakukan aktivitas yang berbeda. Mereka adalah Cheng Mai dan Cheng Xin. Cheng Mai belajar diruang tamu sedangkan ayahnya duduk mengetik di sebelahnya. Cheng Mai seketika menghentikan aktivitasnya karena ada suatu hal yang ingin disampaikan pada ayahnya. Ia pun memanggil nya.


"Ayah...," panggilnya sambil menengok ke arahnya.


Cheng Xin seketika langsung menutup laptopnya dan menaruhnya dimeja. "Ada apa nak? Seperti serius?" tanyanya lembut.


"Iya Yah, Cheng Mai minta tolong ayah boleh," pintanya langsung.


"Minta tolong apa, Nak? Apa ada masalah disekolah?" tanyanya kembali.


"Iya Yah, ayah tau kelas Cheng Mai mau dibongkar katanya ada harta karunnya," terangnya.


"Ha apa sekolah sudah memastikan kalau memang ada harta karun di kelas mu?" tanya Cheng Xin sedikit terkejut.


"Tapi Pak Kepala sangat yakin, dia yang menyuruh langsung untuk membongkar kelas Cheng Mai," tuturnya.


"Benarkah? Apa karena ini kamu mau minta bantuan ayah?" tanya Cheng Xin menebak.


"Iya Yah, Cheng Mai ingin Ayah periksa dengan alat kelas Cheng Mai besok," jelasnya.


"Hem tak masalah, ayah nanti akan hubungan profesor dan kakek Zhang juga ya," ucap Cheng Xin setuju.


Cheng Mai mengangguk, "Makasih Yah," ucapnya senang, "kalau begitu Cheng Mai istirahat dulu. Selamat malam Yah," pamit Cheng Mai setelah urusannya selesai.


"Malam juga, tidur yang nyenyak ya," balasnya sambil tersenyum.


Cheng Mai mengangguk lalu mengambil bukunya dan pergi ke kamar nya.


"Eh iya udah selesai pekerjaan mu itu." Cheng Mai menghentikan langkahnya, "Sudah Yah, aman," katanya.


Cheng Xin mengangguk dan menyuruhnya untuk melanjutkan ke kamar. Cheng Xin kembali mengambil laptopnya dan melanjutkan mengetik. Cerita kakek Zhang tadi siang membuat dirinya memiliki beberapa ide untuk bahan menulisnya.


...******👣👣👣******...


Keesokan harinya di Sekolah Menengah Puiying. Sekolah masih digemparkan dengan adanya berita pembongkaran kelas terkait harta karun yang tersembunyi didalam nya. Cheng Mai dan lainnya sedang menunggu kedatangan Cheng Xin. Dirinya sudah berjanji akan membantu Cheng Mai, anaknya untuk membuktikan keberadaan harta karun tersebut.


Sebelum nya Bu Lin juga sudah memberikan usulan terkait ayah Cheng Mai yang datang ke sekolah kepada Pak Kepala. Beliau pun setuju karena dengan ini dirinya juga jadi lebih percaya diri untuk membongkar kelas 11-1.


"Bu Lin mana orang yang katanya mau mengecek kelas mu?" tanya pak kepala padanya.


"Sebentar Pak, mereka masih dalam perjalanan. Tunggu sebentar lagi saja," jawabnya.


"Cheng, ayahmu jadi datang kan?" tanya Xiao Dan memastikan.


"Jadi, tunggu saja mungkin macet di jalan," jawabnya yakin.


"Haa itu dia!" seru Dou Dou sambil menunjuk ke depan memberitahu semuanya.


Tak lama akhirnya Cheng Xin bersama profesor Zhou dan kakek Zhang tiba disekolah. Bu Lin dan kepala sekolah menyabut nya dengan berjabat tangan.


"Pagi Pak Kepala!" sapa Cheng Xin sambil menjabat tangannya.


"Pagi pagi!" jawabnya sambil membalas jabatan tangannya. Profesor Zhou dan Kakek Zhang juga melakukan hal yang sama menyalami pak kepala dengan hormat.


Cheng Xin, Profesor dan Kakek Zhang mulai masuk ke dalam kelas untuk memeriksa. Cheng Xin menyalakan mesin pendeteksi harta karun yang bernama Go-Find. Ia lalu berjalan menelusuri ruang kelas di ikuti yang lainnya. Namun sudah satu jam memutari kelas, alat pendeteksi itu tidak memunculkan tanda-tandanya.


Pak kepala pun tercengang setelah mengetahui tidak ada apa-apa di dalam kelas tersebut. Beliau melihat Cheng Xin yang mulai menyerah akhirnya bertanya


"Bagaimana hasilnya?" tanyanya ingin tahu.


"Maaf Pak Kepala mungkin bapak salah, alat pendeteksi ini tidak menunjukkan apa-apa," jawabnya yang membuat Pak Kepala kecewa .


"Tidak mungkin, itu alat pendeteksi bapak saja yang rusak," tukasnya tak percaya.


"Gini saja Pak, kami akan kembali dulu untuk membahas masalah ini dan akan kembali memeriksa lagi nanti," kata profesor Zhou memberikan solusi.


"Baiklah kalau begitu," ucapnya setuju.


"Jika Pak Kepala setuju, kami permisi," pamit Cheng Xin mengangguk.


Cheng Xin keluar kelas diikuti Profesor Zhou dan Kakek Zhang. Namun Cheng Mai yang tadi masih didalam langsung berlari keluar dan memanggil ayahnya kembali.


"Yah...," panggilnya.


"Apa Ayah akan kembali lagi?" tanya Cheng Mai padanya.


"Iya Nak sepertinya memang ada sesuatu dibawah sana, namun alat ayah tak berfungsi mungkin butuh perbaikan," jawabnya.


"Baiklah Yah, ayah pergilah dan bahas ini dengan profesor dan kakek Zhang," suruh Cheng Mai mengerti.


Cheng Xin mengangguk, "Ayah pergi dulu," pamitnya.


Sementara di Ruang Kepala Sekolah, Pak Kepala membuka kembali lacinya dan melihat peta tersebut. Seseorang dengan marga Dong ini menjadi heran karena Cheng Xin dan dua orang yang bersamanya tak menemukan tanda-tanda. Ya beliau bernama asli Dong Chai, seorang kepala sekolah yang tak sengaja menemukan benda berkilau di kelas Cheng Mai.


Waktu itu 3 bulan yang lalu....


Pak Dong datang ke sekolah disaat para muridnya sedang berlibur. Dirinya hendak mengecek kelas-kelas untuk melihat kekurangan kelas yang akan di tempati para muridnya nanti. Disaat sampai dengan kelas 11-1 beliau melihat keramik kelas itu sedikit pecah. Ia pun berniat membuka keramik tersebut dan menggantinya dengan yang baru.


Karena tidak ada seseorang, beliau terpaksa turun tangan untuk memperbaiki keramik kelas itu. Tapi disaat membuka keramik tersebut untuk diganti, beliau menemukan benda berkilap terselip diantara pasir dibawah keramik. Benda tersebut berukuran sangat kecil dan hampir tak bisa terlihat jika tak memakai kaca pembesar. Dan sangat beruntungnya beliau dibantu oleh sinar matahari yang berhasil tembus ke benda kecil tersebut sehingga memantulkan cahaya yang berkilau. ia pun mengambilnya dan menyimpannya di saku bajunya.


Dengan segera ia mengganti keramik yang rusak dengan yang baru tanpa di cor terlebih dahulu dan hanya di tempelkan saja. Ia pun keluar kembali ke ruangannya


...******💍💍💍******...


Kembali ke Dong Chai.


"Ini pasti salah, ku yakin di dalam kelas itu pasti ada sesuatu yang terkubur," monolognya merasa yakin.


"Aku harus meminta Pak Cheng dan dua rekannya itu untuk segera kembali ke sekolah," pikirnya.


Sementara Cheng Xin sekarang berada di laboratorium bersama Profesor Zhou dan juga kakek Zhang. Mereka bertiga sedang membahas mengenai kasus tersebut.


"Cheng, kau yakin tadi tidak menemukan apa-apa?' tanya Profesor padanya.


"Hem sebenarnya aku juga merasa ada sesuatu disana ada sesuatu yang janggal di meja tempat duduk anak ku. Tapi alat itu diam tak bereaksi apa-apa saat didekatkan," jawab Cheng Xin jujur sambil memeriksa alat pendeteksi nya.


"Coba ku cek alat pendeteksi mu," pinta Kakek Zhang padanya.


"Ini Kek." Cheng Xin memberikan alat pendeteksi miliknya pada Kakek Zhang. Ia lalu memeriksa alat pendeteksi milik Cheng Xin dengan teliti. "Hem pantas saja tak berfungsi Cheng, ini lihat ada yang rusak di bagian ini," kata Kakek Zhang setelah menemukan masalahnya dan menunjukkan bagian yang rusak padanya.


"Sebaiknya Kekek betulkan saja, dan setelah ini kita kembali ke sekolah mengecek tempat yang kau bilang lagi," ujar Kakek Zheng.


Cheng Xin mengangguk setuju begitu juga Profesor Zhou.


Dikelas anak-anak 11-1 kembali masuk dan duduk ditempatnya masing-masing.


Saat di tempat duduk Cheng Mai. Dou Dou merasa meja Cheng Mai tidak berdiri dengan benar, ia pun memberitahunya.


"Cheng, aku kok merasa meja mu ini bergoyang ya kaya gak rata gitu," katanya.


Huh. Cheng Mai menghela nafasnya kasar lalu menyobek selembar kertas yang ia lipat menjadi persegi. Setelah itu ia mengganjal kaki meja agar tak bergoyang lagi.


"Kau tau Dou, meja ini selalu bergoyang aku dan Jin Mei jadi tak nyaman," kata Cheng Mai memberitahu.


"Benarkah aku baru tau itu," ucap Dou Dou yang merasa bingung sambil menggaruk kepalanya.


"Lihat, buku ku jadi setipis ini karena isinya selalu ku sobek buat ganjal ini meja," suruh Jin Mei pada Dou Dou sambil memperlihatkan bukunya yang sudah tipis karena habis disobek.


"Cheng, sepertinya bukan meja mu yang bermasalah tapi lihat keramiknya seperti tak menempel dengan permukaan," ujar Xiao Dan sambil memperhatikan bawah meja.


"Ah iya kah," kata Cheng Mai tak yakin.


"Begini saja kau geser meja ini kesamping dulu biar aku periksa," suruh Xiao Dan padanya.


Hem. Cheng Mai mengangguk. Ia pun menggeser mejanya dengan di bantu Jin Mei dan Dou Dou.


Setelah itu, Xiao Dan langsung memeriksa keramik tersebut. Namun ia menjadi heran karena ternyata keramik nya dengan mudah ia angkat.


"I-itu kenapa bisa tak nempel ya," tanya Dou Dou terbata sambil menunjuk ke arahnya.


"Aku juga heran kenapa keramik ini hanya ditempel, pantas saja meja nya jadi bergoyang sebab tak rata begini," jawab Xiao Dan.


"Coba kau panggil Bu Lin dan Pak Kepala untuk kesini," suruh Xiao Dan padanya.


"Ha aku saja yang panggil kalian disini saja," tawar Zhan Yang langsung berlari keluar.


"Heh sepertinya memang ada sesuatu, ini aneh," kata Vivian yang juga bergabung disana. Para siswa lainnya saling berbisik dan tak percaya dengan hal tersebut.


Xiao Dan berdiri dan menghampiri Cheng Mai, "Cheng, kau hubungi ayahmu untuk segera ke sekolah kembali," suruhnya.


Cheng Mai mengangguk dan langsung menelpon ayahnya.


"Yah, ayah dimana sekarang?" tanyanya setelah telpon berhasil tersambung.


"Ayah masih di lab nak dan akan segera ke sekolah lagi. Ada apa?" jawab Cheng Xin berbalik tanya.


"Baguslah Yah kalau ayah ingin kesini lagi. Ada sesuatu yang aneh di bawah meja ku," kata Cheng Mai memberitahu.


"Benarkah, baiklah ayah akan segera kesana," ucapnya sambil mengisyaratkan kepada Profesor Zhou dan Kakek Zhang untuk cepat pergi.


Dikelas 11-1, para murid lainnya ikut berdatangan ke kelas tersebut. Bu Lin dan pak Dong baru saja sampai dikelas dan langsung bertanya.


"Dan'er ada apa? Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Bu Lin padanya.


"Lihat Bu seperti ada keanehan disini," tunjuknya kebawah.


"Coba ibu periksa," pinta Bu Lin.


Bu Lin jongkok dan mencoba melihat bagian keramik yang bisa dibuka tersebut. "Ini kenapa seperti ini, apa Pak Kepala tau penyebabnya?" Bu Lin heran dibuatnya, ia pun bertanya pada Pak Kepala didekatnya mengenai itu.


"Em begini Bu Lin sebenarnya waktu itu...." Pak Dong dengan terpaksa mengaku dan memulai ceritanya.


"Apa???" Kaget bu Lin setelah mendengar cerita pak Dong. Apa bapak menemukan sesuatu di bawah keramik ini?" tanyanya.


"Iya Bu Lin sebuah baru permata yang amat kecil ukurannya. Maka dari itu saya memutuskan untuk membongkar kelas ini," jelasnya.


"Cheng Mai...," panggil ayahnya setelah berhasil melewati kerumunan bersama Profesor Zhou dan Kakek Zhang. Keadaan kelas Cheng Mai menjadi rame seluruh murid mulai berdatangan untuk melihatnya.


"Ayah...," panggil Cheng Mai juga.


"Ada apa? Apa ada sesuatu terjadi?" tanyanya setelah mendekat.


"Lihat Cheng," suruh profesor Zhou padanya.


"Tunggu, bukan kah ini tempat yang ku datangi terakhir saat alat pendeteksi tak menunjukkan tanda-tanda," kata Cheng Xin mengingat-ingat.


"Coba kau periksa lagi," suruh kakek Zhang padanya. Cheng Xin mengangguk dan menyalakan Go-Find miliknya dan mengarahkannya ke posisi yang diduga mencurigakan.


TIT TERIRIT TITTTTT. Mesin pendeteksi berbunyi nyaring dan tak berhenti.


Mereka semua terdiam terkejut karena bunyi alat pendeteksi yang sangat kencang saat didekatkan ke tempat tersebut.


"Jadi benar memang ada sesuatu di bawah sana," celetuk Vivian terkejut.


"Pak kepala mana permata yang Bapak temukan," pinta Bu Lin padanya.


"I-ini Bu Lin," ucap pak Dong sambil memberikan permata kecil dari saku bajunya.


"Pak Cheng, lihat ini permata asli atau bukan menurut bapak. Ini ditemukan oleh pak kepala disini," panggil Bu Lin sambil memberikan permata itu padanya untuk diperiksa.


"Coba ku lihat," sela Kakek Zhang memintanya.


"Ini Kek." Cheng Xin memberikan padanya.


Kakek Zhang lalu memeriksa permata tersebut bersama Profesor Zhou. Dan hasilnya membuat dirinya terdiam tak percaya begitu juga Kakek Zhang. Cheng Xin yang memperhatikannya menjadi penasaran dan kemudian bertanya.


"Kakek Zhang, Profesor, bagaimana?" tanya Cheng Xin ingin tahu.


Mereka berdua berbalik dan mengangguk bersama. Sementara Cheng Mai dan orang-orang yang ada disana menjadi bingung melihat mereka bertiga diskusi dengan serius.


"Yah, ada apa?" tanya Cheng Mai yang sedari tadi penasaran.


'Cepat panggil orang untuk menggali kelas ini," suruh Cheng Xin langsung mengarah ke Pak Dong.


"Haa maksud Bapak?" Bu Lin, Pak Dong dan semuanya saling pandang karena tak mengerti maksud Cheng Xin itu.


Bersambung......🗝️💍🗝️