Hidden Treasure Hunter's

Hidden Treasure Hunter's
Kelas Cheng Mai Akan Dibongkar



Disekolah Sekolah Menengah Puiying mendadak kedatangan para pekerja kontruksi, para pekerja konstruksi datang atas perintah dari pak kepala sekolah. Tujuan mereka datang adalah untuk membongkar kelas 11-1, kelas Cheng Mai. Di kelas 11-1 sekarang tengah ribut membahas penolakan pembongkaran kelas secara tiba-tiba ini. Bu Lin pun datang untuk mengatasi masalah yang terjadi.


Sementara Cheng Mai dan Jin Mai baru saja sampai dan sudah dikejutkan dengan kehadiran orang yang tidak dikenal di kelasnya. Mereka berdua tampak bingung setelah Zhan Yang, teman sekelasnya memberi tahu yang sebenarnya.


"Apa???" Cheng Mai dan Jin Mei terkejut berbarengan.


"Kelas kita akan dibongkar?" tanya Cheng Mai mengulangi perkataan Zhan Yang.


"Cheng Mai! Jin Mei!" Bu Lin memanggil mereka berdua dan datang menghampiri.


"Bu Lin ada apa ini? Kenapa kelas kami mau di bongkar?" tanya Cheng Mai bingung.


"Iya Bu ada apa ini? Siapa mereka untuk apa mereka membawa alat gali segala. Memang disini ada harta karun apa?" tanya Jin Mei juga sambil asal menebak.


"Gadis mata empat benar sekali yang kau katakan di sini memang ada harta karun yang terkubur," saut salah satu petugas dengan senyuman nya.


Cheng Mai dan lainnya seketika terbengong karena tebakan ngasal dari Jin Mei nyatanya benar. Mereka semua langsung menghadap ke depan untuk mendengarkan orang-orang itu berbicara. Ada banyak pertanyaan muncul dibenaknya sekarang.


"Dan kami atas perintah kepala sekolah langsung harus segera membongkar kelas ini untuk mengambil harta karun tersebut," imbuhnya.


"Kepala sekolah?" Bu Lin terkejut karena mereka menyebut kepala sekolah ada hubungannya dengan ini.


"Benar sekali Bu, ini semua atas perintah beliau," jawab salah satu dari mereka membenarkan.


"Bapak-bapak sebaiknya pergi dari sini kami tak mengizinkan kelas ini dibongkar," usir Bu Lin langsung.


"Benar pergi saja bapak-bapak ini, kami tak rela jika kelas kami di bongkar begitu saja!" seru murid-murid lain turut ikut mengusirnya.


"Bapak bilang harta karun? Ada harta karun dikelas kita? Waw harus segera dibongkar ini." Vivian tiba-tiba saja berbicara dengan sangat antusias dan tanpa disadari itu mendukung pembongkaran kelasnya.


"Vivian!" tegur Bu Lin langsung melotot padanya. Semua murid juga memandang ke arahnya.


"Nah ada anak yang waras juga ternyata," saut petugas kontruksi merasa bangga.


"Denger ya Pak kami benar-benar tak mengizinkannya, silahkan pergi sebelum kami semua melakukan hal yang tak semestinya!" jelas Bu Lin dengan tegas mengusir mereka kembali.


"Gawat Guang kita lebih baik mundur dulu, lihat tatapan mengerikan mereka," bisik orang disebelahnya. Pria yang bernama Guang itu mengangguk setuju.


"Oke oke kita akan pergi sekarang tapi tak lama lagi kami pasti akan kembali," ucapnya menyerah sambil menunjuk ke arah Bu Lin dan murid-muridnya. Mereka lalu pergi meninggalkan ruang kelas.


Akhirnya Bu Lin dan semuanya bisa bernafas lega untuk sementara. Bu Lin lalu menyuruh anak-anaknya belajar sendiri dulu, ia berniat menemui kepala sekolah untuk penjelasan.


"Anak-anak kalian belajar sendiri dulu, ibu akan menemui kepala sekolah untuk membahas masalah ini," pintanya.


"Baik Bu," jawab para muridnya


"Cheng Mai, Jin Mei kalian juga duduk dan belajar seperti yang lainnya!" Perintah nya juga namun Cheng Mai tak segera pergi.


"Tapi Bu," cegat Cheng Mai tiba-tiba.


"Percayalah, ibu pasti akan melindungi kelas ini, jelas Bu Lin menyakinkan," jelasnya menyakinkan


"Baiklah Bu," ucapnya mengangguk.


Cheng Mai dan Jin Mei menurut kembali duduk ketempat nya. Sementara Bu Lin pergi menemui kepala sekolah di ruang nya.


Diruang kepala sekolah, tampak seorang pria berumur 60 tahun sedang santai menyeruput teh hijau nya. Namun disaat ia menyeruput teh untuk kedua kalinya, dirinya tersentak kaget karena Bu Lin datang tanpa mengetuk pintu. Bu Lin datang dengan tatapan penuh amarah pastinya.


"Pak Kepala kenapa anda menyuruh seseorang untuk membongkar kelas ku? Bagaimana dengan anak didik ku jika kelas nya dibongkar apa bapak tidak memikirkannya dulu? Apa-." Bu Lin tak bisa mengontrol emosinya sehingga melontarkan banyak pertanyaan padanya.


"Tenang dulu Bu Lin duduk dulu duduk," ucap Pak Kepala santai sambil menyuruhnya duduk.


"Ada sesuatu dikelas itu dan harus segera dibongkarnya," lanjutnya masih santai sembari meminum teh hijaunya kembali.


"Haa???" Bu Lin seketika terbengong tak mengerti.


...******🗞️🗞️🗞️******...


Sementara di tempat lain, Cheng Xin telah sampai di kediaman profesor Zhou. Mobil Cheng Xin berhenti sambil menekan klakson agar pagar rumah Profesor Zhou dibuka. Dengan sigap Pak Satpam segera membukakan gerbang untuk nya. Cheng Xin tersenyum ramah pada Pak Satpam sambil menyetir melaju ke halaman depan.


Di depan teras dua orang tua sedang menunggu kehadirannya. Mereka menyambut hangat Cheng Xin setelah keluar dari mobilnya.


"Zhang itu dia Cheng Xin," ucap Profesor Zhou padanya sambil berdiri. Kakek Zhang mengerti lalu ikut berdiri juga dan langsung menghampiri Cheng Xin yang sedang berjalan kearahnya.


"Nak Cheng, apa kabar?" sambut hangat Kakek Zhang sambil memeluknya dan menanyakan kabarnya.


"Baik Kakek Zhang, Kakek sendiri bagaimana?" jawab Cheng Xin bertanya balik sambil melepas pelukannya.


"Seperti yang kau lihat kakek sudah baikan sekarang, ini semua karena Zhou merawat ku dengan baik," jawab Kakek Zhang sambil menunjukkan tubuhnya yang memang terlihat lebih sehat dan bugar. Ia lalu menunjukkan senyumnya pada Profesor Zhou. Profesor Zhou membalas senyumannya dengan senang hati.


"Mari masuk, Cheng," ajak Profesor Zhou padanya.


"Prof." Cheng Xin mendekat untuk menyalaminya juga. Mereka lalu masuk kedalam. Mereka bertiga kini duduk di ruang tamu tak lupa Profesor Zhou menyuruh bibi untuk membuatkan kopi untuk Cheng Xin. Sembari menunggu kopi datang, mereka bertiga mengobrol untuk melepas rindu


"Nak Cheng, bagaimana bukunya sudah selesai?" tanya Profesor Zhou ingin tahu.


"Belum Prof, masih dalam tahap penulisan, baru beberapa bab yang berhasil di tulis," jawabnya.


"Nak Cheng, menulis sekarang?" tanya Kakek Zhang padanya.


"Iya Kek, Cheng sedang menulis kisah Pulau Terlarang, apa Kakek mau cerita lagi tentang pulau terlarang itu?" jawabnya sambil memintanya bercerita.


"Boleh boleh dengan senang hati kakek akan bercerita," katanya senang.


"Dulu kala...," Kakek Zhang mulai bercerita. Cheng Xin dan Profesor Zhou mendengarkannya sambil menyeruput kopi yang baru saja dibawakan oleh bibi.


Kembali ke sekolah. Di kelas, Cheng Mai dan teman-temannya sedang membahas tentang pembongkaran kelasnya. Mereka semua tak setuju jika kelas kesayangan mereka dibongkar begitu saja.


"Cheng kita harus bagaimana?" tanya Jin Mei merasa khawatir.


"Aku juga tak tahu, apakah iya kelas ada harta karun nya? Dimana?" jawabnya sambil bertanya-tanya.


"Heh kalian, kau kan pecinta harta karun, tak penasaran kah?" Vivian tiba-tiba datang menyela.


"Diam kau Vivian! Kau jangan memancing rasa penasaran Cheng Mai ya," suruh Jin Mei padanya karena tak mau temannya terpancing rasa penasaran.


"Vivian memang benar aku juga cukup penasaran tapi bagaimana jika itu bohong tak ada apa-apa di sini," kata Cheng Mai lirih.


"Ha iya itu usul yang bagus," timpal Dou Dou sambil menepuk pundaknya. Sedangkan Cheng Mai terdiam dan berpikir.


"Anak-anak...." Bu Lin masuk ke kelas kembali.


"Bu Lin bagaimana?" tanya Cheng Mai langsung sambil berdiri.


"Pak Kepala tetep kekeh ingin membongkar kelas ini," jawabnya.


"Terus," suruh Jin Mei ingin tahu lebih.


"Ibu terpaksa menyetujuinya dengan syarat pak kepala harus merenovasi kembali setelah pembongkaran kelas kita ini dan beliau menyetujuinya," terangnya.


"Bagaimana jika Pak Kepala tak menepati janji? Kita akan hilang kelas nanti," kata Jin Mei sedikit khawatir sambil diikuti anggukan yang lainnya. Kelas 11-1 adalah kelas yang menurutnya paling nyaman diantara kelas lainnya. Jadi, dirinya tak rela jika harus kehilangan kelasnya.


"Ibu jamin pak kepala akan menepati janjinya," kata Bu Lin yakin.


"Bu Lin, apa boleh aku meminta ayah ku dan rekannya untuk mengecek keberadaan harta karun dikelas kita sebelum dibongkar?" pinta Cheng Mai tiba-tiba. Setelah berpikir tadi dirinya memutuskan untuk menggunakan usul Xiao Dan.


"Jika memang benar ada harta karun disini setelah di cek, maka kami setuju dengan pembongkaran tersebut," pungkasnya.


"Baiklah ibu akan bilang ke pak kepala untuk mengecek kebenarannya dulu sebelum pembongkaran," ucapnya agar muridnya tenang.


Cheng Mai dan murid lain pada akhirnya setuju untuk pembongkaran kelasnya. Namun sebelum di bongkar terlebih dahulu kelas Cheng Mai harus di periksa menggunakan alat pendeteksi harta karun milik para ilmuwan. Maka dari itu Cheng Mai dan lainnya memilih untuk meminta bantuan Cheng Xin dan profesor Zhou untuk datang ke sekolah.


...******⏳⏳⏳******...


Disisi lain Cheng Xin masih berada di rumah profesor Zhou. Kakek Zhang sudah mengakhiri ceritanya. Cheng Xin banyak mendapatkan pelajaran dari cerita kakek Zhang dan akan menuangkannya dalam buku nanti. Karena sudah waktunya untuk menjemput Cheng Mai, ia pun pamit. Namun sebelum itu Cheng Xin menanyakan keberadaan Miss Fan karena tak nampak batang hidungnya dari tadi.


"Terimakasih Kek sudah menceritakan cerita Pulau Terlarang kembali," ucap Cheng Xin sambil memegangi tangan Kakek Zhang.


"Sama-sama Nak Cheng semoga bermanfaat," katanya sambil menepuk bahu Cheng Xin pelan.


"Iya Kek, ucapnya tersenyum, "eh iya Prof, Fan Fan dimana daritadi tak kelihatan?" tanya Cheng Xin beralih pada profesor karena Fan Fan tak menampakkan diri sedari tadi.


"Biasa dia sedang belajar di laboratorium untuk meningkatkan ilmu nya," jawabnya.


"Wah bagus itu dia memang harus sering belajar," katanya turut senang.


"Nak Cheng Xin, mau pergi sekarang kah? tanya Kakek Zhang kerena melihat Cheng Xin yang tiba-tiba berdiri.


"Iya Kek, Cheng Mai harus dijemput," jawabnya


"Oh iya ini sudah jam-nya, silahkan Cheng salam untuk anak mu," celetuk profesor Zhou sambil melihat jam tangannya lalu mengizinkannya pergi.


"Iya Prof, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Cheng Xin pada mereka berdua.


"Mari saya antar," tawar Kakek Zhang. Mereka lalu keluar rumah bersama. Cheng Xin menuju mobilnya dan ketika mau berjalan ia menekan klakson nya untuk tanda dirinya akan berangkat.


Tin


"Hati-hati dijalan Nak," pesan kakek Zhang sambil melambaikan tangan.


"Ayo Zhang kita lanjutkan minum kopinya," ajak Profesor Zhou padanya.


"Mari Mari," jawab Kakek Zhang setuju.


"Kau senang sekarang Zhang?" tanya Profesor Zhou padanya sambil berjalan.


"Hem." Kakek Zhang menjawab dengan anggukan.


Mereka berdua kembali masuk dan melanjutkan obrolannya sambil meminum kopi melihat pemandangan sekitar.


Kembali ke sekolah, tak terasa waktu pembelajaran telah usai. Kelas Cheng Mai hari ini terpaksa hanya mendapatkan beberapa materi pelajaran saja karena masalah tersebut. Di pintu gerbang....


"Cheng, kita duluan. Jangan lupa bilang ke ayahmu ku harap dia mau membantu," pamit Xiao Dan sambil mengingatkan.


"Iya Dan akan ku sampaikan," jawab Cheng Mai mengangguk


"Hem sampai jumpa lagi." Xiao Dan mengangguk dan melambaikan tangan padanya diikuti kedua tangannya juga.


Cheng Mai kini tinggal sendiri dan sedang menunggu bus. Namun disaat menunggu, ada sebuah mobil yang berhenti tepat didepannya yang tak lain adalah mobil Cheng Xin. Cheng Mai yang tak tau dirinya akan dijemput hanya diam saja kerena menganggap mobil itu cuma parkir saja. Namun tiba-tiba bunyi klakson mengagetkannya.


Tin


Jendela mobil terbuka dan tampaklah sosok pria yang tersenyum manis padanya.


"Ayah!" Pekik Cheng Mai senang


"Ayo Nak!" ajak Cheng Xin sambil membukakan pintu mobilnya dari dalam.


"Ayah tumben menjemput ku," kata Cheng Mai sambil memasangkan sabuk pengaman ke badannya.


"Ayah habis dari rumah profesor jadi sekalian saja," terangnya.


"Oh begitu," ucap Cheng Mai singkat sambil manggut-manggut. Cheng Mai berniat memberitahu tentang pembongkaran kelasnya namun terhenti karena ayahnya tiba-tiba bicara lagi.


"Yah," panggil Cheng Mai ragu-ragu.


"Ah iya profesor Zhou titip salam ke kamu," ucap Cheng Xin tiba-tiba menyambar Cheng Mai yang ingin berbicara.


"Salam balik Yah," kata Cheng Mai lirih lalu membuang nafas nya.


"Hem, kau tadi mau bicara apa maaf ayah potong jadinya?" tanya Cheng Xin karena merasa anaknya tadi berbicara.


"Gak jadi Yah dirumah saja nanti," jawabnya sambil membuka layar ponsel nya dan membuka game online disana. Ia memilih bermain permainan yang bernama Treasure Hunter agar tak merasa bosan diperjalanan pulangnya.


"Ah begitu baiklah, kita pergi sekarang. Cheng Mai mengangguk dan Cheng Xin mulai melajukan mobilnya.


Disekolah seluruh murid telah pulang kerumahnya masing-masing. Suasana disekolah tampak sunyi sekarang dan hanya tinggal beberapa guru yang masih berlalu lalang saja. Diruang kepala sekolah, Pak Kepala sedang mengamati sebuah benda kecil berkilau yang ia temukan sebelumnya. Dan setelah mengamati lebih dalam dirinya semakin yakin kalau ada sesuatu di tempat tersebut.


"Aku harus segera membongkar kelas itu, aku yakin pasti ada sesuatu yang terkubur disana," gumam nya sambil tersenyum lalu menyeruput teh hijaunya yang baru saja diseduh nya.


Bersambung......🗞️⏳🗞️